Saham

Yuk Intip Pergerakan Saham KAEF di Tengah Wabah Corona

saham kaef

Ajaib.co.id – Ingin mengetahui bagaimana nasib saham KAEF di tengah pandemi virus corona? Jika iya, simak ulasan berikut ini.

PT Kimia Farma Tbk atau yang dikenal dengan nama emiten KAEF yang diperdagangkan di Bursa Saham Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan di tengah pandemi virus corona. Perusahaan farmasi dengan pelat merah ini dalam catatan keuangannya mengalami kerugian hampir Rp13 miliar atau lebih tepatnya mengalami kerugian Rp12,72 miliar pada tahun 2019. Kerugian ini tentunya sangat jauh dibandingkan dengan keuntungan yang berhasil dikantongi perusahaan obat tersebut pada periode yang sama di tahun sebelumnya yakni tahun 2018 yang senilai Rp491,56 miliar.

Di sisi lain, emiten KAEF berdasarkan laporan keuangan tahunan yang dirilis perusahaan pada Jumat ini pekan ini, perusahaan sudah memperoleh pendapatan perusahaan yang terbilang naik 11,12 persen secara year on year (YoY) atau senilai Rp9,40 triliun dari sebelumnya yang berada pada nilai Rp8,45 triliun.

Teramat disayangkan dalam kondisi pandemic virus corona, kenaikan pendapatan dari perusahaan KAEF ini juga sekaligus membuat beban pokok daripada penjualan farmasi di perusahaan naik menjadi Rp5,89 triliun dari yang sebelumnya hanya Rp5,09 triliun.

Di sisi lain, terdapat sebuah bentuk beban usaha yang juga naik menjadi Rp3,21 triliun dari yang sebelumnya hanya Rp2,59 triliun. Beban daripada bunga juga naik signifikan dan menjadi Rp497,96 miliar dari yang sebelumnya hanya Rp227,21 miliar. Hal ini pada dasarnya terjadi akibat daripada kenaikan dari beban bunga dan juga beban provisi bank yang kenaikannya hampir dua kali lipat dari biasanya.

Adapun kerugian KAEF dari selisih kurs mata uang asing yang ada pada periode tersebut juga meningkat menjadi Rp5,05 miliar dari nilai kurs sebelumnya senilai Rp2,58 miliar.

Selanjutnya nilai aset lancar daripada perusahaan Kimia Farma di akhir tahun yang lalu juga tercatat mencapai nilai Rp18,35 triliun atau naik dari yang sebelumnya Rp11,32 triliun. Kenaikan ini tentunya terdiri daripada aset lancar yang bernilai Rp7,34 triliun dan juga bentuk daripada aset tak lancar yang senilai Rp11 triliun.

Liabilitas juga mengalami peningkatan yang mana menjadi Rp10,93 triliun dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat senilai Rp7,18 triliun. Liabilitas secara jangka pendek dan juga liabilitas secara jangka panjang masing-masing tercatat naik menjadi Rp7,39 triliun dan juga Rp3,54 triliun.

Adapun nilai daripada ekuitas total pada akhir periode tahun 2019 yang mencapai senilai Rp7,41 triliun, nilai tersebut bertambah dari Rp4,14 triliun, sehingga memperoleh total liabilitas dan ekuitas KAEF yang sampai dengan akhir tahun lalu mencapai Rp18,35 triliun yang mana ini naik dari Rp11,32 triliun.

Namun, pada perdagangan pekan ini menjelan penutupan perdagangan pada sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terpantau kembali melesat melanjutkan kenaikan impresif periode sebelumnya. Adapun pemicu daripada penguatan IHSG yakni masih sama, yakni rally bursa saham AS (Wall Street) yeng terjadi didorong akibat kebijakan stimulus fiskal jumbo senilai 2 triliun dollar AS yang tidak lama lagi akan akan mulai dikucurkan.

Saham KAEF juga terpantau masuk kedalam saham yang cukup untuk mendorong penguatan IHSG dalam perdagangan Kamis dan Jumat. Pada perdagangan Kamis, saham KAEF mengalami auto reject atas (ARA) karena menguat 25 persen. Pada pukul 11.50 WIB, saham KAEF kembali melesat 25 persen di level Rp1.625 per saham. Sepekan terakhir ini saham KAEF berhasil meroket 171 persen dan sebulan terakhir melonjak 152 persen.

Adapun penguatan saham KAEF ini terjadi lantaran perusahaan farmasi milik BUMN ini telah menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan produsen vaksin asal China yang sudah berhasil menemukan vaksin untuk virus corona. Namun demikian, produksi vaksin ini tentunya tak bisa serta merta dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.

Perusahaan saat ini mengaku masih menunggu waktu agar bisa melakukan produksi vaksin secara massal vaksin untuk mengakhiri pandemic virus corona (COVID-19) di Indonesia.

Adapun dalam proses pembuatan vaksin corona ini cukup kompleks, namun jika seluruh proses dilakukan sendiri maka dari itu tentunya perusahaan akan melakukan koordinasi dengan lembaga penelitian baik lembaga penelitian dalam negeri maupun lembaga penelitian luar negeri untuk melihat dan melacak sejauh mana proses penelitian vaksin ini sudah dilakukan.

Apabila proses pada lembaga riset lain saudah dilakukan, maka perusahaan kimia farma hanya tinggal melanjutkan proses lainnya yang dipastikan proses ini akan sangat mempersingkat proses produksi vaksin.

Seperti kita ketahui bersama, negara China sudah mengawali corona sejak awal tahun 2020, penggunaan vaksin COVID-19 juga sudah di prosuksi dan hanya tinggal memasarkannya secara massal.

Kimia Farma menyebut mampu memproduksi 3 juta produk chloroquine. Perusahaan juga juga akan meminta bantuan dari negara Jepang untuk pengadaan Avigan, yang mana obat ini dijuga disebut-sebut bisa menjadi penawar untuk melawan virus corona atau covid-19.

Kombinasi dari dua obat tersebut selanjutnya akan dipesan untuk digunakan dalam mengobati pasien yang sudah positif terinfeksi virus corona. Avigan sudah dipesan sebanyak 5.000 obat dan saat ini dalam proses pemesanan sebanyak 2 juta obat dan Chloroquine sudah siap dipesan 3 juta.

Bacaan menarik lainnya:

Halim, A. (2005). Analisis Investasi. Jakarta: Alfabeta


 Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait