Analisa Saham, Saham

Bisnis NATO Tertekan di 2020, Begini Analisisnya

Sumber: Nusantara

Ajaib.co.id – PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) adalah perusahaan yang berdiri pada tanggal 17 April 2015 dengan nama PT Total Bersama Internasional. Perusahaan kemudian memulai beroperasi secara komersial pada tahun 2016. 

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan tercatat ruang lingkup kegiatan NATO yakni bergerak dalam bidang pembangunan, jasa, perdagangan dan investasi.

Kegiatan usaha utama NATO saat ini adalah bergerak di bidang perhotelan melalui Entitas Anak (1. PT Pelangi Anugerah Buana ➜ Mangosteen Hotel dan Private Villa Ubud di Ubud, Gianyar, Bali; 2. PT Roku Bali Internasional Indonesia ➜ The Seri Villas di Seminyak, Badung, Bali; 3. PT Mimpi Design Hotel ➜ Luna2 di Seminyak, Badung, Bali).

Pada tanggal 14 Januari 2019, NATO mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pernyataan tersebut untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham NATO (IPO) kepada masyarakat sebanyak 2.000.000.000 saham baru.

Dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp103,- per saham disertai dengan Waran Seri I sebanyak 2.000.000.000 dengan harga pelaksanaan Rp108,- per saham. Saham dan waran tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 18 Januari 2019.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham NATO.

Pandemi Bikin Bisnis NATO Anjlok

Bisnis Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) pada 2020 ikut terpuruk. Lantaran imbas dari adanya pandemi COVID-19. Terlebih bisnis NATO merupakan sektor pariwisata yang memang langsung terdampak karena merebaknya pandemi pada 2020 lalu. 

Pendapatan NATO tercatat anjlok hingga 90,8% menjadi Rp1,6 triliun saja. Padahal pada tahun 2019, perusahaan berhasil meraup pendapatan hingga Rp17,7 triliun.

Hal yang sama pun berlaku untuk laba bersih periode berjalan yang ikut menyusut tajam hingga 72,6%. Perusahaan hanya memperoleh keuntungan sebesar Rp907 miliar dari tahun sebelumnya yang mampu membukukan laba hingga Rp3,3 triliun. 

Bisnis NATO Cuan di 3 Tahun Terakhir

Sebelum adanya kondisi pandemi COVID-19, perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata ini memiliki kinerja bisnis yang baik. Perusahaan NATO selalu memperoleh keuntungan bisnis selama 3 tahun terakhir, terhitung sejak 2017-2019. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah).

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan bersih17,788 
23,017 
300 
Laba kotor13,558 
18,580 
300 
Laba tahun berjalan3,314 
3,059 
99 

Dari data tersebut dapat dikethaui bahwa secara penjualan NATO memang terus mengalami peningkatan di 2018 dan sempat menurun pada 2019.  Namun, bagi laba tahun berjalan perusahaan yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Artinya pada 2019, perusahaan berhasil menekan beban perusahaan yang dikeluarkan. 

Sebelumnya, PT Nusantara Properti International Tbk (NATO), memiliki target pendapatan akhir tahun 2019 bisa mencapai Rp30 miliar atau naik 30,43% dari pendapatan tahun sebelumnya. Selain itu, NATO juga menargetkan laba bersih sekitar Rp5 miliar atau naik 66% dari tahun 2018.

Perusahaan pun mengutarakan salah satu upaya untuk mencapai target tersebut dengan fokus menggarap hotel dan resort di daerah pariwisata dan memberikan keunikan pada hunian, servis, dan lokasi strategis. 

Namun, berdasarkan laporan keuangan perseroan tahun 2019 perusahaan berkode saham NATO ini memperoleh laba bersih sebesar Rp3,29 miliar pada periode tersebut. Perolehan itu naik tipis dari tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp3,05 miliar. Perolehan laba bersih tersebut terhitung tidak mencapai target perusahaan pada 2019.

Sementara itu, pada periode 2019, pendapatan NATO tercatat sebesar Rp17,78 miliar. Perolehan ini terhitung merosot 22,76% (year on year) dari Rp23,02 miliar. Meski mengalami penurunan pendapatan, namun perusahaan berhasil menekan pengeluaran bebannya.

Hal tersebut terlihat dari sejumlah pos beban, yakni untuk beban pemasaran turun drastis hingga 73,24% menjadi Rp461,56 juta dari sebesar Rp1,72 miliar. Selanjutnya, penurunan juga terjadi pada akun beban keuangan. Sepanjang tahun 2019, beban keuangan mampu diminimalisir menjadi Rp1,05 miliar atau turun 64,6% dari tahun sebelumnya sebesar Rp2,97 miliar.

Perusahaan ini juga mampu mengantongi lonjakan pendapatan keuangan hingga 394,6% yakni sebesar Rp6,48 miliar. Peningkatan ini bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya hanya sebesar RpRp1,31 miliar.

Selain itu, beban pajak penghasilan juga ikut berkontribusi terhadap kinerja positif perusahaan pada tahun 2019. Hal ini terlihat pada pos beban ini ada penurunan 34,12% menjadi Rp1,39 miliar dari semula sebesar Rp2,11 miliar.

Kemudian, untuk beban umum dan administrasi naik 60,3% menjadi Rp11,32 miliar pada 2019. Di mana pada 2018 sebesar Rp7,06 miliar. Selain itu, beban operasional juga naik 21% secara tahunan menjadi Rp2,07 miliar.

Di lain sisi, per 31 Desember 2019 lalu nilai aset perusahaan tercatat sebesar Rp811,46 miliar. Angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 29,8% bila dibandingkan dengan periode sebelumnya yakni sebesar Rp625,08 miliar.

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis NATO selama tiga tahun ke belakang sedang sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA0.41%
ROE0.41%
NPM18.63 %
DER0.59 

Bagaimana Prospek Bisnis NATO Ke depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Saham PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) memang baru tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 Januari 2019. Untuk pergerakan dan strategi perusahaan dalam menghadapi pandemi sendiri tidak banyak diutarakan kepada publik.

Namun, melaui bisnis NATO di sektor pariwisata dapat langsung dipahami jika perusahaan ini terdampak berat akibat adanya pandemi COVID-19. Seperti diketahui, NATO merupakan perusahaan pengembang dan pengelola di bidang properti seperti hotel, villa, dan resor. Keunggulan hotel, villa dan resort milik NATO karena mengutamakan desain yang menarik dan unik, lokasi yang eksotis.

Untuk bisnis hotel, perusahaan memiliki Luna2 Seminyak yang berlokasi di Seminyak, Bali. Kemudian, untuk Villa perseroan mempunyai Mangonsteen di Ubud dan The Seri Villas yang juga berlokasi di Seminyak.

Sementara untuk resor, emiten berkode saham NATO ini mempunyai tiga di lokasi yang berbeda. Pertama, Takabonerate Resort yang berlokasi di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Kedua, perseroan punya Maratua Beach Resort di Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Resor yang ketiga adalah Surfer Paradise Resort yang berada di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. 

Namun NATO menyambut baik wacana adanya relaksasi pembatasan sosial yang akan dilakukan Pemerintah Daerah setempat. Oleh sebab itu, perusahaan akan melakukan langkah-langkah untuk mempertahankan kelangsungan usaha bila ada relaksasi tersebut.

Ke depannya, perusahaan akan melakukan promosi long stay package untuk tamu-tamu wisatawan domestik maupun internasional.

Seperti diketahui, perusahaan masih berjuang untuk bertahan di tengah pandemi COVID-19 ini. Utamanya dengan sejumlah kelonggaran aktivitas ekonomi dan adanya vaksinasi COVID-19. Calon investor tetap disarankan untuk memantau pergerakan bisnis di sektor pariwisata dan properti. 

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait