Analisa Saham, Saham

Saham GIAA: Kinerja Tumbuh Tipis, Tetapi Prospeknya Menarik

Sumber: Garuda Indonesia

Ajaib.co.id – Setiap tahunnya, kinerja Garuda Indonesia tumbuh tipis. Bahkan beberapa kali, kinerja perusahaan minus. Bagaimana dengan saham GIAA?

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) merupakan maskapai penerbangan plat merah yang mulai beroperasi pada 26 Januari 1949. Perusahaan sektor transportasi ini tak hanya memberikan jasa angkutan udara niaga yang mengoperasikan 202 armada pesawat.

GIAA juga memiliki unit bisnis kesehatan (Garuda Sentra Medika) dan kargo (Garuda Cargo) yang menggandeng mitra lain untuk mengirimkan barang ke Indonesia maupun luar negeri. Untuk memperluas jangkauan pengiriman barang, Garuda Cargo bekerja sama dengan maskapai lain seperti Malaysia Airlines, Korean Airlines, China Airlines, dan Turkish Airlines.

Pada 11 Februari 2011, perusahaan tercatat sebagai salah satu emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kala itu, harga per lembar saham GIAA sebesar Rp620. Pada 08 Februari 2021, GIAA merosot pada level Rp334.

Sedangkan pemegang saham GIAA paling banyak adalah Negara Republik Indonesia dengan presentasi 60,54%, PT Trans Airways memiliki saham 25,8%, dan 13,66% dimiliki oleh masyarakat.

Garuda Terpukul Pandemi, Utang Makin Bengkan dan Rugi Hingga Rp15 T

Penurunan kinerja disebabkan pendapatan usaha Garuda yang anjlok, hanya US$ 1,13 miliar hingga akhir September 2020. Pandemi COVID-19 membuat kinerja keuangan saham GIAA makin terpuruk. Maskapai penerbangan milik pemerintah ini harus menderita kerugian sebesar US$1,07 miliar pada kuartal III-2020.

Kinerja Garuda pada kuartall III-2020 berbanding terbalik dengan raihan profit periode yang sama tahun lalu. Garuda mampu meraih laba bersih US$122,42 juta atau Rp1,74 triliun pada kuartal III-2019. Berikut ini laporan kinerja GIAA untuk periode per 30 September 2020 (dalam juta dolar AS):

Kinerja Laba/Rugi Saham GIAA Kuartal III-2020

Pendapatan Garuda Masih Jeblok

Kerugian ini disebabkan pendapatan Garuda yang anjlok. Garuda hanya mampu mengantongi pendapatan senilai US$1,13 miliar hingga akhir September 2020, turun hingga 67,85% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai US$3,54 miliar.

Pendapatan Garuda mayoritas masih didominasi dari penerbangan berjadwal yaitu penerbangan penumpang serta kargo dan dokumen. Namun, pendapatan penerbangan berjadwal ini anjlok hingga 67,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 2,79 miliar.

Dari penumpang, Garuda hanya mampu mengantongi pendapatan US$736,51 juta, turun hingga 71,14% secara tahunan. Sementara, pendapatan dari pengiriman kargo dan dokumen US$180,77 juta atau turun 25,89% secara tahunan.

Pendapatan saham GIAA dari bisnis penerbangan tidak berjadwal pada kuartal III-2020 juga menurun hingga 81,22% menjadi US$ 46,92 juta. Penurunan akibat tidak adanya pendapatan dari penerbangan haji tahun 2020. Di tahun sebelumnya Garuda mampu membukukan pendapatan sebesar US$ 240,16 juta dari aktivitas ibadah umat muslim ini.

Penurunan pendapatan Garuda juga terjadi pada aktivitas pemeliharaan dan perbaikan pesawat pada triwulan III 2020 sebesar 59,58% secara tahunan menjadi hanya US$ 70,18 juta saja. Pendapatan dari pelayanan terkait penerbangan juga mengalami penurunan hingga 47,75% secara tahunan menjadi US$ 35,8 juta. Namun, pendapatan Garuda lainnya seperti sewa pesawat tercatat mengalami kenaikan hingga 381,15% dibandingkan periode sama tahun lalu senilai US$ 9,75 juta saja. 

Rugi besar ini pun menyebabkan ekuitas GIAA kini negatif. Artinya, seluruh aset perseroan kini ditopang oleh utang. Berikut ini kondisi neraca GIAA per 30 September 2020 dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019 (dalam juta dolar AS):

Kinerja Neraca Saham GIAA Kuartal III-2020

Dari sisi aset, Garuda mencatatkan total aset senilai US$9,9 miliar per akhir September 2020, naik dari akhir Desember 2019 yang senilai US$4,45 miliar. Kenaikan disebabkan karena total aset tidak lancar yang senilai US$9,19 miliar, naik dari US$3,32 miliar. Padahal, aset lancar garuda tergerus menjadi US$714,33 juta dari US$1,13 miliar.

Utang yang Terus Membengkak

Berdasarkan data dari laporan keuangan Garuda dapat kita lihat bahwa bukan cuma dari sisi profitabilitas Garuda saja yang buruk. Liabilitas Garuda pun mengalami kenaikan pada September 2020 menjadi US$10,36 miliar, dibandingkan US$3,73 miliar pada akhir Desember 2019.

Kenaikan paling besar terjadi pada liabilitas jangka panjang, dari US$477,21 juta menjadi US$5,66 miliar. Sementara, total liabilitas jangka pendek naik dari US$3,25 miliar menjadi US$4,69 miliar. Tingginya catatan liabilitas jangka panjang terjadi karena sewa pembiayaan Garuda yang mencapai US$4,27 miliar per September 2020. Kemudian aktivitas transaksi sewa pesawat, mesin, bangunan, kendaraan, tanah dan perangkat keras ini, tercatat naik drastis dari hanya US$35,34 ribu per Desember 2019.

Riwayat Kinerja

Kinerja keuangan emiten berkode saham GIAA ini memang tidak sedang baik-baik saja. Pandemi memukul bisnis maskapai dengan sangat keras. Di dunia, tidak sedikit maskapai besar yang akhirnya gulung tikar atau menanggung kerugian dan utang yang besar.

Bagi Garuda Indonesia, tidak perlu menunggu pandemi untuk bisnisnya memburuk. Bahkan sejak sebelum pandemi, Garuda Indonesia sudah menjadi sorotan akibat kinerjanya yang tidak memuaskan. Berikut ini ringkasan kinerja keuangan Garuda sejak 2015 (dalam juta dolar AS)

Kinerja Laba/ Rugi Tahunan Saham GIAA
Kinerja Neraca Tahunan Saham GIAA

Dari  data tersebut, terlihat bahwa liabilitas atau komponen utang GIAA meningkat pesat sepanjang tahun 2015 hingga 2019. Peningkatan liabilitas ini terutama dalam kategori aset tidak lancar. Total aset GIAA pun turut membengkak.

Sementara itu, ekuitas perusahaan menurun drastis. Bahkan dari kinerja neraca GIAA pada kuartal III-2020 kondisi ekuitas GIAA negatif. Ini sudah terjadi sejak paruh pertama 2020. Per Maret 2020, ekuitas GIAA masih positif US$500,8 juta, tetapi per Juni 2020 sudah berkurang menjadi minus US$80,77 juta.

Kondisi ekuitas negatif bukanlah hal yang wajar terjadi dan jelas bukan pertanda baik. Lantas, dengan kondisi seperti ini, masih wajarkah harga saham GIAA diapresiasi?

Prospek Bisnis Saham GIAA

Hadirnya pandemi seolah menghantar GIAA ke gerbang kebangkrutan. Namun, negara tetap tidak tinggal diam. Nafas Garuda Indonesia tampaknya masih akan panjang. Meski tertatih, emiten BUMN yang mengemban misi untuk menghubungkan Nusantara ini tetap beroperasi. 

Setidaknya, ada dua langkah penguatan bisnis maskapai milik negara ini yang menjadi perhatian, yakni cairnya obligasi wajib konversi (OWK) senilai Rp1 triliun dari negara serta putus kontrak dini atau early termination pesawat Bombardier CRJ-1000 NG. Langkah tersebut tampaknya akan cukup menolong GIAA. Benarkah?

Pencarian Obligasi Wajib Konversi

Obligasi Wajib Konversi atau OWK merupakan utang yang diberikan kepada perusahaan yang nantinya akan dikonversikan menjadi penyertaan saham. Artinya, selama masa pinjaman, perusahaan wajib membayar bunga, tetapi saat jatuh tempo, utang tersebut berubah menjadi penyertaan saham. Konversi OWK akan menggunakan mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMT HMETD) atau private placement.

Jadi, GIAA tidak memiliki kewajiban untuk melunasi utang OWK tersebut. Obligasi yang semula masuk ke komponen utang, otomatis beralih ke komponen ekuitas.

Lalu, siapa yang akan membeli OWK tersebut? Jawabannya, Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini yakni Kementerian Keuangan yang akan diwakili oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI.

GIAA menjelaskan bahwa dana OWK akan dipergunakan untuk modal kerja dan biaya berkaitan dengan operasional perseroan, termasuk tetapi tidak terbatas pada pemenuhan kewajiban kepada vendor/mitra perseroan.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar GIAA pada akhir November 2020 lalu, pemegang saham setuju agar GIAA menerbitkan OWK. Nilai maksimal penerbitan OWK ini adalah Rp8,5 triliun dan akan dilakukan bertahap hingga 2023. Tenor untuk tiap kali emisi yakni maksimal 7 tahun.

Nah, penerbitan tahap pertama telah dilakukan pada awal tahun 2021. Manajemen GIAA mengonfirmasi bahwa telah menerima dana Rp1 triliun dari pemerintah sebagai hasil dari penerbitan OWK.

Suntikan dana ini merupakan bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dijalankan pemerintah untuk memperbaiki posisi keuangan BUMN. Dana tersebut masuk pada Kamis (4 Februari 2021) lalu untuk OWK bertenor 3 tahun.

Faktor ini tampaknya menjadi sentimen yang lebih besar bagi GIAA. Bagaimanapun, dengan suntikan modal langsung ke GIAA, kondisi keuangan perusahaan akan membaik. 

Dengan bantuan dana ini, krisis arus kas di tubuh GIAA dapat tertolong. Operasional bisnisnya pun kini dapat sedikit lebih lega. Meskipun demikian, kerja keras GIAA tentu belum berakhir untuk dapat menyehatkan lagi bisnis perusahaan.

Efisiensi: Pemutusan Kontrak dengan NAC yang Merugikan

Menteri BUMN Erick Thohir mewanti-wanti GIAA untuk berbenah. Dia meminta GIAA memperbaiki model bisnisnya agar dapat lebih efisien dan optimal, terutama selama periode pandemi.

Oleh karena itu, Erick juga meminta manajemen GIAA untuk melakukan negosiasi ulang terhadap penyewaan pesawat, terutama selama pandemi. Hal tersebut lalu ditindaklanjuti manajemen GIAA dengan memutus kontrak 12 pesawat Bombardier CRJ-1000 dari Nordic Aviation Capital (NAC).

Kontrak penyewaan pesawat Bombardier CRJ-1000 Next Gen oleh Garuda Indonesia dimulai sejak 2012 hingga 2015. Pesawat ini dikhususkan untuk melayani rute jarak pendek, terutama untuk kebutuhan commuter, seperti Makassar-Ternate, Makassar-Gorontalo, Makassar-Balikpapan, Denpasar-Lombok, dan Denpasar-Semarang.

Manajemen GIAA memandang pesawat ini kurang ekonomis dan tidak cocok untuk jenis layanan premium yang menjadi target pasar Garuda Indonesia. 

Menurut perhitungan manajemen GIAA, rata-rata kerugian per tahun yang disumbangkan oleh pesawat itu mencapai US$30 juta atau sekitar Rp400 miliar per tahun. Dengan demikian, dalam 7 tahun terakhir, total kerugian yang dikontribusikan pesawat ini bagi GIAA mencapai Rp2,8 triliun.

Oleh karena itu, kontrak pesawat yang seharusnya baru akan jatuh tempo pada 2027 itu diputuskan secara sepihak oleh GIAA. Dengan keputusan tersebut, sejak 1 Februari 2021, ke-12 pesawat tersebut kini tidak lagi beroperasi dan dikandangkan di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Banten. Dari sisi teknis, pesawat ini sejatinya tidak buruk. Hanya saja, nilai sewanya kurang kompetitif, sehingga akan merugikan bagi GIAA di masa pandemi.

Manajemen GIAA menghitung penghentian ini justru lebih menguntungkan ketimbang jika kontrak dilanjutkan. Dengan langkah ini, GIAA bisa menghemat hingga US$220 juta atau sekitar Rp3 triliun.

Langkah efisiensi GIAA tentu saja akan mencegah perseroan dari kerugian yang berlanjut. 

GIAA Bersiap Jadi Anggota Holding BUMN Pariwisata

Sentimen lain yang juga berkembang seputar GIAA yakni rencana pembentukan holding BUMN pariwisata dan pendukung. Nantinya, PT Survai Udara Penas (Persero) akan menjadi induk holding. Prosesnya hingga kini masih bergulir.

Selain GIAA, anggota lain holding ini adalah PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero), PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), PT Sarinah (Persero), PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), dan PT Pelita Air Services.

Nantinya, Penas akan menggantikan kepemilikan saham pemerintah pada GIAA. Konsolidasi ini akan menguntungkan bagi GIAA, sebab sinergi bisnis antaranggota holding akan lebih optimal. Hanya saja, hingga kini belum cukup jelas seperti apa skema sinerginya nanti.

Holding ini sendiri ditargetkan bisa rampung terbentuk akhir tahun ini. Artinya, tahun depan GIAA dapat menjalankan bisnisnya dengan kekuatan baru dari dukungan sinergi ini. Mudah-mudahan saja hasilnya akan lebih baik.

Apakah GIAA Masih Menjanjikan?

Hal yang pasti, Pemerintah tidak pernah akan tinggal diam membiarkan GIAA terpuruk, sebab GIAA memainkan peranan penting dalam mewujudkan konektivitas nasional. GIAA menjadi lambang yang mempersatukan nusantara dari Sabang sampai Merauke. Dalam hal ini, prospek bisnis jangka panjang GIAA boleh jadi masih menjanjikan.

Namun, survei yang dilakukan oleh Inmarsat, perusahaan aviasi yang berbasis di Inggris, menemukan bahwa sekitar 83% penumpang di seluruh dunia enggan untuk kembali ke kebiasaan mereka melakukan jalan-jalan seperti sebelumnya. Selain itu, sekitar 31% menyatakan akan lebih jarang bepergian melalui udara. Survei dilakukan terhadap sekitar 1.000 penumpang di seluruh dunia.

Survei memang tidak menjelaskan tentang seberapa lama tren tersebut akan bertahan. Akan tetapi, survei tersebut menjelaskan bahwa alasan orang-orang berpikir mereka akan mengurangi perjalanannya, terutama perjalan bisnis, yakni karena mereka sudah mulai terbiasa dengan interaksi digital atau virtual, sehingga tidak membutuhkan perjalanan untuk tatap muka.

Artinya, tren itu kemungkinan akan menetap sebab sudah menjadi kebiasaan baru. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi bisnis penerbangan. Apalagi, kontribusi perjalan bisnis terhadap pendapatan maskapai bisa mencapai 55% – 75%, meskipun jumlah penumpangnya hanya menyumbang sekitar 10%.

Dengan tantangan ini, tampaknya prospek GIAA masih akan berat. Namun, dengan visi pemerintah untuk memperkuat industri pariwisata dan menggabungkan GIAA ke dalam holding pariwisata, prospek GIAA tentu masih menjanjikan dari sisi perjalanan wisata.

Perjalanan udara hingga kini masih menjadi alternatif utama untuk menjangkau wilayah-wilayah yang jauh dalam waktu singkat. Dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan, GIAA akan didukung oleh kebutuhan domestik, meskipun kebutuhan perjalanan internasional mungkin berkurang.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait