Saham

Sepanjang Tahun 2019, Saham BBNI Anjlok Hingga 13,75 persen

Empat bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), salah satunya Bank Negara Indonesia menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada akhir pekan ini. Agendanya melakukan evaluasi kinerja semester 1 di tahun 2019. Apa ini akan berdampak pada saham BBNI?

Agendanya mereka akan membahas perubahan susunan pengurus, baik direksi maupun komisaris perusahaan. Adanya wacana tersebut membuat saham BBNI terus menurun ke posisi Rp7.525 per lembar pada tanggal 29 Agustus 2019.

Sejak ganti bulan, dari Juli ke Agustus, saham salah satu perbankan di Indonesia ini sudah turun hingga 9,88 persen atau menurun hingga Rp825. Angka itu turun dari tanggal 31 Juli lalu di posisi Rp8.475 per lembar saham BBNI.

Akibat adanya rencana perombakan susunan pengrus, hingga direksi, para investor asing melepas saham BBNI hingga Rp782 miliar. Itu berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada 27 Agustus 2019.

Sebenarnya tak hanya saham BBNI saja yang dilepas oleh investor asing. Bank milik BUMN lainnya, Bank Rakyat Indonesia dilepas investor asing hingga Rp1,52 triliun. Jika diakumulasikan net sell sebulan terakhir, maka asing sudah lepas hingga Rp3,18 triliun dari BUMN ini.

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2005-2010 Said Didu menilai pergantian manajemen perusahaan BUMN yang sering dilakukan justru menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja. Hal ini dinilai juga membingungkan pelaku pasar dalam menilai kinerja manajemen tersebut.

“Sekarang enggak jelas sama sekali kriterianya (pergantian manajemen). Hampir setiap saat boleh diganti. Tapi enggak mungkin juga Bu Rini (Rini Soemarno, Menteri BUMN) berani melakukan ini tanpa lampu hijau dari Presiden,” imbuh Said Didu, seperti kami kutip dari Kontan dan Bisnis.

Sepanjang tahun ini, saham BBNI masih turun 13,75 persen. Penurunan saham BBNI berada di tengah kinerja perusahaan yang melambat. Bank BNI hanya berhasil menorehkan pertumbuhan perolehan laba bersih satu digit sepanjang separuh pertama 2019.

Perusahaan hanya mengantongi laba bersih sebesar Rp 7,63 triliun atau tumbuh sebesar 2,7 persen bila dibandinkan tahun sebelumnya pada periode yang sama. Jika disandingkan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan laba bersih melambat. Pada semester pertama di tahun 2018, net profit bank pelat merah ini tumbuh 16 persen.

Perlambatan itu akibat meningkatnya beban bunga dan biaya dana BNI. Pendapatan bunga kotor Bank BNI tumbuh 9,4 persen menjadi Rp 28,59 triliun. Sedangkan beban bunga melonjak hingga 26,2 persen menjadi Rp 10,98 triliun. Secara rasio biaya dana atau cost of fund (CoF) terkerek naik ke angka 3,2 persen di kuartal kedua di tahun 2019, lebih tinggi dibanding empat tahun terakhir.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang. 

Artikel Terkait