Analisa Saham

Melihat Strategi Bisnis VIVA Atasi Penurunan Pendapatan

Melihat Strategi Bisnis VIVA Atasi Penurunan Pendapatan

Ajaib.co.id – Visi Media Asia Tbk dengan kode saham VIVA adalah perusahaan yang berdiri di Indonesia pada 8 November 2004 dengan nama PT Semesta Kolina. Kemudian mulai beroperasi pada tahun 2005.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan dipaparkan ruang lingkup bisnis VIVA. Di antaranya bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa konsultasi manajemen. Kegiatan utama dari VIVA bergerak sebagai induk perusahaan dari anak usaha yang bergerak di bidang media dan jasa.

Saat ini, VIVA mempunyai 2 stasiun TV FTA dan portal berita on-line melalui anak perusahaannya. Terdiri dari ANTV (PT Cakrawala Andalas Televisi, merupakan anak usaha Intermedia Capital Tbk), tvOne (PT Lativi Mediakarya), viva dan vivall (PT Viva Media Baru), serta Viva Plus (PT Digital Media Asia).

VIVA tercatat mempunyai anak usaha yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia, yaitu Intermedia Capital Tbk (MDIA).

Pada 9 November 2011, VIVA mendapatkan pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK. Pernyataan ini sebagai syarat untuk melaksanakan Penawaran Umum Perdana Saham VIVA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.667.000.000 saham Seri A dengan nilai nominal Rp100,- per saham serta harga penawaran Rp300,-, disertai dengan waran sebanyak 1.000.200.000 waran yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif.

Saham-saham itu pun dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 21 November 2011. Setiap pemegang 1 waran berhak membeli 1 saham VIVA Seri A dengan harga pelaksanaan sebesar Rp305,- per saham. Pembelian dapat dilakukan selama masa pelaksanaan yaitu mulai tanggal 22 Mei 2012 sampai 21 Mei 2013.

Pendapatan Turun di 2020, VIVA Fokus Pertahankan Bisnis

Mengutip dari republika.co.id, PT Visi Media Asia Tbk (saham Viva) harus mengalami penurunan pendapatan secara signifikan sebagai dampak dari pandemi covid-19. Alhasil pendapatan Viva anjlok 22,2% pada kuartal III 2020 dengan Ebitda kontraksi 39,1%. Untuk rugi bersih tercatat sebesar Rp994,6 miliar.

Sementara itu, PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) sebagai pengelola Free to Air TV Antv milik Viva juga harus menelan penurunan pendapatan sebesar 21,3%. Sedangkan EBITDA tercatat tumbuh 70,2% dan rugi bersih sebesar Rp143,6 miliar.

Direktur MDIA, Ahmad Zulfikar mengakui jika pandemi covid-19 ini telah membawa dampak signifikan pada kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan pun saat ini fokus bertahan dan lebih memprioritaskan kualitas pendapatan.

Pendapatan VIVA Terus Menurun Sejak 2017

Terlepas dari kondisi pandemi, emiten Visi Media Asia Tbk (VIVA) memang sudah mencatatkan penurunan bisnis dilihat dari pendapatan atau penjualan bersih perusahaan. Penurunan ini terhitung sejak tahun buku 2017 hingga 2019. Selain itu, laba perusahaan pun ikut terkontraksi meskipun masih tetap tumbuh. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam miliar rupiah)

Laporan Laba Rugi 2019 2018 2017
Penjualan bersih 2.117,8 2.400,2 2,775.0
Laba Usaha 31,9 57,4 706.2
Laba tahun berjalan 540,9 1.111,7 209.7

Dari data tersebut, secara penjualan VIVA memang terus mengalami penurunan per tahunnya. Penurunan ini disebabkan banyak faktor. Namun sebetulnya pada 2019, perseroan berhasil memperbaiki angka kerugian perusahaan.

Mengutip dari bisnis.com, VIVA telah berhasil mengurangi kerugiannya pada tahun buku 2019. Walaupun tak dapat dipungkiri dalam periode yang sama pendapatan perusahaan tercatat menyusut.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang diakses dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), VIVA memperoleh pendapatan sebesar Rp2,11 triliun. Angka ini terhitung turun 11,77% dibandingkan pendapatan tahun 2018 yang sebesar Rp2,40 triliun. Sedangkan untuk pos pendapatan perusahaan masih didominasi oleh pendapatan dari iklan yakni sebesar Rp2,10 triliun. Untuk pendapatan sisanya diperoleh dari pendapatan non-iklan Rp9,15 miliar.

Selanjutnya, beban usaha yang harus ditanggung emiten media ini juga menurun 8,24%, dari sebesar Rp2,34 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp2,14 triliun pada akhir 2019.

Implikasinya VIVA mampu untuk menekan kerugiannya pada tahun buku 2019. Pada periode tersebut rugi yang dapat distribusikan kepada entitas pemilik perseroan tercatat sebesar Rp550,83 miliar.

Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial VIVA:

Rasio 2019
ROA NM
ROE NM
NPM 26,1%
EBITDA 2,87%
DER 6,46X

Note: NM (Not Meaningful)

Prospek Bisnis VIVA Kedepannya?

Dilansir dari republika.co.id, VIVA ikut mengalami penurunan pendapatan signifikan karena pandemi covid-19. Hal ini terjadi sepanjang 2020 lalu. Perusahaan pun melakukan sejumlah strategi untuk meningkatkan kinerja dan optimis pada proyeksi bisnis di 2021 ini.

Direktur Viva M Sahid Mahudie mengutarakan optimismenya pada tahun 2021 bisnis bisa tumbuh double digit. Ia memaparkan target industri bisa tumbuh 7,5%, pihaknya akan mengupayakan di atas itu, paling tidak bisa mencapai double digit di grup Viva.

Strategi efisiensi yang dilakukan di antaranya menerapkan berbagai aplikasi digital. Dengan tujuan untuk menjamin efisiensi dan efektivitas kerja karyawan. Selain itu, menyiarkan program re-run yang ongkosnya jauh lebih murah sehingga dinilai sangat efisien daripada menayangkan program baru.

Selain itu, strategi berupa menayangkan program yang berbeda dengan pesaing juga mendapat sambutan publik. Sementara itu, untuk memperkuat permodalan pada 2021, VIVA telah berupaya menuntaskan utang. Saat ini dalam proses menyepakati penyelesaian utang existing melalui pembiayaan kembali dan metode lain yang dapat memperbaiki fundamental perusahaan dan entitas anak.

Perseroan juga dalam proses untuk memperoleh fasilitas pembiayaan kembali dan kredit modal kerja dengan tenor yang lebih panjang serta bunga pinjaman yang lebih kompetitif. Tahun ini, VIVA mencadangkan belanja modal sekitar Rp100 miliar yang mayoritas untuk pengadaan infrastruktur.

Melihat keadaan VIVA yang masih berupaya memperbaiki bisnis, sebaiknya investor memperhatikan aksi korporasi dan pergerakan saham. Sebelum memutuskan untuk melakukan aksi beli. Namun, kondisi perusahaan yang masih meraup keuntungan patut menjadi nilai positif di tengah keadaan tak pasti akibat covid-19.

Artikel Terkait