Analisis Saham

Bedah Saham IPO SUNI, Industri Migas Terus Tumbuh

Bedah Saham IPO SUNI, Industri Migas Terus Tumbuh

Kali ini Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali kedatangan emiten dari sektor Energi. Emiten yang satu ini memiliki usaha yang bergerak dalam bidang perdagangan besar mesin pertambangan, peralatan dan perlengkapan, yaitu PT Sunindo Pratama Tbk, dengan kode saham SUNI.

Menariknya, pada tahun 2021 Emiten ini mendapatkan sertifikasi dari SKK Migas yang bertajuk “Sertifikat Penghargaan Nasional” dan juga pemegang “Sertifikat Lulus Kualifikasi SMHSE Kontraktor Risiko Menengah dan Tinggi” yang diterbitkan oleh Pertamina EP.

Profil Singkat Emiten

PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) mulai beroperasional pada tahun 2002, kegiatan usaha utama yang bergerak di bidang perdagangan besar mesin, peralatan dan perlengkapan lainnya, perdagangan besar atas dasar balas jasa (Fee), menyediakan produk dan jasa penunjang di bidang industri migas serta menjalankan aktivitas konsultasi manajemen lain, aktivitas penyewaan dan sewa guna tanpa hak opsi mesin pertambangan dan energi serta peralatannya dan perdagangan besar barang logam untuk bahan konstruksi. 

Perseroan mempunyai visi untuk menjadi salah satu supplier produk dan jasa terbaik dalam bidangnya dengan kualitas pelayanan sesuai standar internasional. Guna mewujudkan visi tersebut, Perseroan senantiasa mencapai dan menerapkan Sistem Manajemen dan HSE (Health, Safety, and Environment) yang berkualitas tinggi. Sampai dengan memperkuat jaringan dengan institusi terkait.

Saat sebelum melaksanakan proses Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), komposisi kepemilikan saham SUNI terdiri atas Soe To Tie Lin (85,00%), dan Willy Johan Chandra (15,00%).

Detail Rencana IPO Saham SUNI

Saham SUNI melakukan penawaran saham perdana melalui mekanisme e-IPO. Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 600.000.000 lembar saham baru yang merupakan saham biasa atas nama dengan nominal Rp100 per lembar saham, atau sama dengan 24% dari total modal yang ditempatkan setelah proses penawaran umum perdana saham kepada masyarakat dengan harga penawaran Rp300.

Berikut merupakan struktur pemegang saham setelah aksi SUNI IPO, Soe To Tie Lin (64,60%), Willy Johan Chandra (11,40%), dan Masyarakat (24%).

Penjamin pelaksana emisi efek SUNI adalah UOB-Kay Hian Sekuritas. Penjamin Pelaksana Emisi Efek menjamin dengan kesanggupan penuh (Full Commitment) terhadap terhadap sisa saham yang ditawarkan yang tidak dipesan dalam Penawaran Umum Perdana Saham Perseroan.

Jadwal Penawaran Saham IPO SUNI

Jadwal penawaran saham berdasarkan prospektus adalah sebagai berikut:

  • Masa Penawaran Awal (Masa Book Building) : 19 – 23 Desember 2022
  • Tanggal Efektif : 29 Desember 2022
  • Masa Penawaran Umum SUNI IPO : 2 – 5 Januari 2023
  • Tanggal Penjatahan : 5 Januari 2023
  • Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik : 6 Januari 2023
  • Tanggal Pencatatan Pada Bursa Efek Indonesia : 9 Januari 2023

Rencana Penggunaan Dana IPO Saham SUNI

Berdasarkan prospektus saham IPO SUNI, dana yang dihimpun dari kegiatan IPO setelah dikurangi biaya emisi  akan digunakan untuk:

1. Sekitar 40,14% akan digunakan untuk pembelian sekitar 39,96% saham PT Rainbow Tubulars Manufacture (PT RTM), anak perusahaan Perseroan yang saat ini sebanyak 60,00% sahamnya dimiliki oleh Perseroan;

2. Sekitar 42,60% akan digunakan untuk pelunasan sebagian utang usaha PT RTM kepada supplier dan modal kerja PT RTM untuk pembelian kebutuhan bahan baku dan bahan pendukung serta untuk membiayai kegiatan operasional PT RTM;

3. Sisanya sekitar 17,26% akan digunakan untuk Modal Kerja Perseroan, termasuk untuk pembelian kebutuhan bahan baku dan bahan pendukung serta untuk membiayai kegiatan operasional Perseroan. Penggunaan dana untuk pembelian kebutuhan bahan baku dan bahan pendukung serta untuk membiayai kegiatan operasional Perseroan dimaksud merupakan Operational Expenditure (OPEX).

Kinerja Laporan Keuangan SUNI

Prospektus saham IPO SUNI menunjukan bahwa dalam kinerja 2 tahun terakhir, SUNI berhasil mencatatkan kinerja yang terus bertumbuh positif, terutama pada periode secara tahunan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2022 dengan raihan Penjualan mencapai Rp245 miliar, atau naik 88% YoY dibandingkan dengan kinerja pada periode 30 Juni 2021 yang mencatatkan Penjualan sebesar Rp129 miliar. 

Alhasil berbuah manis pada Laba Komprehensif SUNI menjadi senilai Rp34 miliar atau naik 142% YoY dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun 2021 yang mencatatkan Laba Komprehensif sebesar Rp14 miliar.

Peningkatan ini terutama didukung penuh oleh hasil impresif kenaikan permintaan yang membuat harga minyak dunia melesat.

Rasio Keuangan SUNI

Berikut merupakan rangkuman rasio keuangan saham IPO SUNI selama bulan Desember 2019 hingga kinerja Desember 2021:

Data di atas mencerminkan SUNI secara fundamental dalam performa kinerja baik, dengan Rasio Profitabilitas mengalami kenaikan secara positif hampir secara keseluruhan, SUNI berhasil mencatatkan pertumbuhan EBITDA 108% YoY menjadi Rp50,06 miliar pada kinerja per Juni 2022.

Selanjutnya, pada Return on Equity (RoE) mencapai 9,93% dan Return on Asset (RoA) mencatatkan kinerja 7,29%, hal ini mengindikasikan bahwa SUNI berhasil memaksimalkan ekuitas dan aset yang dimiliki untuk memperoleh laba.

Bersamaan dengan Rasio Solvabilitas yang bersifat wajar, terlihat pada Debt to Asset Ratio (DAR) 0,27x dan Debt to Equity Ratio (DER) 0,36x , di mana masing masing rasio tersebut masih di bawah 1x. Mencerminkan saham mampu melunasi kewajiban jangka panjangnya dan memiliki kinerja yang sehat untuk melanjutkan performa ekspansif keuangan Perseroan.

Kebijakan Dividen Saham SUNI

Prospektus saham IPO PT Sunindo Pratama Tbk menuturkan bahwa pemegang saham yang tercatat dalam rekening efek berhak atas pembagian dividen saham SUNI, Perseroan berencana membagikan dividen tunai sekurang-kurangnya 10% dari laba bersih tahun berjalan Perseroan mulai tahun buku 2023 dan seterusnya.

Prospek Bisnis SUNI

Merujuk pada data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah akan menyiapkan penawaran atau lelang Wilayah Kerja (WK) Migas sejumlah 12 WK. Hal ini bertujuan untuk menarik investor berinvestasi dalam usaha hulu migas di Indonesia yang sangat potensial ke depannya.

Pemerintah telah menetapkan target lifting minyak untuk 2022 sebesar 703 ribu barel minyak per hari (BOPD), naik 6,5% dari realisasi lifting minyak pada 2021 yang hanya sebesar 660 ribu.

Peningkatan target lifting 2022 ini menyikapi dinamika perkembangan industri migas terkini, utamanya terkait kenaikan harga minyak dunia akibat kondisi supply global yang telah lama underinvestment sehingga tidak dapat memenuhi demand yang membaik saat ini dikarenakan perbaikan kondisi perekonomian secara luas. Terlebih dengan kondisi geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang juga mengganggu supply migas global, sehingga harga minyak dunia sempat menembus angka US$125 per barel, yang merupakan harga minyak tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Meskipun harga tersebut akan terus berfluktuasi, namun diyakini akan tetap pada tingkat yang tinggi.

Mengacu pada data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), realisasi investasi hulu migas tercatat senilai US$10,7 miliar atau setara dengan Rp149,8 triliun pada kinerja tahun 2021, Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan realisasi investasi tahun 2020 yang berada pada level US$10,5 miliar.

SKK Migas optimis dan yakin kebutuhan akan investasi tersebut akan makin meningkat ke depannya untuk mencapai target besar industri hulu migas, di mana Pemerintah telah menetapkan target produksi minyak sebesar 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan produksi gas sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (SCFD) pada tahun 2030.

Pada tahun 2022, target investasi untuk sektor hulu migas 2022 ditetapkan sebesar US$13,2 miliar yang sebagian besar akan digunakan untuk produksi sebesar US$8,4 miliar. Sisanya untuk eksplorasi senilai US$1 miliar, untuk sumur pengembangan US$2,9 miliar dan untuk administrasi US$900 juta. Target 2022 ini naik 23,4% dari realisasi investasi migas 2021 yang mencapai US$10,7 miliar.

Dalam trend jangka pendek, kegiatan dan investasi di sektor hulu migas diperkirakan meningkat seiring dengan membaiknya ekonomi dengan semakin tertanganinya pandemi di level global serta meningkatnya permintaan minyak seiring dengan perbaikan ekonomi.

Mengacu pada data SKK Migas, Indonesia masih memiliki peluang investasi yang sangat besar pada kegiatan hulu migas, pasalnya terdapat 128 basin yang sangat potensial untuk dieksplorasi. Dari 128 basin, 20 diantaranya sudah beroperasi, 19 sudah di drill dan ditemukan hydrocarbon dan 68 basin masih belum di drill.

SKK Migas memproyeksikan industri migas akan terus tumbuh hingga tahun 2030 – 2050 sehingga ditargetkan kegiatan produksi dan supply juga akan mengalami kenaikan. Tingginya harga minyak dunia saat ini juga membawa dampak positif bagi Indonesia dan Perseroan.

Berdasarkan kondisi makro ekonomi dan industri migas pada tahun 2022 serta penguasaan pangsa pasar yang dominan untuk produk seamless pipe tubing yang mencapai sekitar ±70% dari total market share, Perseroan meyakini dapat melanjutkan pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

Kesimpulan

Berdasarkan laporan prospektus saham IPO SUNI, diketahui secara fundamental SUNI memiliki kinerja yang meningkat positif. Berdasarkan prospek bisnis di industrinya, Perseroan meyakini bahwa industri migas akan terus bertumbuh dengan kokoh hingga tahun 2030 – 2050, didukung oleh meningkatnya permintaan untuk mendukung pemenuhan konsumsi, dan perbaikan kondisi perekonomian secara luas.

DisclaimerInvestasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait