Saham

Prospek Pertumbuhan Saham Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN

Prospek Pertumbuhan Saham Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN

Ajaib.co.id – Bicara mengenai saham-saham BUMN yang sering jadi pilihan investor, maka empat bank pelat merah ini pasti masuk diantaranya: Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI), dan Bank BTN (BBTN). Namun, kinerja saham di negara maju satu ini tidak bisa dianggap setara. Mari kita tilik rata-rata prospek pertumbuhan saham keempatnya dari perspektif valuasi saham dan analisis teknikal sederhana.

Jadi salah satu instrumen investasi yang sempat melorot cukup dalam di 2020, prospek investasi saham berpotensi balik arah di 2021. Mengutip laman Bursa Efek Indonesia (BEI) secara year to date (ytd) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 5.979 atau koreksi 5,09%.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menilai, peluang aset risk on seperti saham untuk rebound di 2021 didasar pada valuasi yang telah kembali netral. Prediksinya, di jangka panjang kinerja aset saham akan kembali prospektif dengan potensi return berkisar 10% hingga 12% per annum, sudah termasuk dividennya.

Adapun sektor yang bakal rebound paling cepat yakni yang berhubungan dengan pemulihan daya beli masyarakat umum seperti retailers, consumer goods, dan juga perbankan. Di bawah ini adalah beberapa perusahaan perbankan berbasis perseroan akan terus menunjukkan angka positif untuk meningkat di tahun terakhir.

BBRI

Salah satu saham perbankan pelat merah yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengalami kenaikan harga 9,83 persen menjadi Rp4.580 sejak awal tahun hingga 15 Januari 2021 lalu.

Agus Pramono selaku analis Aldiracita Sekuritas Indonesia menjelaskan bahwa sektor perbankan mulai bangkit setelah tertekan pandemi COVID-19 yang telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun dan restrukturisasi utang terjadi secara masif.

Dikutip dari Bisnis.com, Agus mengatakan bahwa tahun 2021 akan menjadi masa pemulihan ekonomi makro dan stimulus bakal terus menjadi juru selamat sektor perbankan.

Kepala Riset Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi juga mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp5.600 per lembar saham. Ia mengatakan bahwa potensi merger antara PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM ke dalam Bank BRI akan mendongkrak pendapatan bank ini sebesar 10 persen.

Di mana, sebelumnya pihak Bank BRI berencana mengakuisisi Pegadaian dan PNM dalam kuartal I/2021. Jika hal ini terealisasi, aksi jual atau akuisisi ini akan membawa Bank BRI menjadi market leader di industri kreditur mikro.

BBTN

Sebagai nasabah, kita mengenal nama BBTN sangat identik dengan kredit pemilikan rumah (KPR). Walaupun BBTN bukan pilihan favorit untuk menyimpan dana dalam bentuk simpanan maupun deposito, tetapi BBTN mendukung program KPR murah pemerintah dari tahun ke tahun. BBTN selalu menjadi nama pertama yang terlintas di benak nasabah yang membutuhkan KPR.

Pada akhir tahun 2020 lalu, Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis mengatakan, salah satu sentimen yang akan menguntungkan BBTN adalah tren suku bunga rendah. Ia mengatakan hal ini jadi katalis positif karena BTN punya porsi time deposit di total DPK yang tertinggi jika dibandingkan bank besar lain. Hal ini akan membuat blended cost of funds turun lebih signifikan. Di satu sisi lain, rendahnya suku bunga ini akan sangat membantu BTN untuk menjaga atau bahkan untuk meningkatkan net interest margin (NIM) untuk ke depannya.

Bukan hanya itu, Edward juga menilai bahwa BBTN punya prospek yang baik dan memproyeksikan BBTN akan membukukan pertumbuhan pemulihan kinerja yang baik di berbagai bidang. Mulai dari laba bersih, perbaikan NIM, pertumbuhan hipotek bersubsidi, dan credit costs yang lebih rendah. Edward juga memproyeksikan biaya pencadangan BBTN masih akan tetap rendah seiring biaya pencadangan saat ini. Sehingga, BTN masih akan berfokus ke segmen perumahan bersubsidi dengan risiko rendah. 

Selain itu, pihak manajemen BBTN yang baru telah menetapkan peningkatan kualitas aset BBTN dan pendanaan ritel sebagai prioritas. Meski masih dalam proses, Edward bisa menilai bahwa akan terlihat perbaikan secara gradual, khususnya pada kualitas aset seiring non performing loan (NPL) BBTN yang sudah berada pada level puncaknya pada kuartal pertama 2020 lalu.

BMRI

Posisi saham BMRI saat ini paling “mahal” secara nominal pada harga Rp7200 per lembar saham per 22 Januari 2020, dan tergolong “agak mahal” dari perspektif PBV. Dilihat dari valuasi PE Ratio dan EPS, prospek saham BMRI juga tidak terlalu bagus. Bagaimana dengan dividen? Boleh dikatakan, potensi dividen BMRI termasuk yang paling tinggi. Bagi investor yang mengincar dividen, saham BMRI layak untuk dikoleksi.

Jelas, apabila investor menginginkan cuan dari pertumbuhan harga, maka saham BMRI bukan pilihan bagus sekarang. Penilaian ini mungkin berubah jika harga saham BMRI mengalami koreksi atau melemah lagi sampai ke kisaran 4000-5000 atau lebih rendah.

BBNI

Dibandingkan BMRI atau BBRI, prospek pertumbuhan saham BBNI jauh lebih baik. Mengapa demikian? PBV BBNI hanya 1.24, termasuk murah untuk saham lini pertama (blue chip). Padahal, EPS-nya paling tinggi dan PE Ratio-nya paling rendah. Apabila investor menginginan risk/reward terbaik dari dividen maupun capital gain, maka saham BBNI bisa jadi pilihan.

Nah, bagi kamu yang ingin berinvestasi di industri pebankan, ini bisa jadi salah satu rekomendasi investasi jangka panjang yang bisa kamu lakukan. Untuk memulainya, kamu kini bisa memulainya di Ajaib!

Artikel Terkait