Investasi, Saham

Dikoleksi Lo Kheng Hong, Begini Fundamental BMTR

Mengenal Lo Kheng Hong yang Dikenal Bapak Saham Indonesia

Ajaib.co.id – Investor senior legendaris Lo Kheng Hong (LKH) asal Indonesia adalah seorang investor yang terkenal karena saham-sahamnya hampir selalu membuahkan hasil. “Saham apa pun yang beliau sentuh berubah selalu menjadi emas” begitulah kira-kira stereotip yang terpatri di benak banyak investor lokal yang mengidolakan beliau.

Beliau berinvestasi di saham-saham yang menurut beliau “salah harga”. Dengan sabar dinantinya saham-sahamnya matang, naik perlahan menyesuaikan dengan kondisi fundamentalnya. Tak jarang penantiannya memakan waktu bertahun-tahun.

Ketika dirasa saham-sahamnya sudah mulai memasuki area harga wajarnya, beliau panen dengan nilai yang sangat besar dan memukau jutaan investor domestik. Sebut saja MBAI, UNTR, TPIA, INDY dan BUMI. Saham-saham tersebut membuat LKH terkenal karena telah memberikan keuntungan rata-rata sepuluh kali lipat dari harga belinya.

Untuk saham BUMI, meski keluar posisi dalam kondisi cuan LKH menegaskan untuk lain kali lebih mempertimbangkan faktor manajemen yang bersih alias Good Corporate Governance. Kira-kira begitulah sepak terjang Pak LKH yang sudah sangat berpengalaman malang melintang di pasar saham Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan menghasilkan lebih dari dua triliun rupiah dari transaksi sahamnya.

Karena pesonanya yang gilang gemilang, tak heran ketika beliau diberitakan mulai mengoleksi saham Global Mediacom Tbk. (BMTR) di bulan Agustus dan September, ratusan investor lainnya seperti mengekor beliau mengoleksi saham BMTR. Saham ini digadang-gadang salah harga, alias sedang murah sekali di bawah harga wajarnya. Benarkah demikian? Berapa kira-kira harga wajarnya? Berikut pembelajaran tentang analisis fundamental ringan tentang BMTR yang bisa kamu ikuti.

Sekilas Saham BMTR

Global Mediacom Tbk. (BMTR) adalah induk dari grup MNC yang terdiri dari puluhan anak usaha di bawah dua subsidiari utama yaitu Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan MNV Vision Networks Tbk. (IPTV).

BMTR adalah pemegang saham pengendali atas 66,83% total saham beredar dari IPTV dan 56,28% dari MNCN. Oleh karenanya pendapatan BMTR terdiri dari sebagian dari pendapatan anak usaha utamanya yaitu MNCN dan IPTV.

Pendapatan BMTR utamanya berasal dari Free To Air (FTA)/TV non berbayar, Konten, TV Berlangganan dan layanan internet. Kamu bisa lihat sumber pendapatan dari BMTR di bawah ini;

Sumber: public expose BMTR

Kita bisa lihat di atas bahwa pendapatan utama BMTR berasal dari iklan FTA dan Konten yang disiarkan oleh anak-anak usaha MNCN, yaitu sebesar 9,8 triliun rupiah. Pendapatan dengan jumlah terbesar kedua datang dari TV berbayar dan layanan internet, keduanya adalah layanan dari IPTV yaitu sebesar 3,6 Triliun rupiah. Pendapatan lain-lain adalah sebesar 1,3 Triliun rupiah.

Yang menarik adalah bahwa margin laba kotor yang diperoleh BMTR meningkat karena beban pokok pendapatan yang dikeluarkan BMTR menurun. Kamu bisa lihat di atas bahwa dari dari total pendapatan BMTR, sebesar 49% adalah laba kotornya. Ini adalah angka yang baik karena sebagian besar bisnis hanya memperoleh laba kotor sebesar 30% atau 10% saja.  Ada banyak bisnis yang menghabiskan 70% bahkan hingga 90% dari pendapatannya hanya untuk modal usaha, belum dipotong pajak dan lain sebagainya.

Terlebih lagi margin laba kotor meningkat dari 48% di tahun sebelumnya menjadi 49% di akhir tahun fiskal 2019. Ini menandakan ada peningkatan efisiensi dalam mengelola beban pokok pendapatan.

Grafik Pendapatan BMTR

Sumber: lembarsaham.com

Jika kita melihat secara historis maka kita akan melihat sesuatu yang menarik di tahun 2016 hingga 2019. Sebelum 2016 pendapatan BMTR naik-turun di sekitar angka 10,01 hingga 10,5 Triliun rupiah per tahunnya.  Kamu bisa lihat bahwa pendapatan yang diterima BMTR naik berturut-turut sejak 2015 dari 10,6 Triliun rupiah lalu terus merangkak naik menjadi 12,9 Triliun rupiah di tahun 2019.

Sedangkan laba operasi membaik sejak 2015. Dari sisi laba bersih, BMTR telah lebih dahulu membukukan keuntungan dan secara konsisten terus meningkat sejak tahun 2015. Di tahun 2015 laba bersih BMTR adalah sebesar 283,44 Milyar rupiah lalu meningkat menjadi 786,54 Milyar di tahun 2016, merangkak naik hingga menjadi 2,32 Triliun rupiah di tahun 2019. Artinya nyaris 10 kali lipat peningkatan dalam empat tahun terakhir!

Hal yang juga menarik untuk dibahas adalah tentang laba bersih per lembar saham BMTR!

Laba bersih per jumlah saham yang beredar diistilahkan dengan EPS. Sebelum tahun 2015 EPS saham BMTR berfluktuasi namun setelahnya terus naik seiring dengan peningkatan pendapatan dan laba bersih. Di tahun 2015, EPS dari saham BMTR adalah sebesar 17,09 rupiah. Menjadi 47,53 rupiah di tahun berikutnya dan terus naik hingga 139,74 rupiah di tahun 2019. Dari 17,09 rupiah di tahun 2015 menjadi 139,74 rupiah di 2019, itu artinya laba per saham BMTR telah naik delapan kali lipat dalam empat tahun saja!

Ketika laba bersih dan EPS naik signifikan, lain halnya dengan harga saham BMTR.

Grafik di atas adalah grafik harga saham BMTR sejak IPO di tahun 2005 hingga saat ini di tahun 2020 yang dibandingkan dengan indeks perdagangan dan jasa (JKTRAD). Kamu bisa lihat bahwa meskipun pendapatan, laba bersih dan EPS saham BMTR terus meningkat, harga sahamnya malah melemah.

Inilah uniknya market. Ternyata dalam survei kualitatif tak resmi yang dilakukan oleh penulis di sejumlah forum saham, kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka khawatir tentang masa depan BMTR.

“Kita mengetahui bahwa dewasa ini disrupsi dari internet cukup besar, apakah RCTI, iNews, Global TV mampu bertahan ke depannya?” Inilah gambaran dari kebanyakan respon yang diterima oleh penulis. Tentu riset yang lebih mendalam diperlukan untuk mengetahui mengapa banyak orang enggan menyimpan saham BMTR sehingga menyebabkan sahamnya jatuh meski performanya baik-baik saja.

Masa Depan BMTR

Untuk mengetahui masa depan BMTR kita bisa dengan mudah memulainya dari bagian pendapatan. Kita akan coba mengulik prospek masa depan dari sumber pendapatan BMTR. Berikut grafik produk dan jasa yang menyumbang sebagian besar pendapatan BMTR.

Perhatikan grafik di atas, kamu bisa lihat bahwa sebagian besar pendapatan yang diperoleh BMTR adalah berasal dari iklan TV alias non digital, yaitu sebesar 51,9% dari total pendapatan keseluruhan. Berikutnya pendapatan terbesar kedua datang dari TV berbayar dan broadband sebesar 24,1% dan konten sebesar 11,3%.

Supaya kamu ingat, tabel di atas dimunculkan kembali. Iklan dan konten adalah berasal dari segmen FTA dan Konten. Segmen FTA (Free To Air) dan Konten adalah pendapatan yang dihasilkan oleh anak usaha utama BMTR yaitu MNCN. Berikut portofolio usaha MNCN;

Sumber: Public expose BMTR 2020

Bagaimana menurutmu? Apakah RCTI, MNC TV dan Global TV akan mampu bertahan di masa depan dengan program-programnya? Sejauh ini sih cukup berhasil.

MNCN dengan seluruh saluran televisinya sejauh ini berhasil merebut perhatian sebanyak sepertiga penonton Indonesia. Berdasarkan riset dari Nielsen di kuartal dua tahun 2020 sebanyak 37,7% penonton Indonesia setia dengan program-program televisi MNCN. Dari tahun ke tahun jumlahnya ada di kisaran 30% hingga 40% dari seluruh pangsa pasar.

Ternyata MNCN juga merupakan pemimpin pasar televisi non berbayar di Indonesia.

Dari seluruhnya, ternyata MNCN merajai pangsa pasar iklan televisi Indonesia. Sebesar 45% dari seluruh pendapatan iklan televisi dalam negeri masuk ke kas MNCN. Dan tentunya dikonsolidasikan ke induknya yaitu BMTR.

Berikut adalah contoh dari program-program televisi unggulan dari MNCN.

Sinetron dan kontes menyanyi tetap menjadi unggulan dari saluran-saluran televisi milik MNCN dan mengundang pengiklan yang menjadi pemasukan utama MNCN.

Apakah kiranya ke depannya program-program televisi dari MNCN, yang menjadi sumber pendapatan utama BMTR, masih akan menjadi favorit penonton Indonesia? Jawaban dari pertanyaan ini adalah gambaran dari masa depan BMTR.

Rasio-Rasio dan Valuasi BMTR

Sejauh ini performa BMTR secara fundamental cukup baik. Dengan pendapatan, laba bersih dan EPS yang terus meningkat. Efisiensi juga meningkat. Mari kita liat rasio-rasio lainnya.

Rasio Hutang BMTR

Terakhir di akhir tahun 2019 total hutang BMTR adalah sebesar 12,8 Triliun rupiah. Jika dibandingkan dengan total aset yang sebesar 30,2 Triliun rupiah, maka rasio utang per aset (DAR) adalah 0,42 atau kurang dari setengah total aset.

Jika dibandingkan dengan modal kerja, alias ekuitas, maka rasio DER (utang per ekuitas) nya adalah 0,73. Rasio ini berguna untuk memberikan kamu gambaran bahwa apabila para penagih utang mendesak BMTR melakukan pelunasan saat ini juga maka aset dan ekuitas yang dimiliki BMTR sudah bisa melunasi seluruh utang. Rasio hutang di bawah angka 1 termasuk rasio yang baik. Secara utang, BMTR terbilang aman.

Marjin Laba

Jika kamu belum tahu, marjin laba artinya laba dibandingkan dengan pendapatan lalu dikalikan 100%. Semakin besar marjin laba maka artinya semakin baik. Ada tiga laba yang harus kamu ketahui; laba kotor, laba operasional dan laba bersih.

Laba kotor adalah pendapatan dikurangi dengan beban pokok pendapatan. Misalnya kamu berjualan ayam dengan modal 10 ribu rupiah, lalu dijual dengan harga 30 ribu rupiah, maka artinya laba kotor kamu adalah 20 ribu rupiah dan marjin laba kotor kamu adalah 66%. Laba bersih artinya laba yang sudah dikurangi pajak, bayar gaji pegawai, sewa gedung, listrik, dan lain sebagainya.

Kamu bisa lihat di atas, marjin laba operasional dan marjin laba bersih BMTR terus meningkat meski marjin laba kotornya masih berada di sekitar 48%an setiap tahunnya.

Itu menandakan bahwa secara internal BMTR terus berupaya mengurangi beban. Jika kamu penasaran beban apa saja yang dihemat BMTR maka kamu perlu melakukan penelitian lanjutan dengan mempelajari laporan keuanganya dari tahun ke tahun. Mungkin saja BMTR menghemat gaji pegawai, mengurangi pemakaian listrik atau apalah. Yang jelas efisiensi tampak sekali terlihat diupayakan terus menerus oleh BMTR.

Dari rasio Laba per Modal kerja alias Ekuitas (DER), kamu juga bisa lihat bahwa ROE terus meningkat terutama sejak 2015.

Dalam mengukur keuntungan, kita juga biasa melihatnya dari sisi besar laba dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan. Kita bisa apresiasi BMTR yang sejauh ini berhasil mendongkrak rasio keuntungannya dari 1,9% ROE di 2015 menjadi 13,3% di 2019. Dengan ROE sebesar 13% artinya setiap 1 rupiah modal yang dikeluarkan di tahun 2019 telah menghasilkan 1,13 rupiah.

Valuasi

Untuk mengetahui apakah harga saham BMTR berada di bawah harga wajarnya maka kita akan lakukan valuasi.

Untuk valuasi, penulis lebih condong menggunakan valuasi PEG dari Peter Lynch karena pertumbuhan performa BMTR yang terus-menerus terjadi. Pertumbuhan terlihat dengan mempertimbangkan pertumbuhan dari segi pendapatan sejak tahun 2015 hingga 2019.

Di tahun 2015 BMTR meraih 10,6 Triliun rupiah dan terus meningkat menjadi 12,9 Triliun rupiah di tahun 2019. Pertumbuhan juga terjadi secara internal di mana efisiensi diterapkan sehingga laba operasional dan laba bersih bisa meningkat pesat.

Laba bersih per lembar saham, alias EPS, juga meningkat dari 17,09 rupiah di tahun 2015 menjadi 139,74 rupiah di tahun 2019.

Rumus PEG adalah PER (Harga dibandingkan dengan EPS) dibagi dengan pertumbuhan rata-rata EPS per tahun.

  • Dengan harga terakhir sebesar Rp222 dan EPS tahunan terakhir sebesar 139,74 maka PER dari BMTR adalah 1,58.
  • Untuk mengetahui pertumbuhan rata-rata EPS per tahun, kamu bisa menggunakan kalkulator CAGR (Compounding Annual Growth Rate), CAGR adalah Rasio Pertumbuhan Majemuk Tahunan, yang tersedia gratis secara online. Dengan EPS sebesar Rp17,09 di 2015 dan menjadi Rp139,74 di 2019, maka CAGR nya adalah  69%.
  • Maka PEG dari BMTR adalah 1,58/69= 0,022. Dalam PEG semakin jauh hasilnya dari angka 1, artinya semakin murah. Dengan angka 0,022 artinya harga saham BMTR baru mencapai 0,022x dari harga wajar sesungguhnya.
  • Dengan kata lain, dengan perhitungan PEG maka BMTR baru akan mencapai harga wajarnya jika PER nya sudah mencapai 69. Jika PER saham BMTR sebesar 69, maka itu artinya harganya sudah mencapai 44 kali lipat harga saham saat ini (69/1,58). Jika harga saat ini Rp222 maka 44 kali lipatnya adalah Rp9768

Jelas BMTR saat ini undervalued/di bawah harga wajarnya dengan perhitungan PEG. Jika BMTR mampu mempertahankan pertumbuhan EPS sebesar 69% per tahun maka kamu bisa percaya diri untuk mengharapkan BMTR naik ke angka Rp9768.

Demikian contoh analisis fundamental sederhana yang juga bisa kamu lakukan.

Jika kamu berharap untuk bisa ikut mengoleksi BMTR seperti pak Lo Kheng Hong maka penulis menyarankan kamu untuk melakukan analisis lebih mendalam lagi. Perlu kamu ingat bahwa analisis fundamental adalah seni ilmiah.

Perhitungan menggunakan valuasi PEG dilakukan karena pertumbuhan EPS yang ditunjukkan BMTR termasuk signifikan (>30%). Jika pertumbuhannya tipis saja maka penulis pasti akan menggunakan valuasi Gordon Dividend Model yang merupakan modifikasi dari valuasi Discounted Cash Flow dari bapak value investing Ben Graham.

Tidak ada aturan baku tentang valuasi, yang ada hanya saran berdasarkan pengalaman.

Pak LKH menemukan saham UNTR saat harganya masih Rp350 karena melihat laba operasional per lembar sahamnya yang begitu tinggi namun sahamnya dihargai rendah. Kini UNTR diperjualbelikan di harga sekitar Rp22.000. Inilah seni dari berinvestasi.

Jika menggunakan PEG dengan melihat laba operasional (seperti yang pak LKH lakukan di saham UNTR), maka harga wajar dari BMTR adalah Rp3550. Kamu bisa periksa ulang dengan mengikuti langkah-langkah valuasi di atas.

Disclaimer: Pembahasan di atas semata-mata ditulis demi pengetahuan saja. Saham yang disebutkan bukan rekomendasi dan penulis tidak memiliki saham yang disebutkan. Penulis tidak bertanggung jawab atas perubahan harga saham. Dan penulis juga tidak bertanggung jawab jika ada pembaca yang mengambil posisi beli setelah membaca analisis ini. Harap lakukan analisis lebih mendalam jika pembaca tertarik dengan saham yang disebutkan.

Artikel Terkait