Investasi, Perencanaan Keuangan

Rumus ROE Bisa Mengukur Kinerja Keuangan Perusahaan, Lho!

Ajaib.co.id – Bagaimana mengukur kinerja keuangan perusahaan? Ada banyak caranya. Salah satunya melalui penerapan rumus pengembalian ekuitas atau Return On Equity (ROE).

ROE termasuk perhitungan rasio profitabilitas. Perhitungan rasio melalui ROE menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih. Laba bersih ini bisa diketahui, baik dengan menggunakan modal sendiri maupun yang tersedia bagi pemilik atau investor.

Lebih lanjut, perhitungan ROE dapat digunakan sebagai tolok ukur kinerja keuangan perusahaan. Satu hal yang perlu diperhatikan ialah besar-kecilnya perusahaan memengaruhi ROE. Perusahaan kecil yang umumnya memiliki modal relatif kecil, misalnya, akan menghasilkan ROE kecil. Begitu pula sebaliknya, perusahaan besar menghasilkan ROE besar.

ROE dihitung melalui rumus membandingkan laba bersih setelah pajak dengan ekuitas yang telah diinvestasikan pemegang saham perusahaan (Van Horne dan Wachowicz, 2005:225). Hasil ROE dinyatakan dalam persentase.

Mari kita telisik dua variabel dalam rumus di atas, yaitu laba bersih dan ekuitas. Merujuk pernyataan dalam Ikatan Akuntan Indonesia (1999:94), laba bersih sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi ukuran yang lain, seperti ROE atau earning per share. Penghasilan atau beban merupakan unsur-unsur yang langsung berkaitan dengan pengukuran laba.

Sementara itu, ekuitas adalah jumlah modal yang menggambarkan hak kepemilikan seseorang atas aset perusahaan. Melalui ekuitas, seberapa besar kepemilikan seseorang terhadap suatu perusahaan dapat diketahui. Lazimnya, ekuitas bisa ditemukan dalam laporan posisi keuangan (neraca). Modal yang disetor, dividen, saham, dan laba ditahan adalah beberapa jenis ekuitas.

Rasio ROE menunjukkan kemampuan atau daya perusahaan untuk menghasilkan laba atas investasi yang melekat pada perusahaan tersebut. Daya ini berdasarkan nilai buku para pemegang saham.

Tidak jarang, ROE digunakan untuk membandingkan dua atau lebih perusahaan atas peluang investasi. Tak hanya peluang investasi, perbandingan tersebut pun kerap mencakup manajemen biaya yang efektif. Oleh sebab itu, pemegang maupun calon pemegang saham cukup menaruh perhatian terhadap ROE. 

Jadi, tak hanya penting bagi manajemen, rasio ROE juga menarik bagi pemegang maupun calon pemegang saham karena merupakan ukuran atau indikator penting dari shareholders value creation. Maksudnya, semakin tinggi rasio ROE, maka makin tinggi pula nilai perusahaan. Investor akan lebih tertarik menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki nilai tinggi. Nilai tersebut tak hanya melulu laba bersih.

Bagaimana eksekusi perhitungan ROE yang membandingkan dua perusahaan? Di bawah ini adalah contohnya.

Data di atas menunjukkan perusahaan A memiliki aset lebih besar dengan ekuitas yang lebih besar dari liabilitas, yakni senilai Rp125 juta. Kondisi berbeda terlihat pada perusahaan B yang memiliki total aset Rp150 juta. Tapi, perusahaan B mempunya ekuitas yang lebih kecil dari liabilitas tercatat. 

Andaikan perusahaan A dan perusahaan B memiliki bisnis utama di subsektor yang sama. Sekilas, perusahaan A memiliki laba bersih lebih besar dibandingkan dengan perusahaan B. Tapi, apakah perusahaan A benar-benar menguntungkan dari sudut pandang investor? 

Jawabannya belum tentu. Mari, kita cari tahu sebabnya dengan menggunakan rumus ROE. 

Hasil perhitungan dengan rumus ROE di atas menunjukkan keuntungan tak menjadi variabel tunggal untuk mengetahui sejauh mana kinerja perusahaan. Perusahaan A pada contoh di atas memang berhasil meraih untung besar. Namun, perusahaan A ternyata kurang optimal dalam memanfaatkan modal investor (ekuitas). Hal ini terlihat dari ROE Perusahaan A sebesar 24%. Persentase ini lebih kecil dibandingkan dengan ROE perusahaan B meskipun perusahaan B membukukan laba yang lebih sedikit.

Jadi, perusahaan B mampu mengelola dana yang didapat dari pemegang saham secara efisien hingga menghasilkan laba. Kenaikan ROE yang terus-menerus menjadi informasi kalau perusahaan telah menemukan cara efektif dalam mendatangkan laba tanpa perlu banyak modal yang disertakan.

Sebaliknya, turunnya ROE mengindikasikan ada yang perlu diperbaiki oleh manajemen untuk mendongkrak kinerja perusahaan. Investor pun bisa membandingkan ROE lebih dari satu perusahaan sejenis sebelum menentukan ke mana modal yang akan diinvestasikannya.

Jadi, perhitungan ROE juga membuktikan bahwa tingginya laba bersih tak menjamin suatu perusahaan benar-benar meraup untung yang tinggi pula. Begitu juga dengan harga saham perusahaan tersebut. Harga saham perusahaan tidak otomatis terdongkrak karena hanya faktor laba yang tinggi. Dengan kata lain, kenaikan laba bersih tidak selalu linier dengan harga sahamnya.

Kamu juga bisa membandingkan ROE suatu perusahaan selama lima hingga 10 tahun terakhir. Hal ini akan memberikan informasi pertumbuhan perusahaan secara lebih signifikan. Meski rentang lima hingga 10 tahun tidak menjamin perusahaan akan konsisten tumbuh pada kecepatan tersebut, setidaknya kamu bisa mengetahui grafik rata-rata perolehan perusahaan.

Manajemen perlu mempersiapkan dan membagikan informasi tingkat pengembalian ekuitas secara teratur kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Selain untuk menarik minat investor, perhitungan ROE juga merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada para pemegang saham.

Seorang investor pun harus selalu menelusuri sebuah pasar untuk mendapatkan perusahaan yang bisa mendulang angka ROE yang baik dan logis. Jadi, kalau kamu berniat untuk berinvestasi, jangan selalu terpaku pada angka di laba bersih ya.

Sumber: Cara Menghitung Pengembalian Ekuitas (Return On Equity) dan Ini Rumus ROE yang Guna Banget Mengukur Kinerja Perusahaan dalam Hasilkan Profit, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait