Saham

Dampak Positif Jika GoTo Melantai di Bursa

GoTo

Ajaib.co.id – Gojek dan Tokopedia akhirnya resmi menggabungkan usaha alias merger pada pertengahan Mei lalu. Setelah merger tersebut, keduanya mengusung nama GoTo Group.

Isu yang beredar luas menyebutkan GoTo akan segera melantai di bursa. Jika hal ini terealisasi, sejumlah dampak positif berpotensi akan mengikutinya.

Selain melakukan penawaran saham perdana (IPO), GoTo juga didengungkan akan menggabungkan layanan e-commerce, transportasi, pengiriman barang, dan keuangan. Pada tahun 2020, GoTo Grup mengantongi Gross Transaction Value (GTV) lebih dari USD22 miliar.

Sementara itu, jumlah transaksinya lebih dari 1,8 miliar pada tahun lalu. Pengguna aktif bulanan GoTo tercatat lebih dari 100 juta. Rencana lainnya ialah GoTo akan mengembangkan bisnis ke negara-negara lokasi Gojek beroperasi.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, market capitalization yang dimiliki oleh perusahaan merger ini mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap size market cap pasar modal Indonesia. Hal ini sekaligus berpotensi meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di pasar gobal.

Investor yang dapat membeli saham GoTo nantinya juga sangat beragam, mulai dari mitra driver, penjual hingga pengguna aktif sejumlah aplikasi yang diusung oleh GoTo. Di samping itu, jika GoTo jadi melantai di bursa diharapkan dapat menumbuhkan spillover investasi, baik investor dalam dan luar negeri.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) sempat melakukan studi terhadap aksi merger Gojek dan Tokopedia. Merujuk studi tersebut, merger Gojek dan Tokopedia diproyeksikan memberikan kontribusi sebesar 0,1%–0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Studi yang sama menunjukkan bahwa setelah Gojek dan Tokopedia merger, maka kontribusi total keduanya diperkirakan sebesar 1,9%–2,1% dari PDB nasional.

Dalam cakupan lebih kecil, Nyoman meneruskan, GoTo akan memperoleh tambahan pendanaan bila jadi melantai di bursa. Tambahan pendanaan ini dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Penerapan corporate governance di tubuh GoTo juga bisa meningkat karena perusahaan didorong untuk dikelola secara lebih transparan, accountable, dan profesional.

BEI sendiri senantiasa mendorong perusahaan yang bergerak di berbagai industri agar memanfaatkan pasar modal sebagai ‘house of growth’. Selain itu, bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI akan melakukan berbagai penyesuaian untuk mengakomodasi perusahaan teknologi dengan skala unicorn, seperti GoTo.

Salah satu persiapan yang dimaksud berkutat pada sejumlah regulasi agar perusahaan teknologi atau unicorn bisa masuk ke papan utama (main board). Regulasi lainnya terkait profit dan aset berwujud bersih (net tang ible asset). Aturan mengenai ini juga akan disesuaikan untuk mendukung pencatatan saham GoTo.

Penyesuaian regulasi juga sedang dipertimbangkan oleh OJK, seperti memperbolehkan multiple voting share. Tujuannya agar pendiri perusahaan masih memiliki kendali dalam perusahaan.

Sejumlah kalangan menyambut positif wacana penyesuaian regulasi oleh BEI dan OJK. Pasalnya, jika GoTo jadi melantai di bursa, maka ia hanya dapat masuk di papan pengembangan sesuai peraturan yang berlaku saat ini. Hal ini dikarenakan GoTo belum memenuhi persyaratan profit dan net tangible asset.

Hal tersebut menjadi paradoks tersendiri mengingat kapitalisasi pasarnya diprediksi mencapai kisaran USD35 miliar sampai USD40 miliar atau Rp507,1 triliun hingga Rp579,6 triliun (kurs Rp14.489,5/US$D). Nilai kapitalisasi pasar tersebut menempatkannya di posisi tiga besar setelah PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Jika merujuk persyaratan keuangan, GoTo dapat masuk ke papan utama atau mainboard di bursa saham Nasdaq (Amerika Serikat), Singapura, dan Malaysia. Bila hal ini menjadi kenyataan, maka akan menjadi perusahaan teknologi skala unicorn pertama yang mencatatkan saham perdananya pada papan utama.

Bila GoTo jadi melantai di bursa, maka diharapkan dapat menarik minat perusahaan teknologi lainnya untuk melakukan hal serupa. Hal tersebut pernah terjadi saat Google melakukan IPO di tahun 2004.

Pasca-Dot-com bubble, saat itu, Google adalah perusahaan teknologi pertama yang melantai di bursa. Aksi Google tersebut kemudian diikuti oleh lebih dari 20 perusahaan teknologi lainnya. Terlebih, Google menunjukkan pertumbuhan positif dari tahun ke tahun secara konsisten.

Oleh sebab itu, jika penawaran umum perdana saham terealisasi, maka diharapkan memiliki efek yang identik seperti yang terjadi pada Google dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya di Negera Paman Sam beberapa tahun silam.

Namun, rencana IPO bukan berarti tanpa tantangan. Tantangan akan selalu ada bagi entitas  baru  hasil  merger, termasuk yang memiliki  modal ‘jumbo’. Satu hal yang pasti adalah GoTo harus menunjukkan performanya bila jadi melantai di bursa.

Sebelum merger, Gojek dan Tokopedia dikenal sebagai perusahaan rintisan (startup) yang gemar melakukan aksi ‘bakar uang’. Aksi ini memang bisa meningkatkan pertumbuhan jumlah pengguna yang  signifikan.

Tapi, bila GoTo jadi IPO, kacamata para investornya belum tentu sama. Terlebih bila aksi ‘bakar uang’ tersebut diikuti dengan promosi berlebihan yang menjadi beban pengeluaran bagi  perusahaan. Mau tak mau, GoTo perlu membuktikan kepada publik bahwa mereka benar-benar memiliki kinerja  bagus.

Tantangan lainnya adalah komitmen GoTo untuk menaati aturan yang lebih ketat, misalnya mengenai audit keuangan. Soal audit keuangan pada perusahaan terbuka sering mendapat sorotan dari berbagai pihak karena menyangkut dana khalayak luas.

Potensi yang lebih buruk lainnya juga bisa terjadi pada sisi makroekonomi. Dalam konteks ini ialah muncul kekhawatiran terhadap volatilitas pasar keuangan setelah IPO.

Maksudnya, jika terjadi shock pada GoTo, bukan tak mungkin investor sewaktu-waktu menarik dananya dari pasar saham domestik. Pengawasan OJK terhadap berbagai kemungkinan ini perlu ditingkatkan guna meredam volatilitas pasar saham.

Artikel Terkait