Analisa Saham

Menilik Bedah Prospektus ARCI yang Baru Melantai Tahun Ini

Sumber: Unsplash

Ajaib.co.id – Sejak pertama hadir di bursa saham ARCI terbilang kurang begitu sukses ditransaksikan di publik. ARCI pada tanggal 28 Juni 2021 dilepas ke publik di harga Rp 750 per saham.

Di hari pertama saham ARCI hanya naik 3,3 persen saja, lalu setelah seminggu kemudian mandek di kisaran angka Rp 730-775 per lembar saham. Padahal umumnya saham yang baru IPO naik hingga menyentuh Auto Reject Atas, alias 25% dalam waktu singkat saja.

Perkasanya dollar AS atas rupiah, dan upaya penciptaan pertumbuhan ekonomi disinyalir membuat emas kurang memiliki prospek di tahun 2021. Outlook emas yang kurang baik membuat tahun 2021 menjadi tahun yang kurang begitu menyenangkan bagi sebuah perusahaan tambang emas, seperti ARCI, untuk melantai di bursa.

Sebenarnya lemahnya outlook industri bisa dijadikan kesempatan untuk membeli di harga rendah, dengan syarat saham yang dimaksud memang memiliki kinerja yang mumpuni. Seperti apa kinerja ARCI berdasarkan prospektusnya? Yuk, simak bedah saham ARCI di bawah ini.

Rincian Penawaran Perdana Saham

Pada tanggal 28 Juni 2021 bursa kedatangan penghuni baru di papan utamanya yakni PT Archi Indonesia yang mencatatkan sahamnya dengan kode saham ARCI. Emiten tambang pure-play emas tersebut menjadi emiten ke-21 yang melantai di BEI tahun 2021.

Sebanyak 3,72 miliar lembar saham biasa, atau setara 15% dari modal yang ditempatkan dan disetor setelah IPO, dilepas ke publik di harga Rp 750 per saham. Dengan begitu dana segar yang dapat dikumpulkan melalui pencatatan sahamnya di bursa mencapai Rp 2,79 triliun.

Berdasarkan prospektusnya yang dapat diunduh di situs resmi bursa, 95% dana hasil IPO akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok utang bank. Lalu sisa dana akan digunakan untuk membiayai kegiatan operasional dan modal kerja anak-anak perusahaan ARCI seperti PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya.

Profil Emiten

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) telah berdiri sejak 2011 dengan rekam jejak operasional di Sulawesi Utara tepatnya di Tambang Emas Toka Tindung dengan koneksi kuat di sekitar Toka Tindung. Tambang Emas Toka Tindung diketahui memiliki Cadangan Bijih Emas bersertifikasi JORC sebanyak 3,9 juta ons atau setara dengan 121 ton.

Sejak tahun 2016, volume produksi Tambang Emas Toka Tindung adalah sebesar sedikitnya 200 kilo ons atau setara dengan 6,2 ton per tahun. Rekor produksi tertinggi adalah 270 kilo ons (setara dengan 8,4 ton) emas dalam setahun.

Dana yang diperoleh dari market kemudian akan digunakan salah satunya untuk menggandakan kapasitas pabrik pengolahan bijih emas dalam lima tahun kedepan. Saat ini per tahun 2020 kapasitas pabrik pengolahan bijih emas ARCI adalah sebesar 3,6 juta ton per tahun. Target kapasitas pabrik rencananya akan ditingkatkan secara bertahap menuju 8 juta ton untuk memperoleh 14 ton emas per tahun di tahun 2025.

Selain itu perseroan berencana untuk melakukan eksplorasi tambang area Near-mine, Western Corridor dan Greenfields untuk menemukan cadangan emas baru.

Cakupan Usaha

Semula emiten hanya memiliki satu segmen usaha yakni penambangan emas saja. Di tahun 2019 emiten memutuskan untuk memiliki satu lagi segmen usaha yakni perdagangan beserta pengolahan emas.

Pendapatan emiten dari penambangan emas tampaknya terdampak oleh harga acuan komoditas emas. Kamu bisa lihat sendiri gejolak pendapatannya di tahun 2018, 2019 dan 2020.

Di tahun 2020 pendapatan emiten melejit menjadi USD 386,39 juta karena emas memang menjadi primadona selama pandemi berlangsung dan ketika belum distribusi vaksin.

Review Kinerja

Sebagai informasi pada tahun 2020 perseroan merupakan kontributor pajak dan royalti terbesar dari sektor pertambangan emas di Sulawesi Utara. Total luas area konsesi yang dimiliki Archi Indonesia secara keseluruhan adalah sekitar 40.000 hektar. Hingga tahun 2020 baru 10 persen saja yang sudah dieksplorasi dan dilakukan penambangan. Berikut ulasan kinerjanya:

2020 2019 2018 CAGR
Aset 600,23 juta 613,4 juta 635,6 juta -2,83%
Liabilitas 505,89 juta 439,5 juta 480 juta 2,66%
Liabilitas
Lancar
125,99 juta 105,88 juta 94,65 juta 15,38%
Beban
Keuangan
24,8 juta 28 juta 35,32 juta -16,14%
Ekuitas 94,34 juta 173,4 juta 635,6 juta -61,48%

Aset emiten per tahun 2020 adalah USD 600,23 juta, jika per satu dollar AS dihargai Rp14400 maka nilai asetnya adalah setara dengan Rp 8,64 triliun. Sedangkan liabilitasnya adalah USD 505,89 juta alias Rp 7,28 triliun. Sebagai pengingat, aksi korporasi penawaran perdana saham dilakukan untuk mencari dana segar senilai Rp 2,79 triliun dan 95% dana akan digunakan untuk membayar pokok utang.

Aset yang sebagian besar terdiri dari utang membuat kita mengerti mengapa emiten memilih waktu yang kurang tepat untuk IPO. Emiten punya jumlah utang yang mengerikan yang hanya menyisakan ekuitas USD 94,34 juta saja dari total aset sebesar Rp 600,23 juta. Kini kita mengerti bahwa emiten sedang dalam situasi yang memaksanya segera mencari pendanaan untuk bisa terus beroperasi.

Karena biasanya waktu IPO dipilih menyesuaikan dengan sentimen yang diberikan oleh industrinya. ARCI justru melakukan penawaran perdana saham di waktu emas sedang dibayangi target inflasi Amerika yang akan melemahkan emas dan memperkuat dollar AS.

Liabilitas secara umum terus meningkat rata-rata sebesar 2,66% per tahun dengan peningkatan liabilitas jangka pendek sebesar 15,38% per tahun. Yang bagus adalah fakta bahwa beban keuangan alian bunga liabilitas turun rata-rata 16,48% per tahun. Artinya emiten sedang mengakumulasi utang namun bukan utang berbunga.

Secara kondisi keuangan emiten memang sedang sangat membutuhkan dana segar sebelum utangnya yang terus terakumulasi menyamai nilai total asetnya. Berikut kinerja emiten dilihat dari kemampuannya dalam menghasilkan laba.

(USD) 2020 2019 2018 CAGR
Pendapatan 393,3 juta 383,69 juta 347,11 juta 6,44%
Laba Kotor 231,9 juta 176,76 juta 189,68 juta 10,57%
Laba Usaha 217,11 juta 172,79 juta 184,72 juta 8,41%
Laba Bersih 123,33 juta 92,9 juta 104 juta 8,88%

Emiten dilihat dari aktivitasnya telah mencatatkan kinerja yang baik. Pendapatan meningkat setiap tahunnya dengan pertumbuhan sebesar rata-rata 6,44% per tahun. Beban pokok pendapatan juga berhasil ditingkatkan di tahun 2020 sehingga secara keseluruhan laba kotor bisa meningkat 10,57% per tahun.

Laba bersih juga naik dengan pertumbuhan sebesar 8,88% per tahun menjadi USD 123,33 juta di tahun 2020. Berikut rasio-rasio yang dapat disampaikan.

2020 2019 2018
ROE 130,73% 53,61% 16,37%
DER 536,23% 253,51% 75,51%
Current Ratio 80,91% 163,92% 196,87%
NPM 31,36% 24,23% 29,97%
EPS 476,76 359,32 402,17
BVPS 364,68 670,29 2457,27

Secara umum laba bersih meningkat dengan pertumbuhan per tahun 8,88%, di sisi lain pendapatan juga bertumbuh 6,44% per tahun. Pertumbuhan laba yang lebih pesat dari pertumbuhan pendapatan membuat marjin laba bersih (NPM) emiten terus meningkat menjadi 31,36% di akhir tahun 2020. Ini adalah tanda dari efisiensi operasional yang baik. 

Laba bersih emiten hanya naik 8,88% per tahun, bahkan di tahun 2019 sempat turun menjadi USD 92,9 juta dari sebelumnya USD 104 juta di 2018. Namun rasio laba per ekuitas (ROE) emiten melejit dari 16,37% di 2018 menjadi 53,61% di 2019 dan pada akhirnya menjadi 130,73% di 2020.

Hal ini lantaran ekuitas emiten terus turun gegara penurunan aset dan peningkatan liabilitas. Ekuitas yang turun disandingkan dengan laba yang meningkat 8,88% menjadikan ROE emiten terlihat menanjak bagus sekali.

Di sisi lain angka DER juga naik gila-gilaan dari 75,51% di 2018 menjadi 253% di 2019 dan naik lebih dari dua kali lipatnya di tahun 2020 menjadi 536,23%. Meski utang secara keseluruhan naik, emiten punya pertimbangan untuk menyehatkan keuangannya secara jangka pendek.

Prospek

Dalam pengakuannya, 95% dari total pundi-pundi yang berhasil diraih emiten atas aksi korporasinya melantai di bursa akan digunakan untuk melunasi pokok pinjaman. Itu artinya 95% dari Rp 2,79 triliun adalah Rp 2,82 triliun.

Jika total utang yang dimiliki emiten adalah USD 505,89 juta alias Rp 7,28 triliun, maka pengurangan Rp 2,82 triliun akan membuat total utang emiten turun menjadi hanya Rp 4,46 triliun saja.

Dengan demikian di akhir tahun dapat diprediksi bahwa emiten akan memiliki ekuitas senilai Rp 4,18 triliun dengan perhitungan aset senilai Rp 8,64 triliun dikurangi utang Rp 4,46 triliun. Dan Rp 4,18 triliun adalah angka yang cukup besar sebagai modal kerja untuk awal yang baru.

Dengan begitu terdapat potensi turunnya DER setelah IPO. Jika setelah IPO liabilitas turun menjadi hanya Rp 4,46 triliun dan ekuitas menjadi Rp 4,18 triliun saja maka DER emiten akan menjadi 106% alias 1,06x. Ini adalah angka yang jauh lebih baik dari sebelumnya yakni 536% atau 5,36x di tahun 2020.

Emiten juga punya kesempatan yang cukup baik untuk bertumbuh karena pendapatan dan laba bersih bertumbuh lebih besar dari pertumbuhan utang. Pertumbuhan pendapatan adalah 6,44% per tahun sementara laba bersih bertumbuh sebesar 8,8% per tahun. Sedangkan pertumbuhan utang hanya 2,66% per tahun. 

Dengan pengurangan utang akibat masuknya dana segar hasil IPO, maka emiten di kemudian hari akan punya cukup dana untuk melakukan aktivitas usahanya dengan lebih leluasa.

Kesimpulan

Kemungkinan besar emiten terpaksa IPO di tengah sentimen yang kurang mendukung industrinya karena emiten punya nilai utang yang mengerikan. Dari total aset sebesar Rp 8,64 triliun, ARCI memiliki utang sebesar Rp 7,28 triliun.

Berturut-turut rasio DER nya adalah 75,51% di 2018, lalu  menjadi 253% di 2019 dan naik lebih dari dua kali lipatnya di tahun 2020 menjadi 536,23% alias 5,36 kali lipat dari ekuitasnya.

Untungnya emiten direstui untuk mencari dana murah di publik dengan melakukan IPO. Berkat IPO utang emiten kelak akan turun menjadi hanya Rp4,46 triliun dan akan menyisakan ekuitas sebesar Rp 4,18 triliun. Dengan demikian DER emiten kelak akan turun menjadi hanya 106% alias 1,06x saja. 

Di akhir tahun 2021 kamu akan mendapati ROE emiten turun drastis, bukan karena melemahnya laba namun disebabkan oleh peningkatan ekuitas. Hal ini baik adanya karena ekuitas telah meningkat, karena emiten punya dana segar untuk mengurangi liabilitasnya. Jadi di akhir tahun 2021 kamu tidak perlu mengindahkan angka ROE milik ARCI yang anjlok ya.

Dari sisi kegiatan usaha emiten dalam menghimpun laba, terdapat efisiensi beban-beban yang menyebabkan pertumbuhan laba lebih pesat dari pertumbuhan pendapatan. Dengan berkurangnya utang berkat aksi IPO-nya, maka emiten akan memiliki kesempatan untuk beroperasional lebih baik lagi ke depannya.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait