Analisa Saham, Saham

Terpuruk di 2020, Emiten SAME Berhasil Cuan di Q3 2021

Sumber: OMNI Hospitals

Ajaib.co.id – PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) merupakan perusahaan yang berdiri pada tanggal 13 November 1984. Kemudian, perusahaan memulai kegiatan bisnisnya pada tahun 1984. 

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan tercatat ruang lingkup kegiatan SAME yakni, berusaha dalam bidang kesehatan. Kegiatan usaha utama dari SAME, di antaranya, Rumah Sakit, Klinik, Poliklinik, Balai Pengobatan; Rumah Sakit Spesialis dan Poliklinik Spesialis (Rumah Sakit atau Poliklinik Mata, THT, Kulit, Jiwa, Paru-paru, Kanker dan pelayanan penunjang kesehatan lainnya seperti Laboratorium, Sanatorium serta kegiatan usaha terkait); Rumah sakit bersalin. Kegiatan usaha SAME saat ini adalah memiliki dan mengelola OMNI Hospitals Pulomas.

Pada tanggal 27 Desember 2012, SAME mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Pernyataan efektif tersebut untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham SAME (IPO) kepada masyarakat sebanyak 180.000.000. Dengan nilai nominal Rp100,- per saham saham dengan harga penawaran Rp400,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 11 Januari 2013.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham SAME.

Pandemi Bikin Bisnis Rugi Usaha SAME Membengkak di 2020

Pandemi COVID-19 ternyata memengaruhi kinerja bisnis untuk perusahaan di sektor Kesehatan. Salah satunya, emiten SAME yang membukukan kinerja dengan kurang memuaskan sepanjang tahun 2020 lalu. Emiten berkode saham SAME ini mencatatkan penurunan dari sisi top line maupun bottom line.

Dilihat dari laporan keuangannya, pada tahun 2020, SAME mengalami penurunan pendapatan bersih yang terhitung masih tipis 4,10% year on year (yoy) menjadi Rp507,62 miliar. Padahal di tahun sebelumnya, pendapatan SAME bisa mencapai Rp529,32 miliar.

Secara rinci pendapatan medis mendominasi sebesar 50,27% terhadap pendapatan atau sebesar Rp255,2 miliar. Meski demikian, kontribusi dari penunjang medis tersebut terhitung turun 1,73% yoy dari sebelumnya Rp259,68 miliar.

Kemudian, dilihat secara geografis-nya, OMNI Pulomas masih menyumbang paling besar terhadap pendapatan mencapai Rp146,99 miliar. Perolehan tersebut turun 11,31% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp165,73 miliar. Kemudian, penurunan pendapatan juga harus menimpa OMNI Alam Sutera mencapai 18,42% yoy menjadi Rp199,3 miliar.

Sementara itu, untuk OMNI Cikarang dan OMNI Pekayon justru mengalami peningkatan masing-masing 22,15% yoy dan 50,32% yoy. Untuk OMNI Cikarang membukukan pendapatan Rp78,03 miliar, sedangkan OMNI Pekayon berkontribusi Rp83,29 miliar.

Meskipun pendapatan mengalami penurunan, perseroan masih mampu memperoleh laba bruto hingga Rp232,04 miliar. Angka ini naik 9,21% yoy. Adapun pertumbuhan ini tidak lepas dari beban pokok pendapatan yang mampu ditekan hingga 13,02% yoy menjadi Rp275,58 miliar.

Namun, untuk rugi usaha SAME justru meningkat tajam hingga Rp263,01 miliar. Padahal pada tahun 2019, SAME hanya menanggung rugi usaha hingga Rp28,14 miliar saja. Salah satu penyebab rugi usaha membengkak di tahun 2020 adalah pembengkakan akun rugi penurunan nilai aset tetap menjadi Rp272,42 miliar dari Rp33,86 miliar.

Rugi usaha yang meningkat signifikan ini membuat rugi neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga Rp449,46 miliar. Padahal, sepanjang tahun 2019 SAME menanggung kerugian Rp 114,38 miliar.

Bisnis SAME Mulai Rugi Sejak 2019

Terlepas dari kondisi pandemi, emiten rumah sakit PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) sudah membukukan kerugian pada 2019. Hal ini bisa terlihat dari penurunan penjualan dan laba kotor SAME pada 2019. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah).

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan 529.320 
952.082 
775.567 
Laba kotor212.481 
425.053 
356.639 
Laba (Rugi) bersih(114.385) 
58.883 
72.015 

Dari data tersebut, secara penjualan SAME memang terus mengalami penurunan di 2019 menjadi Rp529 miliar dari perolehan pendapatan Rp952 miliar pada 2018.

Penurunan ini pun diikuti dengan menurunnya perolehan laba bruto yang hanya Rp212 miliar turun dari sepanjang tahun 2018 yang laba kotornya mencapai Rp425 miliar. Perusahaan pun harus menelan kerugian hingga Rp114 miliar.

Perseroan memang membenarkan jika dampak pergeseran segmentasi pasar di 2019 mengakibatkan melemahnya posisi keuangan perusahaan. 

Aset perseroan per akhir tahun 2019 mengalami penyusutan 11,7% dari nilainya di 2018, menjadi Rp2,23 triliun. Hal ini utamanya disebabkan oleh penurunan sebesar Rp310,9 miliar dari aset lancar Perseroan di 2019, yang terutama terdiri dari kas dan setara kas serta piutang usaha. 

Perusahaan melihat ini sebagai efek yang tak terhindarkan dari perubahan arah strategis bisnis SAME. Bagaimanapun juga, perseroan tetap optimis bahwa kinerja keuangan kami di tahun-tahun mendatang akan menunjukkan perbaikan, saat strategi bisnis baru SAME mulai menunjukkan hasilnya. 

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis SAME saat ini sedang kurang sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA-5,12%
ROE-11,70%
EBITDA16,18%
CR0,51X
DER1,28X

Bagaimana Prospek Bisnis SAME Ke depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) sudah memperlihatkan perbaikan kinerja bisnisnya di awal 2021 ini. Setelah terpuruk dan harus menelan kerugian lebih dalam pada 2020. Perseroan berhasil membukukan pertumbuhan kinerja yang memuaskan sepanjang tiga bulan pertama tahun 2021. 

SAME memperoleh kenaikan pendapatan bersih mencapai 60,25% secara tahunan menjadi Rp218,94 miliar. Capaian ini terhitung meningkat bila dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun 2020 yang tercatat Rp136,62 miliar. 

Dilihat dari laporan keuangannya, untuk lini bisnis berupa penunjang medis masih menyumbang pendapatan sebesar Rp103,01 miliar. Kontribusi tersebut membaik dibandingkan dengan kuartal I tahun 2020 yang dibukukan Rp69,60 miliar. 

Sehingga kenaikan dari sisi pendapatan tersebut mampu menyelamatkan SAME dari kerugian. Pada kuartal I/2021, SAME berhasil mencatatkan laba bersih hingga Rp39,26 miliar. Perolehan ini jauh lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu, karena SAME menanggung rugi hingga Rp17,77 miliar. 

Selain itu, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk memiliki rencana untuk melakukan penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Emiten pengelola rumah sakit OMNI ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 5,71 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham.

Adapun dana dari rights issue akan digunakan untuk ekspansi atau perluasan bisnis dan investasi usaha. Salah satunya, dengan pengambilalihan perusahaan terafiliasi berkaitan dengan kegiatan usaha rumah sakit, yaitu PT Elang Medika Corpora (EMC) dari PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Untuk nilai pengambilalihan itu mencapai Rp1,35 triliun.

Dari aksi korporasi pengambilalihan ini diharapkan perseroan bisa meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi operasional. Hal tersebut diwujudkan dengan sinergi antara EMC dan perusahaan anak dalam grup perusahaan.

Mengutip dari kontan.co.id, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengungkapkan aksi right issue ini sekilas tampak menarik karena dana yang dihimpun dimanfaatkan untuk ekspansi bisnis. Namun dia mengingatkan investor untuk melihat prospek bisnis dari keputusan perusahaan ke depan.

Karena di sisi lain yang perlu dilihat dari perusahaan adalah targetnya. Perusahaan yang akan diakuisisi itu ke depannya akan memberikan nilai tambah seperti apa. 

Reza pun merekomendasikan hold untuk saham SAME ini. Dengan target harga Rp500 per saham. Rekomendasi ini turut mempertimbangkan likuiditas cash dari emiten-emiten rumah sakit di tengah pandemi COVID-19.

Untuk diketahui, rumah sakit memang mulai mengalami pemulihan volume kunjungan pasien. Namun perlu dipertimbangkan untuk likuiditas cash apalagi di tengah pandemi.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait