Ekonomi, Saham

IHSG Setahun Setelah Krisis – Pengalaman Krisis 1998 & 2008

Seorang wanita yang sedang duduk sambil menggunakan laptop, dengan ilustrasi grafik di sampingnya.

Ajaib.co.id – Tahun 2020 adalah salah satu tahun terberat untuk semua orang akibat berlanjutnya pandemi corona. Sejak pembukaan bursa di awal tahun ke titik terendah di bulan ketiga saja pasar saham sudah terkoreksi -40%.

Yang menarik adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya membutuhkan waktu dua minggu saja untuk berbalik arah naik 17% bertolak dari titik terendahnya di 2020.

Harga penutupan IHSG paling rendah di tahun ini adalah di tanggal 24 Maret yaitu Rp3.937. Dan kini di bulan Desember IHSG bergerak di angka sekitar Rp6.000-an. Dengan demikian IHSG sampai saat ini sudah naik sebesar 57,8% sejak 24 Maret 2020.

Banyak yang menyayangkan tidak entry di harga bawah ketika itu karena memang tidak ada yang bisa memprediksi secara akurat di mana titik terendahnya. Keputusan investasi kita saat kejatuhan bursa sangat bisa dimaklumi. Saat itu kita diliputi kecemasan, dana asing maupun lokal exit dari bursa dalam jumlah besar.

Jika kamu perhatikan dari krisis ekonomi yang sudah-sudah, hal ini sungguh sangat umum terjadi. Seperti biasa bursa jatuh, lalu berbalik arah dan naik, dan mayoritas dari kita melewatkan kesempatan untuk beli saham di harga rendah.

Mengapa Kita Perlu Optimis

Ekonomi kita saat ini bergerak dalam siklus utang jangka pendek, siklus utang jangka panjang namun tetap berada dalam sebuah pertumbuhan produktivitas. Maksudnya adalah meskipun siklus utang telah berkali-kali membuat ekonomi kita goyah saat ada situasi buruk berkembang di dalam negeri, namun secara jangka panjang sekali pertumbuhan ekonomi kita meningkat.

Kalau kamu mau contoh nyata, kamu bisa tanyakan kepada kakek-nenekmu tentang kehidupan mereka beberapa puluh tahun yang lalu. Di saat itu kencan di bioskop saja sudah sangat mewah dan hanya segelintir saja yang pernah naik pesawat dalam hidupnya.

Namun sekarang membeli tiket bioskop atau bepergian menggunakan pesawat sudah marak digunakan oleh kebanyakan dari kita. Bahkan naik haji dan umroh sudah sangat pasaran dilakukan oleh sebagian besar orang Indonesia yang beragama Islam.  Itu karena kita berada dalam ekonomi dengan tingkat produktivitas yang terus meningkat. Jadi meskipun Indonesia telah diterpa krisis beberapa kali, secara umum ekonomi kita meningkat. Meningkat dalam arti kantong kita lebih tebal untuk memberikan kita kehidupan yang lebih baik seiring waktu.

Kamu bisa lihat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kita per kapita di bawah ini:

Sebagai informasi, PDB per kapita adalah pendapatan  rata-rata per orang di suatu negara. Pendapatan nasional suatu negara dibagi dengan jumlah penduduk.

Kamu bisa lihat di atas bahwa dahulu,  beberapa puluh tahun lalu rata-rata penduduk di Indonesia menikmati pendapatan sepuluh kali lipat di bawah yang kita terima hari ini.

Membicarakan ekonomi Indonesia sejak beberapa puluh tahun lalu memang tidak ada habisnya. Krisis juga berulang kali terjadi, hiperinflasi juga beberapa kali terjadi terutama ketika tampuk kekuasaan berpindah tangan. Misalnya di tahun 1963-1965 yang adalah akhir masa Orde Lama dan di tahun 1998 tahun berakhirnya Orde Baru.

Belum lagi krisis yang terjadi akibat situasi yang berkembang di luar negeri seperti krisis Subrime Mortgage di tahun 2008 dan krisis Yunani di tahun 2015. Definisi krisis sendiri bisa bermacam-macam tergantung dari kacamata mana kita melihat. Jika dihitung-hitung Indonesia telah melewati banyak krisis besar dan krisis mini hingga tahun 2020. Namun kita bertahan sampai hari ini dengan keadaan jauh lebih baik dari yang dialami kakek nenek kita beberapa puluh tahun lalu.

Metode Pengamatan

Nah, dalam artikel ini sebuah pengamatan dilakukan untuk melihat apakah ada sebuah pola recovery yang bisa kita ambil pelajaran daripadanya. Kita akan lihat seberapa cepat pemulihan bursa terjadi setelah krisis.

Jadi sebuah analisa dilakukan pada krisis 1998 dan 2008. Pertama-tama kita akan melihat perkembangan IHSG yang ditampilkan dalam grafik di bawah ini:

Di atas adalah IHSG yang dipantau melalui TradingEconomics. Jika definisi krisis adalah penurunan sedikitnya sebesar 20% maka semestinya tahun 2015 dihitung juga sebagai krisis yang menerpa bursa kita.

Tapi di sini kita hanya akan melihat pola harga di 1998 dan 2008 saja karena banyak yang mempermasalahkan situasi bursa di kedua tahun itu saja.

Jadi nilai IHSG di titik terendahnya dan dua bulan setelah titik terendahnya di tahun 1998 dan 2008 akan diamati dan dibandingkan. Pengamatan kemudian diekstensi satu tahun sebelum dan setelah krisis untuk melihat pola pemulihan bursa.

IHSG tahun 1998 dan Setahun Setelah Krisis

Sebelumnya mari kita rekap sedikit apa yang terjadi di tahun 1998. Jadi krisis di tahun 1998 adalah kelanjutan dari krisis moneter di tahun 1997. Krisis diawali dengan Thailand yang mengumumkan ketidakmampuannya membayar utang saat itu. Sedangkan di Indonesia krisis parah yang terjadi di 1998 adalah akibat kisruh politik terkait pelengseran Soeharto sebagai presiden saat itu.

Krisis terjadi sejak kebijakan liberasi keuangan yang terlalu longgar tidak didukung pengawasan yang baik. Aliran dana asing masuk besar-besaran dalam bentuk utang jangka pendek berbarengan dengan aksi spekulasi mata uang. Akibatnya ketika nilai tukar Rupiah menjadi buruk, pembayaran utang menjadi lebih sulit karena dolar semakin mahal.

Namun akar permasalahan krisis 1998 sejatinya bukan berasal dari sektor perbankan namun lebih kepada politik. Saat itu Soeharto yang mempimpin negeri dilengserkan setelah enam periode menjabat sebagai presiden. Soeharto dituduh memanfaatkan kondisi perekonomian Indonesia yang tentram sebagai instrumen untuk melakukan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme di kalangan pejabat.

Sebagai pelaku pasar modal tentunya kita lebih tertarik dengan IHSG sebagai indeks acuan bursa Indonesia.

Oleh karena itu data perubahan harga IHSG dari bulan ke bulan alias Month over Month (MoM) di tahun 1998 diunduh dan dicari titik terendahnya.  Ternyata harga close paling rendah secara Month over Month terdapat di September 1998 yaitu Rp276,14.

Di bulan September 1997 nilai IHSG adalah sebesar Rp546,68. Artinya IHSG telah turun 50,5% dibandingkan nilai IHSG di periode yang sama tahun sebelumnya.

Setelah tahu angka paling rendah IHSG di tahun 1998 adalah di bulan September, lalu pengamatan dilanjutkan dengan melihat satu tahun setelah krisis.

Berikut data IHSG yang dapat disajikan:

Date                      Open     High       Low        Close    

01-09-97               493.59   615.13   475.47   546.68

01-09-98               342.08   342.08   255.46   276.14

01-09-99               567.02   576.87   503.59   547.93

Ternyata hanya butuh waktu satu tahun saja sejak saat itu untuk pulih ke titik semula.

Jadi di bulan September 1999, IHSG mencapai nilai Rp547,93. Ternyata IHSG sudah benar-benar pulih 101% dari apa yang dicapainya di tahun 1997 sebelum krisis politik terjadi.

IHSG tahun 2008 dan Setahun Setelah Krisis

Berikutnya adalah tentang krisis di tahun 2008. Keadaan di tahun 2008 sebenarnya adalah efek domino dari krisis finansial Subprime Mortgage di Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri yang terjadi adalah kepanikan dari para pelaku investasinya. Saat itu dana asing net sell, exit besar-besaran dari bursa saham, melepas Surat Utang Negara (SUN), dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Padahal hingga triwulan III-2008 Bank Indonesia melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita saat itu berada di atas 6%. Saat itu Indonesia kurang bergantung pada ekspor sehingga dapat menahan dampak krisis daripada lainnya.

Tekanan berat muncul di triwulan IV-2008. Secara umum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2008 dibandingkan dengan tahun sebelumnya adalah sebesar 6,01%.

Exit-nya dana asing dari dalam negeri di sektor riil dan non-riil membuat 2,5 juta pencari kerja baru kesulitan memperoleh kerja dan membuat kelesuan ekonomi tampak nyata. Dana asing yang keluar menyebabkan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang signifikan. Cadangan Devisa turun dari US$ 59,45 miliar di kuartal II 2008 menjadi 51,64 miliar di kuartal IV 2008.

Sejak pertengahan tahun 2008 terjadi ketegangan dan kecemasan di kalangan investor termasuk lembaga keuangan seperti Dana Pensiun, Asuransi, dan Reksa Dana.

Sekali lagi pengamatan terhadap data IHSG di tahun 2008 dilakukan demi melihat pola pemulihannya.

Lalu dari data IHSG bulan ke bulan alias Month over Month, diketahui bahwa harga close terendah di tahun 2008 terdapat di bulan November yaitu Rp1.241,54

Lalu kita tengok ke tahun sebelumnya yaitu 2007 di bulan yang sama, ternyata IHSG di periode yang sama sebelumnya memiliki nilai sebesar Rp2.688,33.

Pengamatan dilanjutkan dengan melihat IHSG satu tahun setelah krisis. Berikut datanya:

Date     Open           High              Low          Close    

01-11-07              2692.51 2737.81 2526.94 2688.33

01-11-08              1281.50 1430.71 1102.67 1241.54

01-11-09               2365.64 2494.82 2294.55 2415.83

Di November 2009 ternyata IHSG sudah pulih 89,8% dari titik sebelum krisis, alias sudah hampir restore sepenuhnya. Berikut grafik IHSG sekali lagi ditampilkan untuk melihat perkembangan harganya beberapa tahun setelah krisis:

Kamu bisa lihat bahwa selain pemulihan yang cepat, pasar saham Indonesia juga terapresiasi lebih tinggi lagi beberapa tahun setelahnya.

Kesimpulan

Olah data sederhana di atas memberitahukan bahwa setiap kejatuhan bursa selalu menjadi momentum yang baik untuk entry. Ternyata pemulihan yang dialami Indonesia tidak perlu menunggu lama. Hanya satu tahun saja IHSG sebagai indeks acuan sudah bisa pulih hampir sepenuhnya.

Kita selalu luput memperhatikan bahwa Indonesia punya integritas tinggi dalam bursa sahamnya. Jika kita perhatikan dari data di atas, bursa kita selalu punya masa recovery yang cukup cepat.

Untuk krisis yang disebabkan pandemi di tahun 2020, pemerintah kali ini menyikapi dana yang exit dari bursa secara berbeda. Kebijakan paling pertama yang dilancarkan adalah bursa membujuk sejumlah emiten untuk buyback saham.

Hasilnya bursa bangkit dan transaksi kembali likuid di pasar saham. Sebelum-sebelumnya pun demikian, bursa seakan tak pernah kehilangan akal untuk kembali menggairahkan selera investor. Bursa kita cukup sigap dalam menyikapi situasi yang berkembang. Tapi tampaknya hanya segelintir saja yang punya ingatan baik tentang hal itu.

Siklus kecemasan setiap kali krisis, baik krisis besar maupun krisis mini biasanya berlangsung seperti ini:

bursa jatuh – bursa bangkit – investor telat entry lalu menyesal – investor beli saham di harga pucuk –cuan tipis – kondisi normal – bursa jatuh – bursa bangkit – investor telat entry lalu menyesal –  investor beli saham di harga pucuk –cuan tipis – kondisi normal – bursa jatuh – bursa bangkit – investor telat entry lalu menyesal, begitu teruuuuus… 🙂

Saking umumnya terjadi pada sebagian besar dari kita, meme siklus psikologi di bawah ini sering sekali kita temukan di mana-mana:

Pola pikir di atas tentunya harus diubah jika kamu ingin memiliki keputusan investasi yang lebih baik. Keputusan investasi yang dilakukan berdasarkan psikologi tidak pernah membawa cuan.

Siklus psikologi trader di atas ini sering jadi bahan bercandaan, tapi ketika krisis datang maka ketakutan itu tampak nyata.

Apakah kamu salah satu orang yang pernah merasa depresi ketika krisis melanda bursa? Kini kamu tahu faktanya bahwa Indonesia cukup kuat untuk bisa pulih dengan cepat.

Bahkan kamu bisa lihat dari grafik IHSG yang dibagikan dua kali di atas bahwa setiap penurunan selalu diikuti oleh pemulihan yang jaraknya hanya satu tahun saja dari krisis. Bahkan diikuti oleh kenaikan yang lebih besar lagi.

Tahun ini pemerintah bersama Bank Indonesia bergerak gesit melihat masyarakat menderita secara ekonomi akibat batasan protokol kesehatan yang diterapkan di seluruh negeri.

Kamu telah melihat kebijakan stimulus dilancarkan, anggaran untuk infrastruktur dicanangkan untuk mempercepat ekonomi, Bantuan Langsung Tunai (BLT) dibagikan, insentif seperti prakerja bahkan hingga penurunan suku bunga dilakukan.

Yang terakhir Omnibus Law dibentuk untuk menciptakan kondisi investasi yang lebih kondusif. Semua itu untuk mengerek ekonomi agar kembali bergairah.

Hasilnya, untuk sementara masih terbatas pada neraca dagang kita yang surplus dan berubahnya status deflasi menjadi inflasi. Itu adalah pertanda bagus bahwa Indonesia kini siap untuk kembali pulih.

Melihat pemerintah yang gesit dan tak berpangku tangan seharusnya menjadi pendorong bagi kamu untuk percaya bahwa sekali lagi IHSG punya peluang untuk pulih sama cepatnya dengan yang terjadi di krisis-krisis sebelumnya.

Yuk, manfaatkan peluang untuk entry bursa bersama Ajaib! Beli saham di Ajaib caranya mudah dan fee-nya rendah.

Artikel Terkait