Investasi

Rumus NPV: Mengukur Proyeksi Kelayakan Investasi

Ajaib.co.id – Investasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan. Sayangnya, tidak semua investor bisa menghasilkan tambahan penghasilan dari investasi yang mereka lakukan. Maka, investor perlu memahami berbagai variabel sebagai bagian dari perencanaan. Sejumlah variabel ini bisa diketahui melalui rumus Net Present Value (NPV).

NPV merupakan selisih antara nilai sekarang dari arus kas masuk dan arus kas keluar pada periode waktu tertentu. Sederhananya, NPV adalah proyeksi atau perkiraan keuntungan dari suatu investasi dengan nilai uang yang sekarang. Dengan mengetahui NPV, manajemen perusahaan bisa memutuskan kelayakan dan keberlanjutan suatu investasi yang hendak dieksekusi.

Biasanya, NPV digunakan saat menyusun anggaran modal untuk menganalisis profitabilitas sebuah proyek. Tapi, satu hal harus diingat, yakni metode ini mengestimasikan nilai sekarang pada suatu proyek, aset, atau investasi. Acuan estimasi tersebut ialah arus kas masuk yang diharapkan di masa depan dan arus kas keluar yang disesuaikan dengan suku bunga dan harga pembelian awal.

NPV memiliki hubungan erat dengan teori time value of money. Teori tersebut menyatakan bahwa uang dengan jumlah yang sama akan memiliki nilai yang berbeda di periode waktu yang berbeda pula.

Kamu harus cermat dan teliti dalam mengupas rumus NPV. Hal ini karena kamu harus menambahkan semua arus kas masa depan dari investasi. Belum lagi bila diterapkan diskon arus kas tersebut dengan tingkat diskonto. Plus, kamu juga harus menguranginya dengan investasi awal. 

Rumus NPV = (C1/1+r) + (C2/(1+r)2) + (C3/(1+r)3) + … + (Ct/(1+r)t) – C0

Keterangan:

• Ct = arus kas tiap tahun pada periode t

• C0 = nilai investasi awal di tahun ke-0

• r = discount rate atau suku bunga (dalam %)

Rumus NPV tak hanya bisa diterapkan seperti contoh di atas. Tabel Present Value Interest Factor for an Annuity (PVIFA) juga bisa digunakan pada rumus NPV. Selanjutnya, masukkan hasilnya ke persamaan atau rumus NPV di bawah ini.

NPV = (Ct x PVIFA(r)(t)) – C0

Kamu, misalnya, ingin mengembangkan bisnis konten publikasi dengan membeli kamera digital seharga Rp10 juta. Apakah rencana investasi kamu tersebut layak dilanjutkan? Bandingkan pula bila kamu merencanakan berinvestasi untuk instrumen lain, misalnya deposito. Apakah rencana investasi kamu dengan membeli kamera digital akan lebih besar dibandingkan deposito dalam tiga tahun ke depan? 

Jawabannya bisa kamu ketahui dengan menerapkan rumus NPV. Perhitungan NPV juga dapat dilakukan dengan menggunakan tabel PVIFA. Hasilnya pun akan sama pada kasus serupa.

Yang perlu kamu perhatikan adalah hasil NPV. Jika hasilnya positif (> 0), rencana investasi berpotensi meraih penerimaan lebih besar dibandingkan dengan besaran nilai yang diinvestasikan. Jadi, rencana investasi tersebut memenuhi unsur kelayakan dari sisi bisnis. Kamu pun bisa melanjutkan rencana investasi tersebut.

Namun, bila hasil nilai NPV negatif (< 0), artinya estimasi penerimaan lebih kecil dibandingkan dengan nilai yang diinvestasikan. Dengan kata lain, kamu berpotensi mengalami kerugian pada investasi tersebut setelah mempertimbangkan nilai waktu uang (time value of money). 

Nilai 0 berarti netral atau kamu berpotensi tidak mengalami kerugian atau meraup keuntungan. Jadi, bisa dibilang kamu hanya balik modal dari rencana investasi yang hendak kamu lakukan. Kamu perlu mempertimbangkan kembali atau mendiskusikan lebih lanjut dengan beberapa pihak mengenai potensi keuntungan lain yang bisa diraih jika investasi tersebut tetap dilanjutkan. 

Intinya, semakin besar angka positif hasil rumus NPV, makin besar potensi penerimaan yang bisa didapatkan. Sebaliknya, semakin besar angka negatif hasil rumus NPV, makin besar potensi kerugian yang bisa didapatkan atau tidak layak dilanjutkan.

Melalui rumus NPV, kamu bisa memutuskan apakah tetap menjalankan rencana investasi tersebut ataukah tidak. Namun, NPV bukan indikator tunggal yang menentukan kelayakan investasi. Kamu bisa saja menemukan beberapa alternatif cara atau metode untuk meminimalisir potensi kerugian. Setidaknya, NPV dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan opsi rencana investasi yang paling profitable.

Selain itu, NVP sangat penting digunakan sebagai pengukur tingkat risiko apa saja yang berpotensi akan dihadapi dalam sebuah rencana investasi. 

Perencanaan investasi krusial dan menentukan langkah suatu perusahaan untuk tahun-tahun mendatang. Perencanaan yang keliru bisa membuat investasi tak berarti selain kerugian. Beberapa perusahaan pun pernah mengalami kesalahan dalam berinvestasi.

Kerugian yang dialami oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero), misalnya, bisa menjadi contoh terkini terkait pengambilan keputusan investasi yang buruk. Kerugian yang dialami oleh salah satu BUMN ini bersumber dari pengambilan keputusan investasi yang buruk oleh top management. Kerugian ini tak tanggung-tanggung hingga menyebabkan Jiwasraya mengalami gagal bayar dana nasabah yang jumlahnya mencapai lebih dari Rp10 triliun.

Kesalahan investasi Jiwasraya bisa dilihat dari, contohnya, investasi di reksa dana. Hasil penempatan investasi Jiwasraya pada reksa dana terus menyusut. Pada tahun 2017, hasil investasi Jiwasraya sebesar Rp19,17. Hanya dalam waktu dua tahun, hasilnya terjun bebas mencapai Rp6,64 triliun pada tahun 2019.

Tidak melakukan analisis mendalam menjadi salah satu sumber pemicu seseorang atau investor mengalami kerugian dalam berinvestasi. Padahal, tidak seluruh instrumen investasi cocok untuk semua investor. Jadi, saat merencanakan berinvestasi, kamu sebaiknya melakukan perhitungan dan analisis mendalam sebelum menempatkan dana dalam jumlah yang cukup besar pada suatu instrumen. 

Dalam bukunya yang berjudul Money Master the Game, Anthony Robbins (2015) menyatakan, sebagian besar investor mengalami kegagalan dalam berinvestasi. Kamu tentu tidak mau masuk dalam bagian tersebut, bukan? Nah, rumus NPV bisa membantu kamu dalam membuat keputusan mengenai kelayakan suatu investasi.

Sumber: Rumus NPV, Cara Menghitung NPV, dan Contoh Soal NPV, Apa itu Net Present Value (NPV)?, dan Kasus Jiwasraya Akibat Buruknya Keputusan Investasi, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait