Saham

Apa Arti Saham Undervalue? Ini Dia Contohnya!

Banyak investor pemula bertanya-tanya bagaimana cara memilih saham undervalue yang tepat untuk dikoleksi. Mereka ingin tahu cara memilih saham undervalue yang sederhana saja dan mudah diterapkan. Bahkan kalau bisa, tanpa perlu menganalisis prospek emiten dan beragam aspek lain. Apakah kamu punya ide seperti itu juga?

Perlu diketahui, kamu tidak bisa menemukan saham undervalue tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu terhadap aspek fundamental saham. Kamu juga perlu mengetahui outlook makro dan sub-sektor di mana saham tersebut dikategorikan. Mengapa demikian? Tujuannya agar kamu dapat memilih saham paling prospektif dan menentukan valuasinya dengan lebih akurat.

Memahami Konsep Saham Undervalue dengan Benar

Dalam bisnis apa pun, kita mengenal pentingnya beli barang dalam harga murah dan menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi. Harga murah itu bukan hanya berhubungan dengan nominal yang perlu dibayar untuk memperoleh barang tersebut, tapi juga perbandingan relatifnya dengan harga barang serupa.

Umpama ingin membeli sandal jepit murah, maka harganya tentu harus dibandingkan dengan sandal jepit lain, bukannya dengan sepatu sneakers yang sedang nge-tren. Sandal jepit yang berharga lebih murah dibandingkan sandal jepit dengan spek serupa, itulah yang dinamakan barang undervalue.

Prinsip dasar valuasi ini juga akan diterapkan saat kamu ingin memilih saham undervalue. Oleh karena itu, kamu bukan hanya perlu mengetahui berapa harga saham yang akan dibeli, melainkan juga worth emiten yang merilis saham tersebut serta perbandingannya dengan perusahaan lain di bidang yang sama.

Jika kamu hanya memilih saham berdasarkan harga pasar yang murah saja, maka salah-salah malah kelak terjebak saham yang prospeknya memang jelek. Sedangkan jika kamu membandingkan beberapa saham dari sub-sektor berbeda, maka kemungkinan malah kehilangan peluang investasi berharga.

Umpama ingin berinvestasi pada saham BBNI, maka bandingkanlah dengan BBRI, BMRI, dan BBCA yang sama-sama bergerak di bidang perbankan. Jangan membandingkan saham BBNI dengan saham UNVR yang menggarap pasar FMCG (Fast Moving Consumer Goods) ataupun TLKM yang berstatus market leader bidang telekomunikasi.

Bagaimana Cara Mengetahui Saham Undervalue?

Setiap investor bisa mengembangkan caranya sendiri untuk mengukur valuasi saham. Namun, ada dua parameter yang paling umum dipergunakan untuk mengetahui valuasi saham:

  1. PER (Price Earnings Ratio), yaitu perbandingan antara harga saham dan laba bersih perusahaan.
  2. PBV (Price-to-Book Value), yaitu rasio yang membandingkan nilai pasar suatu saham terhadap nilai buku per lembar saham.

Saham yang memiliki nilai PER dan PBV lebih rendah biasanya dianggap lebih prospektif. Sebaliknya, saham yang memiliki nilai PER dan PBV lebih tinggi dianggap mahal. Akan tetapi, penilaian tinggi/rendah tersebut tergantung pada sub-sektor di mana saham tersebut dikategorikan. Umpama PER saham 9 kali, tetapi rata-rata PER emiten lain dalam sub-sektor yang sama mencapai 15 kali, maka saham tersebut dapat dikatakan murah. Sedangkan jika PER saham 9 kali, tetapi rata-rata sub-sektor hanya 5 kali, maka saham itu bisa dianggap mahal.

Selain itu, penilaian PER dan PBV belum tentu cocok untuk semua sektor. Contohnya untuk saham keuangan, maka valuasi berdasarkan PBV akan lebih cocok digunakan, karena mayoritas aset perbankan berupa kas, surat berharga, dan tagihan. Sektor lain bisa menggunakan PER sebagai acuan untuk menemukan saham undervalue.

Jadi, langkah-langkah yang perlu diambil untuk memilih saham undervalue dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Tentukan sub-sektor saham yang menurutmu punya peluang pertumbuhan bagus dalam kondisi ekonomi saat ini.
  2. Kumpulkan data laporan keuangan dan pergerakan harga terbaru dari sebagian atau semua emiten dalam sub-sektor tersebut untuk menghitung nilai PER dan PBV secara manual. Ada alternatif yang lebih mudah, yakni meninjau data saham yang disediakan oleh Bloomberg atau Investing.com yang sudah mencantumkan PER dan PBV (dapat diakses dengan googling).
  3. Bandingkan PER dan PBV untuk semua saham di sub-sektor terkait.

Seperti Apa Contoh Saham Undervalue?

Sebagai contoh kasus, mari menilik saham Bursa Efek Indonesia dari sub-sektor perbankan. Data situs BEI menunjukkan ada lebih dari 30 emiten dalam sub-sektor ini. Akan tetapi, tak semua emiten perbankan tersebut memiliki skala bisnis yang sama. Untuk itu, kamu perlu mem-breakdown lebih lanjut.

Dalam sub-sektor perbankan, dikenal pengelompokan berdasarkan BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha). Pengelompokan berdasarkan pada Peraturan Bank Indonesia No. 14/26/PBI/2012 tanggal 27 Desember 2012 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank, melahirkan empat kategori bank BUKU I, II, III, dan IV. Bank-bank bermodal inti terbesar berada dalam kategori BUKU IV, sedangkan bank-bank bermodal paling rendah masuk kategori BUKU I.

Apabila kamu ingin berinvestasi saham perbankan yang memiliki latar belakang dan prospek bagus, maka pilihlah kategori BUKU I. Ada enam emiten perbankan BUKU I, yaitu BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, BNGA, dan PNBN. Mari himpun data PER dan PBV masing-masing, kemudian membandingkannya.

  PE Ratio PBV
BMRI 12.78 1.73
BBRI 16.23 2.70
BBNI 8.90 1.12
BBCA 28.78 4.90
BNGA 6.29 0.53
PNBN 8.03 0.68

Dilihat dari data di atas, jelas sekali saham perbankan BUKU I mana yang paling murah dan paling mahal. BBCA memiliki PBV paling mahal untuk saham BUKU I, sedangkan BNGA termasuk saham undervalue.

Apabila kamu berminat untuk berinvestasi saham bank swasta yang masih murah, maka BNGA lebih baik daripada BBCA. Harga saham BNGA saat ini juga terhitung rendah secara nominal, yaitu hanya Rp905 per lembar. Apalagi jika dibandingkan dengan harga saham BBCA yang sudah mencapaiRp33.375 per lembar. Artinya, kamu perlu modal lebih sedikit untuk mengoleksi saham BNGA yang valuasinya masih murah ini.

Meski demikian, berinvestasi di bank swasta lebih riskan daripada berinvestasi di bank BUMN. Oleh karena itu, kamu juga punya opsi lain untuk membandingkan PER dan PBV saham perbankan pelat merah saja, yaitu BMRI, BBRI, dan BBNI. Jelas terlihat saham BBRI memiliki PBV paling tinggi. Sedangkan BMRI dan BBNI termasuk saham undervalue dari perspektif PER maupun PBV.

Cara mengetahui saham undervalue ini mudah sekali, bukan!? Memang diperlukan upaya untuk mencari data yang dibutuhkan, tetapi langkah-langkahnya sudah jelas dan dapat langsung dipraktekkan.

Hanya saja, ada satu hal lagi yang perlu diingat. Data PER dan PBV memperhitungkan laporan keuangan emiten dan harga saham terkini, sehingga nilainya terus berubah-ubah. Dalam kondisi bursa yang tenang, valuasi saham akan jarang mengalami perubahan. Namun, ketika bursa bergolak, maka valuasi saham bisa berubah signifikan dalam hitungan hari. Ada baiknya kamu memeriksa valuasi saham yang dikoleksi secara berkala (minimal sebulan sekali) agar tidak keliru mengakumulasi saham yang harganya sudah mahal.

Tak punya waktu untuk mengumpulkan data fundamental saham secara rutin? Tak usah khawatir. Ada opsi investasi lebih simpel, yaitu berinvestasi pada reksa dana tematik yang bertajuk “Saham-Saham Undervalue” via aplikasi Ajaib. Reksa dana tematik ini dikelola oleh manajer investasi berpengalaman, khusus mengoleksi saham undervalue yang memiliki prospek cemerlang di bidangnya, termasuk BMRI dan BBNI.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.   

Artikel Terkait