4 Alasan Saham BNI Masuk Kategori Saham Blue Chip

saham-blue-chip

Investor pemula yang baru saja masuk dalam dunia investasi saham pasti akan mendapatkan saran untuk membeli saham dari perusahaan yaang masuk kategori saham blue chip. Kamu bisa dengan mudah mendapatkan daftar saham blue chip terkini dengan mengakses internet. Namun pernahkan kamu berpikir lebih jauh apa yang menjadikan suatu emiten dinyatakan sebagai saham unggulan?

Istilah blue chip diambil dari sistem judi di kasino yang menunjukkan jika counter pemilik chip berwarna biru itu memiliki nilai paling besar. Analogi inilah yang digunakan untuk mengidentifikasi saham lapis pertama di pasar modal Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham blue chip adalah saham unggulan yang tentu saja akan dilirik pertama kali dalam setiap perdagangan saham.

Saham perusahaan ini biasanya memiliki kinerja keuangan yang stabil dari tahun ke tahun. Laporan keuangannya jarang menuai nilai buruk. Tentu saja, dengan demikian perusahaan bisa membagi dividen secara rutin kepada pemegang saham dengan besaran yang juga stabil meskipun kondisi perekonomian sedang tidak mendukung. Pergerakan harga saham ini juga relatif stabil meskipun tidak bisa lepas dari fluktuasi yang terjadi di bursa saham.

Untuk memiliki saham ini, investor harus merogoh kocek lebih dalam karena harganya lebih mahal dibandingkan saham second liner. Meski demikian, investor pemula tetap disarankan bersedia memilikinya sebagai jaminan akan mendapatkan keuntungan dari investasinya. Namun untuk para trading saham yang menargetkan keuntungan jangka pendek, saham jenis ini tidak selalu menjadi pilihan utama.

Ada banyak perusahaan besar di Indonesia yang emitennya sudah langganan masuk dalam kategori saham blue chip. Salah satu diantaranya ialah saham miliki lembaga perbankan BNI yang memiliki kode BBNI. Bank negara ini dianggap menjadi salah satu saham unggulan yang layak untuk dikoleksi investor. Hal ini bukannya tanpa alasan.

Sepanjang tahun 2019, kinerja perusahaan ini dinilai sangat baik dan prospektif hingga di masa mendatang. Meskipun perekonomian dunia digoncang dengan berbagai isu global, laba bersih perusahaan tercatat naik 2,5% menjadi Rp 15,38 triliun, dari yang sebelumnya Rp 15,02 triliun pada tahun 2018.

Dikutip dari CNBC Indonesia, pertumbuhan laba bersih BNI ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang mencapai rata-rata 3,3%, dari Rp 35,45 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 36,6 triliun pada tahun 2019. Selain itu, penyaluran kredit BNI tahun 2019 juga tumbuh mencapai 8,6%.

Penyaluran kredit yang tumbuh nyaris mencapai dua digit tersebut diimbangi oleh marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang relatif tinggi. Pada tahun lalu, NIM dari BNI berada di level 4,9%. Secara keseluruhan, BNI berhasil mengungguli pesaingnya dalam industri yang sama. Ini artinya saham BNI sangat layak masuk dalam kategori saham blue chip.

Meskipun kinerja saham BNI selama awal tahun ini tetap fluktuatif namun pergerakannya masih dapat ditoleransi. Investor tetap memiliki minat tinggi akan perusahaan ini apalagi dengan sejumlah inovasi pada tahun ini yang bertujuan menggenjot pencapaian laba dan kinerja perusahaan.

Mengapa Saham BNI Masuk dalam Kategori Saham Blue Chip?

Saham BNI adalah salah satu bagian dari saham blue chip yang populer di Indonesia. Kepopulerannya sebanding dengan saham Bank BCA, BRI atau Indofood. Saham milik PT Bank Negara Indonesia ini menjadi langganan dari berbagai investor karena memiliki risiko yang minim dan bisa menjadi investasi saham yang relatif aman.

Saham BNI secara sangat layak diperhatikan oleh pemula karena harganya yang relatif stabil. Sebenarnya sangat mudaj memberikan alasan mengapa emiten BNI masuk dalam kategori saham blue chip. Sebabnya adalah bank ini merupakan salah satu bank paling terkemuka di industri perbankan tanah air. Ibaratnya, siapa yang tak tahu soal Bank BNI.

Meskipun tidak pernah ada penjelasan resmi soal kategori saham blue chip namun para investor saham biasanya sudah menetapkan ciri-ciri tersendiri akan saham unggulan ini. Ciri inilah yang kemudian menjadi patokan untuk memutuskan emiten tersebut unggul atau tidak. Tentu saja, saham BNI memenuhi sejumlah ciri-ciri tersebut.

Tapi sebenarnya, apa ciri-ciri atau faktor yang membuat sebuah saham seperti saham BNI layak disebut sebagai saham blue chip?

1.  Kapitalisasi Besar

Tentunya, ketika kamu berinvestasi saham BNI, kamu memiliki satu tujuan yaitu meraup keuntungan sebesar dan seefisien mungkin. Untuk mencapai itu, kamu harus memilih saham yang dimiliki oleh perusahaan besar, baik dengan model dan asetnya, serta kapitalisasi pasar yang dihasilkan.

Kapitalisasi pasar itu sendiri berarti harga perusahaan yang ingin dibeli. Lalu bagaimana sebagai investor pemula, kamu menghitung kapitalisasi saham BNI atau saham lainnya? Caranya relatif mudah, kamu tinggal mengalikan harga saham dengan jumlah lembar saham yang beredar. Jika perhitungan kapitalisasi lebih dari Rp 10 triliun, maka saham yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut bisa dikategorikan sebagai saham blue chip.

2.  Periode Waktu

Alasan kedua yang membuat saham BNI tidak masuk dalam kategori saham gorengan atau saham penny stock adalah periode waktu saham BNI di bursa efek. Satu hal yang perlu dicatat di sini adalah periode waktu yang lama bukan satu-satunya alasan.

Selain periode waktu, yang membuat sebuah saham bisa dikategorikan sebagai blue chip adalah dalam periode waktu tersebut, perusahaan itu sendiri mengalami peningkatan laba juga perkembangan yang signifikan.

3.  Diperdagangkan dengan Jumlah yang Besar

Diperdagangkan dengan jumlah yang besar bisa juga disebut likuid. Alasan ketiga kenapa saham BNI bisa masuk kategori adalah karena saham ini sangat aktif di lantai bursa dan investor perorangan atau lembaga meramaikan perdagangan saham kategori ini.

Mayoritas blue chip termasuk saham BNI berada di indeks LQ45, yang merupakan tempat saham dengan likuiditas yang tinggi. Dengan begitu, saham jenis ini memang memiliki nilai perdagangan yang besar.

4.  Pemain Utama

Saham BNI bisa dikategorikan sebagai pemain utama di industri perbankan. Hal yang sama berlaku juga kepada TLKM saham dan ASII saham yang juga merupakan pemain pasar utama di industri masing-masing. Ciri ini merupakan ciri terakhir dari blue chip yang ada di Indonesia.

Saham BNI memenuhi kategori saham blue chip di atas sehingga perusahaan ini rutin muncul di bursa efek dan selalu menjadi buruan para investor yang ada. Kamu juga bisa menjadi salah satu investornya dengan membeli sahamnya. Sekali lagi harus dipahami jika saham ini biasanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun sebenarnya ini sangatlah sebanding dengan keuntungan yang didapatkan dan minim risiko.

Untuk memperkaya pengetahuan kamu tentang investasi saham atau investasi lainnya, jangan lupa untuk selalu mengunjungi blog milik Ajaib.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang. 

Mulai Investasi Reksa Dana Dengan Ajaib.
Ayo bergabung dengan Ajaib, aplikasi investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Facebook Comment
Artikel Terkait