Bisnis & Kerja Sampingan

Rumus ROA Bermanfaat Bagi Bisnis, Bagaimana Menghitungnya?

Ajaib.co.id – Dalam manajemen, ada berbagai aspek yang bisa dihitung secara matematika. Salah satunya adalah Return on Assets (ROA). Rumus ROA terbukti bermanfaat bagi perusahaan atau pelaku usaha.

Pada dasarnya, ROA atau dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan tingkat pengembalian aset adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan persentase keuntungan (laba bersih) suatu perusahaan berdasarkan keseluruhan sumber daya atau rata-rata jumlah aset yang dimilikinya.

ROA adalah tolok ukur kinerja perusahaan agar investor dapat mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. ROA bisa menjadi indikator tentang seberapa andal suatu perusahaan dalam pemanfaatan aset untuk menghasilkan keuntungan (profit).

Lazimnya, besaran ROA diketahui melalui pembagian laba bersih dengan aset perusahaan secara keseluruhan yang kemudian dikalikan dengan 100%.

Informasi laba bersih ini biasanya merupakan tahunan. Informasi laba bersih tersebut dapat diketahui melalui laporan laba-rugi dalam laporan tahunan. Sementara itu, total aset merupakan aset yang terdaftar pada neraca keuangan (balance sheets).

Dalam neraca, besaran aset diketahui melalui liabilitas ditambah dengan ekuitas. Liabilitas merupakan kewajiban keuangan perusahaan yang harus dipenuhi atau utang. Ekuitas sendiri adalah sejumlah uang yang nantinya akan dikembalikan kepada para pemilik saham.

ROA biasanya tampil dalam bentuk persentase. Semakin besar persentasenya, berarti semakin produktif dan efisien suatu perusahaan. Sebaliknya, perusahaan dinilai kurang produktif bila memiliki persentase ROA yang kecil.

Berikut ilustrasi sederhana mengenai cara menghitung ROA. Berdasarkan laporan keuangan per tanggal 31 Desember 2019, laba bersih atau net income PT A adalah Rp 1,713 triliun. Kemudian, total asetnya ialah sebanyak Rp61,433 triliun. Berapakah jumlah ROA PT A?

Jawab :

Besaran ROA dapat membawa manfaat bagi suatu perusahaan, yakni

Mengetahui Keuntungan Perusahaan

ROA yang tinggi merupakan indikasi suatu perusahaan meraih keuntungan. Informasi ROA menjadi pijakan bagi para investor agar mereka tidak ragu untuk menanamkan modalnya.

Bagi manajemen, rasio ROA menjadi tolok ukur perusahaan mampu mengonversi investasinya pada aset menjadi keuntungan atau laba (profit).

Mengukur Efisiensi Perusahaan

Sebenarnya, ROA juga dapat dianggap sebagai imbal hasil investasi (return on investment) bagi suatu perusahaan. Hal ini karena pada dasarnya aset modal (capital assets) kerap menjadi investasi terbesar bagi sebagian besar perusahaan.

Sehingga, uang atau modal diinvestasikan menjadi aset modal. Selanjutnya, tingkat pengembaliannya atau imbal hasilnya diukur dalam bentuk laba atau keuntungan (profit) yang diperolehnya.

Jadi, suatu perusahaan yang memiliki besaran ROA tinggi berarti efisien dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Efisiensi tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan semua pekerjaan tepat waktu.

Bukan tak mungkin, efisiensi yang tinggi lambat laun bisa mempersingkat sejumlah kegiatan operasional pada suatu perusahaan. Dengan begitu, perusahaan bisa menekan berbagai pengeluaran, seperti uang lembur.

Biaya operasional perusahaan yang turun berarti membuat perusahaan menjadi efektif. Perusahaan yang efisien dan efektif tentu akan bisa bersaing dengan perusahaan kompetitor, bahkan dalam skala regional dan global.

Efisiensi dan efektivitas perusahaan pun bisa berdampak pada meningkatnya kepercayaan dan kepuasan klien. Selain itu, perusahaan akan mendapat banyak keuntungan secara ekonomi yang dapat dibagikan kepada karyawan, seperti kenaikan gaji dan bonus.

Hal tersebut bisa turut berimbas pada kesejahteraan karyawan perusahaan tersebut.

Membandingkan Performa dengan Perusahaan Kompetitor

ROA dapat digunakan untuk membandingkan dua perusahaan berbeda. Tapi, dengan syarat, kedua perusahaan tersebut berkecimpung di sektor yang sama. Jadi, ROA tidak bisa dijadikan acuan untuk membandingkan performa dua perusahaan yang terjun di sektor berlainan.

ROA, misalnya, tidak bisa digunakan untuk mengukur perusahaan pertambangan dan perangkat lunak (software). Perusahaan tambang dalam menjalankan kegiatan operasionalnya harus menggunakan peralatan yang besar dan mahal. Kebalikannya, perusahaan perangkat lunak cukup mengunakan seperangkat komputer dan server dalam menjalankan bisnisnya.

Berikut cara menghitung ROA pada dua perusahaan yang saling bersaing di sektor yang sama. Perusahaan B memiliki nilai aset secara keseluruhan sekitar Rp200 juta dan laba bersih sekitar Rp30 juta. Sementara itu, perusahaan C memiliki aset sekitar Rp150 juta dengan net income Rp25 juta.

Sekilas, PT C memiliki laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan PT B. Tapi, apakah hal ini juga berarti perusahaan C lebih efisien daripada perusahaan B? Untuk memastikannya, kita bisa menghitung ROA perusahaan B dan C menggunakan rumus ROA.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas kita akan tahu bahwa ternyata, Perusahaan B masih kalah efisien dengan C. ROA Perusahaan B tercatat hanya 15%, sedangkan ROA yang dicatatkan Perusahaan C mencapai angka 16,66 %.

Dari hasil ini pula, kita bisa melihat bahwa meskipun laba bersih PT C lebih sedikit daripada PT B, tetapi soal efisien, perusahaan C jelas lebih menguntungkan.

Jadi, laba bersih bukanlah faktor tunggal untuk mengetahui suatu perusahaan profitable atau tidak. Sejumlah variabel lain juga bisa memengaruhi atau menentukan profitabilitas suatu perusahaan.

Lebih bagus lagi, perusahaan tersebut juga efisien dalam menjalankan seluruh kegiatan operasionalnya. Hal inilah yang bisa diketahui melalui ROA.

Artikel Terkait