Saham

Tanda-Tanda Saham Overvalue yang Wajib Kamu Tahu

Sumber: Pexels

Ajaib.co.id – Banyak orang meyakini bahwa kunci profit dalam investasi saham adalah membeli saham undervalue (alias murah) dan menghindari saham overvalue (alias mahal). Tapi, bagaimana cara mengetahui suatu saham sudah overvalue atau tidak? 

Suatu saham overvalue berarti pergerakan harga sahamnya tidak selaras dengan kinerja fundamentalnya. Umpamanya, harga saham meroket 5 kali lipat padahal perusahaannya merugi. Sayangnya, pengukuran kinerja fundamental versus harga saham overvalue secara aktual tidak selalu sesederhana itu. 

Bukan harga saham perusahaan tekor saja yang bisa bergerak liar. Saham dari perusahaan yang mengalami kenaikan laba terus-menerus pun bisa overvalue. Oleh karena itu, kita butuh startegi yang lebih konkrit untuk mengidentifikasi saham overvalue.

Pada praktiknya, ada banyak sekali cara untuk mengukur valuasi saham. Para pakar dan tokoh investasi bahkan seringkali menciptakan sistem valuasi mereka sendiri. 

Berikut ini tiga (3) cara untuk mengetahui tanda-tanda saham overvalue. Semuanya sangat mudah dipraktikkan, dapat dimanfaatkan oleh investor pemula maupun berpengalaman. 

1. Price-to-Earnings Ratio (Rasio P/E) 

Rasio P/E atau PER merupakan paramater yang paling umum dipergunakan untuk mengidentifikasi overvalue. Kamu dapat menemukan angka PER pada key statistics per saham di aplikasi Ajaib, RTI Business, dan lainnya. 

Kamu juga bisa menghitung sendiri rasio P/E dengan rumus harga saham dibagi EPS. Sedangkan EPS (Earning per Share) dapat diperoleh dengan rumus laba bersih dibagi jumlah lembar saham.

Setelah menemukan angka rasio P/E saham pilihanmu saat ini, selanjutnya bandingkanlah dengan rasio P/E saham tersebut pada tahun-tahun sebelumnya. Alternatif lain, kamu juga dapai membandingkan rasio P/E saham pilihanmu dengan rasio P/E saham-saham lain pada bidang usaha yang sama. Setelah itu, ada dua asumsi yang dapat dipakai dalam perbandingan ini.

Pertama: Apabila suatu emiten memiliki PER jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata historisnya, maka kemungkinan emiten ini memiliki saham overvalue

Kedua: Apabila suatu emiten memiliki PER lebih tinggi dibandingkan para pesaingnya dalam bisnis yang sama, maka kemungkinan emiten ini memiliki saham yang mahal. Ada standar PER berbeda-beda untuk setiap industri, sehingga kita tidak dapat membandingkan PER saham dari industri berbeda seperti saham komoditas versus saham perbankan.

2. Price/Earnings-to-Growth Ratio (Rasio PEG)

Sejumlah kalangan beranggapan rasio P/E kurang andal, sehingga lebih menyukai rasio PEG. Rasio PEG dihitung dari rasio P/E yang dibagi dengan tingkat pertumbuhan pendapatan perusahaan. 

Asumsinya: Semakin tinggi angka rasio PEG, maka saham semakin overvalue. Tapi, pengukuran ini juga mengandung kelemahan. Jika suatu perusahaan bergerak pada sektor siklikal, tingkat pertumbuhan pendapatan berikutnya bisa jadi jauh lebih tinggi ataupun lebih rendah daripada data historis yang sudah ada.

3. Dividend Yield 

Dividend yield adalah dividen per lembar dibagi harga pasar saham. Yield biasanya dipergunakan untuk mengukur keuntungan dividen suatu saham secara lebih objektif. 

Umpamanya saham XYZ memiliki harga Rp2000 per lembar, sedangkan dividennya Rp200 per lembar. Ini berarti saham XYZ memiliki yield sebesar 10%. Sedangkan saham ABC memiliki harga Rp500 per lembar, dengan dividen sebesar Rp80 per lembar. Ini berarti saham ABC memiliki yield 16%. 

Perbandingan yield ini menunjukkan kepada kita bahwa saham ABC lebih menguntungkan daripada saham XYZ, walaupun nominal rupiah dividen saham XYZ lebih besar. Selain itu, yield dividen sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi saham overvalue.

Coba himpun data yield dividen saham favoritmu dari tahun ke tahun. Kemudian bagi rentang yield menjadi tiga atau lima bagian mulai dari yang terendah sampai tertinggi. Apabila yield jatuh ke rentang terendahnya secara historis, maka saham kemungkinan sudah overvalue

Teknik ini tidak dapat diterapkan untuk emiten yang berkinerja negatif. Namun, ini merupakan trik cerdik untuk mengevaluasi saham-saham blue chip dan saham-saham lain yang rutin membagikan dividen.

Kesimpulan

Ada banyak cara untuk mengetahui apakah suatu saham sudah overvalue atau tidak. Tiga diantaranya adalah dengan menggunakan rasio P/E, rasio PEG, dan yield dividen. 

Saham dengan harga yang terlalu mahal akan memiliki rasio P/E dan rasio PEG lebih tinggi dibandingkan saham perusahaan lain yang menggarap subsektor bisnis yang sama. Sedangkan yield dividen yang semakin menurun dari waktu ke waktu dapat menjadi indikasi bahwa harga suatu saham blue chip sudah terlalu mahal dan sukar meningkat lebih tinggi lagi.

Investor perlu mewaspadai saham overvalue, karena harganya terlalu mahal dibandingkan dengan fondasi fundamentalnya. Seperti halnya saat membeli selimut atau barang lain, kita akan menghindari produk yang berharga terlalu mahal dan lebih memilih produk yang berharga lebih masuk akal.

Terlepas dari itu, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan: Saham overvalue belum tentu tak layak untuk investasi. Potensi pertumbuhan capital gain dari saham overvalue memang lebih rendah daripada saham undervalue. Namun, saham suatu perusahaan yang berkinerja sangat baik bisa terus meningkat meskipun sudah overvalue.

Perusahaan yang berkinerja sangat baik juga mampu memberikan dividen tiap tahun meski harga sahamnya bergerak lamban bak siput di ladang. Orang yang berinvestasi jangka panjang pada saham overvalue itu tetap punya potensi keuntungan yang baik, asalkan sahamnya benar-benar top quality.

Salah satu contoh saham overvalue yang tetap menguntungkan di Indonesia adalah saham Sidomuncul (SIDO). Produsen jamu nomor satu senusantara ini rajin membagikan dividen minimal setahun sekali. Bahkan, SIDO tercatat lebih sering membagikan dividen dua kali setahun daripada sekali setahun. Faktor ini membuat banyak investor mengincar SIDO walaupun harganya sudah kemahalan dengan rasio P/E 24,5x dan PBV 7,63x.

Artikel Terkait