Saham

Apa itu Book Building dalam IPO? Ini Pengertiannya!

Book Building Adalah Kesempatan Beli Murah Saham Perdana

Ajaib.co.id – Aksi penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) kerap mengundang perhatian tak hanya pelaku pasar modal, melainkan juga publik. Terlebih bila perusahaan yang bakal IPO adalah perusahaan besar. Nah, Book Building adalah sebuah istilah yang kerap muncul dalam IPO. Apa itu Book Building?

Pengertian book building

Book Building adalah istilah dalam Electronic IPO (e-IPO). Pada pasar modal Indonesia, book building merujuk pada penawaran awal sebuah saham dari emiten yang go public. Book building merupakan kesempatan emas bagi calon investor, karena harga saham perdana yang ditawarkan oleh emiten terkait masih berupa rentang harga. 

Pada masa book building, calon investor bisa memesan saham perdana dengan menentukan harga saham sesuai keinginan. Tentunya masih dalam rentang harga yang sudah ditentukan sebelumnya. Emiten terkait dan underwriter menjadikan minat investor pada masa book building sebagai dasar penentuan harga penawaran perdana.

Perusahaan yang hendak go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) menawarkan sebagian kepemilikan sahamnya, misal 20% dari total valuasi. Jadi, kalau perusahaan tersebut memiliki valuasi Rp4 trilliun, maka Rp800 miliar akan dijadikan milik publik.

Apa ada orang yang mampu membeli seluruh saham senilai Rp800 miliar? Tentu ada, tapi hanya sedikit yang memiliki kemampuan untuk memborongnya sekaligus. Maka, perusahaan yang berencana IPO harus membaginya ke lembar-lembar saham yang lebih kecil, misalnya memecah Rp800 miliar menjadi 1 miliar lembar saham. Kini, masyarakat umum cukup menyiapkan uang Rp800 untuk membeli satu lebar saham.

Seorang calon investor yang mendapat penjatahan saat book building berarti berhasil memiliki saham duluan sebelum saham tersebut melantai di pasar bursa. Keuntungan yang mencolok saat calon investor ikut book building adalah ia berpotensi mendapat harga murah. Biasanya, saham hanya ditransaksikan terbatas pada hari awal-awal IPO. Dengan kata lain, jarang investor lain yang ingin menjual saham miliknya di bursa. 

Baca Juga: Mengenal Pasar Saham & Fakta-Fakta yang Wajib Diketahui

Proses book building

Harga saham perdana umumnya memiliki korelasi positif dengan antusiasme masyarakat saat book building. Artinya, bila minat masyarakat cukup tinggi pada masa book building, maka harga saham perdana yang ditawarkan juga akan tinggi. Begitu pula sebaliknya, harga saham perdana bisa rendah jika minat masyarakat saat book building juga rendah. Umumnya, masa book building berlangsung selama 7 hingga 21 hari kerja.

Jika seorang calon investor hendak memesan saham yang ditawarkan saat book building, maka ia harus memenuhi jumlah minimal pemesanan. Jadi, calon investor tersebut harus menyiapkan dana yang cukup untuk memenuhi batas jumlah minimal. Selain itu, calon investor juga sebaiknya mempertimbangkan potensi permintaan yang tinggi dan jumlah lembar saham terbatas selama masa book building

Calon investor baru bisa mengetahui jumlah slot saham yang dipesannya setelah masa book building selesai. Selanjutnya, ia bisa menyiapkan dana sesuai dengan jumlah slot yang berhasil didapatnya. Penjatahan slot saham ini dilakukan oleh penerbit atau perusahaan yang melakukan IPO. Bila tertinggal atau tidak mendapatkan jatah pada masa book building, maka calon investor bisa menunggu sampai masa pooling dibuka. 

Calon investor perlu memperhatikan harga pesanan dalam masa book building. Jika memesan di  bawah harga pembentukan, maka pesanan calon investor akan dibatalkan (dropped) oleh sistem e-IPO secara otomatis. 

Pada contoh di atas, diketahui bahwa sebuah perusahaan memecah 20% kepemilikannya sebesar Rp800 miliar menjadi 1 miliar lembar saham. Perusahaan tersebut tidak serta-merta langsung menjual Rp800/lembar begitu saja.

Melalui underwriter (penjamin emisi efek yang biasanya menunjuk salah satu sekuritas), perusahaan itu akan membuat penawaran harga ke calon investor, misalnya pada rentang harga Rp600 sampai Rp1.000 per lembar. Maka, calon investor harus bid di dalam rentang harga tersebut.

Calon investor tidak boleh bid lebih dari Rp1.000 atau kurang dari Rp600. Bila memesan di harga yang tinggi, harga pesanan investor akan diteruskan dengan harga pembentukan atau harga IPO.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga membuat ketentuan tentang batas maksimal penjatahan. Dengan begitu, calon investor tidak bisa membeli semua saham perusahaan yang akan IPO. Penjatahan ini bervariasi, misalnya untuk investor ritel maksimal 5% dari nilai.

Keikutsertaan calon investor bisa dibatalkan bila pesanannya tidak didukung dengan dana atau efek yang mencukupi sesuai dengan pesanan di rekening efek miliknya.

Baca Juga: Bursa Efek, Perusahaan yang Bantu Transaksi Pasar Modal di Indonesia

3 Hal yang dapat dilakukan investor saat book building

Calon investor tentu bisa menyampaikan minat saham yang akan listing di bursa saat periode book building. Calon investor tersebut bisa mengisi harga saham sesuai keinginan dalam rentang harga saham yang telah ditentukan.

Di samping itu, ada beberapa hal lain yang dapat dilakukan oleh calon investor saat book building.

1. Mempelajari prospektus perusahaan

Hal pertama yang dapat dilakukan calon investor dalam periode book building adalah mempelajari prospektus saham. Ketika ingin menerbitkan saham, sebuah perusahaan lazimnya akan mempublikasikan prospektus untuk memberi calon investor semua informasi yang mereka butuhkan. Calon emiten memberikan prospektus pendahuluan dan final.

Prospektus pendahuluan adalah dokumen penawaran awal yang memberikan rincian tentang transaksi yang diusulkan. Prospektus akhir ditawarkan ketika penawaran telah diselesaikan dan ditawarkan kepada publik untuk berlangganan. Informasi dalam prospektus final meliputi jumlah saham yang diterbitkan, harga penawaran, data keuangan perusahaan, faktor risiko, penggunaan dana, kebijakan dividen, dan informasi lain yang relevan.

2. Kisaran harga saham

Ada beberapa model cara menetapkan harga saham saat perusahaan akan go public berdasarkan hasil penilaian harga saham wajar. Salah satunya ialah metode perhitungan valuasi harga saham perusahaan berdasarkan indikator price to earning ratio (PER).

3. Jadwal IPO

Calon investor juga sebaiknya memperhatikan jadwal IPO, termasuk book building, tanggal penjatahan, tanggal distribusi saham secara elektronik hingga listing di bursa.  

Artikel Terkait