Sedang Menurun, Harga Saham BCA Tak Pernah Membuat Rugi

Sedang Menurun, Harga Saham BCA Tak Pernah Membuat Rugi

Harga saham BCA (Bank Central Asia) belakangan ini menjadi peluang bagi banyak investor untuk menambah kepemilikan lembar saham. Pasalnya, harga saham BCA terus menurun setelah berada di rekor tertinggi, Rp31.450 pada 22 Juli lalu.

Selain itu, pada 6 Agustus 2019 kemarin harga saham BCA sempat anjlok di angka Rp28.825 per lembarnya dan sempat bangkit hingga ke posisi Rp29.400 per lembar.

 Salah satu pemegang saham BCA, Henry Koenaifi, yang tidak lain adalah Direktur BCA memanfaatkan turunnya harga saham ini. Dia membeli banyak sekali saham BCA, hingga 16.900 lembar. 

Berdasarkan surat kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diteken Sekretaris Perusahaan BCA Jan Hendra, transaksi pembelian saham BCA itu digelar di harga Rp29.550 per saham. Dengan begitu, nilai transaksi pembelian saham BCA yang dibeli Henry itu sekitar Rp499,4 juta. Pada hari itu, harga saham BCA juga terus bergerak di rentang Rp 28.825-Rp29.775 per saham.

Saham yang Menjanjikan 

Langkah yang dilakukan Henry Koenaifi itu sangat cemerlang. Pasalnya, harga saham BCA masih sangat menjanjikan karena setiap tahunnya bergerak ke arah tren positif.

Sebagai contoh, pada 23 Januari 2010, harga saham BCA hanya berada di kisaran Rp2.775 per lembarnya. Sembilan tahun setelahnya, harga saham BCA pun menciptakan rekor tertinggi, Rp29.400 per lembar. 

Artinya, harga saham BCA itu sudah melonjak 909,01%. Jika beli saham BCA 100 lot atau 10 ribu unit pada 2010, cuma butuh modal Rp27,75 juta rupiah. Hari ini, saat saham BCA tersebut dijual maka uang yang didapat mencapai Rp280 juta. Wow! Fantastis bukan.

Seperti diketahui, Bank ini, sebelum krisis 1998 dimiliki oleh keluarga Salim dan sekarang dikuasai oleh keluarga Hartono, pemilik grup Djarum. Sekarang tercatat sebagai emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesari di BEI. BCA sendiri sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 31 Mei 2000. Kala itu harga penawaran saham BCA masih di angka Rp1.400 per lembar.

Kenaikan harga sahamnya turut mengerek kapitalisasi pasar perusahaan yang dipimpin Jahja Setiaatmadja tersebut hingga lompat ke nomor 22 tertinggi dunia, tiga level di atas posisi September tahun lalu yaitu posisi 25. Karena kenaikan posisinya dari September tahun lalu, saat ini kapitalisasi pasar emiten milik Group Djarum itu sudah melampaui bank asal Belanda yaitu ING Group NV dan bank asal Jepang Mizuho Financial Group Inc.

Pelampiasan Investor

Sebagai informasi, pergerakan saham BCA pada perdagangan bursa belum lama ini mengalami tekanan. Seolah-olah, saham BCA menjadi pelampiasan investor atas gangguan M-Banking hari kemarin.  

Menjelang akhir sesi I, saham BBCA terkoreksi 0,25% menjadi Rp30.125 per saham. Bahkan, beberapa waktu lalu saham BCA menyentuh level terendah di harga Rp30.000 per saham. 

Tekanan jual menjadi penyebab koreksi yang diterima saham BCA. Mendekati jeda siang, bursa mencatat asing telah kabur dari saham BCA dengan keuntungan jual bersih sebesar Rp34,19 miliar. Sejumlah 4,34 juta saham BCA diperdagangkan dengan frekuensi 3.215 kali transaksi dan nilai transaksi yang terhimpun mencapai.

Jadi apakah menanamkan saham di BCA tetap menguntungkan? Tentu saja menguntungkan. Asal kamu tetap bisa menganalisa tren-tren yang mungkin terjadi di masa depan.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Share to :
Tags: , ,
Buat Deposit Pertama Sekarang
Artikel Terkait