Analisa Saham

5 Saham Berbasis Komoditas yang Rajin Bagi-bagi Dividen

Saham berbasis komoditas
Saham berbasis komoditas

Ajaib.co.id – Saham berbasis komoditas terkenal memiliki harga yang sangat fluktuatif. Ketika harga komoditas terkait meningkat, harga saham naik pesat. Ketika harga komoditasnya anjlok, harga saham ikut jeblok.

Naik-turun harga bahkan bisa mencapai puluhan persen dalam rentang waktu beberapa bulan saja. Tapi, ini bukan alasan untuk menghindari saham berbasis komoditas.

Kita sebenarnya tetap bisa mendapatkan keuntungan melimpah meskipun harga saham berbasis komoditas naik-turun. Kunci suksesnya ada dua. Pertama, pilihlah saham berbasis komoditas yang rajin bagi-bagi dividen besar setiap tahun. Kedua, belilah saham saat harganya sedang murah.

Saham berbasis komoditas mana saja kah yang rajin memberikan dividen? Ada lima (5) yang paling menonjol, yakni Adaro Energy Tbk (ADRO), Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Aneka Tambang Tbk (ANTM). Berikut ini uraian sekilas tentang saham-saham tersebut.

1. Adaro Energy Tbk (ADRO)

Adaro Energy merupakan produsen batu bara terbesar kedua di Indonesia. Perusahaan memiliki banyak anak usaha yang memungkinkannya mengembangkan bisnis terintegrasi vertikal, mencakup pertambangan dan perdagangan batu bara, usaha logistik & infrastruktur batubara, jasa kontraktor pertambangan, serta konstruksi & pengelolaan pembangkit listrik.

Adaro Energy mengoperasikan pertambangan batu bara tunggal terbesar se-nusantara yang terletak di Kalimantan Selatan. Selain itu, ADRO juga menggarap beberapa lokasi tambang yang tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Saham ADRO tak pernah alpa membagikan dividen selama lebih dari 10 tahun terakhir. Adaro Energy bahkan kadang-kadang membagikan dividen dua kali dalam setahun. Pembayaran dividen terakhirnya pada tahun 2021 (dari laba tahun fiskal 2020) sebesar Rp66,28 per lembar, atau setara dengan dividend yield 5,39%.

2. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

Indo Tambangraya Megah juga termasuk salah satu perusahaan tambang batu bara terkemuka di Indonesia. Bisnis perusahaan mengintegrasikan pertambangan, pemrosesan, dan logistik untuk batu bara yang digali dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. ITMG juga mengoperasikan satu pembangkit listrik.

Seperti halnya ADRO, ITMG selalu memberikan dividen kepada para pemegang sahamnya selama lebih dari satu dekade terakhir. Dividen kadang-kadang diberikan sekali setahun, tetapi lebih sering dua kali setahun.

Di tengah pandemi pada tahun 2020, ITMG masih mampu membagikan dividen sebanyak dua kali. Dividen interim sebesar Rp 307 dan dividen final Rp 167, sedangkan dividend yield-nya 3,36%.

3. Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

Perusahan Gas Negara mengelola bisnis gas alam terintegrasi, mulai dari pemrosesan, transportasi, penyimpanan, hingga perdagangan gas alam. PGAS mengendalikan jalur transportasi dan distribusi gas alam terbesar di Indonesia. Perusahaan dan anak-anak usahanya memiliki jaringan distribusinya yang mencapai 3.865 km, ditambah dengan jaringan pipa transmisi sepanjang 2.047 km.

Pemerintah RI telah memberikan mandat kepada PGAS sebagai BUMN untuk mengembangkan infrastruktur gas alam di Indonesia. Hal ini memungkinkan PGAS untuk berkoordinasi langsung maupun tidak langsung dengan pemerintah daerah, memperluas pangsa pasarnya pada berbagai segmen. Industri pembakit listrik memberikan kontribusi terbesar bagi penjualan PGAS.

PGAS memutuskan untuk tidak membagi dividen pada tahun 2021 lantaran perusahaan membukukan kerugian pada tahun 2020. Namun, perusahaan rutin membagikan dividen berturut-turut selama empat tahun sebelumnya. Pembagian dividen terakhir pada tahun 2020 (dari kinerja tahun fiskal 2019) sebesar Rp41,56 per lembar.

4. Bukit Asam Tbk (PTBA)

Bukit Asam merupakan BUMN pengelola tambang batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan menggarap lahan tambang seluas 66.414 ha di Sumatera Selatan, 2.950 ha di Sumatra Barat, dan 18.230 di Kalimantan Timur. PTBA juga memiliki kontrak jangka panjang untuk menyuplai batu bara bagi PLN sampai tahun 2030.

Kinerja keuangan PTBA merosot pada masa pandemi 2020. Tapi perusahaan tetap mampu memberikan dividen tahunan, melanjutkan “ritual” yang telah berlangsung selama sekitar dua dekade terakhir. Pembayaran dividen PTBA terakhir pada tahun 2021 (dari laba 2020) sebesar Rp74,69 per lembar, atau setara dengan dividen yield 17,59%.

5. Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Siapa sih yang belum pernah dengar nama tenar Antam? Perusahaan ini terkenal sebagai produsen emas batangan, tetapi sebenarnya juga menggarap komoditas ferronickel, nickel ore, batu bara, dan bauksit dalam skala lebih kecil.

Aneka Tambang dan anak-anak usahanya mengelola bisnis terintegrasi vertikal. Mulai dari eksplorasi lahan-lahan tambang yang tersebar di berbagai pulau hingga distribusi dan perdagangan produk olahan hasil tambang di dalam dan luar negeri.

Besaran dividen ANTM setiap tahunnya terbilang kecil dibandingkan saham berbasis komoditas yang telah dibahas sebelumnya. Namun, ANTM tak pernah absen memberikan dividen selama empat tahun terakhir. Jumlah dividen tahun 2021 (dari kinerja tahun krisis 2020) justru meningkat menjadi Rp16,73 per lembar dari setahun sebelumnya yang hanya Rp2,82 per lembar. Dividend yield ANTM terkini adalah 0,8%.

Tips Berinvestasi Pada Saham Berbasis Komoditas

Keputusan untuk berinvestasi pada saham berbasis komoditas sebenarnya mengandung risiko lebih tinggi daripada berinvestasi pada saham-saham defensif dari sektor FMCG dan infrastruktur. Masalahnya, harga saham berbasis komoditas akan dipengaruhi oleh lebih banyak faktor.

Investor perlu mengenal latar belakang perusahaan dan kinerja keuangannya, sekaligus juga spesifikasi komoditas yang digarap beserta outlook harga komoditas itu.

Umpamanya jika harga emas sudah memuncak dan kemudian berbalik turun, harga saham ANTM pun akan ikut menurun. Atau bila harga komoditas batu bara diperkirakan bakal meningkat, harga saham PTBA dan produsen batu bara lain biasanya turut menanjak.

Artikel Terkait