Analisis Saham, Saham

Cuan Bisnis LINK Naik di 2020, Begini Strategi Perusahaan

Sumber: Link Net

Ajaib.co.id – PT Link Net Tbk (LINK) merupakan perusahaan yang berdiri pada tanggal 14 Maret 1996 dengan nama PT Seruling Indah Permai.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan tercatat ruang lingkup kegiatan LINK yakni bergerak di bidang penyelenggaraan jaringan tetap berbasis kabel, penyelenggaraan jasa multimedia, jasa akses internet, dan jasa konsultasi manajemen bisnis.

Kegiatan usaha utama LINK saat ini adalah internet broadband berkecepatan tinggi (FastNet), televisi berlangganan (HomeCable), jasa komunikasi data (DataComm), Media Sales, dan Corporate TV untuk hotel.

Pada tanggal 20 Mei 2014, LINK mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pernyataan dari OJK ini untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham LINK (IPO) kepada masyarakat sebanyak 304.265.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp1.600,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 02 Juni 2014.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham LINK.

Bisnis LINK Cuan di Tengah Pandemi COVID 2020

Pada periode sembilan bulan pertama tahun 2020, Link Net Tbk (LINK) mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp698,90 miliar. Capaian tersebut turun 9,56% dari periode yang sama di tahun 2019 Rp772,85 miliar.

Tercatat pendapatan emiten Grup Lippo ini naik 6,33% menjadi Rp2,95 triliun dari sebelumnya Rp2,76 triliun. Kendati demikian, beban pokok pendapatan mengalami kenaikan menjadi Rp616,16 miliar dari sebelumnya Rp538,19 miliar. Kemudian, beban penjualan juga naik menjadi Rp282,89 miliar dari sebelumnya Rp212,16 miliar.

Akan tetapi, laba usaha LINK tercatat turun dari Rp1,04 triliun menjadi Rp983,67 miliar pada kuartal ketiga tahun 2020. Sementara itu, laba per saham dasar juga turun menjadi Rp252 per saham dari sebelumnya Rp266 per saham.

Kemudian di akhir tahun 2020, pendapatan LINK yang diperoleh sebanyak Rp4,0 triliun. Angka ini terhitung naik dibandingkan periode yang sama pada akhir 2019 yang sebesar Rp3,7 triliun. Adapun untuk laba bersih perusahaan naik menjadi Rp941 miliar dibandingkan akhir 2019 yang laba bersihnya sebesar Rp894 miliar. 

Bisnis LINK Sehat Selama 3 Tahun Terakhir

Terlepas dari kondisi pandemi, emiten Link Net Tbk (LINK) memiliki kinerja bisnis yang sehat. Hal ini terlihat dalam 3 tahun terakhir sejak 2017 hingga 2019. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah).

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan bersih3.755.262 
3.728.364 
3.399.060 
Laba kotor3.179.221 
3.007.559 
Laba tahun berjalan894.532 
788.918 
1.007.278 

Dari data tersebut, secara penjualan LINK memang terus mengalami kenaikan per tahunnya. Terkait laba tahun berjalan .

Adapun, pada 2019 lalu LINK berhasil membukukan pendapatan Rp3,75 triliun. Angka ini mengalami kenaikan 1% dibandingkan pencapaian 2018 yang sebesar Rp3,72 triliun. 

Kemudian untuk Laba bersih tahun berjalan tahun 2019 berjumlah Rp894.532 juta naik sebesar Rp105.614 juta atau sebesar 13% dibandingkan tahun 2018. Marjin laba bersih tahun berjalan naik dari 21% di tahun 2018 menjadi 24% di tahun 2019. 

Perusahaan sendiri menyatakan kehadiran First Squad di tahun 2019, serta bentuk program pemasaran yang dinilai inovatif. Sehingga dapat meningkatkan kinerja Perseroan dengan memperluas jaringan sebanyak 2,47 juta homes passed di akhir tahun 2019.

Selain itu, penambahan jaringan ini sangat agresif mengingat Perseroan sangat bergairah dalam menumbuhkan penetrasi pengguna Internet di Indonesia. Dengan harapan dapat mendorong transformasi digital di Indonesia dalam memperkuat sektor Ekonomi Digital.

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis LINK dalam tiga tahun terakhir sedang sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA13,45%
ROE19,22%
NPM23,82%
CR49,86%
DER12,74%

Bagaimana Prospek Bisnis LINK Ke depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Untuk menjaga pertumbuhan agar tetap dapat memenuhi target pada 2021 ini, perusahaan terus mencari peluang-peluang di tengah masa kenormalan baru atau new normal.

Perseroan menilai di era saat ini semakin banyak perusahaan yang melakukan peningkatan fasilitas digital. Terutama pada layanan internet karena kebutuhan untuk berkomunikasi melalui platform virtual semakin masif.

Sehingga perusahaan masuk di sana, membantu perusahaan-perusahaan yang akan go digital. Serta yang mau meningkatkan digitalisasi mereka.

Selain itu, sebagai bentuk strategi lanjutan, perseroan juga akan lebih fokus pada mitra-mitra strategi mereka. Utamanya yang berasal dari sektor yang kebal dari serangan badai pandemi COVID-19 ini, misalnya untuk sektor finansial dan sektor pemerintahan.

Misalnya untuk gambaran, sektor finansial perusahaan bisa memberikan layanan koneksi VPN untuk digital banking, pembuatan platform digital untuk rapat (e-meeting), dan penambahan bandwith.

Sementara itu, untuk sektor pemerintahan, Agung menyebut ada potensi dalam penambahan layanan internet di titik-titik kesehatan publik, pusat belajar/sekolah, dan pusat pemerintahan.

Termasuk juga perusahaan bisa membantu bagaimana membuat layanan agar proses WFH lancar, dari sisi koneksi dan platformnya,

Sebagai informasi juga, emiten penyedia jaringan broadband, PT Link Net Tbk ini telah memperoleh pinjaman mencapai Rp1,5 triliun dari PT  Bank CIMB Niaga Tbk.

Adapun total fasilitas pinjaman yang diperoleh perseroan mencapai Rp1,5 triliun. Dengan rincian sebanyak Rp1 triliun adalah fasilitas pinjaman transaksi khusus jangka panjang dan sebesar Rp500 miliar fasilitas jangka pendek. Untuk fasilitas pinjaman jangka panjang mempunyai tenor 60 bulan setelah tanggal ditandatanganinya kredit sedangkan fasilitas jangka pendek ber tenor 36 bulan.

Pinjaman tersebut akan digunakan untuk melakukan pembiayaan kembali atas utang perseroan yang ada saat ini. Selain itu, juga digunakan pengeluaran modal atau capex dan tujuan umum perusahaan lainnya.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait