Saham

Harga Saham ASII di Tengah Penjualan Mobil yang Lesu

saham asii

Ajaib.co.id – Tahun ini, penjualan mobil dalam skala domestik lesu. Salah satu yang terkena dampaknya adalah saham ASII. Meskipun produsen kendaraan bermotor merilis berbagai jenis produk terbarunya. Namun bagaimana harga saham ASII di tahun ini?

PT Astra International Tbk (ASII) merupakan produsen terkemuka kendaraan bermotor. Mereka memiliki berbagai jenis mobil hingga motor dengan keunggulan masing-masing. Bahkan ASII sedang mengembangkan mobil dan motor listrik. Meskipun tahun lalu produsen mengalami penurunan dari segi penjualan mobil.

Penjualan Mobil Domestik Lesu

Berdasarkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil baru domestik tengah lesu. Data Gaikindo menunjukkan penjualan pada 2018 adalah 1,151,413 unit. Sedangkan pada 2019 turun sebesar 1,026,921 unit, dikutip dari kompas.id (28/01/2020).

Masih berdasarkan data Gaikindo, bisnis.com (18/01/2020), penjualan mobil dari PT Astra International Tbk juga menunjukkan pelemahannya. Tercatat penjualan pada 2018 sebanyak 536,402 unit dan 2019 turun 7,9 persen menjadi 582,446 unit.

Meski demikian, harga saham emiten ASII lebih baik dibanding penjualan mobil secara keseluruhan di Indonesia. Penjualan mobil domestik turun 10,81 persen, dari 2018 ke 2019 yaitu 1,15 juta unit menjadi 1,02 juta unit. Namun market share penjualan mobil domestik ASII justru naik. Tahun lalu sebesar 51 persen, pada 2019 naik menjadi 52 persen.

Pada 29 Mei 2020 ini, harga saham ASII juga meningkat di level Rp4,770 per lembar saham, naik 5,07% dibanding hari sebelumnya. Meski saat ini naik, harga saham ini sempat turun di bulan Maret yaitu Rp3.280. Hal ini tidak lain karena adanya pandemi covid-19 di Indonesia.

Faktor Penjualan Mobil Melemah

Penjualan mobil domestik yang melemah tak bisa dihindari. Hal tersebut disebabkan tiga hal, yaitu:

a. Ekonomi melambat

Berdasarkan Bhima Yudhistira, ahli perekonomian Institute for Development of Economics and Finance (Indef), penjualan mobil melemah karena ekonomi melambat secara global.

Efek dari ekonomi melambat adalah pola konsumsi masyarakat ikut berubah. Ketika harga barang naik, mereka ingin mengeluarkan uang dengan bijak. Mereka tak membeli mobil dan mengalokasikan uang ke instrumen investasi, seperti deposito serta emas.

b. Permasalahan kredit

Meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia turun, tetapi tidak dengan suku bunga kredit kendaraan bermotor. Alhasil calon pembeli kendaraan pun mengurungkan niatnya untuk membeli.

Di samping itu, permasalahan kredit juga dihadapi oleh perusahaan pembiayaan atau leasing. Saat ini, pihak leasing lebih hati-hati menyetujui kredit dari calon nasabah. Karena beberapa tahun ini, mereka sedang menghadapi masalah kredit macet dari para nasabah.

c. Transportasi daring

Perkembangan transportasi daring yang kian masif membuat masyarakat, khususnya kelas menengah, menjadikannya solusi dalam menunjang aktivitas. Transportasi daring lebih praktis karena tak perlu mengeluarkan biaya perawatan, biaya parkir, pajak, dan lainnya.

Di sisi lain, Boy Kelana Soebroto selaku Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk, mengatakan bahwa salah satu penyebab penjualan mobil domestik turun adalah pabrik mengurangi stok mobil ke dealer. Hal tersebut guna menjaga angka inventori, dikutip dari kontan.co.id (16/01/2020).

Sedangkan untuk tahun ini, lanjut Boy, penjualan mobil domestik akan naik tipis seperti perkiraan Gaikindo. Gaikindo memperkirakan penjualan mobil domestik pada 2020 akan naik menjadi 1,05 juta unit.

Prospek Saham ASII

Lalu bagaimana dengan prospek saham ASII? Apakah kinerja perusahaan sangat berpengaruh terhadap pergerakan saham?

Masih dikutip dari bisnis.com (18/01/2020), Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital, mengatakan bahwa lesunya penjualan mobil domestik dipengaruhi oleh beberapa harga komoditas yang turun. Meski demikian penjualan otomotif, alat berat, dan perkebunan milik ASII akan menorehkan hasil lebih baik atau minimal sama seperti tahun lalu.

Sedangkan di bursa, saham ASII memiliki prospek melanjutkan pertumbuhannya. Terlebih grafik ASII beranjak naik sejak awal Januari 2020. Namun ada pula yang akan mengambil peluang aksi profit taking.

Investasi Awal Tahun

Tak ada ketentuan kapan kamu harus berinvestasi. Meski demikian awal tahun menjadi incaran investor dalam mengumpulkan cuan. Buat kamu yang ingin investasi atau diversifikasi investasi, sebaiknya mempertimbangkan ekonomi global.

Saat ini, keadaan ekonomi global belum stabil. Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih berlanjut. Belum lagi wabah virus Corona di Wuhan, Hubei, Tiongkok, yang sedang terjadi. Efek tersebut memengaruhi ekonomi regional termasuk Indonesia. Seperti harga minyak dunia anjlok, IHSG melemah, serta harga beberapa sektor saham fluktuatif.

Belum lagi ditambah masalah di dalam negeri. Seperti kasus megakorupsi PT Jiwasraya dan PT Asabri. Keduanya dan beberapa manajer investasi dan perusahaan sekuritas ikut terseret ke ranah hukum.

Untuk jangka menengah, kamu bisa berinvestasi di logam mulia. Meski awal tahun harganya masih fluktuatif, kemungkinan besar ia akan naik seiring membaiknya ekonomi. Untuk jangka pendek hingga panjang, pilihan jatuh kepada reksa dana.

Mengapa? Karena satu portofolio reksa dana akan menanamkan modalnya di beberapa instrumen investasi. Jika reksa dana campuran, berarti dana akan diinvestasikan ke saham, obligasi, dan pasar uang. Sedangkan investasi saham, kamu hanya menanamkan modal pada satu emiten saja. Jika kinerja emiten turun, harga saham turun. Hal ini tidak begitu terlihat pada reksa dana saham.

Meski demikian ada pilihan reksa dana lain. Sebut saja reksa dana pendapatan tetap. Berdasarkan Rudiyanto Zh, Direktur Panin Asset Management, dilansir dari kompas.com (02/01/2020), reksa dana pendapatan tetap memberikan imbal hasil 9 persen pada tahun lalu. Ini adalah imbal hasil paling tinggi dibanding reksa dana lain.

Hal tersebut dipengaruhi oleh penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia. Sehingga reksa dana pendapatan tetap (yang menanamkan uangnya pada obligasi sebesar 80 persen) menjadi peluang yang menarik. Selain itu kamu juga bisa investasi langsung pada obligasi maupun p2p lending.

Namun jika kamu tetap ingin berinvestasi di ASII juga tak ada salahnya. Karena fundamental perusahaan sangat bagus, termasuk market share dan pendapatan perseroan naik.

Artikel Terkait