Analisa Saham

Mengulik Potensi Saham KAEF di Tahun 2021

Profil PT Kimia Farma Tbk (KAEF)

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) merupakan perusahaan industri farmasi pertama yang didirikan di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1817. Saat awal didirkan perusahaan ini bernama NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co.

Kemudian, didasarkan pada kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda pada masa awal kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi pada tahun 1958. Peleburan perusahaan ini menjadi Perusahaan Negara Farmasi (PNF) Bhinneka Kimia Farma.

Selanjutnya, pada tanggal 16 Agustus 1971, ada perubahan bentuk dari badan hukum PNF menjadi Perseroan Terbatas. Alhasil nama perusahaan farmasi ini berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

PT Kimia Farma Tbk Melakukan pencatatan saham perdana untuk publik (IPO) pada 4 Juli 200. Perusahaan ini menggunakan kode emiten KAEF dengan komposisi saham 90,025% milik pemerintah dan 9,975% milik publik.

Namun, melalui adanya proses inbreng yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 28 Februari 2020, kepemilikan saham milik KAEF, berupa 4.999.999.999 saham seri B dialihkan kepada PT Biofarma.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Dari laporan keuangan per September 2020, KAEF berupaya mengatasi tekanan pandemi yang menyebabkan turunnya permintaan pasar sebagai imbas dari pembatasan sosial di tengah pandemi ini.

Namun, dilihat dari penjualan perusahaan selama sembilan pulan pertama 2020 justru mengalami kenaikan tipis 2,43% YoY menjadi Rp7,04 triliun dari periode yang sama pada tahun 2019 sebesar Rp6,87 triliun.

Hal ini bisa dipahami, karena produk yang dihasilkan KAEF merupakan barang-barang yang sangat dibutuhkan di tengah pandemi. Utamanya produk obat-obatan dan alat kesehatan.

Meski demikian, terlihat ada penurunan laba bersih perusahaan. Di mana pada Q3 2020 laba bersih perusahaan tercatat mencapai sekitar Rp45,3 miliar menurun dari periode yang sama tahun 2019 yang mencapai Rp60,9 miliar.

Ini kemungkinan perusahaan mengalami kenaikan biaya beban produksi. Seperti diketahui, di masa pandemi ini sempat kesulitan mencari bahan baku yang terbatas di tambah harga yang meningkat.

Berikut ini laporan kinerja keuangan KAEF (dalam jutaan rupiah):

Meski demikian untuk margin kotor KAEF mengalami kenaikan menjadi 37,40% pada Q3 2020, dibandingkan dengan Q3 2019 sebesar 36,5%. Lebih lanjut, margin penjualan dan laba bersih KAEF justru menurun tipis di tengah pandemi.

Untuk margin laba bersih mengalami penurunan menjadi 0,53% di Q3 2020 dibandingkan dengan Q3 2019 yang sebesar 0,88%

Berikut ini kinerja margin KAEF:

Upaya KAEF untuk meningkatkan kinerja sudah terlihat pada September 2020. Didukung dengan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan konsumsi rumah tangga tumbuh negatif 4,04% per September 2020.

Kinerja perusahaan dalam memperoleh keuntungan atau laba sudah terlihat. Meskipun perolehan margin laba bersih menurun dibandingkan September 2019 lalu. Hal ini menandakan perusahaan masih tertekan dengan krisis ekonomi selama pandemi ini.

Selanjutnya mari kita bahas dulu rasio-rasio keuangan umum KAEF. Berikut ini datanya:

Dari rasio-rasio tersebut menunjukkan kalau kondisi bisnis KAEF ini justru diuntungkan di tengah pandemi. ROA dan ROE yang naik menunjukkan kemampuan perusahaan ini dalam memperoleh keuntungan di sepanjang 2020.

Perusahaan berhasil memanfaatkan peluang dari sektor farmasi atau kesehatan yang menjadi pemain utama pada sektor ekonomi di tengah merebaknya virus Covid-19 ini.

Adapun perusahaan masih berkutat dengan utang karena terlihat dari rasio utang terhadap ekuitas (DER) di level yang cukup tinggi. Dengan DER berada di level 158,20% di mana angka ini menandakan perusahaan memenuhi pembiayaan operasional lewat bantuan utang.

Pasalnya perusahaan yang sehat keuangannya ditunjukan dengan rasio DER di bawah angka 1 atau di bawah 100%. Kondisi ini memang bisa dikatakan wajar, mengingat saat ini sektor penting seperti kesehatan dan farmasi mendapatkan kucuran bantuan dana berupa pinjaman dari pemerintah.

Riwayat Kinerja

Sepanjang 2020 ini memang daya beli masyarakat yang lemah memengaruhi ekonomi domestik. Namun, KAEF salah satu perusahaan yang bisa bertahan dan meraih keuntungan.

Adapun untuk data rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/ CAGR) sejumlah komponen kinerja KAEF periode 2015 hingga 2019:

Tingkat pertumbuhan dalam 5 tahun terakhir mencerminkan bisnis KAEF yang tumbuh. Namun, dalam perolehan laba justru sempat mengalami kerugian. Meski begitu, pada 2020, persero membuat pandemi menjadi momentum perbaikan bisnis seperti yang sudah dibahas sebelumnya terkait perolehan laba bersih perusahaan.

Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

KAEF merupakan salah satu perusahaan yang sempat memberikan dividen tunai kepada investornya. Setidaknya hingga tahun 2018 KAEF masih memberikan dividen.

Namun, berdasarkan data RTI, pada 2019, KAEF tidak memberikan dividen perusahaan pada investor. Berikut daftar pembagian dividen selama tiga tahun terakhir:

Prospek Bisnis KAEF

PT Kimia Farma Tbk terus berusaha untuk menjaga kinerja dari lini keuangan dengan upaya untuk meningkatkan penjualan, efisiensi beban usaha, dan pengelolaan modal kerja.

Sementara itu dari sisi operasional, perusahaan farmasi milik negara itu berkomitmen untuk terus melakukan pemenuhan kebutuhan pemerintah baik dalam hal penanganan Covid-19 maupun kebutuhan pemerintah dan masyarakat dalam hal layanan kesehatan secara general.

Berbicara mengenai kinerja perseroan hingga triwulan ketiga tahun 2020, KAEF berhasil membukukan penjualan senilai Rp7,04 triliun atau tumbuh 2,42% secara year-on-year (yoy).

Meskipun sudah mengumpulkan pendapatan yang besar, namun laba bersih yang diterima perusahaan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu. Dengan penurunan sebesar 11,09%. Penurunan ini karena beban bunga yang mengalami peningkatan sebesar 25,39% yoy.

Sementara itu, Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) KAEF mengalami pertumbuhan 40,14% dari periode yang sama tahun 2019 yakni dari Rp565,13 miliar menjadi Rp791,95 miliar. Sementara itu, laba operasional juga mengalami pertumbuhan sebesar 17,57% menjadi Rp504,54 miliar.

Kimia Farma juga menargetkan untuk bisa menurunkan nilai impor bahan baku obat (BBO) sampai 25% pada 2024 nanti. Sehingga pelaksanaan peraturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) industri farmasi menjadi perhatian penting.

Adanya target penurunan BBO pada pabrikan perlu mendapat dukungan dari pemerintah. Sehingga akan diwujudkan melalui rencana kontribusi KAEF pada penurunan BBO impor mencapai 20,52% menjadi 74,48% pada 2024.

Harga Saham KAEF (Kesimpulan)

PER dan PBV KAEF saat ini tercatat cenderung mahal bila dibandingkan dengan saham emiten farmasi lain. Menurut Data RTI per 19 Februari, PER KAEF tercatat 414,34 kali dan PBV dari KAEF ini di angka 3,02 kali.

Sebagai pembanding, saham KLBF PER dan PBV-nya ada di level 27,48 kali dan 4,36 kali. Sementara itu, PER dan PBV saham SIDO ada di level 25,70 kali dan 7,45 kali.

Kamu bisa mempertimbangkan untuk membeli saham ini, disebabkan kinerja perusahaan yang diperkirakan tetap tumbuh serta tetap memperoleh keuntungan. Hal ini terlihat dari laporan keuangan Q3 2020 tercatat ada peningkatan penjualan perusahaan.

Selain itu, perolehan laba juga masih didapatkan oleh perusahaan. Bisa dicek pada pembahasan di bagian kinerja keuangan tahun 2020.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait