Investasi

Apa itu Value Investing dan Bagaimana Cara Melakukannya?

Value Investing Adalah

Ajaib.co.id – Dalam berinvestasi, ada salah satu aliran yang terkenal, yaitu value investing. Apakah kamu pernah mendengarnya? Value investing adalah sebuah strategi yang diperkenalkan oleh seorang investor terkenal, yaitu Benjamin Graham, dan dianut oleh beberapa investor ternama lainnya, seperti Warren Buffet dan Lo Kheng Hong. 

Nah, apa itu value investing sebenarnya? Bagaimana cara melakukannya dengan benar? Yuk, baca artikel ini untuk mengetahui detil-detilnya lebih lanjut!

Apa itu Metode Value Investing?

Value investing dilakukan dengan cara menganalisis rasio pada fundamental perusahaan, nilai intrinsik (Intrinsic Value) saham dan Margin of Safety (MoS) untuk mencari saham yang memiliki nilai ‘Murah’ (Undervalued). Investor yang melakukan value investing biasa disebut value investor.

Cara sederhana untuk memulai strategi value investing adalah mencari saham yang ‘Salah Harga’ berdasarkan laporan keuangannya. Teknik analisis yang biasa digunakan adalah top-down analysis, mulai dari kondisi makro ekonomi, kemudian kondisi industri, kemudian mengamati kondisi fundamental perusahaan serta pergerakan harga saham.

Kondisi fundamental perusahaan bisa kamu analisis dengan mudah melalui laporan keuangan dan melihat bagian pentingnya, seperti aset lancar dan tidak lancar, laba/rugi, serta laporan cash flow. Kemudian, kamu bisa ambil kesimpulan, apakah emiten tersebut sehat secara finansial atau tidak.

Prinsip terpenting adalah hanya membeli saham yang kinerja keuangannya bagus dan dijual murah pada saat ini, artinya berada di bawah nilai intrinsiknya. Namun, murah di sini bukan hanya soal nominal harga saham, tetapi soal nilai valuasi harga saham yang diincar.

Contoh Kasus Value Investing

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini adalah contoh kasus value investing yang perlu kamu pahami.

  1. PT ABC memiliki harga saham Rp1.000 dengan perhitungan harga wajar saham pada Rp3.000.
  2. PT XYZ memiliki harga saham Rp400 dengan perhitungan harga wajar saham pada Rp500.
  3. Margin of Safety (MoS) dari PT ABC adalah (3.000-1.000) / 3000 = 66,6%.
  4. Margin of Safety (MoS) dari PT XYZ adalah (500-400) / 500 = 20%.

Melihat keterangan dari contoh di atas, maka saham yang lebih layak dibeli secara value investing adalah saham PT ABC karena memiliki MoS sebesar 66,6%.

Saham PT XYZ tampak lebih murah dengan harga Rp500, tetapi saham perusahaan ini ditransaksikan pada MoS 20%, maka saham ini kurang layak dibeli jika dibandingkan dengan PT ABC.

Latar Belakang Value Investing

Orang pertama yang mengaplikasikan value investing adalah profesor Benjamin Graham, atau lebih dikenal sebagai bapak dari prinsip value investing yang telah membuat dua buah buku yang menjadi pedoman bagi para value investor yakni The Intelligent Investor dan Security Analysis.

Benjamin Graham menekankan konsep filosofinya meliputi analisis fundamental, harga wajar saham, diversifikasi terkonsentrasi, Margin of Safety (MoS), dan pemikiran yang kontrarian.

Seberapa efektif teknik value investing ini? Sangat efektif. Anak didik dari profesor Benjamin Graham adalah Warren Buffett, beliau menggunakan teknik value investing sebagai salah satu teknik pembelian saham yang dia miliki.

Lalu, bagaimana Benjamin Graham mencetuskan strategi ini?

Pada tahun 1926, Benjamin Graham berhasil membentuk kerjasama investasi dengan Broker, Jerome Newman. Di saat yang bersamaan, ia juga mulai mengajar dengan menjadi dosen kelas malam dibidang keuangan, Universitas Columbia.

Krisis keuangan tahun 1929 juga pernah membuat Benjamin Graham bangkrut total, meski begitu, usahanya terselamatkan oleh bantuan dari penjualan sebagian besar aset-aset personal. Sang Istri pun terpaksa kembali bekerja sebagai guru dansa. Benjamin Graham kembali bangkit, dan di situ ia telah belajar pengalaman paling berharga, yaitu sebuah rahasia yang akan dia wariskan kepada Investor di dunia melalui buku-bukunya.

Pada tahun 1934, Benjamin Graham bersama David Dodd (Akademis Columbia), kembali menerbitkan buku Security Analysis. Meski dalam masa krisis keuangan, buku itu tetap merekomendasikan.

“Sukses untuk berinvestasi dengan saham biasa adalah mungkin, selama prinsip-prinsip investasi yang sehat tetap diterapkan.”

Mereka telah memperkenalkan konsep intrinsic value atau nilai fundamental untuk membeli saham dengan nilai tersebut.

Kerjasama mereka pun berlanjut, namun kali ini lebih produktif dan tidak pernah lagi merugikan para investor mereka dengan nilai kesuksesan return tahunan sekitar 17%. 

Benjamin Graham juga berhasil menulis buku The Intelligent Investor pada tahun 1949, yang juga dianggap sebagai Kitab Suci Investasi. Beliau-pun akhirnya pensiun di tahun 1956 dan wafat tahun 1976.

Apa itu Nilai Intrinsik Value Investing

Intrinsic value atau nilai intrinsik adalah nilai yang melekat pada investor dari perusahaan, investasi atau aset independen dari nilai pasar. Nilai intrinsik adalah konsep filosofis di mana kamu dapat menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal untuk memperkirakan nilai yang dirasakan dari suatu aset.

Karena nilai intrinsik dapat diukur dengan berbagai faktor, menentukan nilai intrinsik aset terbuka untuk perusahaan dan investor yang berbeda bisa menghasilkan pendapat yang berbeda pula tentang nilai suatu aset. Sehingga, cara lain untuk mendefinisikan nilai intrinsik adalah sebagai harga di mana investor yang rasional bersedia membeli investasi dengan mempertimbangkan tingkat risikonya.

Dengan nilai intrinsik, investor dapat memahami apakah biaya suatu aset dinilai terlalu rendah atau dinilai terlalu tinggi dibandingkan dengan nilai pasar aset tersebut. 

Mengetahui cara menentukan nilai intrinsik suatu aset dapat membantu investor membuat keputusan investasi yang terinformasi dengan baik dan membantu investor yang ingin membeli investasi pada tingkat yang lebih rendah dari nilainya.

Strategi Value Investing

Dalam mengambil langkah value investing, kamu sebagai investor akan melakukan teknik dan perhitungannya masing-masing. Namun, ada beberapa langkah yang secara umum digunakan. Berikut ini adalah berbagai strategi value investing yang bisa dilakukan agar dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum berinvestasi.

1. Tentukan Metode Analisis

Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk melakukan value investing. Misalnya, kamu bisa memilih metode top-down analysis maupun bottom-up

Top-down analysis berarti menganalisis secara kondisi makro ekonomi, kondisi sektor, kemudian baru menganalisis kerja emitennya. Sedangkan, bottom-up analysis menganalisis urutan yang sebaliknya, yaitu kinerja emiten, sektor, setelah itu kondisi makro ekonomi.

2. Mengetahui Sektor Terbaik di Pasar

Isu ekonomi yang berkembang pada masyarakat selalu menjadi faktor penting dalam menentukan investasi atau pembelian saham. Dengan memahami sektor yang sedang naik atau diprediksi naik, kamu bisa lebih tepat dalam membeli sebuah saham.

3. Screening Saham

Evaluasi terhadap saham tertentu sangat penting untuk dilakukan. Namun, sebelumnya pastikan kamu melakukan screening saham yang menjadi market leader di sektornya dan memiliki bisnis yang tumbuh. Hal ini dilakukan mengingat ada ratusan emiten yang bisa dilirik.

Evaluasi mendalam pada setiap emiten akan menghabiskan waktu dan justru menghilangkan momentum. Oleh karena itu, lakukan screening sebanyak-banyaknya dan lakukan evaluasi mendalam pada beberapa yang dipilih.

4. Memahami Nilai Intrinsik Saham

Pemahaman tentang nilai intrinsik wajib kamu miliki sebelum melakukan value investing. Kamu harus bisa mengetahui harga wajarnya atau rata-rata dari setiap saham. Penilaian ini bisa dilakukan dengan berbagai rasio laporan keuangan.

5. Lakukan Analisis pada Faktor Fundamental Perusahaan

Setiap perusahaan memiliki laporan keuangan yang wajib diperhatikan sebelum kamu membeli saham atau melakukan value investor. Beberapa aspek yang bisa kamu nilai dari laporan tersebut adalah seperti ekuitas, laba, cash flow, dan lainnya. Hindari perusahaan yang memiliki laporan keuangan terbaru buruk atau bahkan manipulatif.

6. Pelajari Histori Harga Saham

Membeli saham yang menguntungkan sangat ditentukan oleh momentum pembelian. Meski begitu, hal ini tidak dilakukan dengan prediksi sembarangan. Kamu bisa membaca history perdagangan perusahaan karena umumnya fenomena ekonomi akan berulang.

Apakah value investing sama dengan investasi jangka panjang?

Banyak investor yang sering menanyakan apakah value investing sama dengan investasi jangka panjang? Maka jawabannya adalah iya. Value investing merupakan salah satu strategi investasi jangka panjang yang dilakukan ketika sebuah nilai saham dinilai murah dan akan dijual ketika nilainya telah menguntungkan atau meningkat.

Jadi, bagi kamu yang ingin mendapat keuntungan investasi jangka panjang, kamu harus mengetahui dengan benar strategi value investing.

Kapan waktu yang tepat menjual value investing?

Tidak hanya waktu membeli saham, kamu juga harus menentukan waktu menjual saham. Oleh karena itu, pentingnya untuk melakukan monitoring untuk menentukan waktu yang tepat untuk menjual saham.

Misalnya, setelah kamu melakukan pemantauan dan ternyata kamu menemukan salah satu saham yang dibeli mengalami kerugian atau masalah serius seperti manajemennya mengalami masalah hukum. Maka, itulah waktu yang tepat untuk kamu mempertimbangkan kapan waktunya menjual saham.

Hal yang penting adalah perlunya melakukan analisis yang mendalam. Jangan sampai kamu gegabah dengan menjual saham hanya karena labanya turun sedikit saja.

Selain itu, salah satu caranya adalah dengan mengetahui trend pergerakan saham apakah sedang mengalami downtrend atau uptrend. Namun, jika perusahaan tersebut tetap memiliki fundamental yang sangat bagus maka kamu disarankan untuk tetap hold saja.

Artikel Terkait