Perencanaan Keuangan

Mengenal Analisis Fundamental, Investor Pemula Wajib Tahu!

analisis fundamental

Ajaib.co.id – Analisis fundamental adalah kegiatan yang mempelajari soal kondisi fundamental perusahaan, terutama rasio keuangan perusahaan itu sendiri. Umumnya, analisis tersebut digunakan untuk menentukan saham yang ingin kamu beli atau jual.

Agar kamu memahami analisis fundamental, dapat melihat kondisi industri di mana perusahaan tersebut berada. Sektor industri sendiri mempengaruhi pergerakan harga saham suatu perusahaan. Industri yang berkembang pesat akan menaikkan harga saham perusahaan.

Penjelasan Analisis Fundamental

Salah satu cara pendekatan yang sering digunakan dalam analisis fundamental adalah Top Down Approach. Cara tersebut merupakan analisis yang dimulai dari keadaan atau kondisi ekonomi makro, perusahaan, dan kondisi perusahaan tersebut.

Top Down Approach memiliki tiga tahap, yaitu:

1. Kondisi Makro

Faktor yang satu ini dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi Pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan suku bunga.

Jika suku bunganya tinggi, maka para investor akan menaruh uangnya di bank. Sehingga, hal tersebut menghambat laju pertumbuhan bisnis perusahaannya.

Sementara jika suku bunganya rendah, maka saham menjadi pilihan bagi para investor dan perusahaan untuk berbisnis.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi ikut menentukan pergerakan harga saham. Jika ekonominya lesu, maka kinerja perusahaan bakal ikut menurun beserta harga sahamnya. Jika ekonominya kuat, masa depan perusahaan akan cerah beserta harga sahamnya.

2. Sektor dan Industri

Seperti yang sudah dijelaskan, kondisi perusahaan juga mempengaruhi pergerakan harga saham.

Contohnya, harga komoditas di sektor pertambangan ikut meroket karena harga minyak dunia naik pada 2007 silam. Harga saham tambang batubara dan minyak juga ikut naik, karena pendapatan dan laba yang dihasilkan semakin membesar.

Pada 2005, harga minyak dunia kembali turun hingga ke titik terendah. Kemudian, harga saham tambang pun juga ikut menurun drastis.

3. Fundamental Perusahaan

Masalah fundamental perusahaan tentunya sangat mempengaruhi pergerakan harga saham.

Misalnya, apakah perusahaan memiliki manajemen yang baik, bagaimana kondisi keuangan di suatu perusahaan, dan apakah manajemennya dikelola oleh orang yang kompeten.

Hal tersebut merupakan poin paling penting dalam menentukan baik atau tidaknya analisis fundamental dari suatu perusahaan. Biasanya, perusahaan yang berfundamental memiliki harga saham yang cukup baik.

Memilih Saham Melalui Analisis Fundamental

Jika dilihat dari analisa fundamental saham, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah pedoman untuk menentukan bagus atau tidaknya saham. Berikut ini adalah beberapa kriteria yang bisa kamu gunakan:

  • Memiliki kapitalisasi pasar lebih dari Rp 500 miliar.
  • Emiten/perusahaan dengan model bisnis yang jelas.
  • Perusahaan terus meningkatkan laba atau sahamnya.
  • Tidak memiliki utang melebihi Debt Equity Ratio (DER).
  • Sahamnya menjadi market leader.
  • Rata-rata Price Earning Ratio (PER) tidak jauh berbeda.

Nilai Intrinsik dan Rasio Keuangan Analisis Fundamental

Setelah melakukan analisis Top Down Approach, hal lain yang harus kamu lakukan adalah menghitung fair price atau nilai intrinsik dari saham.

Nantinya, kamu harus membandingkan fair price dengan harga pasar saham. Kegiatan transaksi jual-beli akan disesuaikan dengan perbandingan fair price dan harga pasar saham.

Biasanya, perusahaan sekuritas memiliki analis saham yang akan menghitung fair price dari saham. Analisis ini dilakukan secara rutin, karena kondisi makro dan mikro dari suatu perusahaan terus mengalami perubahan.

Secara umum, harga saham bisa diprediksi dengan cara menganalisis data keuangan yang ada. Jika ingin menganalisis keuangan perusahaan, maka harus memanfaatkan laporan keuangan untuk menjadi gambarannya.

Terdapat beberapa rasio keuangan yang paling penting di dalam analisis fundamental ketika memilih saham, yaitu:

1. Earning Per Share (EPS)

EPS merupakan laba bersih yang berasal dari satu lembar saham. Jika nilai EPS adalah Rp100, maka setiap lembar sahamnya akan menghasilkan laba sebesar Rp100 juga.

Cara menghitung EPS adalah jumlah laba bersih dibagi dengan jumlah lembar saham yang beredar. Berikut ini adalah rumus perhitungannya:

Earning Per Share (EPS) = Laba bersih : Jumlah lembar saham yang beredar

Kamu bisa mencari perusahaan yang memiliki EPS dan berkembang dari waktu ke waktu. EPS yang meningkat telah menunjukkan perusahaan berkembang secara baik.

2. Price to Earning Ratio (PER)

Price to Earning Ratio (PER) merupakan rasio atau tingkat yang menjelaskan keuntungan dari suatu perusahaan dan dibandingkan dengan harga sahamnya. Berikut ini adalah rumus perhitungan PER:

Price to Earning Ratio (PER) = Harga saham : Laba per lembar sahamnya (EPS)

PER sendiri merupakan durasi waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kembali modal yang digunakan saat melakukan analisis fundamental saham sebelum membelinya.

Jika harga saham Rp100 dengan EPS sebesar Rp50 per tahun, maka saham tersebut memiliki PER sebesar Rp100 : Rp50 = 2x.

Jika laba perusahaan tidak berkembang atau tetap Rp50 per tahunnya, maka kamu membutuhkan waktu selama lima tahun agar modalnya kembali. Terdapat dua cara untuk menghitung PER, yaitu:

  • Trailing Price to Earning Ratio (PER): PER yang dihitung sesuai EPS tahun sebelumnya.
  • Forward Price to Earning Ratio (PER): PER dihitung sesuai estimasi EPS di masa mendatang.

Harga saham dianggap murah jika PER lebih rendah dari PER rata-rata. Misalnya, ada perusahaan tambang yang memiliki PER di bawah rata-rata, maka saham tambangnya akan dianggap murah.

3. Price to Book Value (PBV)

Price to Book Value atau PBV merupakan rasio yang menjelaskan seberapa besar pasar dapat menilai harga perusahaan dibanding kekayaannya. Berikut ini adalah rumus perhitungan PBV:

Price to Book Value (PBV) = Harga saham : Nilai Buku per Lembar Sahamnya.

Jika PBV sebesar dua kali, maka harga saham sudah meningkat dua kali lipat dibanding kekayaan bersih dari suatu perusahaan. Biasanya, para investor disarankan untuk mencari saham dengan PBV yang lebih rendah.

4. Return on Equity (REO)

Return on Equity atau REO adalah rasio dari perolehan laba bersih yang dibukukan oleh perusahaan, kemudian dibandingkan dengan total kekayaan bersih dari perusahaan tersebut. Berikut ini adalah perhitungannya:

Return on Equity (REO) = Laba Bersih : Kekayaan yang Bersih.

Misalnya, REO nya sebesar 10 persen maka setiap Rp100 kekayaan bersih perusahaan yang ditanam oleh pemodal akan memberikan kontribusi sebesar Rp10.

5.Dividend Yield (DY)

DY merupakan rasio yang menjelaskan berapa besaran pembagian dividen dari perusahaan terhadap harga saham. Berikut ini adalah rumusannya:

Dividend Yield (DV) = Dividen per lembar saham : Harga sahamnya.

6. Debt to Equity Ratio (DER)

DER merupakan rasio jumlah hutang dan kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan dibanding modal bersihnya. Berikut ini adalah rumusannya:

DER = Total Kewajiban : Kekayaan Bersih

Itulah tadi penjelasan mengenai analisis fundamental yang bisa diterapkan oleh para investor pemula. Dengan begitu, kamu bisa membeli saham dengan aman dan mudah.

Artikel Terkait