Banking

Dampak Kebijakan Suku Bunga Terhadap Reksa Dana

suku bunga

Ajaib.co.id – Rencana pemerintah untuk pemulihan ekonomi bersamaan dengan program vaksinasi Covid-19 tahun ini disambut dengan tangan terbuka oleh bank sentral. Usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Februari 2021 lalu, Bank Indonesia (BI) resmi mengumumkan kebijakan penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate, alias BI7DRR sebesar 25 basis poin ke level 3,5%.

BI7DRR merupakan kebijakan pengganti BI Rate yang berlaku efektif sejak 19 Agustus 2016. Kerangka moneter baru ini dipilih karena efeknya yang lebih cepat. Berbeda dari BI Rate, BI7DRR memungkinkan lembaga perbankan tidak lagi menunggu hingga setahun untuk menarik kembali dana yang disimpan di BI.

Dalam rentang 7 hari dan kelipatannya bank-bank sudah bisa menarik uang tersebut beserta bunga terbaru yang ditetapkan pada saat penarikan uang.

Terkait penurunannya, ini bukanlah kali pertama BI7DRR dipangkas. Sejak awal tahun lalu BI secara bertahap terus-terusan menurunkan BI7DRR dari 5% ke posisi 3,75% per akhir 2020.

Sehubungan dengan hal tersebut, patut digarisbawahi bahwa diturunkannya BI7DRR agaknya juga bisa menjadi pisau bermata dua bagi investasi reksa dana. Ada efek positifnya, pun dampak negatifnya. Apa sebenarnya dampaknya terhadap kinerja reksa dana?

Mengapa Suku Bunga Bisa Pengaruhi Kinerja Reksa Dana?

Suku bunga merupakan salah satu kebijakan moneter yang pelaksanaannya dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia. Cara kerjanya dijabarkan sebagai berikut.

Ketika ekonomi mengalami perlambatan atau bahkan resesi, supaya bergeliat kembali bank sentral akan menurunkan suku bunga. Dengan demikian, diharapkan bunga kredit ikut turun, pengusaha mengajukan kredit dan berekspansi, serta pada akhirnya perekonomian tumbuh kembali.

Sebaliknya ketika ekonomi sedang mengalami pertumbuhan pesat yang menyebabkan tingkat inflasi terlalu tinggi, maka bank sentral akan menaikkannya, dan berakibat pada meningkatnya bunga kredit. Dengan demikian diharapkan kegiatan ekspansi akan tidak terlalu agresif sehingga inflasi tidak menjadi terlalu tinggi.

Jadi secara sederhana, ketika kondisi ekonomi sedang kurang baik, suku bunga berpotensi diturunkan dan ketika kondisi ekonomi terlalu baik, berpotensi dinaikkan. Tentu, selain naik dan turun, ada kemungkinan juga suku bunga tidak berubah apabila dirasakan sudah sesuai dengan kondisi perekonomian yang ada.

Selain tingkat pertumbuhan ekonomi, indikator lain yang menjadi pertimbangan bank sentral dalam menentukan tingkat suku bunga adalah tingkat inflasi. Umumnya bank sentral akan berupaya agar yang namanya tingkat bunga berada di atas tingkat inflasi.

Jadi ketika inflasi naik tinggi, maka suku bunga berpotensi dinaikkan dan sebaliknya ketika inflasi sangat rendah, maka berpotensi diturunkan. Umumnya pergerakan pertumbuhan ekonomi dan inflasi sejalan.

Ketika ekonomi sedang bagus, inflasi umumnya bergerak naik. Sebaliknya ketika pertumbuhan ekonomi sedang kurang bagus, inflasi juga akan rendah. Meski demikian, ada kemungkinan juga terjadi kondisi yang berlawanan di mana tingkat inflasi tinggi, sementara kondisi pertumbuhan ekonomi yang rendah.

Salah satu contohnya adalah misalkan ketika kondisi ekonomi sedang kurang bagus, pemerintah mencabut subsidi BBM. Akibatnya biaya meningkat dan inflasi menjadi tinggi, sementara kondisi perekonomian sedang tidak begitu baik.

Seperti Apa Dampak Kebijakan Suku Bunga Saat ini Terhadap Reksa Dana

Ketika suku bunga bank sentral diturunkan, reksa dana yang berinvestasi pada obligasi seperti reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran akan diuntungkan dan sebaliknya. Untuk saham, dampak umumnya tidak langsung.

Data di atas merupakan data imbal hasil reksadana pada 2020 dari Infovesta.

Reksa dana pendapat tetap

Reksa dana pendapatan tetap adalah yang paling diuntungkan dengan kebijakan ini. Untuk obligasi, teori yang berlaku adalah apabila tingkat suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika turun maka harga obligasi akan naik.

Teori tersebut sudah terbukti moncer pada tahun lalu. Sejalan dengan langkah penurunan BI7DRR sejak Januari hingga November, data Infovesta Utama menyebut bahwa imbal hasil reksa dana pendapatan tetap mencetak kinerja rata-rata imbal hasil 8,99% sepanjang tahun lalu.

Reksa dana pasar uang

Sedangkan untuk reksa dana pasar uang imbal hasil yang diberikan masih jauh di bawah reksa dana pendapatan tetap. Sebab portofolio investasi jenis reksa dana ini didominasi oleh deposito.

Secara teori, penurunan tingkat suku bunga akan menyebabkan bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi tidak menarik. Itulah sebabnya penurunan suku bunga justru menggerus potensi imbal hasil yang bisa dipanen reksa dana pasar uang.

Reksa dana saham

Untuk saham, dampak umumnya tidak langsung. Karena suku bunga rendah menguntungkan bagi emiten yang membutuhkan pinjaman.

Penurunan tingkat suku bunga akan membuat biaya bunga pinjaman menurun sehingga mendorong ekspansi dan kenaikan laba bersih. Dalam jangka panjang, kenaikan laba bersih dapat membuat harga pasar saham meningkat. Itu proyeksi jangka panjangnya.

Untuk proyeksi lebih pendek, masyarakat akan mencari alternatif lain dengan imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito atau tabungan yaitu pasar modal. Meningkatnya permintaan saham di bursa akibat penurunan bunga akan menyebabkan kenaikan harga saham dan sebaliknya.

Selain itu secara spesifik penurunan suku bunga bakal berimplikasi lebih kuat ke kinerja saham sektor perbankan. Sebab, rendahnya suku bunga akan menstimulus lebih banyak penyaluran pinjaman, sehingga menjadi modal penopang kuat untuk kinerja saham-saham emiten perbankan.

Penguatan kinerja saham sektor perbankan tersebut, kemudian, bakal berpengaruh positif ke produk reksa dana saham yang memiliki lebih banyak portofolio di saham-saham perbankan.

Reksa dana campuran

Secara umum, kebanyakan reksa dana campuran di Indonesia memiliki alokasi yang relatif besar pada saham dibanding obligasi atau pasar uang. Oleh karena itu, fluktuasi di reksa dana campuran juga terdampak tinggi meski tidak sebesar Reksa Dana Saham.

Namun ada yang mengatakan, karena kebijakan reksa dana campuran yang sangat fleksibel. Artinya ketika saham sedang bagus, Manajer Investasi bisa memperbanyak porsi di saham. Sementara ketika situasi berbalik, obligasi yang lebih bagus, Manajer Investasi bisa mengurangi saham dan memperbanyak porsi obligasi.

Oleh karena itu reksa dana campuran bisa menjadi pilihan yang dipertimbangkan juga di tengah menurunnya BI rate.

Suku Bunga Bukan Satu-satunya Penentu Return Reksa Dana

Yang harus dipahami oleh investor reksa dana adalah suku bunga bukanlah satu-satunya indikator yang menentukan naik turunnya harga saham dan obligasi. Terdapat juga faktor-faktor lainnya seperti permintaan dan penawaran, fundamental, valuasi, pertumbuhan ekonomi, dan berbagai sentimen lainnya baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Terkadang, perubahan suku bunga memang menyebabkan kinerja reksa dana naik atau turun, namun sifatnya hanya sementara saja. Bisa saja setelah itu, harga masih bisa naik atau turun, tapi disebabkan karena hal lainnya.

Untuk itu, sebagai investor reksa dana, cara terbaik untuk berinvestasi pada reksa dana bukanlah menentukan kapan waktu yang tepat untuk memulai berdasarkan suku bunga akan naik atau turun, tapi berinvestasilah sesuai tujuan keuangan.

Sebagai contoh, untuk tujuan keuangan di bawah 1 tahun, bisa memilih reksa dana pasar uang, 1 – 3 tahun bisa memilih reksa dana pendapatan tetap, 3 – 5 tahun bisa memilih reksa dana campuran, dan tujuan di atas 5 tahun bisa memilih reksa dana saham.

Bagaimana ketika mau memulai investasi, dari berita yang ada menunjukkan gejala suku bunga mau naik? Sepanjang investasinya dilakukan sesuai jangka waktu, investor reksa dana tidak perlu terlalu khawatir. Malahan momentum penurunan harga tersebut, bila ada, bisa dimanfaatkan untuk menambah investasi pada harga bawah.

Bagaimana apabila terdapat dua berita yang berlawanan seperti suku bunga bank sentral di luar negeri seperti Amerika Serikat mau naik sementara karena inflasi rendah, suku bunga Bank Indonesia mau turun?

Dalam jangka panjang, kinerja reksa dana yang berbasis di Indonesia akan lebih terpengaruh oleh perubahan suku bunga di dalam negeri. Pengaruh perubahan di luar negeri biasanya hanya bersifat jangka pendek. Untuk itu, fokusnya adalah lebih ke perekonomian dalam negeri dan berinvestasi sesuai jangka waktu.

Artikel Terkait