Analisa Saham, Saham

Saham FILM Tertekan Pada Masa Pandemi COVID-19

Sumber: MD Pictures

Ajaib.co.id – PT MD Pictures Tbk (berkode saham FILM berdiri pada tanggal 1 Agustus 2002. FILM resmi menjadi emiten pertama di industri perfilman pada 7 Agustus 2018.

Perseroan menetapkan harga Rp210 per saham dalam rangka IPO. Jadi, total dana yang diincar dari IPO mencapai Rp274,63 miliar. MD Entertainment menawarkan 1.307.770.000 saham saat IPO atau mewakili 13,75% dari modal saham setelah IPO. 

Berdasarkan Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir 

Pandemi COVID-19 memukul telak FILM dan industri film pada umumnya. Buktinya, pendapatan FILM pada triwulan ke-3 tahun 2020 menurun drastis. Pada periode Januari–September 2020, pendapatan FILM menurun 51% dibandingkan sembilan bulan pertama tahun 2019. Dari Rp84,2 miliar pendapatan FILM di periode Januari– September 2020, sebagian besar atau Rp41,4 miliar berasal dari kontribusi sektor digital. 

Sebaliknya, beban pajak FILM justru bertambah. Jika pada Januari– September 2019, beban pajaknya Rp641,1 juta, maka periode sama setahun berikutnya menjadi Rp1,4 miliar.

Komponen LabaSeptember 2019September 2020
Penjualan dan
pendapatan usaha
Rp173,5 miliarRp84,2 miliar
Beban Pokok
Penjualan dan
Pendapatan
Rp72,9 miliarRp81,1 miliar
Jumlah Laba BrutoRp100,5 miliarRp3,1 miliar
Beban PenjualanRp65,3 miliarRp57,2 miliar
Jumlah laba (rugi)Rp41,5 miliarRp45,2 miliar
Pendapatan (beban)
pajak
Rp641,1 jutaRp1,4 miliar

Riwayat Kinerja

Kinerja FILM masih belum stabil sejak IPO. Total asetnya pun terus bertambah. Meski asetnya bertambah, pendapatan dan laba kotor FILM menurun dalam periode 2018–2019.

KomponenCAGR 2018-2019
Pendapatan -14,86%
Laba Kotor-34,23%
Total Aset4,36%
Total Liabilitas-29%

Tingkat pertumbuhan FILM mencerminkan emiten tersebut harus berjuang keras untuk meraih hasil lebih positif di tahun-tahun mendatang. 

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

FILM baru IPO di tahun 2018. Jadi, FILM baru berkesempatan membagikan dividen di satu tahun kalender penuh, yakni tahun 2019. Tapi, FILM tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2019 meski mengantongi laba bersih.

TahunDividen per SahamJumlah yang dibayarkan (miliar)
2019

Sebagian besar laba bersih FILM sebanyak Rp60,96 miliar pada tahun 2019 ditetapkan sebagai laba ditahan. Sebagian dari laba bersih tersebut juga disisihkan sebagai dana cadangan.

Prospek Bisnis FILM

FILM telah merencanakan berbagai strategi untuk memperbaiki kinerjanya yang sempat menurun selama tahun 2020 akibat pandemi COVID-19. FILM antara lain akan lebih fokus untuk berekspansi pada produksi konten-konten digital. Manajemen menilai konten digital menjadi salah satu motor utama untuk memulihkan kinerja perusahaan.

Selain itu, FILM tetap akan mengintensifkan partnership dengan sejumlah platform lain,  seperti Disney+ Hotstar, WeTV, dan Iflix, yang telah terbukti menyumbang pendapatan besar pada tahun 2020.

Sementara itu, rencana ekspansi untuk membangun sejumlah studio baru tampaknya masih akan ditunda seiring memastikan kondisi pasar pada 2021. 

Harga Saham (Kesimpulan)

Saham FILM melonjak 25% ke harga Rp350 per saham saat perdagangan Jumat (15/01/2021). Dalam kurun waktu sepekan di minggu ke-3 Januari 2021, harga saham FILM sudah melesat sebesar 80,41%. 

Namun, tak sampai sebulan kemudian, saham FILM terkoreksi parah mendekati auto rejection bawah (ARB), setelah sebelumnya saham ini ramai diperbincangkan investor ritel. Dari data tersebut, saham FILM cukup fluktuatif. 

Tak hanya saham FILM yang cukup fluktuatif, pasar pun mengalami hal serupa selama pandemi COVID-19. Namun, optimisme pasar mulai membaik sejak akhir 2020 hingga awal 2021 bisa meningkatkan stabilitas pasar. 

Sedikit mundur ke belakang, perlambatan ekonomi global yang terjadi pada tahun 2019 semakin kuat terjadi pada tahun 2020 akibat pandemi COVID19. Konsumsi masyarakat yang tergerus selama pandemi COVID-19 mencerminkan melambatnya kegiatan ekonomi secara keseluruhan. 

Jangankan konsumsi untuk kebutuhan tersier, kebutuhan primer masyarakat pun turut terpangkas. Hal ini menjadi sinyal yang kurang menguntungkan dalam industri film dan hiburan.

Hukum ekonomi berbicara di sini. Demand yang berkurang pun membatasi aktivitas produksi hiburan. Syuting film, misalnya, sangat berkurang jumlahnya. Para pekerja di industri ini pun terpaksa terkena imbasnya.

Pandemi COVID-19, di sisi lain, memaksa pekerja industri hiburan mencari terobosan yang ‘out of the box’. Konten interaktif dan on demand, misalnya, menjadi peralihan dari siaran konvensional. Sebenarnya, ini bisa menjadi kesempatan baru bagi FILM.

FILM harus tetap berupaya ekspansif dan menghasilkan karya inovatif agar bisa bertahan sehingga optimistis kinerja pada 2021 akan lebih baik daripada 2020.

Memang belum bisa dipastikan seberapa jauh pulihnya industri film dan hiburan tahun ini. Hal ini tergantung dari keberhasilan vaksinasi COVID-19 dan kebijakan Pemerintah yang menyertainya. 

Namun, saat ini FILM bisa memanfaatkan konten digital serta kolaborasi bersama berbagai platform resmi yang menyediakan layanan streaming film legal.

Keadaan keuangan perusahaan dari sisi kas dan utang jangka pendek dalam kondisi baik. Penjualan yang menurun wajar di masa pandemi, beban yang harus ditanggung selama pandemi membuat Laba perseroan harus terkoreksi hingga mencetak Rugi bersih dan ROE yang tipis.

Menilik perseroan yang memiliki pengalaman cukup panjang sebelum IPO, FILM menjanjikan optimisme tersendiri dalam aspek investasi. Pendeknya, saham FILM masih memiliki prospek yang bisa diperjuangkan meski industri film sempat dan masih terdampak pandemi COVID-19. Mulai dibukanya bioskop dengan kapasitas terbatas bisa menjadi sinyal positif bagi industri hiburan. Jadi, pilihan hold adalah cukup rasional saat ini.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait