Analisa Saham, Saham

Bedah Saham BUMI: Bagaimana Kinerjanya Sekarang?

Sumber: Bumi Resources

Ajaib.co.id – Dulu pernah jadi salah satu saham blue chip dan dijual di level Rp8.000-an, tapi sekarang saham tersebut tertidur nyenyak di angka Rp50. Ada yang bisa nebak saham apa? Benar sekali, saham BUMI atau PT Bumi Resources Tbk yang merupakan perusahaan pertambangan di Indonesia. 

Saham BUMI merupakan salah satu perusahaan pertambangan besar di Indonesia. Perusahaan yang merupakan bagian dari Bakrie Group dan masuk dalam jajaran saham B7 (Brothers 7) terkenal sebagai produsen batu bara termal terbesar di Indonesia. Perusahaan ini bahkan terdaftar di Bursa Efek London. BUMI fokus di bidang eksplorasi dan eksploitasi endapan batu bara, meliputi pertambangan batu bara dan kegiatan eksploitasi minyak. 

Perusahaan memiliki empat bisnis utama yaitu: pertambangan batu bara (eksplorasi dan eksploitasi endapan batu bara) termasuk penambangan dan penjualan batu bara, pelayanan (pemasaran dan pelayanan manajemen), migas meliputi eksplorasi migas, dan emas, yang meliputi eksplorasi emas.

BUMI melantai di Bursa Efek Indonesia di tahun 1990 pada Papan Pengembangan di harga IPO Rp4,500 sebanyak 10 miliar lembar saham. Per 21 Februari 2021, saham BUMI berada di level Rp58/lembar dan sudah lama menjadi anggota indeks LQ50 (emiten yang memiliki harga 50 perak). Kapitalisasi pasarnya pun hanya 4,31 triliun.  Saat ini total saham BUMi yang beredar sebanyak 74 miliar lembar saham dengan komposisi publik sebesar 74%, disusul HSBC Fund A/C Chengdong  21,7%, dan Bambang Sihono 5,17%

Satu hal yang menarik dari saham BUMI, Lo Kheng Hong yang merupakan bapak value investing Indonesia pernah memilikinya. Jika berdasarkan harga jualnya dan kapitalisasi pasarnya, saham BUMI sudah bisa dipastikan saham gorengan dan harus dihindari investor jangka panjang. Namun, bagaimana dengan kinerja dan kondisi keuangannya? Mari kita bedah saham favorit BEI satu ini di bawah.

Kinerja Keuangan 

Mengingat saham BUMI bergerak di sektor pertambangan batu bara, sudah bisa dipastikan kinerja keuangannya tertekan karena harga batu bara yang anjlok di tahun 2020. Berdasarkan laporan keuangan yang diakses melalui BEI, perusahaan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 21,81% secara yoy dari US$751 juta ke US$581 juta. Menurunnya pendapatan diperparah dengan kenaikan beban bunga dan keuangan mencapai 30,49% menjadi US$165,,50 juta.

Realisasi harga batu bara hingga September tahun lalu turun 14% secara tahunan. Penurunannya dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya penurunan permintaan global dan volume penjualan batu bara saham BUMI yang turun sebesar 5%.

Akibat penurunan pendapatan dan meroketnya beban bunga dan keuangan, praktis saham BUMI mencatatkan kerugian bersih sebesar USD$137,25 juta pada periode 9 bulan pertama 2020 atau terkoreksi sangat dalam 280%, mengingat periode Januari – September tahun lalu perusahaan justru mencatatkan laba bersih senilai US$76,07 juta.

Pada periode yang sama, aset total BUMI juga turun sebesar 8% ke US$3,4 miliar dari US$3,7 miliar. Menurunnya total aset perusahaan juga diikuti menurunnya ekuitas ke US$426 juta dari US$486 juta, anjlok 27%. BUMI juga mampu menekan liabilitasnya. Penurunan ini tercermin pada angka US$2,9 miliar dari yang sebelumnya sebesar US3,1 miliar. 

Komponen LabaSeptember 2019 ($ Juta)September 2020($ Juta)
Pendapatan 751581
Laba Bersih76-137
Aset37003400
Ekuitas486426
Liabilitas31002900

Anjloknya pendapatan dan laba bersih perusahaan merupakan penyebab dari menurunnya harga batu bara global serta kewajiban perusahaan untuk memangkas angka liabilitas. Total liabilitas jangka pendek perusahaan per 3030 September 2020 sebesar US$1,6 miliar, yang artinya telah melebihi aset lancar pada periode yang sama sebesar US$350 juta. 

Perusahaan juga mengalami defisit sebesar US$2,82 miliar dan mengalami negatif arus kas dari aktivitas operasi sebesar US$21,69 juta berbanding terbalik dari akhir kuartal III/2019 US$13,8 juta. Ini mengindikasikan ketidakpastian yang jelas atas kemampuan manajemen BUMI untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. 

Selanjutnya, mari kita beralih ke rasio keuangan saham BUMI di bawah ini:

RasioSeptember 2019September 2020
ROA2,04%-4,02%
ROE12,96%-32,19%
NPM8,28%-21,82%
GPM23,18%5,93%
OPM10,1%-23,3%
DER5.37.0

Rasio keuangan saham BUMI jauh dari kata sehat, bahkan pencapaian rasio keuangan di tahun lalu sangat jauh lebih baik dibandingkan tahun ini. Hal ini tercermin pada rasio return yang turun, di antaranya ROA -4,02% dan ROE -32,19%, padahal ROA dan ROE adalah indikator yang menentukan apakah perusahaan bisa memanfaatkan investasi dan asetnya untuk menghasilkan keuntungan secara efisien. 

Rasio profitabilitas saham BUMI juga sangat tidak baik, NPM nya yang -21,82%, GPM nya yang anjlok -17,25% ke 5,93%, serta OPM nya yang kini di level -23,3%. Rasio ini mengindikasikan perusahaan tidak menjalankan perusahaan operasi secara efisien. Sederhananya, rasio keuangan saham BUMI sangat buruk.

Riwayat Kinerja

KomponenCAGR 2017-2020
Laba Bersih-86,3%
Pendapatan47,63%
Total Aset5,76%

Pertumbuhan kinerja keuangan saham BUMI selama 4 tahun kurang baik, terlebih pada komponen laba bersih. CAGR perusahaan di komponen tersebut -86,3%. Ini artinya perusahaan terus mengalami kerugian setiap tahunnya. Sementara, CAGR pendapatan  dan total aset berada di level 47,63% dan 5,76%. Ini mengindikasikan perusahaan masih mampu meningkatkan pendapatan dan total aset di setiap tahunnya.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Sebagai salah satu indikator penting dalam fundamental perusahaan, dividend berfungsi untuk mengukur bagaimana perusahaan mampu menyisihkan laba untuk investor. Namun, selama 9 tahun ke belakang, saham BUMI belum pernah membagikan dividen sepeserpun ke investornya. Hal ini tentu membuat investor ragu akan fundamental perusahaan. 

Puasanya pembagian dividen BUMI disebabkan karena manajemen harus membayar utang beserta bunga setiap tahun. Manajemen juga menyebutkan berjanji akan memberikan dividen pada 2023 setelah mendapatkan izin dari kreditur atau setelah perusahaan membayarkan 80% dari total utang. Tentunya hal ini membuka harapan bagi investor lama dan menjadi pertimbangan bagi investor yang memutuskan untuk membeli saham $BUMI

Prospek Bisnis BUMI

Harga batu bara termal terus terpangkas dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Harga si batu legam kini sudah berada di bawah level US$80/ton. Untuk kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle yang aktif ditransaksikan di pasar harganya anjlok di hari Rabu 18 Februari 2021. Harga batu bara anjlok 3,65% dalam sehari. Kini komoditas energi primer tersebut dihargai di US$79,25/ton.

Terus menurunnya harga batu bara dipicu oleh beberapa faktor, terutama karena China. Harga batu bara termal acuan China Qinhuangdao terus merosot meski masih tetap lebih tinggi dari batas atas harga yang dipatok oleh regulator di level RMB 500 – RMB 570 per ton. Selisih harga antara batu bara termal China dan Australia kini semakin menyempit. Jelang berakhirnya musim dingin di China dan berakhirnya perayaan tahun baru Imlek akan membuat harga batu bara cenderung berbalik arah ke tren bearish.

Harga batu bara untuk tahun 2021 juga diproyeksi akan lebih baik dibandingkan tahun lalu. Program vaksinasi Covid-19 di sejumlah negara, termasuk Indonesia telah menumbuhkan optimisme bahwa ekonomi akan pulih secara bertahap di kalangan pelaku pasar. Harga batu bara yang naik juga akan dipicu karena membaiknya aktivitas ekonomi seperti di sektor manufaktur. 

Hubungan Australia dan China yang retak cenderung menguntungkan bagi sektor batu bara Indonesia karena Negeri Panda tersebut akan mengalihkan impor batu baranya ke Tanah Air. Per Desember 2020, impor batu bara China melonjak menjadi 39,08 juta ton dari 2,77 juta ton karena Beijing memutuskan untuk melonggarkan pembatasan impor guna mengurangi kendala pasokan di dalam negeri di tengah musim dingin yang ekstrim.

Penambang batu bara Indonesia akan menjadi pihak yang diuntungkan atas impor China yang kuat. Indeks harga batu bara Indonesia 4.200 kcal/kg naik ke US$45/ton pada Januari 2021 dari rata-rata US$26/ton dalam tujuh bulan sampai November 2020. Naiknya permintaan impor China akan mengerek saham BUMI di masa mendatang. 

Selain itu, ada beberapa katalis positif yang mendorong saham BUMI ke depan, di antaranya wacana penyiapan kebijakan pemanfaatan dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor minerba dengan konsep Sovereign Wealth Fund atau Mining Sustainable Fund. inisiatif yang positif untuk mempromosikan konsep pertambangan minerba yang berkelanjutan dan tetap ramah terhadap lingkungan. Apalagi, BUMI juga menaruh perhatian lebih dalam kegiatan Environmental, Social, and Good Governance (ESG). 

Sebagai catatan, realisasi PNBP minerba di tahun 2020 mencapai Rp34,6 triliun, sementara di tahun ini, Kementerian ESDM menargetkan capaian PNBP minerba sebesar Rp39,1 triliun.

Kesimpulan

Prospek batu bara ke depannya mungkin masih cerah mengingat permintaan masih tinggi hingga beberapa tahun ke depan. Namun, fundamental saham BUMI yang mengkhawatirkan ditambah utang dan bunga yang harus dibayar setiap tahunnya mengharuskan BUMI untuk menghabiskan pendapatan setiap tahunnya ke pos liabilitas. Ini artinya, perusahaan masih akan sulit untuk menghasilkan keuntungan di beberapa tahun ke depan. 

Data RTI per 22 Februari menunjukkan PER BUMI berada di level -1.51 kali, sedangkan PBV nya yang berada di angka -0.75 kali. Dengan kata lain, harga saham BUMI sekarang dihargai sangat murah. Namun, dengan kondisi fundamental yang buruk, investor perlu mempertimbangkan ulang jika mau membeli saham BUMI. 

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait