Saham

Tergiur Jual Saham INAF yang Meroket? Simak Dulu Tips Ini

Saham Inaf

Ajaib.co.id – Harga saham anak usaha PT Bio Farma (Persero), yaitu PT Indofarma Tbk (INAF) melonjak dalam sebulan terakhir hingga mengalami Auto Reject Atas (ARA). Hal ini cukup menggoda investor untuk menjualnya. Tapi, perlukah menjualnya saat ini?

Saham INAF yang membumbung tinggi memang menggoda para pemilik saham salah satu anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjualnya.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Rabu (23/07), pukul 10.00 WIB, saham farmasi pelat merah ini menyentuh batas atas maksimal kenaikan harian atau ARA.

Saham INAF menguat 24,92% di level Rp1.880/saham dengan nilai transaksi Rp29,33 miliar dan volume perdagangan 16,21 juta saham.

Saham INAF memang ditutup melesat saat itu seiring dengan kabar positif mengenai perkembangan vaksin Covid-19 di Indonesia yang memasuki tahap awal uji klinis tahap 3.

Lebih tepatnya, melonjaknya harga saham INAF sendiri sudah terjadi sejak dua hari sebelumnya ketika tersiarnya informasi bahwa vaksin Sinovac telah sampai di Indonesia dengan munculnya foto tumpukan kotak vaksin bertuliskan SARS-CoV-2 Vaccine (Vero cell) Inactived dengan ukuran 0,5 ml.

Ada pula foto-foto lainnya yang terpampang tulisan Diplomatic Goods penanganan Covid-19 Bio Farma, Bandung.

Indofarma diketahui menjadi distributor dari vaksin Covid-19 yang akan diproduksi oleh induk Holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero). Jadi, meroketnya harga saham INAF didukung oleh sentimen positif uji klinis vaksin Covid-19.

Kenaikan harga saham ini juga dialami oleh perusahaan farmasi lainnya, yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Kabar positif ini juga mengatrol indeks harga saham gabungan (IHSG).

Tidak hanya itu, Kementerian BUMN juga menetapkan INAF akan menjadi penjamin pembeli (off taker) untuk ventilator yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan pelat merah. Ventilator merupakan alat bantu pernapasan bagi seseorang yang mengalami masalah pernapasan.

Ventilator telah digunakan pada sebagian pasien Covid-19 yang terbilang parah meski mayoritas pasien hanya mengalami gejala ringan.  

Jadi, bila sudah memiliki saham INAF, tergiurkah kamu untuk menjualnya saat ini? Sebelum memutuskan, yuk simak sejumlah tips berikut sebelum memutuskannya.

Waspadai Transaksi Jangka Pendek yang Berisiko

Transaksi jangka pendek (short selling) memang menjanjikan. Terlebih bila kamu punya modal besar. Kamu berpotensi meraup keuntungan hanya dalam beberapa menit.

Dengan kata lain, kamu sebagai pelaku pasar dapat memanfaatkan momentum seperti yang dialami oleh saham INAF untuk melakukan trading cepat. Tapi, kamu sebaiknya juga harus tetap memerhatikan potensi taking profit esok harinya.

Selain itu, transaksi jangka pendek juga dapat menguras waktu, energi, dan emosi akibat fluktuasi harga saham yang sangat mungkin terjadi.

Pada umumnya, pasar saham hampir selalu menghasilkan return positif dalam jangka yang lebih panjang, yakni sekitar tiga tahun atau lebih.

Monitor secara Berkala

Kamu harus memonitor portfolio saham yang dimiliki secara berkala. Jika saham perusahaan yang kamu miliki semakin bagus kinerjanya, maka kamu bisa menambahnya sehingga potensi keuntungan semakin baik.

Sebaliknya, jika sahamnya turun, kamu tidak terlambat mengambil keputusan untuk menjualnya.

Terkait INAF, perusahaan ini berhasil mencetak profit untuk pertama kalinya setelah tiga tahun merugi.

Pada Laporan Keuangan INAF yang telah diaudit per 31 Desember 2019 tercantum, perseroan berhasil mencetak laba Rp7,96 miliar, berbalik dari posisi rugi pada tahun sebelumnya sebesar Rp32,73 miliar.

Namun, kinerja INAF masih membukukan kerugian bersih pada periode tiga bulan pertama di tahun ini senilai Rp21,42 miliar. Meski demikian, kerugian ini turun tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp21,72 miliar.

Kemudian, pendapatan INAF selama tiga bulan pertama tahun ini naik sebesar 8,73% menjadi senilai Rp148,16 miliar. Pada periode sama tahun lalu, pendapatan INAF hanya senilai Rp136,26 miliar.

Lebih lanjut, beban pokok penjualan membengkak menjadi senilai Rp119,51 miliar daripada sebelumnya senilai Rp87,04 miliar. Perusahaan juga mengalami kerugian lain-lain senilai Rp 3,69 miliar dari sebelumnya pos ini untung Rp181,57 juta.

Data seperti di atas inilah yang bisa kamu pakai saat memonitor portofolio saham.

Perhatikan Sisi Fundamental

Fundamental perusahaan seharusnya menjadi analisa mendasar dalam mengambil keputusan untuk membeli sebuah saham.

Sayangnya, banyak investor lebih suka menilai tren sesaat dalam analisa teknikal. Keinginan menggebu-gebu untuk menghasilkan profit cepat di pasar modal membuat investor saham cenderung mengabaikan fundamental perusahaan.

Padahal laba-rugi perusahaan yang turut memicu harga saham sedikit-banyak tergantung fundamental perusahaan.

Menariknya, pergerakan kinerja saham INAF meroket dalam lima tahun terakhir dinilai irasional karena tidak sejalan dengan fundamental perusahaan.

Berdasarkan data Bloomberg, saham INAF naik 642,33% selama periode 20 Oktober 2014 hingga 15 Oktober 2019 atau paling tinggi di antara saham emiten pelat merah lainnya.

Waspadai Potensi Penurunan Volume

Saat harga saham menguat disertai dengan volume yang meningkat, bisa dikatakan saham tersebut sedang diminati. Kondisi ini bisa pula akibat didorong oleh sang bandar sehingga potensi kenaikannya masih ada.

Beda halnya bila harganya turun disertai dengan jumlah volume yang menurun drastis. Kondisi yang satu ini bisa jadi saham tersebut sudah tidak diminati pasar atau mulai dilepas oleh sang bandar.

Sejumlah kalangan menilai euforia saham INAF yang meroket diprediksi hanya terjadi hingga beberapa pekan ke depan selama tidak ada berita-berita sumbang tentang saham farmasi ini. Hal ini mengingat valuasinya sudah terlalu cepat dan sudah sangat tinggi.

Di samping itu, uji klinis vaksin Covid-19 baru di tahap uji coba dan belum diketahui tingkat keberhasilannya. Produksinya juga baru akan dilakukan pada tahun depan dan bukan tahun ini.

Artikel Terkait