Saham

Jenis Industri Emiten yang Terpuruk Sejak COVID-19

Sumber: Pexels

Ajaib.co.id – Sudah setahun lebih berlalu sejak dunia dihantam badai pandemi COVID-19, namun ekonomi belum juga pulih. Walaupun beberapa sektor industri sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, namun kenyataannya, dampak yang timbul dari pandemi terlalu membebani keuangan emiten.

Selama masa pandemi, banyak emiten yang mencoba bertahan dengan harapan pandemi segera berakhir. Dengan melakukan segala strategi bisnis, ternyata belum cukup untuk melakukan peningkatan pendapatan perusahan.

Alhasil, banyak emiten dari berbagai sektor industri yang kesulitan dalam menjalankan operasionalnya. Wah, apa saja jenis industri yang masih terpuruk hingga membuat emiten di dalamnya ikut terjerembab? Yuk, simak artikel dibawah ini:

Industri Terdampak 

Pada saat pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menghentikan penyebaran virus corona dengan melakukan pembatasan sosial berskala besar. Efek yang ditimbulkan memberikan pengaruh yang besar kepada perindustrian. Sejumlah jenis industri kemudian mengalami kerugian yang besar akibat tidak bisa atau tidak optimal menjalankan kegiatan usahanya.

Nah, setelah pandemi COVID-19 berjalan lebih dari 1 tahun, ternyata ekonomi dunia masih melambat dan beberapa perusahaan dari jenis industri yang terdampak, kesulitan dalam mencetak laba perusahaan. Jenis industri yang masih merasakan dampak jelas dari pandemi COVID-19 yaitu:

  • Industri Maskapai Penerbangan

Dampak sepinya pariwisata, memberikan pukulan yang keras kepada industri penerbangan. Di tengah masa pandemi, maskapai penerbangan terpaksa harus mengurangi dan membatasi penerbangan internasional untuk mencegah terjadinya penyebaran virus yang semakin meluas. Dampaknya bisa ditemukan pada maskapai berplat merah Garuda Indonesia (GIAA).

PT Garuda Indonesia Tbk terakhir kali menyampaikan laporan keuangan sepanjang Januari sampai September 2020, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar 1,14 miliar  dolar AS atau setara 16 triliun rupiah atau telah mengalami penurunan sebesar 68% bila dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,54 miliar dolar AS.

Hal ini disebabkan turunnya pendapatan terhadap penumpang sebesar 71 persen menjadi 736 juta dolar AS dan kargo turun 26 persen menjadi 180 juta dolar AS. Selain itu pendapatan Garuda dari ibadah haji turun 100 persen akibat pembatasan ketat yang dilakukan oleh pemerintah arab Saudi. Walaupun demikian, pendapatan Garuda melalui penerbangan charter naik hampir 4 kali lipat menjadi 47 juta dolar AS.

Alhasil, garuda mencatatkan rugi bersih 1,07 miliar dolar AS atau 15 triliun rupiah. Padahal pada tahun 2019 di periode yang sama, Garuda membukukan laba bersih 122 juta dolar AS. Kerugian yang sangat besar ini, tentu membuat pemerintah selaku pemegang saham melakukan langkah yang dapat menyelamatkan perseroan dengan langkah menawarkan pensiun dini kepada para karyawannya. 

Hal ini dilakukan untuk melakukan langkah penyesuaian terhadap aspek supply dan demand akibat penurunan pendapatan perseroan. Kabar ini juga membuat saham perseroan berkode GIAA mengalami tekanan perdagangan hingga anjlok ke level Rp264 per lembar saham Per 31 Mei 2021.

  • Industri Tekstil

Sektor Industri manufaktur juga mengalami dampak yang nyata dari wabah global ini. Hal ini dapat dilihat dari emiten tekstil yang telah diajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Emiten tersebut adalah PT Pan Brother Tbk. Perusahaan yang berkode PBRX ini digugat PKPU oleh PT Maybank Indonesia Tbk di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Kesulitan keuangan yang dialami PBRX sudah dimulai pada tahun 2020, ketika virus COVID-19 mewabah di Indonesia. Pandemi tersebut memberikan tantangan yang belum pernah ada sebelumnya bagi perseroan. Tantangan tersebut berupa sulitnya mempertahankan rantai pasokan garmen yang dipengaruhi turunnya permintaan eksternal.

Selain itu, perusahaan juga menghadapi dampak lain dari COVID-19 berupa meningkatnya permintaan modal kerja, penurunan peringkat kredit dan penurunan signifikan pada trade line facility.

Padahal, sepanjang tahun 2020, PBRX telah membukukan pendapatan sebesar 685 juta dolar AS atau tumbuh 3 persen bila dibandingkan pendapatan tahun 2019 yang sebesar 665 juta dolar AS. 

  • Industri Retail

Industri berikutnya yang terdampak adalah industri retail. Pembatasan berbelanja untuk memutus rantai virus, ternyata memberikan efek nyata terhadap industri ini, lho. Hal ini bisa dilihat dari keputusan PT Hero Supermarket Tbk (HERO) untuk menutup seluruh gerai Giant supermarket di seluruh Indonesia. 

Nah, guncangan dalam bisnis yang dijalani Hero Supermarket sebenarnya sudah terlihat sepanjang tahun 2020 lalu. Dimana HERO membukukan kerugian tahun berjalan yang sangat dalam. Dalam laporan keuangan Hero Supermarket per Desember 2020 menunjukkan catatan rugi senilai 1,21 triliun rupiah, atau anjlok hingga 4.203 persen dibandingkan rugi pada tahun sebelumnya yang hanya 28.21 miliar rupiah.

Akibatnya, pendapatan dari induk usaha Hero Supermarket dan Giant ini pun ikut tergerus hingga 26.98 persen menjadi 8.89 triliun rupiah. Padahal pada tahun 2019, Pendapatan induk usaha mencapai sebesar 12.18 triliun rupiah. 

Penurunan ini disebabkan kalah persaingan dengan kompetitor dan faktor peningkatan penjualan barang secara online.

Pada akhir tahun 2020, jumlah aset HERO yang tercatat senilai 4.83 triliun rupiah yang telah menyusut sebanyak 20.08 persen bila dibandingkan dengan akhir tahun 2019 yang sebesar 6.05 triliun rupiah.

Perusahaan yang berasal dari industri yang berbeda, masih merasakan dampak pandemi yang berkepanjangan. Ancaman bangkrut pun mulai menebarkan ketakutan di kalangan investor yang memiliki sahamnya.

Emiten yang menjadi contoh di atas membuktikan bahwa perusahaan yang terkena masalah keuangan bukan hanya perusahaan kecil saja, tetapi bisa menghantam perusahaan mana saja. Tidak bisa keluar dari masalah keuangan ini, maka emiten bisa-bisa dipailitkan.

Efek dari pailitnya sebuah emiten, tentu berita buruk bagi investor. Perusahaan pailit adalah kerugian bagi investor yang memiliki saham emiten. Nah, kamu sebenarnya tidak perlu takut untuk berinvestasi bila mendengarkan kabar seperti ini, lho.

Kamu bisa mengunduh Aplikasi Investasi Ajaib untuk berinvestasi. Lewat Aplikasi Investasi Ajaib, dana kamu akan dikelola oleh Manajer Investasi terbaik yang memberikan keuntungan yang optimal. Nah, tunggu apalagi? Segera miliki akun Ajaib ya. 

Sumber: Inilah 4 Industri yang Terdampak Cukup Parah Akibat Virus Corona, Digugat PKPU, ini kata Pan Brothers (PBRX), dan Simak Tujuh Fakta Garuda (GIAA) Terancam Bangkrut, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait