Investasi, Saham, Teknologi

Belajar dari Sandbox, Ini Proksi Emiten Teknologi Indonesia!

Ajaib.co.id – Popularitas drama korea Start-up yang cukup mendunia pada akhir 2020, ternyata membuka mata dan telinga orang-orang mengenai proksi perusahaan startup di masa yang akan datang. 

Dalam drama korea yang dibintangi oleh Bae Suzy, Nam Joo Hyuk dan Kim Seon Ho, tersebut diceritakan bahwa banyak anak muda yang memiliki perusahaan rintisan ingin bergabung dalam lingkungan Sandbox. 

Sandbox dalam cerita ini merupakan perusahaan induk yang terkenal dengan program inkubasi untuk melahirkan sebuah perusahaan rintisan yang sukses.

Lingkungan di perusahaan tersebut dibuat semenarik mungkin demi menjaring banyak orang-orang dengan ide besar dan inovasi yang tinggi untuk mendapatkan pembinaan, mentoring dan investasi

Program inkubasi seperti ini bukanlah hal yang fiksi dan hanya ada berlaku di dalam dunia serial drama korea saja lho. Program inkubasi ini dilaksanakan oleh beberapa perusahaan besar seperti Google, Facebook, Angle Pad, Y Combinator untuk memperluas ekosistem usaha mereka. 

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua startup bisa mendapatkan investasi apalagi bertahan dalam jangka waktu yang lama karena model bisnisnya yang bersifat dinamis. Tetapi, banyak sekali perusahaan besar yang akhirnya beralih untuk melirik beberapa perusahaan rintisan.

Contohnya saja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang menyuntik perusahaan startup unicorn di Indonesia Gojek sebesar Rp2,1 triliun. Apa sih daya tarik beberapa perusahaan rintisan ini? 

Mengenal Lebih Dalam Istilah Sandbox

Istilah Sandbox telah dikenal dalam dokumen resmi negara, yaitu dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial. Dalam Pasal 1 ayat (4) disebutkan bahwa regulatory sandbox adalah suatu ruang uji coba terbatas yang aman untuk menguji penyelenggara teknologi finansial beserta produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnisnya.

Secara filosofis, Sandbox diartikan sebagai pasir pengaman yang diletakkan di bawah ayunan mainan anak-anak sebagaimana secara apik juga digambarkan dalam film Start-Up. Sedangkan, secara Sandbox dimaknai sebagai bentuk bimbingan terhadap perusahaan rintisan agar memiliki role model dan tidak mengalami kegagalan dalam operasional usahanya.

Di mana, program inkubasi dan akselerasi (Sandbox) diyakini menjadi kendaraan bagi perusahaan tahap awal (early-stage startup) untuk memberikan warna bagi ranah yang akan digeluti perusahaan rintisan (startup).

Sehingga, Sandbox dan perusahaan rintisan (start-up) menjadi dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Perusahaan rintisan di bidang teknologi finansial (financial technology/ fintech) adalah salah satu perusahaan rintisan yang paling berkembang baik secara jumlah, konsumen, maupun regulasi pada tiga tahun terakhir (2018–2020).

Selama 2 tahun itulah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan lebih dari 200 izin perusahaan rintisan fintech. Secara year on year, jumlah nasabah meningkat 50-60% (data OJK 2018- 2019). Bahkan pada masa pandemic Covid-19 terjadi peningkatan jumlah nasabah sebesar 80% dari tahun sebelumnya.

Proyeksi Indeks Sektor Teknologi

Dilansir dari pemberitaan Bisnis.com, Bursa Efek Indonesia mengumumkan akan melakukan pergantian indeks sektoral dari Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA) menjadi indeks klasifikasi industri baru bernama IDX Industrial Classification (IDX-IC) pada akhir Januari lalu. 

Dengan demikian, Indeks JASICA yang hanya terdiri dari 10 indeks klasifikasi sektor seperti JAKFIN, JAKMINE, JAKMIND, JAKBIND, JAKTRADE, JAKCONS, JAKPROP, JAKINFRA, JAKAGRI, JAKMANU akan digantikan dengan indeks yang lebih spesifik seperti IDXENERGY untuk sektor energi, IDXINDUST untuk sektor perindustrian, IDXCYCLIC untuk sektor barang konsumen non primer dan IDXNONCYC untuk barang konsumen primer. 

Menariknya, indeks IDX-IC juga kedatangan tiga indeks baru yaitu IDXTRANS untuk sektor transportasi dan logistik, IDXHEALTH untuk sektor Kesehatan, dan tak ketinggalan IDXTECHNO yang menjadi payung untuk emiten teknologi. 

IDXTECHNO memiliki 18 anggota konstituen dengan contoh emiten seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH), PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA), PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO), dan lain-lain. 

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, Jumat (19/3/2021), indeks IDXTECHNO memang mengalami koreksi yang cukup dalam sebesar 4,07% atau 120,65 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya yakni dari level 2.967,28 ke level 2.846,63.

Kendati demikian, secara year-to-date, indeks sektoral ini mengalami penguatan paling signifikan diantara beberapa emiten lain yaitu sebesar 155,58%. 

Para analis berkomentar bahwa kenaikan indeks teknologi memang didorong oleh sentimen digitalisasi selama masa pandemi COVID-19. Namun, mayoritas saham teknologi yang memiliki kapitalisasi pasar yang relatif kecil membuat sahamnya cenderung tidak likuid untuk ditransaksikan. 

Kendati demikian, potensi saham teknologi ini cukup menarik. Apalagi jika perusahaan teknologi berstatus unicorn dalam negeri seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak dan sebagainya mau menyandang status perusahaan terbuka ke depannya. 

Proksi Perusahaan Startup Indonesia

Dari sisi likuiditas dan kapitalisasi pasar, saham-saham teknologi yang kini tercatat di indeks sektor teknologi sangatlah berbeda bursa saham luar negeri. 

Bursa saham Amerika Serikat yang jauh lebih mature mendapatkan eksposur dari beberapa perusahaan teknologi berkapitalisasi besar yang dikelompokkan dengan nama FAANG (Facebook, Amazon, Netflix, dan Alphabet atau Google).

Dikutip dari Sindonews, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan, pihaknya akan membuat perusahaan startup yang memiliki istilah sandbox atau semacam laboratorium bagi perusahaan fintech sebelum memasarkan produknya ke pasaran.

Lebih spesifik, pihak otoritas akan mengembangkan industri finansial teknologi (fintech) agar bisa memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

“Kita sangat akomodatif untuk mendukung inovasi generasi milenial dalam produk-produk teknologi atau start-up. Ini akan memberikan guidence, dan pembinaan. Enggak setiap generasi muda punya talent yang sama, dan ini kita memberikan sandbox,” kata Wimboh dalam sesi virtual.

Disebutkannya bahwa sandbox ala Indonesia akan berisikan produk digital dan nantinya akan memudahkan perusahaan fintech bisa mengembangkan inovasi bisnis yang baru.

Menurutnya perusahaan rintisan yang akan berkembang di Indonesia tidak hanya sekedar memenuhi fasilitas pinjaman, pembayaran, investasi, komoditas, tetapi lebih dari itu.

Bank Sentral Punya Sandbox Indonesia

The Sandbox dari Bank Indonesia merupakan salah satu upaya menjaga inovasi teknologi finansial di bisnis sistem pembayaran. Secara general, ini juga merupakan upaya dalam mengakselerasi ekonomi keuangan digital.

Hingga saat ini, BI telah melakukan peluncuran Sandbox 2.0 yang merupakan penyempurnaan dari regulatory sandbox sebelumnya. Di mana, Sandbox sebelumnya merupakan ruang uji coba inovasi, khususnya bagi industri sistem pembayaran untuk menguji coba produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnisnya.

Sedangkan, pada Sandbox 2.0 ini mencakup tiga fungsi, yaitu:

1. Fungsi innovation lab

Fungsi innovation lab merupakan sarana pengembangan inovasi yang belum atau telah digunakan pada industri sistem pembayaran secara terbatas.

2. Fungsi industrial sandbox

Fungsi ini digunakan sebagai sarana inovasi yang telah digunakan di industri pembayaran dan perlu didorong untuk digunakan secara luas

3. Fungsi regulatory sandbox

Fungsi ini digunakan sarana untuk inovasi terhadap kebijakan atau ketentuan dalam sistem pembayaran.

Dengan adanya Sandbox 2.0 ini investor lebih mudah ketika akan melakukan inovasi. Selain itu, Bank Sentral juga bisa lebih mudah menyediakan fasilitas sarana dan prasarana digital workplace yang mengusung tema digital nusantara.

Erwin sebagai Kepala Departemen Komunikasi menjelaskan bahwa dalam prosesnya BI memiliki 5 kelompok kerja yang saling berkaitan. Hal ini terkait dengan peningkatan kinerja QRIS maupun open API yang sejauh ini sudah banyak diterapkan oleh perbankan dalam bersinergi dengan banyak tekfin.

a. Kelompok kerja pertama:

Kelompok ini bekerja untuk menyusun standardisasi open API. Di mana, sistem integrasi saat ini sudah berjalan namun belum terstandardisasi secara baik. Open API artinya pihak perbankan memberikan kesempatan kepada IT perusahaan e-commerce atau fintech melakukan integrasi system to system, untuk memperoleh manfaat maksimal.

b. Kelompok kerja kedua:

BI mencoba memodernisasi beberpa sistem yang telah berjalan seperti ritel payment dan BI Fast. Otoritas moneter berharap sistem ini bisa bekerja secara real time dan lebih terjangkau. Kelompok ini memiliki tugas mendukung interface terintegrasi di perbankan dan semua industri yang berkecimpung di sistem pembayaran.

c. Kelompok kerja ketiga:

Kelompok ini akan bertugas membahas infrastruktur financial market Indonesia. Di mana, saat ini Indonesia memiliki infrastruktur yang belum seluruhnya terstandardisasi global.

d. Kelompok kerja keempat:

Kelompok ini membahas tentang pemanfaatan dan pengolahan data. Dengan segala upaya yang dijalankan saat ini sudah banyak data yang terkumpul yang seharusnya bisa menjadi sebuah big data yang dapat dioptimalkan pelaku jasa keuangan untuk menganalisis kualitas pembiayaan nasional. Di mana, data yang terkumpul tersebut akan menjadi sebuah informasi yang dapat digunakan pelaku usaha UMKM untuk membuat sebuah perhitungan akunting yang lebih baik.

e. Kelompok kerja kelima:

Kelompok ini akan lebih membahas tentang pengaturan. Kelompok ini telah bekerja sangat agresif pada tahun lalu dengan menerbitkan PBI sistem pembayaran. Di dalamnya itu juga sudah ada penguatan sandbox dan QRIS. Nantinya, BI akan mendorong QRIS bisa digunakan untuk tarik dan setor tunai.

Isu Merger Tokopedia dan Gojek

Adapun, beberapa hari terakhir, muncul desas-desus yang mengabarkan bahwa dua perusahaan rintisan berstatus unicorn di Indonesia yakni Tokopedia dan Gojek berencana untuk merger dan melantai di bursa saham.

Disebutkan lebih jauh, bahwa rencana penawaran umum saham perdana kedua perusahaan yang akan disatukan ini akan dilangsungkan di dua negeri sekaligus. 

Dilansir dari pemberitaan Bisnis, J.P. Morgan Sekuritas Indonesia yakin bahwa ekonomi digital Indonesia saat ini berada di kisaran US$50 miliar, setara dengan 5% gross domestic product atau kurang dari 10 persen kapitalisasi pasar modal. 

 “Melihat dari valuasi 4 perusahaan berbasis teknologi di Indonesia, jika Gojek (bervaluasi US$10 miliar) dan Tokopedia (bervaluasi US$7,5 miliar) listing dengan valuasi saat ini, berdasarkan penggalangan dana teraktual, mereka akan berada dalam peringkat 10 saham dengan kapitalisasi terbesar di Bursa Efek Indonesia,” jelas tim riset J.P Morgan.    

Nah, sudah yakin kan dengan potensi ekonomi digital yang mayoritas berasal dari perusahaan startup? Mungkin ini saatnya kamu sudah mulai menambal investasi di emiten-emiten teknologi yang terdaftar di bursa saham Indonesia lewat transaksi di aplikasi investasi Ajaib.

Artikel Terkait