Analisa Saham, Saham

Pendapatan Anjlok di 2020, Begini Strategi Bisnis Saham JSPT

Sumber: Jakarta Setiabudi Internasional

Ajaib.co.id – PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (kode saham JSPT) merupakan perusahaan yang berdiri pada tanggal 02 Juli . Perusahaan ini memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1977.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan tercatat ruang lingkup kegiatan JSPT utamanya meliputi bidang pemilikan, pengelolaan, penyewaan dan penjualan perkantoran, perhotelan, rumah bandar, perumahan, pusat perbelanjaan, hingga apartemen, baik dilakukan sendiri maupun bekerjasama dengan pihak lain. 

Adapun untuk kegiatan usaha utama dari Jakarta Setiabudi Internasional dan anak usahanya yakni, bergerak di bidang perhotelan (Grand Hyatt Bali, Bali Hyatt, Hyatt Regency Yogyakarta, Mercure Resort Sanur, Mercure Convention Center, Ibis Budget Jakarta Menteng, Ibis Budget Jakarta Cikini), perumahan (Puri Botanical Residence, Hyarta Residence, Taman Permata Buana, Setiabudi SkyGarden), perkantoran (Setiabudi 2, Setiabudi Atrium, Menara Cakrawala) dan pusat perbelanjaan (Setiabudi One, Menteng Retail, Cikini Retail, Bali Collection)

Kemudian, pada tanggal 14 November 1997, JSPT mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Pernyataan efektif tersebut dipergunakan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham JSPT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 50.000.000 dengan nilai nominal Rp500,- per saham dengan harga penawaran Rp900,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 12 Januari 1998.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham JSPT

Pendapatan JSPT Anjlok 55% di 2020

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan kinerja perusahaan investasi dan pengembang properti seperti, PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) tertekan. Hal ini bisa dilihat dari pendapatan perusahaan yang hanya Rp426,8 miliar pada periode Januari hingga September 2020. Pencapaian ini terhitung turun 55% dari periode yang sama tahun 2019. 

Sejalan dengan itu, JSPT harus menanggung rugi bersih sebesar Rp155,3 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun 2019 perusahaan masih membukukan laba bersih Rp65 miliar.

Pendapatan yang diperoleh perseroan di antaranya, dari divisi residensial tidak terlalu terdampak adanya pandemi COVID-19. Namun, untuk divisi perkantoran dan ritel mengalami penurunan sekitar 15% dan pendapatan dari divisi perhotelan anjlok hingga 60%.

Sehingga memang pandemi COVID-19 ini memberikan dampak yang cukup signifikan utamanya terhadap divisi perhotelan. Perusahaan saat ini mengoperasikan 10 hotel dengan total kamar 3.688 kamar. Dari 50% total kamar tersebut berada di pulau Bali. 

Seperti diketahui, selama pandemi COVID-19 khususnya pada 2020, pariwisata di Bali tertutup dari wisatawan mancanegara. Kebijakan dan situasi ini telah membuat pendapatan perusahaan tersebut tertekan.

JSPT telah melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari pandemi COVID-19. Salah satunya dengan melakukan efisiensi dan peninjauan ulang alokasi belanja modal untuk tahun ini maupun 2021.

Bisnis MPPA Untung Terus Sebelum Pandemi

Sebelum adanya kondisi pandemi COVID-19, bisnis PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) selalu memperoleh keuntungan. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam miliar rupiah).

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan bersih1.295,71.535,71.122,2
Laba kotor880,61.137,4777,7
Laba bersih143,5466,9179,2

Dari data tersebut, secara penjualan JSPT sempat turun pada 2019. Namun, masih dalam level yang seimbang dengan tahun sebelumnya. Perusahaan juga masih mendapatkan laba bersih meskipun turun pada 2019.

Pada 2019, JSPT berhasil membukukan pendapatan Rp1,3 triliun di sepanjang tahun 2019. Untuk EBITDA sebesar Rp359,7 miliar dan Laba Bersih untuk tahun 2019 adalah sebesar Rp110,9 miliar. Pendapatan JSPT dari Recurring Income yaitu 95%, dan Non recurring Income sebesar 5%.

Untuk informasi, proyek-proyek penting dan strategis yang dilakukan JSPT pada tahun 2019 antara lain, untuk lini bisnis hotel, Hyatt Regency Bali yang sebelumnya bernama Bali Hyatt.

Kemudian, pembangunan Andaz Bali, hotel boutique bintang 5 dengan konsep Balinese Village dan memiliki 149 kamar dan Vila serta fasilitas-fasilitas pendukungnya lainnya seperti restoran, meeting Room, kids club di atas lahan seluas 6,2 ha di Sanur, Bali, direncanakan akan mulai beroperasi pada bulan Desember 2020.  

Selain itu, JSPT dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), memutuskan untuk memberikan bonus atau dividen kepada para investor.  Pemegang saham telah menyetujui beberapa agenda yang diusung salah satunya alokasi laba bersih yang diperoleh perseroan pada tahun 2019 sebesar Rp110,9 miliar.

Selain disisihkan untuk dana cadangan sekitar Rp1 miliar, perusahaan juga akan membagikan dividen sebesar Rp23 miliar atau sekitar Rp10 per saham. 

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis JSPT saat ini sedang sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA2,0%
ROE4,6%
NPM8,6%
DER0,7X

Bagaimana Prospek Bisnis JSPT Kedepannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) terus melakukan upaya untuk menyelesaikan sejumlah proyek yang sedang dalam pengembangan. Meskipun saat ini masih di tengah pandemi COVID-19.

Salah satu proyek yang sedang dalam pengembangan adalah pembangunan Andaz Bali yang merupakan hotel bintang 5 dengan luas kurang lebih 6,2 hektare (ha) meliputi 149 kamar hotel dan villa, serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya seperti restoran, meeting room, dan kids club. Perusahaan merencanakan hotel ini akan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2021.

Selain itu, JSPT juga sedang merampungkan pembangunan One Satrio lifestyle ritel Mega Kuningan, Jakarta. Bangunan ini untuk mengintegrasikan dengan ruang terbuka hijau di kawasan Mega Kuningan dan akan dimulai di tahun 2021.

Lebih lanjut ia mengatakan, ritel tersebut merupakan bagian dari pengembangan fase pertama mixed-use development yang mengintegrasikan high-end office building dengan lifestyle hotel dan ritel di kawasan Mega Kuningan Jakarta.

Selanjutnya, JSPT akan membangun Township Project Deli Serdang, Medan Tahap 1 di Deli Serdang, Medan, Sumatra Utara pada tahun 2021. Proyek ini adalah cluster seluas kurang lebih 5 Ha yang terdiri dari 412 rumah dan 38 ruko.

Perseroan ini juga berencana membangun sebuah kompleks perumahan premium dengan konsep hijau yang terletak di bagian timur Yogyakarta. Proyek ini mengusung konsep serene living experience dengan keseimbangan antara 120 rumah dan 9 ruko eksklusif.

Untuk rencana pembangunan tersebut, JSPT mengalokasikan belanja modal untuk tahun 2021 sebesar Rp450 miliar hingga Rp500 miliar. Adapun untuk alokasi terbesar untuk merampungkan pembangunan Andaz Bali sebesar Rp260 miliar. Selanjutnya untuk memulai pembangunan One Satrio senilai Rp90 miliar, dan sisanya untuk pembangunan residensial di beberapa lokasi.

Sebelum pandemi, kondisi fundamental perusahaan sehat. Hanya saja dampak pandemi pada sektor pariwisata membuat kinerja anjlok. Calon investor disarankan terus memantau pergerakan bisnis emiten jika ingin mengoleksi sahamnya. 

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait