Analisa Saham, Saham

Bedah Saham ARTI: Harga Rp50 Masih Bagus Untuk Dikoleksi?

Ajaib.co.id – Satu lagi saham yang masuk di indeks LQ50, yaitu saham milik PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI). Ratu Prabu Energi Tbk adalah perusahaan energi yang beroperasi di bidang produksi dan jasa minyak dan gas bumi. Perusahaan juga menjalankan bisnis di pertambangan lain meliputi emas dan batu bara. Selain itu, saham ARTI juga memiliki unit bisnis properti.

Perusahaan ARTI beroperasi dengan sejumlah anak perusahaan di antaranya PT Lekom Maras di bidang jasa pertambangan dan properti, Lekom Maras Pengabuan Inc di bidang pertambangan minyak, PT Bangadua Petroleum dibidang pertambangan minyak dan gas, dan PT Ratu Prabu Tiga di bidang pengembangan, penyewaan serta pengelolaan properti.

Saham ARTI pernah sempat dihentikan sementara (suspensi) lantaran belum membayar denda terkait keterlambatan penyampaian laporan keuangan interim 30 Maret 2020 dan keterlambatan penyampaian laporan keuangan per 31 Desember 2019. Namun, pada 16 Oktober 2020, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah membuka suspensi atas saham ARTI.

ARTI tercatat melantai di bursa pada 30 April 2003 dengan harga IPO sebesar Rp950 dengan jumlah keseluruhan 95 miliar lembar saham. Per 24 Februari 2021, saham ARTI sudah merosot ke Rp50 perak dan tidak ada aktivitas jual beli sama sekali, serta mendapatkan catatan “Negative equity”, yang artinya perusahaan mengalami kerugian usaha secara terus menerus sehingga menggerus nilai ekuitas.

Total saham ARTI yang beredar di publik 7,8 miliar lembar dengan kepemilikan terbesar dipegang publik dengan persentase 57,5%, disusul PT Ratu Prabu sebagai pengendali dengan 33%, dan DP Bukit Asam sebesar 9,3%. 

Dengan kondisi ekuitas yang negatif dan harga sahamnya tertidur di level Rp50, apakah ARTI memiliki peluang untuk bertahan di BEI? Mati kita bedah saham ini bersama-sama.

Kinerja Keuangan 

PT Prabu Energi Tbk menjadi salah satu perusahaan yang terdampak COVID-19 ditambah kondisi keuangan tahun lalu yang tidak terlalu baik menjadi alasan buruknya kinerja keuangan ARTI tahun ini. Berdasarkan data dari BEI, saham ARTI mencatatkan penurunan pendapatan bersih sebesar 78,94% (yoy) menjadi Rp30,05 miliar di 9M2020 dari sebesar Rp142,69 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.

kontributor utama pendapatan ARTI di 9M2020 berasal dari jasa konsultan perminyakan dan tenaga ahli sebesar Rp25,69 miliar, sementara pendapatan dari penyewaan rig dan peralatan minyak sebesar Rp3,60 miliar, jasa perminyakan lainnya senilai Rp753,20 juta, dan penyewaan bangunan dan jasa terkait di angka Rp309.000.

Beban pokok pendapatan ARTI hingga Q3 2020 tercatat sebesar Rp49,49 miliar. Angka ini anjlok 59,22% dibandingkan beban pokok pendapatan ARTI di 9M2019 sebesar Rp121,37 miliar. Beban umum ARTI juga ikut turun 64,96% dari Rp49,47 miliar menjadi Rp17,33 miliar. Mengingat tahun lalu ARTI membukukan rugi bersih, di Q3 2020 pun perusahaan masih mencatatkan rugi bersih, hanya saja angkanya turun 47% dari Rp10,88 miliar ke Rp5,74 miliar. 

Beralih ke posisi keuangan, Total aset saham ARTI hingga Q3 2020 sebesar Rp920 miliar atau tergerus 74% dibandingkan total aset pada Q3 2019 sebesar Rp3,5 triliun. Nilai liabilitas ARTI mencapai juga meningkat 4,08% ke Rp1,02 triliun dibandingkan liabilitas perusahaan di periode yang sama tahun tahun lalu sebesar Rp996 miliar. Sementara, yang paling parah ada di pos ekuitas perusahaan yang minus Rp10,54 miliar sepanjang 9 bulan 2020, turun dari Rp2,5 triliun. Ini artinya ekuitas anjlok sebesar 104%.

Komponen LabaSeptember 2019
($ Miliar)
September 2020
($ Miliar)
Pendapatan 14230,5
Rugi Bersih10,885,74
Aset3500920
Ekuitas2500-105
Liabilitas9961020

Dari aspek fundamental, kinerja keuangan perusahaan sangat buruk. Beberapa pos tampak mengalami penurunan performa. Pos ekuitas menjadi yang paling parah karena merosot hingga lebih dari 100%. Selain itu, ARTI juga masih mencatatkan rugi bersih sejak tahun lalu. Tentu hal ini tidak mencerminkan perusahaan yang sehat.

Lalu, bagaimana dengan rasio keuangan saham ARTI? Apakah lebih baik dari kinerja keuangannya? 

RasioSeptember 2019September 2020
ROA-0,31%-0,62%
ROE-1%-0,45%
NPM-7,63%-19,10%
GPM14,95%-64,66%
OPM-19,8%-122%
DER0.399.73

Rasio keuangan saham ARTI ternyata tidak jauh buruknya dengan kinerja keuangannya sepanjang Q3 2020. Rasio returnnya, baik ROA dan ROE nya menunjukkan angka minus. Ini artinya perusahaan justru berbalik rugi dibandingkan uang yang dikeluarkan untuk aset dan investasi.

Rasio margin perusahaan juga sangat mengkhawatirkan, NPM atau Net Profit Margin terus turun hingga -19,10%, angka GPM tahun lalu yang masih 14% sekarang berbalik -64%. Yang terparah ada pada OPM saham ARTI yang terus memburuk hingga menjadi -122%. Ini mengindikasikan biaya produksi melampaui total penjualan di tahun 2020.

Sementara untuk rasio solvabilitas perusahaan, angka DER nya naik drastis dari yang sebelumnya masih di angka rendah 0.39 atau 39%, tapi dalam waktu satu tahun meroket menjadi 973%. Secara sederhana, utang perusahaan 9x kali lipat dari total ekuitasnya. Ini membuktikan kesehatan keuangan ARTI sangat buruk.

Riwayat Kinerja

KomponenCAGR 2017-2020
Laba Bersih-226%
Pendapatan-34%
Total Aset-22%

Buruknya kinerja perusahaan juga tercermin pada rata-rata pertumbuhan (CAGR) laba bersih, pendapatan, dan total aset dalam kurun waktu 2017 hingga 2020. CAGR pendapatan tercatat -34% dan total aset -354.

CAGR laba bersih yang terparah di -226%, yang berarti perusahaan terus menerus merugi selama 4 tahun terakhir. Jika dilihat dari aspek fundamental, jelas angka CAGR yang negatif bukanlah indikator perusahaan yang sehat.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Selamai masuk bursa saham pada 30 April 2003, saham ARTI sama sekali tidak pernah membagikan dividen ke investor. Dalam 5 tahun terakhir, perusahaan juga selalu absen membagikan dividen.

Perusahaan yang tidak pernah membagikan dividen setidaknya 5 tahun terakhir adalah perusahaan yang harus dihindari investor karena kemungkinan besar perusahaan tersebut tidak bisa menghasilkan keuntungan sehingga tidak bisa memberikan dividen, yang artinya operasi perusahaan berjalan buruk.

Prospek Bisnis ARTI

Minyak dan gas adalah komoditas yang harganya fluktuatif tergantung harga global. Per 23 Februari 2021, harga minyak naik 3%, tetapi pada November tahun lalu harga minyak sempat merosot sebesar 10%. Tidak mengherankan jika saham migas memiliki diversifikasi bisnis untuk menutupi fluktuasi harga minyak dan gas dunia. Bergantung pada minyak dan gas untuk menghasilkan keuntungan pada perusahaan tentu hal yang sulit.

Sama halnya dengan keberlangsungan bisnis ARTI. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, kontributor utama pendapatan per kuartal III-2020 berasal dari jasa konsultan perminyakan dan tenaga ahli yakni sebesar Rp25,69 miliar, diikuti penyewaan rig dan peralatan minyak sebesar Rp3,60 miliar, dan jasa perminyakan lainnya sebesar Rp53,20 juta. Ini membuktikan bisnis ARTI sangat bergantung pada minyak dan gas. 

Selian harga minyak dan gas yang tidak stabil, kondisi bisnis ARTI semakin diperparah dengan keuangan yang buruk. Utang perusahaan di tahun ini meningkat hingga 9 kali lipat dari ekuitasnya. Riwayat pertumbuhan aset dan laba bersihnya pun turun dari tahun ke tahun.

Selain itu, saham ARTI beberapa waktu pernah masuk di daftar saham yang terancam delisting di 2022 mendatang. Hal ini lantaran saham perusahaan di-suspend karena telat menyetor laporan keuangan tahun 2019 dan 2020. Ini menambah daftar buruknya manajemen perusahaan.

Jika prospek bisnis minyak dan gas lebih di tahun ini, ARTI masih punya banyak PR untuk memperbaiki kinerja keuangan, mulai dari membayar utang dan bunga yang tinggi, melakukan refinancing, dan mengembalikan ekuitas yang saat ini negatif. Namun, untuk bisa menghasilkan keuntungan dalam waktu dekat, ARTI masih belum bisa mewujudkannya dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Data RTI per 24 Februari menunjukkan PER ARTIsebesar -51.20  kali, sementara PBV nya sebesar -0.24 kali. Meskipun harganya sangat murah, catatan yang menunjukkan bahwa ekuitas perusahaan negatif, ditambah ketidakmampuan menghasilkan keuntungan, serta utangnya yang terus naik dari tahun ke tahun menjadi bukti bahwa saham ini tidak layak untuk investasi jangka panjang.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait