Analisa Saham

Bank Mestika (BBMD) – Bank Jagoan Dari Sumatera Utara

Sumber: Bank Mestika

Ajaib.co.id – Sepanjang pandemi Covid-19, secara umum aktivitas perbankan mengalami penurunan aktivitas bisnis yang signifikan. Terdapat penurunan permintaan kredit dan jasa perbankan lainnya, kemampuan debitur juga melemah, dan memperburuk profitabilitas bank.

Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyatakan bahwa Bank Mestika memiliki permodalan yang kuat dengan profil likuiditas di atas rata-rata. Selain itu Bank Mestika juga disebut-sebut memiliki marjin yang tinggi dengan pendanaan yang baik.

Sebagai penerbit surat utang korporasi, Bank Mestika memperoleh peringkat idBBB+, peringkat yang cukup baik dibandingkan dengan obligor lainnya dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Peringkat ini masih bisa naik dengan syarat profitabilitas bisa meningkat diiringi dengan penguatan aset. Berikut pembahasan mengenai saham BBMD.

Profil Emiten

PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD) adalah bank komersial yang berkantor pusat di Medan, Sumatera Utara. Produk dan jasa yang ditawarkan meliputi penghimpunan dana dan penyaluran dana kredit korporasi dan komersial.

Kegiatan penghimpunan dana meliputi produk tabungan umum dan simpanan pelajar, giro mata uang lokal dan asing, deposito mata uang lokal dan asing. Dalam penyaluran dana, perusahaan menyediakan kredit multiguna, kredit kepemilikan rumah, kredit kepemilikan mobil, kredit kepemilikan tanah kavling, kredit modal kerja, fasilitas trading dan bank garansi.

Telah beroperasi sejak 27 April 1955, Bank Mestika yang berkantor pusat di Medan kini telah memiliki jaringan operasional di berbagai wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Pematang Siantar, Rantau Prapat, Padang, Batam, Jambi, Kisaran, Pekanbaru, Surabaya, Padangsidimpuan dan Palembang.

Selain kantor pusat, operasional Bank didukung oleh 12 kantor cabang, 41 kantor cabang pembantu, dan 11 kantor lainnya. Pada 31 Desember 2020, 89,4% saham Bank dimiliki oleh PT Mestika Benua Mas, 10,5% dimiliki oleh masyarakat, dan 0,1% dimiliki oleh perorangan.

Bank Mestika telah melantai di bursa dengan kode bsaham BBMD pada tanggal 8 Juli 2013. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 4.049.189.100 lembar di harga Rp 1.330 per lembar maka kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 5,61 Triliun. Dari total seluruh saham BBMD yang beredar, PT Mestika Benua Mas menguasai sekitar 89,44%, sedangkan yang beredar di masyarakat hanya sebanyak 8,97% dari total saham beredar.

Riwayat Kinerja

Pada 25 Agustus 2020, Bank Mestika mendapat penghargaan dalam acara Investor Awards sebagai Bank Terbaik kategori Bank dengan Modal Inti Rp1 triliun hingga Rp5 triliun. Disebut-sebut sebagai bank BUKU 2 terbaik di tahun 2020, berikut pembahasan seputar kinerja Bank Mestika.

  Total Aset DPK Aset Produktif
2017 11.817.844.456.356 8.373.301.489.120 11.332.000.339.776
2018 12.093.079.368.934 8.368.784.486.382 11.506.063.149.019
2019 12.900.218.775.263 8.871.009.275.656 12.228.326.722.572
2020 14.159.755.232.533 9.895.218.981.306 13.563.997.088.341
CAGR 6,21% 5,72% 6,18%

Sebagai salah satu bank yang diunggulkan di Sumatera Utara, pandemi covid-19 tidak membuat Bank Mestika mengalami krisis kepercayaan. Sebaliknya, dana pihak ketiga (DPK) yang terdiri dari simpanan tabungan, giro dan deposito nasabah malah meningkat menjadi Rp 9,89 trilun di akhir tahun 2020. BBMD mengalami pertumbuhan DPK rata-rata sebesar 5,72% setiap tahunnya.

Dengan meningkatnya DPK, total aset emiten juga meningkat dengan CAGR sebesar 6,21% per tahun. Per akhir tahun 2020 diketahui total aset emiten adalah sebesar Rp 14,15 triliun, dan sebesar Rp 13,56 triliun dijadikan aset produktif oleh BBMD.

Sebagai informasi aset produktif adalah segala aset yang menghasilkan seperti penyaluran kredit, pembelian efek-efek investasi, tagihan akseptasi dan giro ke bank lain dan Bank Indonesia. Setiap tahunnya aset produktif emiten meningkat seiring dengan peningkatan total aset.

  Modal Inti ATMR
2017 2.963.874.000.000 8.577.334.000.000
2018 3.003.746.000.000 8.907.645.000.000
2019 3.495.701.000.000 9.261.988.000.000
2020 4.115.413.000.000 8.851.764.000.000
CAGR 11,56% 1,06%

Sepanjang tahun 2020 modal inti perusahaan naik menjadi Rp 4,11 triliun yang mana sebelumnya hanya sebesar Rp 3,49 triliun saja di akhir 2019. Bank Mestika diketahui tidak memiliki modal pelengkap. Dewan direksi Bank Mestika memandang bahwa perusahaan sedang berada pada posisi yang sangat berkecukupan secara permodalan.

Dengan modal inti sebesar Rp 4,11 triliun maka Bank Mestika telah masuk ke dalam kategori BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) tier 2. Dengan pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 11,56% maka dalam waktu dua tahun atau lebih emiten dapat segera naik kelas ke BUKU 3 yang mensyaratkan modal inti suatu bank berada di antara Rp 5 triliun sampai Rp 30 triliun.

Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) dari BBMD, yang terdiri dari risiko pasar, risiko kredit dan risiko operasional, per tahun 2020 adalah sebesar Rp 8,8 triliun. Dengan demikian rasio CAR alias kecukupan modal per ATMR dari BBMD adalah 46,49% (Rp 4,11 triliun / Rp 8,85 trilun).

CAR minimal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah 8%, semakin tinggi tentu semakin baik karena artinya semakin kuat dalam menanggung risiko gagal kredit. Secara permodalan BBMD memang sangat kuat sebagaimana yang ditunjukkan oleh besar CAR yang mencapai 46,49%.

Berikut informasi mengenai kualitas kredit yang dicap bermasalah di BBMD:

  Kol 3,4,5 Kol 5 Total Kredit
2017 175.019.424.877 89.544.822.030 6.783.698.638.633
2018 169.503.418.153 75.658.178.060 7.274.824.813.424
2019 176.088.740.649 49.086.684.340 7.791.537.196.845
2020 121.605.045.594 53.966.736.211 7.195.564.828.075
CAGR -11,43% -15,53% 1,98%

Total volume kredit dan kualitas kredit selalu menjadi perhatian dalam memahami kinerja sebuah bank karena kredit merupakan kegiatan operasional utama sebuah bank dalam menghasilkan laba. Per tahun 2020 total kredit yang disalurkan oleh bank unggulan Sumatera Utara tersebut turun menjadi Rp 7,19 triliun dari sebelumnya Rp 7,79 triliun di tahun 2019. Secara umum total kredit masih bertumbuh 1,98% per tahun. 

Dari total kredit yang disalurkan hanya Rp 121,6 miliar saja yang termasuk ke dalam kategori kredit-kredit yang berstatus Kurang Lancar (Kol 3), Diragukan (Kol 4) dan Macet (Kol 5).  Adapun kredit yang berstatus macet alias Kol. 5 telah meningkat menjadi Rp 53,96 miliar.

Naiknya angka kredit macet berhubungan dengan pandemi yang membuat kegiatan ekonomi sebagian debitur menjadi tersendat-sendat dan membuat mereka kesulitan melakukan pembayaran kreditnya. Sebagai informasi Kol. 5 adalah sebutan bagi kredit-kredit yang dikemplang atau dibayarkan lebih dari 180 hari dari waktu penagihan.

Untuk membantu nasabah-nasabahnya  Bank Mestika melakukan restrukturisasi kredit hingga 12,7% sepanjang 2020 kepada 223 nasabah senilai Rp652 miliar. Restrukturisasi diberikan dalam bentuk perpanjangan wkatu mencicil dan relaksasi kredit dalam beberapa waktu. Restrukturisasi ini membuat Pefindo sebagai lembaga pemeringkat penerbit kredit mengamati bahwa pandemi hanya memberikan dampak moderat saja pada Bank Mestika. Berikut laporan mengenai laba-rugi emiten:

  Total
Pendapatan
Total Beban Pendapatan
Bunga Bersih
Laba Bersih
2017 1.141.739.025.881 788.180.933.684 692.946.420.895 264.240.766.988
2018 1.129.997.896.476 774.423.702.588 686.969.545.419 265.862.564.725
2019 1.165.693.962.235 834.886.602.950 700.450.171.033 247.573.726.183
2020 1.281.673.883.562 861.528.505.490 795.586.121.047 325.932.118.524
CAGR 3,93% 3,01% 4,71% 7,24%

Dari Rp 13,56 triliun aset produktif, menghasilkan total pendapatan sebesar Rp 1,28 triliun di tahun 2020. Total pendapatan terdiri dari pendapatan operasional, pendapatan operasional lain dan pendapatan non-operasional. Adapun total pendapatan naik sebesar 3,93% per tahun.

Bagusnya adalah pertumbuhan total beban berada di bawah pertumbuhan total pendapatan yakni 3,01% saja per tahun. Di akhir tahun 2020 total beban yang terdiri dari beban operasional, beban operasional lain dan non-operasional berjumlah Rp 861,52 miliar.

Sebagian besar pendapatan yang dihasilkan oleh BBMD adalah pendapatan operasional yang terdiri dari kegiatan penyaluran kreditnya. Pendapatan bunga bersih atau laba kotor dari kegiatan operasional BBMD per tahun 2020 adalah sebesar Rp 795,58 miliar.

Seluruh kegiatan usaha emiten menyisakan laba bersih senilai Rp 325,93 miliar di tahun 2020. Penghematan total beban ternyata membuat laba bersih bertumbuh 7,24% per tahun, lebih tinggi dari angka pertumbuhan total pendapatan. Berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan:

Rasio

  2020 2019 2018 2017
CAR 46,49% 37,74% 33,72% 34,55%
NIM 5,96% 6,04% 6,58% 6,46%
LDR 51,36% 63,00% 63,97% 59,84%
BOPO 29,10% 33,83% 33,05% 31,42%
NPM 25,43% 21,24% 23,53% 23,14%
NPL Bruto 1,69% 2,26% 2,33% 2,58%
NPL Neto 0,75% 0,63% 1,04% 1,32%
ROA 2,30% 1,92% 2,20% 2,24%
  • Kecukupan Modal

Dari sisi permodalan Bank Mestika memang tak pelru diragukan lagi. Adapun modal bank yang hanya terdiri dari modal inti saja mencapai 46,49% dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR), ini adalah perhitungan Kecukupan Modal alias CAR (Capital Adequacy Ratio).

Sedangkan CAR yang disyaratkan oleh Bank Indonesia hanyalah 8% saja. Selama ini emiten memang pandai menjaga ketahanan modalnya sehingga risiko mengalami kerugian akibat gagal kredit bisa terhindarkan dengan baik.

  • Beban-beban

Emiten terbilang memiliki kualitas pengelolaan beban-beban yang cukup baik, setiap tahunnya BOPO (Rasio beban bunga per pendapatan bunga) turun terus hingga di bawah 30%. Dengan demikian dapat menyisakan marjin laba yang lebih gemuk dari sebelum-sebelumnya.

  • Profitabilitas

Dengan Marjin Bunga Bersih alias NIM sebesar 5-6% per tahun, maka secara profitabilitas BBMD terbilang moderat saja sebagaimana yang diungkapkan oleh Pefindo. Meski demikian laba bersih per total pendapatan alias NPM (net profit margin) cukup besar.

Dengan total pendapatan Rp 1,28 triliun dan laba bersih senilai Rp 325 miliar, marjin laba bersih (NPM) dari BBMD adalah 25,43%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan usaha emiten cukup efisien.

  • Kualitas Kredit

Kredit-kredit bermasalah emiten yakni yang terdiri dari kredit berkualitas Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet hanya berjumlah Rp 121,6 miliar saja di tahun 2020. Padahal di tahun 2020 pandemi Covid-19 telah membuat sebagian kredit rentan bermasalah. Oleh karenanya total rasio kredit bermasalah per total kredit alias NPL gross dari BBMD hanya 1,69% saja. Sedangkan rasio kredit macet per total kredit alias NPL nett adalah 0,75%.

Pada tahun 2020 emiten melakukan restrukturisasi kredit kepada 223 nasabahnya. Diharapkan restrukturisasi bisa menolong nasabah dari gangguan ekonomi akibat pandemi covid-19. Restrukturisasi juga diharapkan membantu perusahaan mempertahankan kinerja positif.

Kesimpulan

Bank Mestika sebagai jagoan Sumatera Utara memiliki manajemen yang pandai dalam mengelola kegiatan usahanya dan oleh karenanya dapat dikatakan emiten punya masa depan yang baik. Opini tersebut tercermin dari tiga hal yakni dari cara emiten mengelola modal, efisiensi beban-beban dan melaksanakan kegiatan usahanya.

Dalam pengelolaan modal, emiten memiliki komitmen kuat untuk menjaga agar risiko gagal kredit tidak akan membuat mereka bangkrut dan kini kecukupan modal sudah mencapai 46% dari aset tertimbang menurut risiko pasar, operasional dan kredit. Mereka juga melakukan pemilihan nasabah dengan cermat sehingga rasio kredit bermasalahnya mini saja yakni 1,69% saja dari total kredit yang dikucurkan.

Bank Mestika juga menjaga agar pertumbuhan beban tidak melampaui pertumbuhan pendapatan. Total beban bertumbuh 3,01% sedangkan pertumbuhan total pendapatan adalah 3,93%. Dengan demikian marjin laba bisa bertumbuh disebabkan oleh pengetatan beban-beban yang dilakukan dengan sangat baik oleh manajemen Bank Mestika.

Dengan laba sebesar Rp 325,9 miliar dan jumlah saham beredar sebesar 4.049.189.100 maka laba per saham BBMD adalah Rp 80,49. Saat ini harga Rp 1330 adalah angka yang sangat premium bagi BBMD namun memang emiten yang punya kinerja bagus selalu menjadi buruan investor.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait