Analisa Saham, Saham

Bedah Saham ASII, Si Raksasa BEI yang Sukses Diversifikasi

Sumber: Menara Astra

Ajaib.co.id PT Astra Internasional Tbk (kode saham ASII) didirikan pada tahun 1957 sebagai perusahaan dagang. Perusahaan ini melakukan diversifikasi melalui tujuh segmen usaha yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, Alat berat & Pertambangan & Kontruksi & Energi, Agribisnis, Infrastruktur & Logistik, Teknologi Informasi, dan Properti.  Seluruh operasional bisnis Astra dikelola oleh 235 anak perusahaan, ventura bersama dan entitas asosiasi, dan didukung oleh 194.359 karyawan.

Astra selama ini dikenal sebagai pionir dalam distribusi kendaraan dan memiliki ekosistem otomotif yang lengkap dari hulu ke hilir. Merek-merek kendaraan roda empat di bawah Astra mencakup Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks, Peugeot dan BMW. Sedangkan merek-merek kendaraan roda dua di bawah Astra utamanya adalah Honda.

Astra juga menjalankan penjualan suku cadang melalui anak usahanya PT Astra Otoparts Tbk dan jasa otomotif lainnya melalui Astra World. Selain otomotif saat ini Astra mengoperasiokan enam segmen usaha lainnya yang sudah disebutkan di atas dan semuanya sukses dinahkodai Astra. 

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 40.483.553.140 lembar di harga Rp5800 per saham, kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 234,80 Triliun. Saham ASII termasuk ke dalam sektor Aneka Industri. Dengan kapitalisasi sebesar itu, bobot ASII adalah sebesar 73% dari total kapitalisasi sektor Aneka Industri.

Ukuran kapitalisasi pasarnya yang sangat besar itu membuatnya masuk ke dalam sepuluh saham berkapitalisasi terbesar di IHSG.  

Sejarah Singkat Astra dan William Soeryadjaya

Astra kerap kali dikaitkan dengan nama Willaim Soeryadjaya dan keluarganya. Sesungguhnya sejak tahun 1993 William Soe, begitu biasa beliau disapa, dan keluarganya sudah tidak berurusan dengan Astra lagi. 

PT Astra Internasional Tbk (ASII) adalah perusahaan yang dibesarkan oleh Tjia Kian Long yang berganti nama menjadi William Soeryadjaya. Awalnya Astra adalah perusahaan mati suri yang punya hak impor yang dibeli William, adiknya dan seorang kawan lama pada tahun 1957.

Kemudian Astra menjadi pemasok lokal dengan mengimpor aspal dari Jepang untuk proyek pengaspalan nasional bekerja sama dengan pemerintah. William saat itu jeli dalam membaca peluang, ia kemudian mengimpor 800 truk merek Chevrolet yang kemudian ia jual kepada pemerintah yang sedang getol membangun infrastruktur nasional di tahun 1969.

Berikutnya Astra mengimpor truk-truk Toyota karena lebih irit biaya, dan diversifikasi usaha pun ia lakoni menjadi Astra yang sukses besar yang kita kenal sekarang. Tahun 1990 Astra melantai di bursa dengan kode saham ASII.

Kejatuhan datang sejak anaknya yang bernama Edward mendirikan Bank Summa ketika William Soe sudah berusia lanjut. Kemudian bank tersebut bermasalah dan keuangannya tidak sehat. Di tahun 1992 Bank Summa harus dilikuidasi dengan kredit macet senilai Rp1,2 triliun.

Sebagai pria yang hendak menyelamatkan wajah keluarga, William Soe akhirnya melepas semua saham Astra miliknya dengan berat hati untuk mengembalikan dana nasabah Bank Summa di tahun 1993.

Akhirnya kepemilikan mayoritas saham Astra sebesar 50,11% kini dipegang oleh sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura yang bernama Jardine Cycle & Carriage Limited. Sisa saham ASII sebanyak 49,89% dimiliki oleh masyarakat.

Review Laporan Keuangan Terbaru

ASII mencatatkan penurunan kinerja sepanjang tahun 2020. Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang dipublikasi Kamis (25/2), ASII mengantongi pendapatan sebesar Rp 175,04 triliun atau menyusut 26,19% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 237,16 triliun.

Seiring dengan itu, beban pokok pendapatan emiten ini juga turun 26,98% menjadi Rp 136,49 triliun, padahal pada tahun 2019 beban pokok pendapatan ASII mencapai Rp 186,93 triliun. Laba bruto Astra International sepanjang tahun lalu tercatat Rp 38,56 triliun atau turun 23,25% dari tahun 2019 yang mencapai Rp 50,24 triliun.

Selanjutnya, di pos beban penjualan Astra meningkat menjadi Rp 11,76 triliun padahal pada periode tahun sebelumnya hanya Rp 9,96 triliun. Di lain sisi, ASII juga memperoleh keuntungan dari penjualan investasi pada PT Bank Permata Tbk (BNLI) sebesar Rp 5,88 triliun.

Setelah dikurangi beban penjualan, beban umum dan administrasi, dan biaya keuangan, Astra International memperoleh laba bersih Rp 18,571 triliun. Laba bersih ini pun turun di kisaran yang sama dengan pendapatan, yakni 25,56% dari tahun 2019 sebesar Rp 26,621 triliun.

Berikut ringkasan kinerja pada Laporan Keuangan terakhir yang dirilis;

Pos Akuntansi 2019 2020
Pendapatan Rp 237,166 triliunRp 175,046 triliun
Laba Kotor Rp 50,239 triliunRp 38,558 triliun
Laba Bersih Rp 26,621 triliunRp 18,571 triliun
Ekuitas Rp 186,763 triliunRp 195,454 triliun
Liabilitas Rp 165,195 triliunRp 142,749 triliun
Aset Rp 351,958 triliunRp 338,203 triliun
Kas dari Operasional Rp 24,330 triliunRp 47,553 triliun

Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur mengungkapkan, pada tahun lalu penjualan mobil menurun 50% dengan pangsa pasar sedikit menurun, sementara penjualan sepeda motor menurun 41% dengan pangsa pasar yang meningkat.

Djony menambahkan, pendapatan dan laba bersih grup Astra (Grup) pada tahun 2020 menurun akibat dampak dari pandemi COVID-19 dan upaya penanggulangannya. Dia menambahkan, grup terus beroperasi di tengah kondisi yang menantang, dan masih terdapat ketidakpastian mengenai kapan pandemi akan berakhir.

Review Kinerja

Penjualan, Laba Operasi dan Laba Bersih

Penjualan ASII ada di kisaran Rp200an triliun setiap tahunnya dengan marjin laba bersih sekitar 8% hingga 10%. Kapitalisasi pasar ASII selalu masuk Top 10 kapitalisasi pasar terbesar di IHSG selama sepuluh tahun terakhir.

ASII adalah perusahaan raksasa yang sudah berada dalam tahap mature dengan tidak ada growth selama 10 tahun terakhir karena telah menguasai pangsa pasarnya dengan baik.

Laba per saham, Laba ditahan, Dividen

Ciri lain dari emiten yang sudah mature adalah ketika laba yang ditahan sudah begitu besar namun belanja modal tidak naik banyak. Selain itu setengah dari laba per saham dibagikan dalam bentuk dividen tunai, setengahnya lagi ditumpuk dan ditahan tapi tidak digunakan untuk apa-apa.

Sejauh ini kamu bisa lihat bahwa laba ditahan per saham lebih besar daripada laba per saham, bagaimana bisa? Tentu bisa jika sebagian laba terus ditumpuk setiap tahun tapi tidak digunakan hanya dicadangkan saja untuk belanja modal.

Nyatanya dilihat dari arus kas investasi, belanja modal yang dikeluarkan setiap tahun sangat sedikit dibandingkan dana yang dicadangkan karena aset masih memadai. Itulah mengapa laba ditahan per saham milik Astra terus membesar setiap tahunnya bahkan melebihi laba bersih yang dicetak.

Inilah Astra, perusahaan raksasa yang sudah mature dan menjual ratusan ribu unit kendaraan setiap tahunnya dengan lini bisnis lainnya yang terus berkembang.

Level utang alias liabilitas ASII cukup baik karena nilainya selalu lebih rendah daripada ekuitasnya. Sebagai informasi liabilitas ASII seringkali kebanyakan berupa utang usaha, dan bukan utang bank yang menimbulkan beban keuangan berupa bunga pinjaman.

Rasio DER (utang per ekuitas) ASII setiap tahunnya berfluktuasi di level 0,80x hingga 0,98x saja dengan porsi utang non-bank yang lebih besar ketimbang utang bank. 

Dividen

Adapun dividen dibagikan rutin sebanyak dua kali dalam setahun yaitu di kuartal II dan III, biasanya di bulan Mei dan Oktober. Sesekali dibagikan di bulan Juni dan September. Berikut data total dividen yang dibagikan oleh ASII selama 6 tahun terakhir

Tahun Laba per saham (EPS) Dividen per saham per tahun Payout Ratio
2014 546.52 251.98 46%
2015 385.66 261.46 68%
2016 452.08 201.07 44%
2017 572.21 212.11 37%
2018 676.13 251.88 37%
2019 657.58 277.4 42%

Setiap tahunnya jumlah dividen yang dibagikan ASII adalah sebesar Rp200an hingga Rp270-an. Dengan dividen sebesar itu maka payout rationya ada di kisaran 37% hingga 68%.

Selama satu dekade lamanya ASII bergerak di kisaran harga antara Rp5000 sampai Rp8500. Dengan demikian dividend yield-nya adalah kira-kira sebesar 3% hingga 4% saja per tahun. Dividend yield diperoleh dengan membandingkan dividen dengan harga saham.

Prospek

Sebagai informasi saja dari Rp130,34 triliun pendapatan ASII di kuartal III-2020, sebesar Rp49,6 Triliun datang dari segmen otomotif. Segmen berpenghasilan tertinggi kedua yaitu segmen alat berat & pertambangan & konstruksi & energi yaitu sebesar Rp46,46 triliun.

Oleh karena itulah kondisi industri otomotif nasional berperan sangat penting bagi ASII. Namun untungnya kinerja Astra dikompensasi oleh segmen keuangan dan agribisnis yang naik selagi otomotif turun.

Diversifikasi Menyelamatkan Kinerja Astra

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) adalah usaha agribisnis grup Astra, secara tahunan laba bersih agribisnis Astra ini naik 421,3% menjadi Rp 464 miliar. Ini bisa terjadi berkat kenaikan harga komoditas crude palm oil (CPO) sebesar 27% secara tahunan.

Sehingga meski penjualan otomotif terpukul namun ASII tidak serta-merta jatuh karena ada segmen usaha lainnya yang menopang kinerja. Diversifikasi usaha yang dilakukan ASII membuatnya cukup stabil dibandingkan perusahaan otomotif lainnya.

Prospek Otomotif

Sebelum pandemi COVID-19 merebak di Indonesia penjualan kendaraan roda empat nasional setiap tahunnya rata-rata sebanyak 1 juta unit. Di 2019 penjualan mobil secara nasional ada sebanyak 1.028.513 unit, sebanyak 536.402 unit penjualan datang dari Astra. Setiap tahun setengah dari penjualan kendaraan nasional memang berasal dari Astra. Astra memang telah mendominasi pangsa pasar mobil nasional selama ini.

Namun penjualan mobil nasional turun hingga separuhnya di tahun 2020, total penjualan wholesale mibil nasional hingga November 2020 adalah sebanyak 474.908 unit saja. Astra masih mendominasi pasar mobil nasional dengan akumulasi penjualan wholesale Astra hingga November 2020 mencapai 243.052 unit atau setara dengan 51,26% penjualan mobil nasional. Sedangkan penjualan motor oleh Astra ada sebanyak lebih dari 2,5 juta unit.

Sentimen positif telah membantu penjualan Astra yang sempat terpukul di kuartal I dan II 2020 karena pabrik dan diler Astra terpaksa ditutup sementara saat itu. Sejak Juni penjualan Astra bangkit disertai naiknya kepercayaan konsumen yang lebih berani melakukan konsumsi dengan membeli kendaraan baru dengan melihat harapan pemulihan ekonomi nasional.

Prospek datang dari usulan Kemenperin yang mengusulkan penurunan Pajak Barang Mewah (PPnBM) sehingga bisa menurunkan harga jual kendaraan. Dengan turunnya harga jual kendaraan, ditambah dengan pulihnya ekonomi nasional, maka diharapkan penjualan kendaraan juga bisa terkerek naik di tahun 2021.

Untuk bisa pulih ke kondisi semula sebelum pandemi mungkin agak sulit karena tergantung kesuksesan vaksinasi masal untuk mengakhiri pandemi.

Kesimpulan

Astra adalah perusahaan yang sudah mature yang menguasai lebih dari 50% pangsa pasar penjualan kendaraan nasional. Dikatakan mature karena baik penjualan maupun laba bersih Astra sudah tidak dalam tahap bertumbuh lagi alias No Growth.

Penjualan Astra setiap tahunnya selalu berkisar antara 180 Triliun hingga 200-an Triliun. Dengan laba bersih yang naik-turun di kisaran Rp15-Rp27 triliun.

Kamu bisa lihat bahwa ASII sejak 2011 hingga 2019 ditransaksikan oleh para pelaku pasar di kisaran harga antara Rp5000 hingga Rp8500, bolak-balik saja di kisaran harga tersebut. Kemungkinan besar para pelaku pasar sudah menyadari bahwa ASII sudah berada di titik mature, dan sudah bukan dalam tahap ekspansi lagi.

Tahun 2020 adalah pengecualian di mana saham ASII anjlok ke level Rp3280 ketika pabrik Astra sempat berhenti produksi di kuartal II-2020 dikarenakan penerapan pembatasan sosial di tempat kerja. Kesempatan diskon ini ternyata tak disia-siakan pelaku pasar, segera saja ASII kembali naik masuk ke range harganya. Saat ini saham ASII diperdagangkan di harga Rp5800 per saham.

Saham ASII adalah saham yang bagus, hanya saja sudah dalam tahap mature dan sudah menjadi market leader sehingga sulit mengharapkan penjualan naik beberapa kali lipatnya. Oleh karenanya mengharapkan capital gain dari saham ini cukup berat.

Saat ini Astra mengalami penurunan penjualan dikarenakan pandemi. Kenaikan penjualan ke depannya di tahun 2021 bisa diharapkan dari relaksasi pajak PPnBM yang akan diberlakukan selama sembilan bulan sejak Maret 2021 dan pemulihan ekonomi nasional seiring program vaksinasi masal.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Sumber: Sejarah Jatuh Bangun PT Astra Bersama William Soeryadjaya, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait