Analisa Saham, Saham

Saham GJTL Tetap Bersinar di Masa Pandemi COVID-19

Ajaib.co.id – Tahun 1951 tercatat sebagai tahun berdirinya PT Gajah Tunggal Tbk. Emiten berkode saham GJTL ini memulai produksi bannya dengan ban sepeda. 

PT Gajah Tunggal Tbk terus memperluas produksi dengan membuat variasi produknya. Pada tahun 1971, PT Gajah Tunggal Tbk mulai memproduksi ban sepeda motor tahun, diikuti oleh ban untuk mobil penumpang dan komersial di tahun 1981. Awal dekade 1990-an, PT Gajah Tunggal Tbk mulai memproduksi ban radial untuk mobil berpenumpang dan truk.

PT Gajah Tunggal Tbk terus berkembang beberapa tahun selanjutnya hingga menjadi produsen ban terpadu terkemuka di Asia Tenggara. Pada tahun 1990, GJTL resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dilihat dari Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir 

Kinerja laba dan pendapatan GJTL berlawanan arah sepanjang tahun 2020. Maksudnya, GJTL mencetak kenaikan laba bersih. Menariknya, penjualan GJTL mengalami penurunan pada tahun 2020.

Merujuk laporan keuangan perusahaan, emiten yang sahamnya turut dimiliki oleh Lo Kheng Hong ini membukukan kenaikan laba bersih dari Rp269,1 miliar pada Desember 2019 menjadi Rp318,9 miliar pada Desember 2020.

Sementara itu, penjualan GJTL tahun 2020 turun dibandingkan tahun 2019. Penjualan GJTL tahun 2019 tercatat Rp15,94 triliun, sedangkan pada tahun 2020 sebesar Rp13,43 triliun. Artinya, penjualan GJTL tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 15,75% jika dibandingkan tahun sebelumnya. 

Penjualan yang berasal dari pihak ketiga memberi kontribusi terbesar dari pos penjualan. Namun, kontribusinya turun secara tahunan. Berbeda dengan penjualan dari pihak berelasi yang membaik, dari Rp2,72 triliun menjadi Rp2,92 triliun.

Komponen LabaDesember 2019Desember 2020
Penjualan bersih Rp15,9 triliunRp13,4 triliun
Laba bersih Rp269,1 miliarRp318,9 miliar
Beban Pokok PendapatanRp13,1 triliunRp10,7 triliun
LiabilitasRp12,6 triliunRp10,9 triliun
EkuitasRp6,2 triliunRp6,8 triliun

Riwayat Kinerja

Kinerja GJTL bertumbuh cukup stabil dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, laba bersih GJTL meningkat signifikan dalam rentang tahun 2017– 2019. GJTL juga berhasil menjaga pertumbuhan aset dan liabilitasnya cukup konstan.

Berikut ini rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sejumlah komponen kinerja GJTL periode 2017 hingga 2019:

KomponenCAGR 2016-2018
Penjualan bersih 11,2%
Laba bersih83,2%
Total Aset3,5%
Total Liabilitas0,9%

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

GJTL termasuk emiten yang tidak rutin membagi dividennya. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, misalnya, GJTL absen membagi dividen. Kebijakan dividen yang dilakukan oleh Perusahaan mengacu pada Pasal 71 ayat (3) Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT).

TahunDividen per SahamJumlah yang dibayarkan (miliar)
2018
2019

Absennya GJTL dalam pembagian dividen disebabkan oleh sejumlah faktor. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) GJTL tahun 2019, misalnya, memutuskan tidak akan membagikan dividen kepada pemegang saham seiring untuk tahun buku 2018 karena masih mengalami kerugian kurs akibat depresiasi rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) tahun 2018.

Namun, bukan berarti GJTL tidak pernah membagikan dividennya. Pada tahun 2016 lalu, contohnya, GJTL memutuskan membagi dividen tunai sebesar Rp17,4 miliar atas kinerja perusahaan tahun 2016. Nilai tersebut setara dengan 2,7% dari total laba bersih yang diraih GJTL tahun 2016.

Prospek Bisnis GJTL

Pandemi COVID-19 turut berdampak pada industri ban, termasuk GJTL. Meski begitu, GJTL berhasil menekan sejumlah pos beban sepanjang tahun 2020, termasuk beban penjualan yang membaik dari angka Rp1,03 triliun pada 2019 menjadi Rp725,33 miliar tahun berikutnya.

Kinerja GJTL yang paptut diapresiasi juga terlihat pada menurunnya beban umum dan administrasi dari Rp674,87 miliar menjadi Rp611,42 miliar. Tak hanya itu, beban keuangan GJTL secara tahunan juga turun, sebesar Rp872,87 miliar pada 2019 menjadi Rp745,05 setahun berselang. 

Dunia usaha optimis program vaksinasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Begitu pula dengan GJTL yang bisa menyambut tahun 2021 lebih optimis dibanding tahun 2020. Bukan tak mungkin, penjualan GJTL tahun ini minimal mendekati perolehan di tahun 2019 yang mencapai Rp15,94 triliun. Artinya, terjadi pertumbuhan penjualan hampir 20% jika terealisasi.

Kinerja GJTL yang terbilang positif meski di tengah pandemi COVID-19 tak terlepas dari keberhasilan Perseroan memanfaatkan penurunan harga bahan baku. Tak kalah penting adalah berbagai langkah efisiensi yang dijalankan selama ini membawa pengaruh positif terhadap margin laba.

Tampaknya, GJTL terus mendorong langkah-langkah efisiensi dalam segala aspek operasionalnya, misalnya dari aspek produktivitas dan utilisasi pabrik.

Di tahun ini, GJTL menyiapkan belanja modal sebesar US$30 juta sampai dengan US$40 juta. Menurut manajemen, belanja modal ini akan difokuskan pada perawatan dan peremajaan mesin-mesin dan alat berat. Di samping itu, GJTL juga berencana melunasi akuisisi tanah dari PT Softex Indonesia.

GJTL  membeli tanah dari PT Softex Indonesia yang lokasinya berdekatan dengan pabrik yang sudah ada. Di lokasi  baru ini, GJTL akan ekspansi plant truck and bus radial (TBR) tire secara bertahap. 

Dengan terus mengamati kondisi pasar, GJTL berencana menambah kapasitas produksi plant ban TBR.

Harga Saham (Kesimpulan)

Harga saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terbilang tinggi saat ini. Hal ini terlihat saat saham GJTL diperdagangkan dengan PER di 9,41 kali sama PBV 0,44 kali. Pada penutupan perdagangan, Selasa (9/3), saham GJTL menguat 6,06% ke harga Rp875 per saham.

Bagi investor saham, disarankan untuk membeli dan mengakumulasi saham GJTL secara bertahap dengan target harga Rp1.100 per saham. 

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait