Saham

Benarkah Value Investing Sudah Mati? Ini Penjelasannya

Sumber: Freepik

Ajaib.co.id – Belakangan ini ada pandangan skeptis yang datang dari sebagian pelaku pasar modal di bursa saham kita yang cukup meresahkan. Value investing dikatakan telah ditinggalkan oleh para bandar dan kini justru saham-saham berfundamental rendah malah terbang ke bulan. Konsep ini diperkenalkan di forum-forum bandarmology dan kini merebak ke forum teknikal sebagai “busuk investing”, kebalikan dari value investing.

Saham-saham yang dikatakan masuk ke dalam busuk investing saat ini diantaranya Bank Jago Tbk (ARTO) yang secara fundamental masih merugi namun ramai sekali ditransaksikan. Sebagai informasi, ARTO, per kuartal I-2021 memperoleh pendapatan sebesar Rp 54,98 miliar dan rugi bersih Rp 38,13 miliar.

Berkat sentimen duet mautnya ARTO dengan beberapa startup besar seperti Gojek, saham ARTO meski belum membaik secara kinerja namun sahamnya naik 546,4% dalam satu tahun saja. ARTO melejit dari Rp 2800 di 20 Juli 2020 menjadi Rp 15.300 di 20 Juli 2021.  

“Selamat datang di busuk investing” ujar mereka yang belum kebagian cuan di ARTO, kemudian meme dan gif ‘Ampun Bank Jago’ pun berseliweran. Jadi naiknya saham-saham ‘busuk’ dan saham-saham Toto Sugiri, yang sebenarnya bagus namun sudah kelewat mahal (EDGE dan DMMX), disebut-sebut sebagai titik balik matinya value investing.

Dalam satu bulan terakhir pun podcast-podcast dan video pidato mengenai ‘Matinya Value Investing’ beredar dan sudah banyak diamini oleh sebagian pelaku pasar. Dan mereka yang kini menganut paham ‘Value Investing Sudah Mati’ seolah tak mau sendirian saja, mereka menyebar ke kolom-kolom komentar kontennya para value investor dan menyuarakan slogan Busuk Investing. Pertanyaanya adalah apakah benar value investing sudah mati?

Pertama-tama, value investing yang disebutkan sebagai contoh bukanlah value investing yang sebenarnya.

Saham yang disebut-sebut ‘sudah mati’ adalah UNVR yang telah turun 37,54% dalam setahun terakhir. Sayangnya UNVR dengan rasio PE nya yang bernilai 30,09x bukanlah saham value investing. Jadi contoh yang diberikan tidak membuktikan apapun.

Saham value investing yang kita kenal saat ini berakar pada pengertian yang diungkap dalam buku Security Analysis yang ditulis oleh Banjamin Graham, sang Bapak Value Investing. Dikatakan dalam bukunya bahwa value investing adalah “membeli saham yang memiliki harga rendah relatif terhadap laba, dividen, riwayat harga, aset buku, atau ukuran nilai lainnya. (hal. 1541)”

Pengertian saham salah harga kemudian diterjemahkan oleh Fama and French (1993) sebagai nilai buku pada rasio pasar yang rendah. Membeli saham yang harganya sedang dihargai murah ketika fundamentalnya baik-baik saja adalah strategi dari value investing. Ini adalah pandangan kontrarian di mana ketika mayoritas ‘membuang’ saham, value investor malah ‘memungutnya’ dengan catatan kualitas kinerjanya baik.

Mari kita perhatikan saham BBNI yang memiliki nilai wajar di harga Rp 10.000 per lembar berdasarkan perhitungan proyeksi EPS. Pada tanggal 27 Maret 2020 bursa dinyatakan trading halt, alias semua transaksi dibekukan sementara karena kepanikan pelaku pasar di tengah-tengah lockdown pandemi.

Saat itu BBNI ditransaksi di harga Rp 3.990 per lembar saham. Harga Rp 3.990 saat itu mencerminkan PE sebesar 4,28x dan itu adalah PE paling rendah dari seluruh saham bank BUKU IV saat itu. Dan lagi, masih jauh dari harga wajarnya.

Pembelian BBNI ketika harga sedang jatuh semasa awal pandemi ketika bursa mengalami trading halt, itulah value investing! Berapa sekarang harga BBNI? Jawabannya adalah Rp 4820, untung 20,8%. Masih jauh dari keuntungan yang berhasil dibukukan oleh ARTO. Namun berinvestasi di saham-saham berkinerja baik memang bikin aman secara jangka panjang, khususnya bagi mereka yang malas memantau pergerakan grafik sehari-hari.

Jadi apakah value investing sudah mati? Yang jelas membeli BBNI ketika sedang murah tidak membuat kita merugi. Mati sih tidak, hanya saja kalah dengan return saham yang dijagokan para busuk investor.

“Value Investing is Dead”

Tahun 2020 telah menjadi tahun yang sangat sulit bagi semua pelaku pasar modal, dan itu terjadi tak hanya di bursa dalam negeri saja. Istilah ‘value investing is dead’ telah lebih dahulu disuarakan investor di bursa Nasdaq sejak lama. Ketika saham-saham yang ‘sulit dipahami’ bangkit, value investing menjadi gaya investasi kuno yang terlihat membosankan.

Berinvestasi memang membosankan, karena kalau investasimu berlangsung seru maka kemungkinan kamu tidak menghasilkan banyak.

Masa lalu memang tidak mencerminkan masa depan namun seringkali sejarah terulang meski tak persis sama. Pada tahun 2000 ketika krisis saham-saham teknologi khususnya saham-saham dotcom runtuh, mayoritas trader maupun investor di bursa Nasdaq skeptis dan mengatakan bahwa bursa adalah tempat judi.

Namun mereka yang melihat ‘value’ justru memanfaatkannya untuk berani membeli saham IBM dan Google, dan semua yang punya ‘value’ pada kinerjanya dan cukup murah saat itu. Schroders telah mengutip data Bernstein yang melakukan pendataan dengan sangat baik tentang hal ini.

Jadi investasi saham-saham yang sudah kemahalan namun punya ‘growth’ alias bertumbuh dibandingkan dengan saham-saham yang harganya di bawah harga wajarnya alias saham-saham ‘value’. 

Saham-saham yang dihargai murah jatuh rata-rata 17% per Januari 2000, sedangkan saham-saham growth anjlok di bawah itu. Namun ternyata kejatuhan market adalah saat terbaik untuk membeli dan imbalan terbesar seringkali berawal dengan menjadi berani selama masa-masa paling menakutkan.

Selanjutnya hanya butuh satu tahun saja bagi saham-saham ‘value’ untuk bangkit menjadi positif 47%. Ulah bandar? Bandar memang punya hak akumulasi dan distribusi dan membuat harga saham gonjang-ganjing.

Namun seperti biasa jika sebuah saham memiliki kinerja yang baik maka ketika saham ‘dibanting’ bandar, maka akan ada banyak yang mau ‘menampung’nya dan harga pun terangkat kembali.

Value Investing Is Still Good As Long As…

Bagaimana dengan bursa kita? Masih ingat kisah BBRI? Pada bulan Maret hingga Mei 2020 dunia persilatan saham di Telegram dipenuhi para penganut ‘value investing is dead’ yang menyuarakan bahwa BBRI sedang didistribusi asing. Mereka memberi saran kepada para pemegang saham BBRI untuk segera ‘meninggalkan kapal’ karena kapal akan segera karam.

Well, memang benar BBRI sempat dibanting ke level Rp 2.240 per saham di April 2020 dari sebelumnya Rp 4.740 di Januari 2020. Asing melakukan distribusi BBRI saat itu juga adalah fakta, tapi lihatlah dari sisi kinerjanya!

Sekalipun terjadi rush/pengambilan tabungan besar-besaran, dan sekalipun seluruh kredit BBRI gagal bayar, harap diketahui bahwa BBRI punya dana 4x lipat simpanan nasabahnya. Dengan kekuatan sebesar itu, sebagai bank perkreditan terbesar di Indonesia, akankah BBRI bangkrut esok hari kalau ternyata bandar exit saham BBRI?

Dan apa yang terjadi? BBRI bangkit dan sahamnya masih tetap laku hingga sekarang bulan Juli 2021. Asing pun kembali entry BBRI. Secara fisik pun BBRI masih berdiri dan bertengger di BUKU 4 dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun.

Saham yang kinerjanya baik, ketika bandar melakukan distribusi dan harganya turun maka akan selalu ada yang mau ‘menampungnya’ alias dibeli di harga bawah. Akhirnya mereka yang lepas BBRI karena mendengar para busuk investor pun mengeluh menyesal dan bikin grup saham sendiri.

Memang return yang diberikan BBRI tidak sebesar saham-saham unggulan para busuk investor saat ini. Tapi dalam jangka waktu lama, akankah saham-saham mereka terus meroket ke angkasa? Berkaca dari kisah KARK, CPGT,  SIIP, BRAU, DAVO dan TKGA sih tidak begitu.

Setelah saham ‘busuk’ dibawa terbang, ketika tiba saatnya bandar distribusi maka tidak ada yang mau ‘menampung’ sahamnya. Saham-saham busuk setelah didistribusi, umumnya akan tetap diam di tempat sampai delisting dan nilai sahamnya menjadi nol sebelum sempat di-cutloss

Beberapa saham memang kemahalan sepanjang waktu, saham-saham bagus memang pada umumnya dihargai premium. Tapi ketika harganya turun menjadi murah, jangan lepaskan kesempatan itu karena itulah momen ‘value’ sebenarnya.

Value investing is still alive if you buy the right stock at bloody price.

Sekarang apakah value investing metode terbaik untuk bisa bertahan di bursa? Tidak juga, kamu juga bisa kaya raya dari trading, atau tape reading, bandarmology atau metode apapun asal kamu cuan. Hanya saja menggemakan suatu metode investasi dan merendahkan metode investasi lainnya sebaiknya sih tidak dilakukan karena tidak ada satu metode pun yang tidak bercela.

Artikel Terkait