Analisa Saham, Saham

Terancam Delisting, Saham HOME Belum Jadi Pilihan Investor

Sumber: Agoda

Ajaib.co.id – PT Hotel Mandarine Regency Tbk (dahulu PT Batam Jaya Hotel) (kode saham HOME) merupakan perusahaan yang berdiri pada tanggal 28 Oktober 1986. Perusahaan kemudian memulai kegiatan usaha komersial sejak tanggal 30 Oktober 1996. 

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan tercatat ruang lingkup kegiatan HOME di bidang perhotelan. Berupa penyediaan kamar untuk menginap, penyediaan tempat dan pelayanan makan minum, pelayanan pencucian pakaian/binatu, dan penyediaan fasilitas akomodasi dan pelayanan lain, yang diperlukan bagi penyelenggaraan kegiatan usaha hotel. Untuk hotel yang dimiliki HOME adalah Goodway Hotel.

Pada tanggal 03 Juli 2008, HOME mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Pernyataan efektif tersebut untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham HOME (IPO) untuk masyarakat sebanyak 300.000.000.

Dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp110,- per saham dan disertai sebanyak 198.000.000 Waran Seri I. Saham dan Waran Seri I tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 17 Juli 2008.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham HOME

Pandemi Bikin Bisnis HOME Rugi Lagi

Pada 3 Februari lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mengumumkan potensi delisting untuk saham PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME). Untuk diketahui, saham HOME sudah kena suspensi sejak 3 Februari 2020.

Sehingga sesuai ketentuan, delisting tersebut bisa dilakukan apabila suspensi sudah berjalan 24 bulan. Dengan demikian, delisting saham HOME berpotensi terjadi pada 3 Februari 2022.

Adapun untuk kinerja perusahaan sepanjang 2020 masih mengalami kerugian. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis BEI, tercatat pendapatan perusahaan turun hingga 48,9%. Dari Rp20 miliar pada September 2019 menjadi Rp10,2 miliar per September 2020.

Perusahaan pada 2020 juga masih mengalami kerugian sebesar Rp12,28 miliar. Angka kerugian ini membaik bila dibandingkan dengan periode sebelumnya pada tahun 2019 yang mencapai Rp24,33 miliar 

Bisnis MPPA Sudah Merugi Sejak 2018

Terlepas dari kondisi pandemi, emiten hotel, PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) memang sudah mencatatkan rugi sejak tahun buku 2018 hingga 2019.

Sebelum mengalami kerugian dua tahun berturut HOME sempat meraih laba sebesar Rp52 juta. Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah)

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan bersih24.90839.06765.026
Laba (rugi) kotor(13.445)(2.333)
Rugi tahun berjalan(47.007)(26.173)52

Dari data tersebut, secara penjualan HOME memang terus mengalami penurunan per tahunnya. Hingga pada 2019 terus turun, perusahaan pun masih menelan kerugian yang meningkat. 

Emiten perhotelan PT Hotel Mandarine Regency Tbk. mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan sepanjang kuartal III/2019. Berdasarkan laporan keuangan yang diakses dari Bursa Efek Indonesia, emiten dengan kode saham HOME ini membukukan pendapatan senilai Rp20,06 miliar. Perolehan ini mengalami penurunan 36,96% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp31,82 miliar.

Adapun pendapatan perseroan hanya disokong oleh klub keanggotaan Goodway Vacation Club (GVC) dan pendapatan operasional lainnya. Sementara pada tahun sebelumnya terdapat pula pemasukan dari kamar, makanan dan minuman, dan pusat kebugaran.

HOME pun menelan kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp24,33 miliar. Kerugian tersebut terhitung meningkat 35,54% y-o-y dari Rp17,95 miliar.

Sementara itu, pada kuartal IV 2019, terdapat penurunan pendapatan perusahaan sebesar 36,2%. Dari Rp39 miliar di 2018 menjadi Rp24,9 miliar pada 2019.

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis HOME saat ini sedang tidak sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA-1,90%
ROE-2,21%
EV/EBITDA-75,05
DER0,16X

Bagaimana Prospek Bisnis HOME Ke depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Perusahaan belum menyampaikan rencana strategi bisnis pada 2021 ini. Belum ada keterbukaan informasi terkait prospek bisnis. Perusahaan justru sedang menghadapi potensi delisting.

Direktur HOME Ardi Syofyan juga sempat menanggapi potensi delisting tersebut. Pihaknya menjelaskan kemungkinan delisting akan terjadi disebabkan going concern perusahaan terganggu. Hal tersebut berkaitan dengan belum terlaksananya renovasi hotel di Batam sesuai tujuan penggunaan dana hasil PUT 2.

Hingga saat ini belum ada progress dari pemegang saham pengendali/mayoritas, perusahaan masih vakum, yang berjalan hanya unit usaha goodway vacation club. Sehingga BEI melihat hal tersebut tidak ada perkembangan yang signifikan.

Data atau informasi pada keterbukaan informasi, per 31 Desember 2020 disebutkan penggunaan dana hasil PUT 2 yakni, untuk pembayaran uang muka penyertaan modal saham pada anak usaha, PT Tisarana Inti Semesta (TIS). 

Adapun penyertaan modal yang belum diaktakan tersebut sebesar Rp1,8 triliun. Selanjutnya, untuk modal kerja guna pembayaran kepada pemasok, bunga pinjaman, gaji dan tunjangan, dan biaya operasional lainnya sebesar Rp90,49 miliar.

Sementara itu, sebanyak 4,82% pada rencana awal akan digunakan untuk renovasi hotelnya di Batam, yakni Goodway Namun, hotel tersebut yang mana masih belum terlaksana hingga kini. Adapun realisasi penempatan sisa dana hasil PUT 2 sebesar Rp96,2 miliar.

Berkaitan dengan kemungkinan buyback jika terjadi delisting, ia mengaku belum bisa berkomentar karena belum dapat arahan dari pemegang saham pengendali

Melihat kondisi emiten HOME yang terancam delisting dari BEI dan kondisi finansial perusahaan. Investor disarankan untuk tidak mengoleksi saham ini. 

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait