Saham

Menguji WSKT Saham Hadapi New Normal, Diperkirakan Menguat

Ajaib.co.id – WSKT saham menjadi salah satu emiten dalam industri konstruksi yang selama ini menjadi favorit investor. Namun kinerjanya terhambat selama pandemi Corona dengan proyek pembangunan yang terpaksa ditunda. Namun menghadapi New Normal. emiten ini dipercaya akan kembali menguat dan siap menghasilkan cuan.

Pandemi Corona terpaksa membuat PT Waskita Karya Tbk (WSKT) terpaksa harus melakukan revisi target tahunannya. Selain itu, perusahaan ini juga memotong arus kas untuk belanja modal pada tahun ini. Tujuannya untuk memastikan arus kas perusahaan tetap lancar dan sehat.

Namun kinerjanya keuangan maupun performa perusahaan ini di Bursa Efek Indonesia (BEI) dipercaya akan bisa kembali membaik. Perusahaan ini telah menyusun protokol Work From Office (WFO) untuk menjalani the new normal scenario. Protokol ini juga diharapkan dapat mendorong efektivitas dan produktivitas kerja serta kesehatan pegawai/pekerja dalam usaha mencapai target perusahaan.

Untuk tahun ini WSKT menargetkan nilai kontrak baru sebesar Rp 45 triliun-Rp 50 triliun. Perusahaan konstruksi ini juga tetap menganggarkan belanja modal sebesar Rp 19 triliun. Dana tersebut sebanyak 60%-70% akan digunakan untuk penyelesaian tol yang dimiliki oleh PT Waskita Toll Road. Adapun, sepanjang 2019 kemarin pengelolaan kontrak WSKT mencapai Rp 88 triliun yang masih didominasi proyek infrastruktur seperti jalan tol dan bendungan.

WSKT Saham Masih Jadi Favorit Investor, Bagaimana Peluangnya?

WSKT saham merupakan emiten dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi. Selain Waskita, adapula PT Adhi Karya maupun PT Wijaya Karya yang juga berstatus sebagai BUMN. Saham sejumlah perusahaan plat merah ini memang jadi jalur aman bagi investor untuk mendapatkan cuan dari pasar modal.

Adapun, performa saham PT Waskita Karya Persero Tbk sendiri sempat melemah selama Agustus 2019 lalu. Bayangkan saja, pada 30 Juli 2019, mereka sempat berada di angka Rp2.100 per lembar sahamnya. Namun, pada 5 Agustus 2019, saham TBK WSKT menukik tajam di angka Rp1.795 per lembar sahamnya.

Tak hanya itu, harga WSKT saham sempat berada di titik rendah pada bulan Agustus, yakni Rp1.750 per lembar sahamnya. Hal tersebut terjadi pada 13 Agustus lalu. Bila ditotal, saham WSKT ini menurun hingga 1,10 persen.

Bukan hanya harga saham mereka saja yang turun. Waskita Karya telah membukukan pendapatan mereka pada semester 1/2019 sebanyak Rp14,79 triliun. Angka itu turun 35,39 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Rp22,89 triliun.

Dalam laporan keuangan mereka, beban pokok pendapatan perseroan tercatat menyusut 34,62 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp11,88 triliun dari Rp18,17 triliun pada semester I/2018. Emiten berkode saham WSKT itu membukukan laba bruto Rp2,91 triliun pada semester I/2019, menyusut 38,38 persen dari Rp4,72 triliun per 30 Juni 2018.

Tren negatif ini kemudian juga berdampak pada besaran dividen yang diterima oleh investornya. Perusahaan ini mengumumkan pembagian dividen sebesar tunai Rp46 miliar. Dengan demikian, dividen per saham atau dividend per share (DPS) yang akan diperoleh oleh pemegang saham adalah Rp3,4557.

Jika merujuk pada total laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp938,14 miliar, rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio hanya sebesar 5 persen. Realisasi tersebut menurun signifikan dari pembagian dividen tahun lalu yang mencapai Rp990,70 miliar atau 25 persen dari laba bersih yang dibukukan pada 2018. Adapun, dividen per lembar saham Waskita Karya untuk kinerja keuangan pada 2018 adalah Rp72,9.

Dilansir dari Bisnis.com pada pemberitaan awal Juni 2020, emiten berkode WSKT saham ini berhasil mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp31,39 triliun pada tahun 2019. Perseroan juga mencatatkan total aset sebesar Rp122,59 triliun, total liabilitas sebesar Rp93,47 triliun, total ekuitas sebesar Rp29,12 triliun, dan nilai kontrak baru sebesar Rp26,08 triliun.

Penurunan ini kemudian diperburuk oleh pandemi Corona yang membuat sejumlah proyek terpaksa harus terhenti. Namun dengan diterapkannya New Normal, sejumlah proyek siap dijalankan kembali dengan protokol khusus yang telah disusun.

Siapkan Protokol New Normal Untuk Genjot Performa Selama Sisa Tahun 2020

Kegiatan operasional perusahaan ini memang dianggap tidak bisa optimal dengan sistem Work From Home (WFH) yang selama ini dipakai perusahaan di sektor lainnya. Karena itulah protokol New Normal dengan Work From Office (WFO) adalah solusi terbaik.

Protokol ini berupa pegawai yang masuk harus dalam kondisi sehat dan lolos screening kriteria kesehatan hasil rapid test atau swab. Diwajibkan pula disiplin dalam menjalankan protokol pencegahan Covid-19 yaitu adanya jarak kerja antar pegawai minimal satu setengah (1,5) meter, wajib menggunakan masker full day, rajin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer ketika berada di kantor terutama jika memegang sarana umum dan menggunakan alat shalat dan alat makan-minum pribadi.

Perseroan juga menyediakan dan mengatur penggunaan sarana dan prasarana kantor untuk melindungi pegawai, pekerja, mitra kerja, rekanan, pemasok dan stakeholder lainnya. Protokol Kesehatan dijalankan dengan ketat dengan mewajibkan pengukuran suhu tubuh, penggunaan masker, dan pemakaian hand sanitizer bagi para pegawai yang datang ke kantor Waskita. Dalam hal penerimaan tamu diutamakan menggunakan media aplikasi video conference dan menghindrai interaksi langsung.

Pelaksanaannya juga didukung dengan menyiapkan strategi digitalisasi pada semua aktivitas operasi sistem IT yang terintegrasi WIDE (Waskita Integrated Digital Enterprise) antara lain implementasi ERP SAP S/4 HANA, proses pengadaan dengan WAVE (Waskita Application Vendor Excellence) dan lain-lain. Sedangkan untuk komunikasi dengan tamu, Perseroan mengutamakan pertemuan dengan pihak ekstenal secara online.

Seluruh proyek Waskita Karya juga telah memanfaatkan aplikasi Building Information Modelling (BIM) dalam pelaksanaan pekerjaannya. BIM dimanfaatkan untuk pengendalian spesifik proyek, sampai kepada komponen pekerjaan, pemanfaatan teknologi Geospatial Information System (GIS) juga merupakan program besar lain yang sedang dimulai di Waskita Karya, yang bertujuan untuk membantu manajemen melihat informasi makro terkait proyek.

Proyeksi Ahli Soal Saham Karya di Pasar Modal

Head of Research PT MNC Sekuritas, Edwin Sebayang memproyeksikan, bursa saham domestik memang akan kembali melanjutkan tren penguatan. Beberapa katalis positif bersumber dari menguatnya indeks Dow Jones di bursa AS sebesar 3,15% merespons data tingkat pekerjaan yang jauh di atas perkiraan ekonomi.

Satu sentimen bagi BUMN karya ialah perombakan pengurus perusahaan. Menteri BUMN, Erick Thohir diketahui memang melakukan perombakan pada jajaran direksi sejumlah perusahaan karya ini. Hal ini diperkirakan akan memperbaiki kinerjanya di masa depan dan mengejar target selama sisa tahun 2020.

Dari sisi investasi, WSKT saham diprediksi juga akan menjadi pilihan yang bijak. Adapun pada perdagangan hari Jumat (26/6) ada di angka Rp720 per lembar, mengalami kenaikan 0,70% dibandingkan sesi sebelumnya.

Pergerakan WSKT saham terkoreksi 2 persen ke level Rp745. Selama tidak menembus ke bawah Rp650, maka diperkirakan saat ini WSKT sedang berada dalam bagian wave [v] dari wave C. Dimana selanjutnya, WSKT saham berpotensi bergerak menguat didukung dengan inovasi yang coba diterapkan oleh jajaran manajemen.

Sekilas Soal Perusahaan Waskita Karya

Waskita Karya memang merupakan perusahaan plat merah yang berjaya dalam dunia konstruksi. Namun awalnya korporasi ini didirikan pada 1 Januari 1961. Awalnya mereka berasal dari perusahaan Belanda dengan nama Volker Aanemings Maatschappij, tapi sudah diambil alih berdasarkan Keputusan Pemerintah No.62 / 1961.

Perusahaan ini merupakan salah satu aset negara terkemuka di Indonesia yang berperan besar dalam pembangunan negara. Waskita Karya awalnya berpartisipasi dalam pengembangan terkait air, termasuk reklamasi, pengerukan, pelabuhan, dan irigasi.

Pada tahun 1990, WaskitaKarya menyelesaikan beberapa gedung tinggi dengan reputasi internasional, seperti BNI City (gedung tertinggi di Indonesia), Gedung Kantor Bank Indonesia, Menara Graha Niaga, Menara Mandiri Plaza, Hotel Shangri-La, dan beberapa apartemen di Indonesia.

Waskita Karya mencapai performa ciamik saat pembangunan jembatan beton bertulang panjang menggunakan sistem kantilever gratis. Dengan sistem itu, mereka berhasil menyelasaikan tiga jembatan, yakni Raja Mandala, Rantau Berangin dan Barelang IV.

Artikel Terkait