Analisis Saham

Ingin Koleksi Saham ARTI? Simak Analisa Saham Berikut Ini!

Sumber: Pexels

Ajaib.co.id – PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) merupakan perusahaan energi yang bergerak di bidang produksi maupun jasa minyak dan gas bumi.

Perusahaan dengan kode saham ARTI ini memulai bisnis secara komersial pada tahun 1996 dengan kegiatan usaha yang dijalankan oleh beberapa anak perusahaan.

Mulai dari PT Lekom Maras di jasa pertambangan dan properti, PT Lekom Maras Pengabuan In di bidang pertambangan minyak, PT Bangadua Petroleum di bidang pertambangan minyak dan gas, serta PT Ratu Prabu Tiga di bidang pengembangan, penyewaan, dan pengelolaan properti.

Mayoritas saham ARTI dipegang oleh PT Ratu Prabu dengan jumlah 35,35 persen kepemilikan.

Saham ARTI sendiri mulai diperdagangkan secara publik melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2003 dengan harga penawaran sebesar Rp650 per lembar saham.

Akan tetapi, saham ARTI saat ini masuk ke dalam ekuitas negatif dengan harga flat sebesar Rp50 per lembar saham. Hal tersebut karena kinerja keuangan yang negatif.

Lalu, apakah saham ARTI masih layak untuk dikoleksi? Bagaimana dengan keadaan fundamental perusahaan saat ini dan rencana bisnis apa yang akan dilakukan ke depannya? Mari kita bedah kinerja saham ARTI

Pendapatan Anjlok Hingga 78,94 Persen, ARTI Masih Catatkan Kerugian di Kuartal III 2020

Kinerja keuangan ARTI di tahun 2020 masih tampak negatif. Berdasarkan laporan keuangan di kuartal ketiga tahun 2020, perseroan mencatatkan pendapatan bersih yang anjlok 78,94 persen YOY dari periode sama di tahun 2019 sebesar Rp142,69 miliar menjadi Rp30,05 miliar.

Pendapatan tersebut disumbang oleh kontributor utama yaitu jasa konsultan perminyakan dan tenaga ahli sebesar Rp25,69 miliar.

Diikuti dengan penyewaan rig serta peralatan minyak sebesar Rp3,60 miliar, jasa perminyakan lainnya Rp753,20 juta, serta penyewaan bangunan dan jasa terkait mencapai Rp309 juta.

Sementara untuk sejumlah beban mengalami penyusutan seperti beban pokok pendapatan menjadi Rp49,49 miliar dan beban umum menjadi Rp17,33 miliar.

Dengan perhitungan tersebut, maka ARTI masih mencatatkan kerugian mencapai Rp5,74 miliar yang turun 47,24 persen YOY dari periode sama di tahun sebelumnya sebesar sebesar Rp10,88 miliar.

Bisnis ARTI Sudah Mencatatkan Kerugian Sejak Tahun 2019

Terlepas dari kinerja keuangan di tahun 2020 yang dipengaruhi masa pandemi, ARTI sudah mencatatkan rugi sejak tahun 2019.

Akan tetapi, kinerja di tahun-tahun sebelumnya tampak positif, walaupun realisasi pendapatan dan raihan laba tidak begitu konsisten.

Adapun data ikhtisar keuangan yang diambil berdasarkan informasi finansial perseroan dapat dilihat seperti berikut (dalam miliar rupiah):

Laporan Laba Rugi20192018201720162015
Penjualan bersih172.419 305.320249.769210.141225.794
Laba kotor6.778 160.941147.157101.642114.469
Laba rugi tahun berjalan-74.446 107.66928.8839.22917.803

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa secara penjualan, ARTI tampak positif namun belum catatkan peningkatan yang konsisten seperti pendapatan yang turun di tahun 2016 dan 2019.

Lalu, dari sisi raihan laba juga sempat mengalami penurunan di tahun 2016 dan rugi di tahun 2019. Hal ini tentu disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

Di tahun 2016, penurunan laba disebabkan oleh pendapatan yang juga menurun. Di mana, beberapa bisnis yang menjadi kontributor utama harus mengalami penurunan sehingga membuat laba turun.

Sementara di tahun 2019, penurunan tajam menyebabkan raihan laba berbalik menjadi catatan kerugian.

Hal tersebut disebabkan oleh perseroan yang harus menanggung kerugian sebelum pajak meningkat 14 kali lipat mencapai Rp334,16 miliar sehingga menggerus raihan laba dan berbalik menjadi kerugian.

Selain itu, jika dilihat berdasarkan rasio keuangan memang kondisi bisnis ARTI sedang dalam keadaan yang tidak sehat.

Adapun data yang diambil berdasarkan ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 melalui informasi finansial perseroan dapat dilihat seperti berikut:

Rasio2019
ROA-19,5%
ROE-26%
NPM-203,4%
CR118,6%
DER74%

Bagaimana dengan Prospek Bisnis ARTI Terlepas dari Harga Saham yang Ada di Batas Terendah?

Bicara tentang prospek bisnis PT Ratu Prabu Energi Tbk, maka pertimbangannya adalah minyak dan gas yang menjadi komoditas dengan harga naik turun bergantung pada harga global.

Oleh karena itu, bisnis migas memiliki diversifikasi bisnis guna menutupi fluktuasi harga minyak dan gas dunia. Begitu juga dengan keberlangsungan bisnis ARTI saat ini.

Apalagi saat ini saham ARTI masuk daftar saham terancam delisting di tahun 2022 karena suspend yang disebabkan oleh perseroan belum menyerahkan laporan keuangan untuk tahun buku 2019 dan 2020.

Hal tersebut tentu menjadi acuan perseroan untuk menerapkan sejumlah strategi yang tepat demi memperbaiki kinerja bisnis di tahun ini.

ARTI sendiri tengah mencari pendanaan melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau private placement dalam waktu dekat.

Pihak ARTI menyampaikan bahwa perencanaan ini digunakan untuk melunasi utang senilai Rp743,3 miliar ke induk usaha perseroan yaitu PT Ratu Prabu.

Adapun utang yang mencapai Rp743,3 miliar berasal dari anak usaha yaitu PT Lekom Maras senilai Rp49,97 miliar. Sedangkan untuk utang senilai Rp696,47 miliar menjadi kewajiban Lekom Maras kepada Bank Mega.

Di samping itu, emiten migas berkode saham ARTI ini juga berencana mengejar pertumbuhan bisnis secara lebih agresif di tahun ini dengan memfokuskan bisnis di segmen jasa penunjang minyak dan gas.

Di mana, perseroan tengah mengincar sejumlah kontrak klien melalui pergelaran tender atau penunjukan secara langsung.

Setidaknya akan ada enam perusahaan yang dibidik agar bisa menggunakan jasa ARTI di tahun ini. Salah satu klien yang cukup potensial yaitu Energi Mega Persada.

Pihak ARTI sendiri menargetkan untuk memulai pekerjaan di bulan ini. Selain itu, klien potensial selanjutnya adalah PHE Wailawi dan Kangean Ltd.

Di samping itu, untuk anggaran belanja modal atau capex masih belum diinformasikan secara resmi berapa jumlahnya oleh pihak ARTI.

Namun, perseroan menyampaikan bahwa di akhir tahun 2020 lalu, ARTI sempat merencanakan penambahan dua unit rig untuk kebutuhan pengerjaan workover.

Di mana, penambahan dua unit rig tersebut bakal menambah jumlah rig yang dimiliki ARTI demi mendongkrak kinerja  bisnis di tahun ini.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait