Analisa Saham

Potensi Saham ANDI di Tengah Pandemi Covid-19

Profil Singkat PT Andira Agro Tbk (ANDI)

PT Andira Agro Tbk (ANDI) sudah berdiri sejak tahun 1995, dengan sebanyak 5% atau lebih sahamnya (saham mayoritas) dipegang oleh dua perusahaan. Terdiri dari komposisi PT Central Energi Pratama sebesar 44,73% dan PT Anugrah Perkasa Semesta sebesar 23,53%.

PT Andira Agro Tbk (ANDI) ini merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian, perkebunan dan agroindustri. Hingga saat ini, perusahaan ini sudah mempunyai hak izin lahan sebesar 12.172 hektare.

Meliputi 5.463 hektare sebagai kebun Inti, lalu ada kebun Plasma 4.668 hektare dan area perluasan lahan untuk kebun Inti dan Plasma sebesar 2.041 hektare.

Adapun saham ANDI melakukan penawaran pertama kali ke publik pada 10 Agustus 2018 lalu. Sesudah memeroleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pernyataan efektif ini memiliki nilai yang penting sekali sebagai lampu hijau bagi perusahaan yang akan melakukan Initial Public Offering (IPO).

Saat melakukan IPO, saham ANDI mempunyai total suplai sebesar 500.000.000 lembar saham. Dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham sedangkan harga saham yang ditawarkan ke publik sebesar Rp200 per lembar saham. Saham dengan nama emiten ANDI pun sudah tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Agustus 2018.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Dari laporan keuangan ANDI per September 2020, menunjukkan kinerja keuangan yang baik. Perusahaan seperti tidak terdampak oleh pandemi. Justru aset ANDI dapat tumbuh cukup tinggi, mencapai 7,30% YoY.

Selain itu, kinerja laba ANDI pun dapat tetap dijaga naik dari periode yang sama tahun 2019. Berikut ini laporan kinerja laba ANDI (dalam miliar rupiah):

ANDI mampu membukukan laba di atas Rp24 miliar, dengan laba yang tumbuh tinggi mencapai 67,8% YoY. Selanjutnya mari kita bahas dulu rasio-rasio keuangan umum ANDI. Berikut ini datanya:

Dari rasio-rasio tersebut menunjukkan bahwa kondisi bisnis ANDI dalam kondisi sehat. ROA dan ROE dari perusahaan ini bahkan menunjukkan peningkatan. Hal ini berarti perusahaan memiliki kemampuan untuk menghasilkan keuntungan bisnis sepanjang 2020.

Meskipun saat ini tengah pandemi Covid-19, hal ini memperlihatkan sektor perkebunan dan pertanian masih memiliki peluang bisnis yang besar. Mengingat sektor ini tetap dibutuhkan oleh masyarakat selama pandemi.

Selanjutnya, untuk GPM perusahaan sebesar 16,06% ini berarti perusahaan ANDI belum terlalu efisien dalam upaya menekan harga pokok penjualannya. Atau dikenal juga dengan istilah beban pokok penjualan. Sehingga hanya mampu menghasilkan margin laba kotor di angka 16,06% saja dari total penjualan yang diperoleh perusahaan.

Pasalnya semakin tinggi nilai GPM yang diperoleh memiliki arti kalau perusahaan semakin efisien dan baik dalam mengelola kegiatan operasionalnya dalam upaya memperoleh keuntungan.

Adapun untuk NPM, perusahaan berhasil memperoleh angka 13,87%. Angka ini merepresentasikan rasio keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan ANDI terhadap total penjualan produk-produknya per 30 September 2020.

Angka ini berarti memperlihatkan perusahaan sudah mampu memberikan keuntungan yang lumayan tinggi bagi para investor atau pemegang sahamnya.

Sebagai informasi, nilai margin laba bersih dengan presentasi di atas 10% sudah dianggap sangat baik.

Riwayat Kinerja

Kinerja PT Andira Agro sudah mulai mengalami peningkatan sejak tercatat IPO pada 2018 lalu. Berikut ini perbandingan pertumbuhan tahunan sejumlah komponen kinerja ANDI periode 2018 hingga 2020 (dalam jutaan rupiah) :

Tingkat pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir mencerminkan perkembangan bisnis ANDI ditambah kemampuan perusahaan dalam bertahan selama pandemi cukup memberikan sinyal dari strategi bisnis dari perusahaan ini.

Pasalnya pada tahun 2020, laporan baru sampai kuartal 3 (Q3) namun sudah menunjukkan peningkatan laba bersih dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

ANDI adalah salah satu emiten yang belum membagikan dividen saham sejak pelaksanaan IPO pada 16 Agustus 2018. Keputusan ini terkait kebijakan dividen diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham.

Prospek Bisnis ANDI

Seperti diketahui sektor pertanian dan perkebunan adalah sektor usaha yang bisa tetap tumbuh bahkan diuntungkan di tengah pandemi Covid-19 ini. Hal ini yang membuat pendapatan dan laba bersih ANDI terus tumbuh di tengah merebaknya wabah Covid-19 ini.

Terlebih produk dari sektor ini akan terus dibutuhkan oleh masyarakat. Karena bagian dari kebutuhan primer manusia. Sehingga bila ANDI bisa terus melakukan inovasi dalam bisnis dan produknya di tengah pandemi ini, perusahaan akan terus tumbuh.

Sebagai informasi, perusahaan ini akan terus mengembangkan komoditas minyak sawit sebagai dasar untuk makanan serta merupakan komoditas yang dibutuhkan untuk industri yang ramah lingkungan di masa depan.

Seperti diketahui, saat ini perubahan minyak kelapa sawit menjadi minyak nabati dunia menggantikan minyak kedelai yang hampir 100 tahun menjadi minyak utama dunia, telah melahirkan dinamika persaingan baru minyak nabati global. Oleh sebab itu, PT Andira Agro Tbk ini secara proaktif akan mendukung Program Pemerintah Indonesia berupa penerapan program bahan bakar biodiesel 30% atau B30.

Program ini pun telah diyakini akan mendongkrak harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Untuk selanjutnya, kebijakan ini diyakini mampu menggerakkan industri kelapa sawit nasional.

Harga Saham (Kesimpulan)

Untuk PER ANDI masih tergolong rendah, dengan kata lain harga saham ini sedang terdiskon sehingga berpeluang mengalami penguatan. Berdasarkan data RTI, saham ANDI per 13 Februari ada di level 14,70. Sebagai pembanding untuk PER SSMS sebesar 29,25 kali dan AALI sebesar 28,06 kali.

Sementara itu, untuk PBV ANDI juga terhitung rendah dengan angka 1,71. Bila dibandingkan dengan SSMS yang sebesar 2,58 kali dan FAPA yang sebesar 2,64 kali.

Meskipun demikian, jika menilik kinerja keuangannya secara umum serta prospek bisnisnya yang masih cukup menjanjikan sehingga saham ANDI layak dipertimbangkan untuk dibeli.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait