Banking

Strategi Investasi Aman Saat Ada Kenaikan Suku Bunga

Kenaikan Suku Bunga
103551756 – increasing stacked red cubes with percentage symbol and blue arrow showing upward direction

Ajaib.co.id – Sebagai seorang nasabah bank, kamu pasti familiar dengan suku bunga atau interest rates. Secara sederhana, suku bunga bank adalah dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan bank kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya.

Bunga juga bisa diartikan sebagai harga yang harus dibayarkan oleh bank kepada nasabah yang mempunyai simpanan dan harga yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank bila nasabah yang mendapatkan fasilitas pinjaman.

Sebagai seorang Investor, kamu disarankan untuk memperhatikan tingkat suku bunga bank. Sebab, tingkat suku bunga bank dapat mempengaruhi investasi. Jadi, apa yang terjadi bila tingkat suku bunga berubah? Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui jawabannya!

Apa yang Terjadi ketika Suku Bunga Naik?

Adanya kenaikan suku bunga atau interest rates tentunya berdampak pada beberapa hal. Oleh karena itu, tingkat suku bunga ini memengaruhi investasi.

Tingkat suku bunga adalah salah satu tolak ukur yang mendorong pertumbuhan perekonomian sebuah negara. Kebijakan yang dibuat oleh Bank Indonesia bisa berdampak terhadap berbagai sektor kegiatan ekonomi. Seperti, kegiatan perputaran arus keuangan/perbankan berupa, tabungan, investasi, hingga inflasi yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah.

BI sebagai bank sentral memutuskan untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan berdasarkan pertimbangan kondisi inflasi atau kenaikan harga di pasaran. Apabila ada inflasi yang tidak stabil, atau adanya kenaikan harga yang signifikan, maka BI mulai untuk memutuskan menaikkan interest rates. Kemudian, naik turunnya pun dipengaruhi oleh kondisi perekonomian di dalam dan luar negeri.

Berikut beberapa hal yang terjadi bila suku bunga mengalami kenaikan:

1. Pengaruh Suku Bunga pada Kapasitas Produksi dan Portofolio Kredit

Seiring dengan berjalannya waktu, kenaikan dari interest rates oleh Bank Sentral akan berdampak pada jumlah produksi. Hal ini sebetulnya memiliki sisi positif berupa tenaga kerja yang semakin bertambah dan hasil produksi meningkat.

Kenaikan suku bunga juga mendorong kapasitas ekspor yang bertambah sehingga jumlah pengangguran pun ikut menurun setelah banyaknya tenaga kerja yang terserap di industri.

Adapun efek jangka panjang dari kenaikan bunga ini ialah devisa yang masuk ke negara tersebut akan semakin besar. Untuk kemudian, bisa semakin menguatkan nilai tukar mata uang dalam negeri.

Namun, ada yang perlu diperhatikan melihat dari manajemen risiko kredit, interest rates yang mengalami kenaikan kerap dikhawatirkan oleh para kreditur/bank umum.

Mengapa demikian? Contohnya saja untuk industri properti, dapat mengakibatkan tingkat penjualan perumahan yang semakin menurun. Apabila dipaksakan, hal ini akan berimbas pada kredit macet.

2. Pengaruh Suku Bunga Terhadap Gross Domestik Product (GDP)

Tingkat suku bunga ini juga berdampak terhadap GDP atau Gross Domestic Product. Di mana GDP ini merupakan salah satu indikator tingkat kesehatan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara.

GDP pun adalah salah satu dari indeks utama sistem akun nasional terhadap pengukuran biaya barang dan jasa. GDP pada dasarnya menunjukkan kondisi ekonomi nasional.  

3. Pengaruh Suku Bunga terhadap Kredit Perumahan Rakyat

Kenaikan suku bunga memiliki dampak juga terhadap kredit perumahan rakyat, karena pengadaan perumahan merupakan salah satu bagian penting dalam menunjang kesejahteraan hidup manusia. Kenaikannya akan memengaruhi daya beli masyarakat yang turun terhadap produk perumahan.

Penurunan daya beli terhadap rumah baru pada akhirnya bisa memperlambat perekonomian dan mendorong ke arah resesi. Namun sebaliknya, jika ada peningkatan pembelian jumlah unit perumahan baru justru mengindikasikan tumbuhnya perekonomian di sebuah negara.

4. Pengaruh Suku Bunga terhadap Tingkat Pengangguran

Kenaikannya memiliki dampak lanjutan yang harus diperhatikan yakni, lesunya perekonomian yang akan berdampak pada menurunnya kesempatan kerja.

Selain itu, proses produksi yang mengalami penurunan pun turut berdampak terhadap pengurangan jumlah karyawan. Pengangguran ini bisa terjadi sebagai imbas dari ketidakseimbangan antara adanya lapangan pekerjaan dan orang yang membutuhkan pekerjaan. Sehingga hanya sedikit saja orang yang memperoleh kesempatan untuk bekerja.

Sebetulnya, kebijakan menaikkan interest rates ini dimaksudkan untuk memberikan rangsangan dari bank untuk masyarakat sehingga menanamkan dananya pada bank. Untuk mendorong minat tersebut, dibuatlah kebijakan menaikkan suku bunga simpanan supaya masyarakat akan semakin rajin untuk menanamkan dananya pada bank, misalnya dengan menabung, dengan harapan mereka untuk memperoleh keuntungan.

Pilihan Investasi di Tengah Kenaikan Suku Bunga

Mengutip dari kontan.id, Head of Investment Research Infovesta Wawan Hendrayana pernah menjelaskan untuk pasar saham saat menghadapi kenaikan suku bunga, maka sebetulnya harga saham akan kembali bergantung pada fundamental masing-masing emiten. Sejauh ini, dilihat dari siklus saat terjadi kenaikan inflasi dan kenaikan interest rates, maka sektor komoditas dan keuangan yang biasanya akan diuntungkan. 

Sementara itu, untuk pasar obligasi, memang kenaikan interest rates berpotensi membuat yield naik dan harga obligasi pun turun. Walau demikian, saat ini pasar obligasi mendapat dukungan yang kuat dari investor dalam negeri. Sehingga, meskipun investor asing pergi dari pasar obligasi pemerintah, tetapi pergerakan harga di pasar obligasi akan lebih stabil atau mengalami penurunan tetapi tidak dalam. 

Sehingga sebaiknya, seorang investor melakukan diversifikasi investasi di saham sebesar 40%, obligasi 40% dan 20% di pasar uang atau deposito. Untuk imbal hasil deposito biasanya akan mengalami kenaikan saat interest rates tengah naik.

Strategi Investasi saat Suku Bunga Meningkat

Lalu bagaimana strategi investasi paling aman saat interest rates naik? Mengutip dari kumparan.com, sentimen interest rates yang naik dinilai berkorelasi dengan kinerja instrumen investasi portofolio, termasuk reksa dana.

Oleh karena itu, para investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan kenaikannya sebelum mengalokasikan investasi.

Dijelaskan bahwa aset investasi obligasi dinilai lebih sensitif terhadap kenaikan interest rates. Namun selisih imbal hasil (real yield) terhadap inflasi obligasi Indonesia saat ini masih jauh lebih menarik ketimbang negara berkembang atau maju lainnya.

Sementara itu, untuk instrumen saham ini bergantung dari kinerja perusahaan dalam membukukan pertumbuhan pendapatan/laba. Pada situasi suku bunga yang naik, investor biasanya cenderung lebih selektif untuk mencari perusahaan berkualitas dengan cashflow yang baik.

Untuk reksa dana saham yang mempunyai strategi investasi ke saham unggulan atau blue chip bisa menjadi pilihan investasi dalam situasi saat ini. Adanya koreksi di pasar saham bisa menjadi kesempatan yang tepat bagi investor reksa dana yang memang memiliki tujuan jangka panjang.

Kemudian, untuk investor yang mempunyai tujuan investasi jangka pendek dengan profil konservatif, bisa memberikan porsi alokasi investasi yang lebih besar pada reksa dana pasar uang. Hal ini karena dinilai lebih stabil dan minim fluktuasi. Terlebih tren kenaikan suku bunga ini memiliki potensi mendatangkan return yang lebih tinggi pada reksa dana jenis ini.

Baca Juga: Reksa Dana Saham, Investasi Return Tinggi Cocok untuk Pemula

Artikel Terkait