Investor Pemula, Saham

Indikator Teknikal Saham Paling Penting bagi Pemula

Ajaib.co.id – Apakah kamu ingin mulai trading saham? Sebelum membeli saham mana pun, ada baiknya mempelajari dulu tentang indikator dan analisis teknikal agar dapat memprediksi pergerakan harga saham. Strategi trading seperti apa pun semestinya melibatkan satu atau lebih indikator saham yang telah kamu kuasai dengan baik.

Indikator adalah perhitungan matematis atas riwayat harga saham yang umumnya digambarkan dalam bentuk garis pada grafik. Fungsinya untuk membantu kita dalam mengenal tren harga dan menemukan sinyal beli/jual pada saham-saham yang diperdagangkan di bursa.

Macam-Macam Indikator Teknikal Saham

Ada dua kategori indikator teknikal saham berdasarkan fungsinya, yaitu leading dan lagging. Indikator leading mampu memberikan sinyal yang memprediksi pergerakan harga di masa mendatang. Contoh indikator leading antara lain Relative Strength Index (RSI) dall n Stochastic Oscillator. Sedangkan indikator lagging meninjau tren harga saham di masa lalu untuk memberitahu kita tentang momentum pergerakan harga yang sedang berlangsung, misalnya Moving Averages, Bollinger Bands, dan MACD.

RSI, Stochastic, Moving Average, Bollinger Bands, dan MACD merupakan lima indikator yang paling sering dipergunakan oleh trader saham. Kelima indikator sering disebut-sebut dalam opini para pakar saham maupun perbincangan antara trader di forum-forum saham. Oleh karena itu, setidaknya kamu perlu mengenal gambaran singkat masing-masing indikator saham.

  • Relative Strength Index (RSI)

RSI adalah indikator yang dapat menunjukkan kapan sebuah saham mengalami jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold). Ketika RSI mencapai level ekstrim beli/jual, harga saham diyakini akan berubah arah. Umpama RSI menunjukkan saham sudah jenuh beli, maka pergerakan harganya akan berbalik turun. Sedangkan jika RSI menunjukkan saham sudah jenuh jual, maka pergerakan harganya kemungkinan akan bertolak naik.

RSI tampil dalam sub-window di bawah grafik harga saham. Trader umumnya mematok kondisi jenuh beli ketika RSI berada di atas angka 70. Kondisi jenuh jual terjadi ketika RSI jatuh ke bawah angka 30. Contohnya seperti terlihat dalam tangkapan layar di bawah ini.

Akurasi RSI relatif lemah, karena suatu saham bisa bertahan dalam kondisi jenuh beli ataupun jenuh jual dalam waktu sangat lama. Untuk mengatasinya, ada yang memadukan RSI dengan indikator lain yang bersifat lagging. Trader juga harus siap untuk sewaktu-waktu holding saham lebih lama dari ekspektasi.

  • Stochastic Oscillator

Stochastic tampil dalam sub-window di bawah grafik harga saham dan memiliki area jenuh beli/jenuh jual yang serupa dengan RSI. Bedanya, Stochastic memiliki garis %K dan garis %D yang menghasilkan sinyal trading. Pada contoh di bawah ini, garis %K berwarna biru dan garis %D berwarna merah.

Perpotongan antara kedua garis dapat diterjemahkan sebagai sinyal beli/jual saham. Sinyal beli muncul ketika garis %K memotong garis %D dari bawah ke atas, sedangkan sinyal jual muncul ketika garis %K memotong garis %D dari atas ke bawah. Indikator Stochastic cukup akurat, kecuali dalam kondisi pasar yang terlalu bergejolak.

  • Moving Average (MA)

Moving Average merupakan indikator saham paling penting dan wajib dipelajari oleh semua calon trader. MA terutama dipergunakan untuk mengetahui kondisi tren harga saham saat ini berdasarkan perbandingan antara posisi harga sekarang dan rata-rata harga historis.

Dengan mempelajari Moving Average, trader akan dapat mengetahui level support dan resistance yang menandai titik-titik krusial dalam riwayat pergerakan harga saham. Sebagai contoh, tengoklah grafik harga saham BBRI yang telah dipasangi MA dengan period 200 di bawah ini.

Posisi harga saham BBRI awalnya berada di atas garis MA-200, sehingga menandakan tren bullish. Selama pergerakan harga saham bullish, MA-200 berperan sebagai level support. Ketika harga saham BBRI anjlok menembus support, tren berubah menjadi bearish dan garis MA-200 berubah fungsi menjadi level resistance. Apabila kelak harga saham berhasil beranjak sampai naik ke atas garis MA-200, artinya tren sepenuhnya berubah dari bearish menjadi bullish.

Trader dapat menerapkan satu garis MA ataupun lebih dalam satu grafik harga saham. Apabila sudah mempelajari seluk-beluk indikator saham ini lebih lanjut, kamu akan menemukan pula banyak kegunaan lain seperti identifikasi peluang beli/jual. Apalagi MA juga menjadi fondasi bagi beberapa indikator lain seperti MACD dan Bollinger Bands.

  • Moving Average Convergence Divergence (MACD)

MACD adalah indikator yang berupaya mendeteksi perubahan momentum dengan membandingkan dua garis MA. Alhasil, MACD dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi tekanan beli/jual maupun tingkat support/resistance.

MACD terdiri atas tiga komponen utama yang tampak pada contoh di bawah, yakni histogram, garis MACD (biru), serta garis sinyal MA (oranye). Posisi histogram positif di atas garis tengah (hijau) akan menandakan aksi beli. Semakin besar batang histogram, makin kuat pula tekanan beli pada saham tersebut. Sebaliknya, posisi histogram negatif di bawah garis tengah (merah) akan menandakan aksi jual.

Tren bullish biasanya terjadi ketika histogram positif dan garis MACD beranjak naik. Sinyal jual muncul ketika histogram positif itu makin menipis dan garis MACD memotong garis sinyal MA dari atas ke bawah (death cross). Sedangkan sinyal beli muncul ketika histogram negatif makin menipis dan garis MACD memotong garis sinyal MA dari bawah ke atas (golden cross).

  • Bollinger Bands

Bollinger Bands menunjukkan rentang pergerakan harga saham dalam bentuk pita (bands). Fungsinya untuk mengukur volatilitas atau gejolak harga yang timbul akibat bertambahnya minat beli/jual terhadap suatu saham. Bollinger Bands juga dapat dipergunakan untuk mendeteksi level jenuh beli/jenuh jual.

Indikator saham ini terdiri atas tiga garis, yaitu upper band, middle band, dan lower band. Middle band merupakan garis Moving Average, sedangkan kedua garis lain dibuat berdasarkan deviasi dari garis tersebut. Oleh karena itu, pita Bollinger Bands akan melebar dan menyempit selaras dengan volatilitas pasar.

Semakin lebar pita Bollinger Bands, maka volatilitas harga saham semakin tinggi. Semakin sempit pita, maka volatilitas makin kecil. Penyempitan pita Bollinger Bands biasanya menandakan akan terjadi perubahan arah pergerakan harga signifikan, baik bullish menjadi bearish ataupun sebaliknya.

Kamu juga dapat memanfaatkan upper band dan lower band sebagai ambang patokan jenuh beli/jenuh jual. Ketika harga saham berada di atas upper band, artinya terjadi jenuh beli dan pergerakan harga kemungkinan akan berbalik turun. Sebaliknya ketika harga saham berada di bawah lower band, artinya terjadi jenuh jual dan pergerakan harga kemungkinan akan berbalik naik.

Nah, setelah mengenal beberapa indikator saham paling penting ini, manakah yang ingin kamu coba lebih dulu? Pilihannya ada di tanganmu sendiri. Kamu juga bisa meningkatkan wawasan dengan mempelajari alat analisis teknikal lain seperti Pivot Point, Fibonacci, dan lain-lain. Kamu tak harus menguasai semuanya, tetapi wajib memahami indikator terpilih yang ingin digunakan untuk trading saham.

Artikel Terkait