Analisa Saham

Bedah Saham APIC yang Apik Untuk Dibahas

Sumber: APIC

Ajaib.co.id – Emiten saham APIC adalah emiten keuangan yang benar-benar apik dalam marketing, pendapatan pun naik signifikan luar biasa setiap tahunnya. Namun laba bersih yang minim membuat kita curiga, jangan-jangan ada sesuatu yang menghalangi emiten untuk membukukan laba lebih banyak. Simak selengkapnya!

Profil Emiten

PT Pacific Strategic Financial Tbk adalah perusahaan investasi yang melakukan kegiatan usahanya melalui entitas anak di bidang perantara pedagang efek (sekuritas), manajer investasi, multifinance, dan konsultasi bisnis. Perseroan juga memiliki kegiatan usaha lainnya seperti asuransi jiwa konvensional dan syariah melalui anak usahanya.  

Perseroan didirikan pada tahun 1989 dan melakukan penawaran perdana saham di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia pada tahun 2002 dengan kode saham APIC. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 11.766.313.488 lembar di harga Rp700 maka kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 8,24 Triliun.

Sebanyak 38,56% saham APIC dipegang oleh PT Pan Pacific Investama, lalu sebanyak 12,39% dari jumlah saham beredar dipegang oleh PT Pacific Indocorpora, sedangkan 49,05% saham APIC beredar di masyarakat.

Ulasan Laporan Keuangan Terakhir

Emiten yang satu ini cukup menarik perhatian karena kenaikan pendapatannya yang tidak main-main. Berikut ulasannya;

APIC sebagai emiten induk yang beroperasi melalui anak-anak usahanya di sektor keuangan mengalami kenaikan pendapatan tahun berjalan yang signifikan sebesar 318,57% dari Rp549,8 miliar di September 2019 menjadi Rp1,74 triliun di September 2020.

Kenaikan pendapatan ini juga sewajarnya diikuti oleh kenaikan laba bersih meski tidak sedramatis pertumbuhan pada pendapatan. Adapun laba bersih naik dari Rp77,89 miliar di September 2019 menjadi Rp107,54 miliar di periode yang sama di 2020. Kenaikan terjadi di seluruh akun seperti total aset, ekuitas dan liabilitas.

Sebenarnya segmen yang manakah yang mendorong pertumbuhan luar biasa pada pendapatan saham APIC? Penelusuran mendalam menemukan bahwa pertumbuhan pendapatan datang dari segmen usaha Asuransi.

Dari seluruh sumber pendapatannya yang berjumlah Rp1,74 triliun, pendapatan dari asuransi adalah sebesar Rp1,34 triliun! Kontributor pendapatan yang nilainya signifikan lainnya termasuk Hasil Investasi sebesar Rp131,27 miliar, floating profit/posisi perdagangan yang belum direalisasikan sebesar Rp108,75 miliar dan komisi underwriting sebesar Rp4,13 miliar.

Segmen asuransi memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap total pendapatan, bukan hanya itu ternyata ada peningkatan yang luar biasa juga di segmen ini! Premi bruto atau pendapatan dari perusahaan asuransi milik emiten saham APIC ini naik 476,27% menjadi Rp1,34 triliun padahal sebelumnya di September 2019 hanya berhasil meraih Rp281,35 miliar saja.

Jadi perusahaan asuransi yang dimaksud adalah PT Pacific Life Insurance atau yang disebut sebagai Pacific Life saja. Pacific Life merupakan perusahaan asuransi jiwa lokal di bawah naungan kelompok usaha PT Pacific Strategic Financial Tbk melalui PT Pacific Strategic Invesco. PT Pacific Life Insurance hingga Kuartal ke-3 tahun 2020 mampu mencatatkan perolehan premi Rp 1,34 Triliun dengan Total Aset sebesar Rp. 1,6 Triliun.

Di tahun 2020, Pacific Life Insurance menerima 3 penghargaan yakni sebagai “The Fastest Growing Insurance Companies – Life Insurance pada Infobank Insurance Award 2020 dan masuk Top 7 Best Financial Performance Insurance Companies Asset between 1 – 5 Triliun pada The 2nd Indonesia Insurance Innovation Award 2020 dari Thinknovateccom & Pikiran Rakyat dengan predikat “Sangat Bagus”. Pacific Life adalah salah satu dari 60 asuransi jiwa lokal yang menawarkan perlindungan terhadap COVID-19.

Ulasan Riwayat Kinerja

Kenaikan pendapatan usaha rupanya telah terjadi bukan hanya di tahun 2020 saja namun sudah berlangsung lama sejak bertahun-tahun lalu dengan CAGR alias pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 67,25% per tahun dari Rp255,19 miliar saja menjadi Rp1,19 triliun di akhir 2019.

Sejatinya peningkatan pendapatan mengakibatkan laba bersih terdongkrak, namun nyatanya laba bersih turun dengan kecepatan rata-rata 6,24% setiap tahunnya. Kamu bisa lihat laba bersih bahkan turun ke Rp70,39 miliar dari Rp124 miliar di tahun 2017-2018, padahal kenaikan pendapatan saat itu hampir 100%! Di sisi lain liabilitas meningkat dengan CAGR 35,18%.

Kamu bisa perhatikan bahwa kesehatan keuangan yang dilihat dari rasio utang berbanding ekuitas (DER) telah melemah menjadi 99% di 2019 dari semula 44% saja di 2017.

Yang paling tidak mengenakkan adalah rasio marjin laba (NPM) terus mengecil. Di tahun 2017 adapun NPM emiten adalah 48,9% lalu turun hingga lebih dari separuhnya menjadi 14% saja di 2018 dan menjadi 8,62% saja di 2019. Terakhir di Kuartal III-2020 dari laba yang disetahunkan diperoleh NPM sebesar 6% saja.

Cakupan Usaha

Penelusuran lebih lanjut tentang kinerja saham APIC dilakukan dengan melihat performa dari segmen usaha masing-masing.

Jadi, di atas adalah breakdown dari pendapatan usaha grup APIC yang terdiri dari segmen usaha Sekuritas, Manajer Investasi, Pembiayaan Kendaraan, Asuransi dan lain-lain. Sebagai informasi sekuritas Pacific keuntungannya berasal dari underwriting/penjaminan efek dan komisi trading efek, sedangkan perusahaan manajer investasi mendapat keuntungan dari jasa kelola investasi.

Kamu bisa lihat bahwa dari keempat segmen usaha yang berkontribusi, abaikan segmen lain-lain, Asuransi adalah satu hal yang sangat menarik dilihat dari pertumbuhannya dan dari besarnya kontribusi dari segmen ini. Sejak 2018 kontributor utama pendapatan grup APIC berasal dari usaha asuransi jiwanya.

Setiap tahunnya Pacific Life, perusahaan asuransi dalam naungan emiten saham APIC, mengalami kenaikan pendapatan usaha tahunan rata-rata  sebesar 348,46%! Dari yang hanya Rp4,87 miliar saja di 2017 menjadi satu triliun lebih di tahun 2020! Segmen usaha lainnya mengalami kenaikan yang sederhana saja, dari sekuritasnya misalnya yang bertumbuh rata-rata 12,12% saja per tahunnya. Dan Pengelolaan investasi yang tumbuh CAGR 5,59%.

Karena pertumbuhan pendapatan terbesar datang dari asuransi maka penelusuran dilanjutkan lebih detil lagi hingga ke laba-rugi masing-masing segmen usaha dan didapatlah rincian sebagai berikut;

Di atas adalah rincian laba bersih dari masing-masing segmen usaha. Kamu bisa lihat bahwa kegiatan usaha Sekuritas (underwriting dan perdagangan efek) dan Manajer Investasi (pengelolaan investasi) masing-masing sangat menggembirakan.

Jadi marjin laba rata-rata setiap tahun di usaha underwriting dan perdagangan efek adalah sebesar 30 persenan dengan marjin terbesar dicapai di tahun 2017 yaitu sebesar 64,92%.

Persentase laba per pendapatan di segmen pengelolaan investasi juga cukup baik meski tidak stabil namun masih dua digit. Terakhir per kuartal III-2020 marjin laba (NPM) di segmen usaha ini mencapai 52,14%.

Sedangkan segmen usaha Pembiayaan, Pacific Multifinance hanya membukukan laba bersih yang lebih sederhana yakni 7% hingga 15% saja. Hal ini tak biasa karena umumnya bisnis multifinance bisa membukukan marjin laba yang cukup gemuk.

Nah, Asuransi ini yang mengejutkan. Ternyata dari kontribusi pendapatannya yang luar biasa, laba bersih yang dibukukan mini sekali. Kamu jangan lihat tahun 2017 karena segmen Asuransi di saat itu mendapat keuntungan dari kelebihan pajak yang dibayarkan.

Di tahun 2018 dari Rp152,3 miliar pendapatan Asuransi ternyata laba bersihnya hanya Rp5,54 miliar saja, dengan demikian marjin labanya hanya 3,64%. Di 2019 marjin melemah lagi menjadi 2,64%. Dan per triwulan III-2020 marjin laba Pacific Life menjadi 0,23% saja!

Kamu bisa bandingkan dengan segmen usaha lain milik APIC, misalnya Sekuritasnya yang menghasilkan laba Rp42,56 miliar meski pendapatan hanya Rp106 miliar saja. Sedangkan segmen Asuransi memiliki pendapatan hingga Rp1,47 triliun dengan premi bruto Rp1,34 triliun namun laba bersihnya hanya Rp3,4 miliar saja!

Penelusuran lebih lanjut memperlihatkan beban klaim yang sangat tinggi yang Pacific Life miliki. Efisiensi beban tentu sulit dilakukan jika beban klaim terlalu besar. Rincian mengenai beban klaim menunjukkan sesuatu yang menarik.

Jadi, usaha asuransi adalah bisnis yang unik yang sejatinya bisa mendatangkan marjin laba yang tebal karena manfaat polis baru akan dirasakan nasabah ketika kemalangan terjadi. Dana yang terhimpun di masa sekarang dapat diinvestasikan oleh perusahaan, kemudian sebagian akan dibayarkan klaim saat diajukan nasabah.

Nah, sebagai pengingat per kuartal III-2020 pendapatan usaha Asuransi di APIC group adalah sebesar Rp1,47 triliun, namun beban klaimnya adalah sebesar Rp1,42 triliun. Kok besar amat bebannya? Setelah dirinci ternyata terdapat perubahan liabilitas asuransi yang sangat besar.

Pengeluaran underwriting sejatinya hanya Klaim dan Manfaat Bruto, sedangkan Perubahan Liabilitas Asuransi (PLA) itu sifatnya seperti depresiasi dan amortisasi di emiten ritel, perkapalan, properti. PLA tidak benar-benar dibayarkan, hanya dicadangkan saja. Artinya beban pokok pendapatan di Asuransi milik APIC ini hanya Rp971,8 miliar saja mestinya.

Yang ditandai kotak hijau di atas tidak benar-benar dibayarkan tapi mesti dicadangkan karena model akuntasi PSAK 62 dan 28 diberlakukan sejak 2013 pada perusahaan asuransi. Dengan PLA yang besar artinya Pacific Life menjanjikan manfaat asuransi yang benar-benar besar, saking besarnya sehingga keuntungan dari underwriting berkurang banyak.

Prospek

Sebenarnya pandemi menjadi keuntungan tersendiri bagi emiten karena produk asuransi perlindungan jaminan kesehatan Covid-19 dari Pacific Life, perusahaan asuransi grup APIC, mendulang pendapatan yang sangat besar.

Namun dengan outlook ekonomi yang lebih baik dari tahun 2020 tentu tahun 2021 akan mendatangkan keuntungan bagi segmen usaha Sekuritas, Manajer Investasi dan Pembiayaan di bawah naungan APIC. Lagipula marjin laba lebih tebal dibukukan segmen-segmen usaha selain asuransi.

Kesimpulan

Setiap tahun emiten membukukan kenaikan atas total pendapatan yang terjadi secara signifikan dengan CAGR sebesar 67,25%. Anehnya laba bersih tidak bergerak kemana-mana, dan malah terkoreksi 6,7% per tahun.

Kenaikan pendapatan utamanya berasal dari segmen usaha Asuransi yang naik 300-an persen setiap tahunnya. Sebagai bayangan betapa besarnya segmen ini kamu bisa lihat fakta bahwa total pendapatan di 3Q20 adalah sebesar Rp1,74 triliun, sebesar Rp1,47 triliun datang dari segmen usaha Asuransi.

Pacific Life, perusahaan asuransi di bawah naungan APIC, memang bukan kaleng-kaleng. Perusahaan ini mendapat tiga penghargaan di tahun 2020 sebagai salah satu asuransi jiwa terbaik di Indonesia. Di tahun-tahun sebelumnya ada lima penghargaan lainnya yang diraih Pacific Life.

Proses underwriting berjalan baik sekali dengan peningkatan premi bruto lebih dari 100% setiap tahunnya. Hal ini disinyalir karenakan janji manfaat asuransi yang sangat besar hingga mencapai Rp457 miliar yang tampak dari Perubahan Liabilitas Asuransi yang berisikan akun seperti liabilitas manfaat dan klaim di masa depan. Oleh karenanya marjin laba dari Asuransi ini mini sekali, terakhir bahkan tidak sampai 1%.

Segmen usaha lainnya cukup baik dengan kenaikan pendapatan dan laba yang cukup baik dan menyisakan marjin laba yang cukup tebal khususnya di segmen Sekuritas. Investasi yang dilakukan APIC terhitung baik dengan peningkatan floating profit hasil kelolaan yang meningkat menjadi lebih dari Rp100 miliar, padahal sebelumnya hanya Rp34 miliaran saja di 2019.

Pandangan penulis pribadi tentang kualitas manajemen APIC dalam mengelola bisnisnya adalah Sangat Baik, hanya saja manfaat asuransi yang dijanjikan terlalu besar. Ketika klaim banyak terjadi, maka keuntungan underwriting menjadi minim sekali.

Karena itulah meski pendapatan emiten naik signifikan, utamanya dari asuransi, tapi laba yang dibukukan tidak banyak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya. Itu karena marjin laba asuransi sangat tipis karena manfaat asuransi yang diberikan nilainya sangat besar.

Disclaimer: Penyebutan saham dan analisa dalam artikel ini bukan rekomendasi. Segala posisi transaksi yang diambil oleh pembaca berkaitan dengan saham yang disebutkan tidak akan mengikat penulis secara hukum. Penulis tidak memiliki saham yang disebutkan sehingga analisa bebas dari bias. Pembaca diharapkan melakukan analisa lanjutan terkait segala posisi transaksi yang diambil atas saham yang disebutkan setelah membaca artikel ini.

Artikel Terkait