Saham

Prospek Pertumbuhan Saham Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN

Bicara mengenai saham-saham BUMN yang sering jadi pilihan investor, maka empat bank pelat merah ini pasti masuk diantaranya: Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI), dan Bank BTN (BBTN). Namun, kinerja saham masing-masing bank tidak bisa dianggap setara. Mari kita tilik prospek pertumbuhan saham keempatnya dari perspektif valuasi saham dan analisis teknikal sederhana.

  PE Ratio PBV EPS Dividen 2019
BMRI 13.31 1.8 582.28 3.11% (Rp241.22)
BBRI 16.09 2.75 275.33 2.97% (Rp132.17)
BBNI 9.50 1.24 834.30 2.54% (Rp201.29)
BBTN 16.69 0.9 129.39 2.46% (Rp53.03)

Keterangan:

  • Price Earnings Ratio (PER): Perbandingan antara harga saham dan laba bersih perusahaan. Semakin rendah angkanya, semakin baik.
  • Price-to-Book Value (PBV): Rasio yang membandingkan nilai pasar suatu saham terhadap nilai buku per lembar saham. Nilai lebih tinggi berarti lebih mahal.
  • Earnings Per Share (EPS): Laba bersih per lembar saham. Makin besar angkanya, makin baik.
  • Dividen: Pembagian laba per lembar saham, terdiri atas dividend yield dan nominal dividen.
  1. BMRI

Posisi saham BMRI saat ini paling “mahal” secara nominal pada harga Rp7775 per lembar, dan tergolong “agak mahal” dari perspektif PBV. Dilihat dari valuasi PE Ratio dan EPS, prospek saham BMRI juga tidak terlalu bagus. Bagaimana dengan dividen? Boleh dikatakan, potensi dividen BMRI termasuk yang paling tinggi. Bagi investor yang mengincar dividen, saham BMRI layak untuk dikoleksi.

Meski demikian, posisi harga BMRI saat ini sebenarnya kurang bagus untuk dibeli. Mengapa demikian? Coba perhatikan grafik yang menggambarkan pertumbuhan harga saham BMRI dalam kurun waktu 2015-2019 di bawah ini.

Terlihat adanya area resistance, atau puncak pergerakan harga, di atas 8000. Dengan kata lain, meski harga saham BMRI kemungkinan masih bisa naik dari posisi saat ini hingga mencapai area tersebut, tetapi akan sulit untuk meningkat lebih tinggi lagi. Apalagi, IHSG dalam kondisi tidak menentu, sehingga saham-saham akan sulit untuk mencetak rekor tertinggi baru.

Jelas, apabila investor menginginkan cuan dari pertumbuhan harga, maka saham BMRI bukan pilihan bagus sekarang. Penilaian ini mungkin berubah jika harga saham BMRI mengalami koreksi atau melemah lagi sampai ke kisaran 7000-7500 atau lebih rendah.

  • BBRI

Posisi harga BBRI saat ini pada Rp4420 per lembar dan termasuk paling mahal jika ditinjau berdasarkan PBV. Padahal, EPS dan PE Ratio-nya tergolong menengah. Ditilik secara teknikal, posisi harga BBRI saat ini juga sudah masuk area resistance.

Jadi, bagaimana prospek pertumbuhan saham BBRI berikutnya? Agak berbeda dengan BMRI, terlihat puncak harga tertinggi BBRI semakin lama semakin tingi (bukan menurun). Jika dibandingkan antara harga saham di awal tahun dan akhir tahun, harga saham BBRI juga masih terus meningkat, berbeda dengan BMRI yang cenderung berkonsolidasi.

Saham BBRI masih bisa meningkat lagi dari posisi saat ini (atau terkoreksi dulu ke kisaran 3000-4000) dengan ekspektasi harga saham-nya akan terus mencetak rekor tertinggi baru. Namun, proyeksi pertumbuhan ke depan cenderung moderat selama kondisi IHSG masih jatuh-bangun sebagaimana terjadi sepanjang tahun 2019 ini. Apalagi PBV BBRI sudah mahal.

  • BBNI

Dibandingkan BMRI atau BBRI, prospek pertumbuhan saham BBNI jauh lebih baik. Mengapa demikian? PBV BBNI hanya 1.24, termasuk murah untuk saham lini pertama (blue chip). Padahal, EPS-nya paling tinggi dan PE Ratio-nya paling rendah. Apabila investor menginginan risk/reward terbaik dari dividen maupun capital gain, maka saham BBNI bisa jadi pilihan.

Ditinjau secara teknikal, posisi harga saham BBNI saat ini pada 7875 juga cukup prospektif untuk “buy on weakness” (membeli saham saat posisi harga sedang terkoreksi). Perhatikan grafik di bawah ini.

Saham bank tertua di Indonesia ini layak dikoleksi untuk target investasi jangka menengah maupun jangka panjang. Namun, ada baiknya juga investor menyimpan sebagian dana untuk membeli lagi pada posisi harga lebih rendah (average down), untuk jaga-jaga kalau harga saham kelak ternyata menurun lagi. Ingat, kondisi IHSG saat ini masih tidak menentu. Selama masih ada kemungkinan IHSG menurun lagi, maka pergerakan saham-saham BEI pun sulit untuk meningkat secara konsisten.

4. BBTN

Dilihat dari segi pangsa pasar, BBTN jelas kalah jauh dibandingkan ketiga bank BUMN lain. Sekitar 70 persen pangsa pasar perbankan domestik didominasi oleh BMRI, BBRI, BBNI, dan satu bank swasta, yakni Bank BCA (BBCA). Sebanyak 30 persen sisanya merupakan bahan rebutan bagi perbankan berskala lebih kecil, termasuk BBTN. Meski demikian, bukan berarti BBTN tak memiliki keunggulan apapun.

Sebagai nasabah, kita mengenal nama BBTN sangat identik dengan kredit pemilikan rumah (KPR). Walaupun BBTN bukan pilihan favorit untuk menyimpan dana dalam bentuk simpanan maupun deposito, tetapi BBTN mendukung program KPR murah pemerintah dari tahun ke tahun. BBTN selalu menjadi nama pertama yang terlintas di benak nasabah yang membutuhkan KPR. Hal ini menjadikan BBTN sebagai salah satu saham prospektif. Setidaknya, dapat dikatakan bahwa BMRI, BBRI, dan BBNI merupakan opsi unggulan di lini pertama; sedangkan BBTN termasuk favorit di lini kedua.

Bagaimana dengan harga sahamnya? Pertumbuhan harga saham BBTN naik secara konsisten hingga Maret 2018, tetapi kemudian ambruk hingga kuartal ketiga tahun 2019 ini. Beberapa alasan melatarbelakangi penurunan yang terbilang drastis tersebut.

Pertama, posisi rasio PBV (Price-to-Book Value) lebih dari 3x. Bagi saham di lini kedua, PBV setinggi ini dianggap terlalu mahal. Kedua, Laporan Earnings berulang kali menunjukkan “kejutan” yang mengecewakan, alias meleset dari ekspektasi. Ketiga, nominal dividen yang dibagikan pada tahun 2019 (53.03) lebih rendah daripada dividen tahun 2018 (57.18); walaupun masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 (34.96) dan 2017 (49.46).

Harga saham BBTN mengalami kenaikan cukup tinggi pada bulan November 2019, tetapi belum ada tanda-tanda akan reli bullish lebih lanjut. Saham BBTN saat ini diperdagangkan sekitar harga Rp2130 per lembar. Secara teknikal, posisinya berada pada area resistance yang berubah menjadi support pada time frame Monthly dan tren-nya masih bearish. Jadi, bagaimana dengan prospek pertumbuhan saham BBTN berikutnya?

Dilihat dari PBV sekitar 1, maka saham BBTN terhitung masih murah dan memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih tinggi di masa depan. Namun, kenaikannya kemungkinan belum akan terjadi dalam waktu dekat. Dengan kata lain, saham BBTN cocok jadi pilihan investasi jangka panjang saja.

Kesimpulan

Pertumbuhan saham bank Mandiri (BMRI), BNI (BBNI), dan BTN (BBTN) menghadapi hambatan pada tahun 2019, selaras dengan fluktuasi IHSG. Hanya saham BBRI yang mampu mencatat kenaikan. Namun, posisi masing-masing saham saat ini menunjukkan prospek pertumbuhan yang agak berbeda. Saham BMRI dan BBRI terbilang sudah mahal walau masih cukup prospektif, sedangkan saham BBNI dan BBTN justru memiliki potensi kenaikan lebih besar karena terhitung murah.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.   

Artikel Terkait