Analisa Saham, Saham

Emiten Saham KIOS Belum Sampaikan Detail Strategi Bisnis

Sumber: Data Emiten

Ajaib.co.id – PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (kode saham KIOS) merupakan perusahaan yang berdiri pada tanggal 29 Juni 2015 dan mulai beroperasi komersial pada bulan Agustus 2015.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan tercatat ruang lingkup kegiatan KIOS di antaranya, menjalankan usaha dalam bidang perdagangan, jasa, pembangunan, percetakan, perindustrian, angkutan, perbengkelan dan pertanian

Untuk saat ini, kegiatan utama perusahaan ini adalah bidang perdagangan online atau e-commerce. Kioson memang merupakan sebuah perusahaan teknologi yang menyediakan perangkat lunak dan perangkat keras platform yang digunakan untuk membantu Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia lewat sistem kemitraan yang disebut Kioson Cash Point. Sehingga di dalam melakukan kegiatan perekrutan mitra bisnis dan pengumpulan hasil transaksi dari mitra bisnis Perusahaan bekerjasama dengan pihak ketiga, yang disebut Kioson Corporate Correspondence.

Pada 25 September 2017, KIOS mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pernyataan tersebut untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham KIOS (IPO) kepada masyarakat sebanyak 150.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp300,- per saham. Disertai dengan Waran Seri I sebanyak 150.000.000 dengan harga pelaksanaan Rp375,- per saham. Saham dan waran tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 05 Oktober 2017.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham KIOS.

Pandemi Pukul Kinerja KIOS di 2020

PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) mengakui pandemi COVID-19 pada 2020 telah memukul kinerja bisnis perseroan. Untuk itu, pada tahun ini perusahaan akan mengurangi ekspansi dan fokus pada pemanfaatan outlet eksisting. Direktur Utama KIOS, Doane Cahyadi, berkata hal ini dilakukan sebagai strategi perseroan menghadapi pandemi COVID-19.

Sehingga perusahaan akan berfokus pada pengembangan outlet yang telah dimilikinya. Perusahaan memutuskan untuk tidak terlalu fokus pada ekspansi atau pengembangan. Selain itu, KIOS akan berkolaborasi dengan pihak ketiga. 

Tak dapat dipungkiri, pandemi COVID-19 ini turut memukul kinerja perseroan. Utamanya sejak Pemerintah memberlakukan sistem PSBB. Pihaknya mengakui harus merevisi target penjualan hingga nilai besaran penggunaan capex. Namun, KIOS memang tidak memberikan detail penyesuaian yang dilakukan akibat tersandung pandemi. Doane hanya menyatakan, nilai capex dan target penjualan telah diturunkan.

Data laporan keuangan per September 2020 mencatat adanya penurunan penjualan bersih sebanyak 56%. Dari Rp2,03 triliun pada September 2019 menjadi Rp882 miliar pada September 2020. Selanjutnya, untuk perolehan laba perusahaan. Per kuartal III/2020, perseroan harus menekan kerugian mencapai Rp12,6 ,miliar. Padahal pada kuartal III/2019, perusahaan berhasil meraup keuntungan sebesar Rp1,4 miliar

Bisnis KIOS Sudah Merugi Sejak 2019

Terlepas dari kondisi pandemi, emiten PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) memang sudah mencatatkan rugi sejak tahun buku 2019. Sebelum mengalami kerugian pada tahun 2019, perusahaan sempat membukukan keuntungan pada 2018 dan 2017. 

Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah).

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan bersih2.900.1622.567.2551.130.076
Laba kotor45.94352.76419.274
Laba (Rugi) tahun berjalan(5.329)1.5592.938

Dari data tersebut, secara penjualan KIOS sebetulnya meningkat pada 2019. Namun, karena beban perusahaan lebih besar maka harus menelan kerugian perusahaan. 

Perseroan menderita kerugian mencapai Rp10,34 miliar secara year to date (YTD). Pada akhir tahun 2019, KIOS memperoleh laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp830,17 miliar. Sementara itu, pendapatan turun cukup dalam di angka Rp847,79 miliar, baik secara tahunan (YOY) dan akhir tahun 2019 (YTD).

Di akhir 2019 lalu, KIOS membukukan penjualan di angka Rp2,90 triliun. Adapun kontributor tertinggi dalam penjualan di periode semester I 2020 masih datang dari segmen produk digital Payment Point Online Bank (PPOB) sebesar Rp847, 52 miliar. Diikuti dengan segmen e-commerce sebesar Rp257,03 juta dan lain-lain sebesar Rp11,40 juta.

Mempertimbangkan kondisi finansial perusahaan yang masih rugi, Kioson (KIOS) memutuskan tidak membagikan dividen dari tahun buku 2019. Perusahaan memutuskan untuk menaruh Rp500 juta dari laba bersih tahun 2019 untuk cadangan. Adapun untuk sisanya dipergunakan sebagai laba ditahan (retained earning)

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis KIOS saat ini sedang tidak sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA-1,94%
ROE-5,10% 
NPM-0,18%
CR149,01%
DER162,97%

Bagaimana Prospek Bisnis MPPA Kedepannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

KIOS belum menyampaikan secara detail rencana bisnis di 2021 ini. Namun, manajemen selalu berupaya meningkatkan kualitas pelayanan pelanggan kios serta penguatan penetrasi digital di daerah, Kioson mengadakan pelatihan rutin dan berkelanjutan untuk team sales serta membangun jaringan kios di daerah.

Kioson juga berupaya dengan terus melakukan kolaborasi dengan mitra-mitra strategisnya. Dengan tujuan untuk menghasilkan inovasi dan layanan bagi pelanggannya. Salah satunya lewat mencari peluang bisnis baru dengan beragam latar belakang industri mitra, mulai dari digital vouchers, perbankan, fintech, logistik, dan e-commerce. Dengan beragam kerja sama ini, secara tidak langsung, kami terus menambah daya saing Kioson agar semakin diminati oleh calon mitra.

Untuk diketahui juga, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan membuka suspensi atas perdagangan saham  PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS).

Suspensi dua saham tersebut dibuka kembali di pasar reguler dan pasar tunai mulai perdagangan sesi I pada 21 Januari 2021. Hal itu disampaikan Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Lidia M.Panjaitan dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI Irvan Susandy dalam keterbukaan informasi BEI.

Melihat kondisi ini, investor sebaiknya menahan dulu untuk membeli saham ini. Berdasarkan kondisi finansial perusahaan yang tidak stabil dan adanya dua kali suspensi di April 2021 ini. 

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait