Analisa Saham

Saham TUGU, Perusahaan Asuransinya Pertamina

Sumber: Tugu Insurance

Ajaib.co.id – Pandemi memang menyeret kinerja sebagian besar emiten asuransi, tak terkecuali emiten saham TUGU. Tugu Insurance membukukan penurunan laba bersih hingga 46,24%. Meski demikian emiten asuransi ini tak lantas bisa dicap buruk juga.

Profil Emiten

PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) adalah asuransinya perusahaan minyak dan gas bumi milik pemerintah dan oleh karenanya disebut juga Asuransi Minyak dan Gas Bumi Tugu Insurance.

Tugu Insurance adalah perusahaan yang kegiatan usaha utamanya di bidang asuransi umum dan reasuransi. Selain itu perusahaan juga menerima pendapatan usaha lainnya berupa Sewa dan Bisnis, serta kegiatan investasi.

Asuransi umum yang ditawarkan perusahaan adalah jasa asuransi dalam lingkup usaha di bidang energi, penerbangan, asuransi rekayasa, asuransi rangka kapal, pengangkutan dan protection & indemnity, dan lain-lain.

Tugu Insurance didirikan sejak 25 November 1981 namun baru tercatat di Bursa Efek Indonesia di papan pengembangan pada tahun 2018 dengan kode saham TUGU. Dengan jumlah saham beredar sebesar 1.777.777.800 lembar di harga 1.520, kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp 2,70 Triliun.

Sebagai perusahaan asuransi minyak dan gas pemerintah, mayoritas saham TUGU dikuasai PT Pertamina Persero dengan kepemilikan sebesar 58,5% dari total saham. Pemegang saham lainnya dengan nilai signifikan adalah UOB Kay Hian Pte Ltd (15.84%), PT Baruna Harmoni Investama (6.66%), Samsung Fire And Marine Insurance Co. , Ltd (5.29%), masyarakat (13.71%).

Kinerja Pada Laporan Keuangan Terakhir

Kendati telah memasuki bulan kelima di tahun 2021, emiten saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) masih belum menyediakan laporan keuangan Triwulan I-2021. Sehingga laporan keuangan terakhir yang dapat diakses publik adalah laporan keuangan tahunan per tahun 2020.

Berikut kinerja emiten per laporan keuangan terakhir yang dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya;

2020 2019 Perubahan
Premi Bruto 6,05 triliun 6,49 triliun -6,72%
Pendapatan Premi 2,38 triliun 2,66 triliun -10,69%
Klaim yang Terjadi 3,13 triliun 2,22 triliun 40,73%
Klaim Reasuransi 1,7 triliun 1,02 triliun 67,51%
Klaim neto 1,42 triliun 1,2 triliun 18,19%

Diakui oleh Budi P. Amir selaku Direktur Pemasaran Tugu Insurance bahwa tahun 2020 adalah tahun penuh tantangan bagi emiten. Secara keseluruhan bisnis asuransi umum Tugu Insurance mengalami penurunan. Adapun kinerja Tugu Insurance terkoreksi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pendapatan premi emiten turun 10,69% dari Rp 2,66 triliun di 2019 menjadi Rp 2,38 triliun di 2020. Perolehan premi alias premi bruto juga turun 6,47% dari Rp 6,49 triliun menjadi Rp 6,05 triliun saja di tahun 2020. Jika kamu tak tahu bedanya, premi bruto juga memasukkan pendapatan dari premi yang tidak dilanjutkan lagi sedangkan pendapatan premi murni berasal dari kegiatan terkait underwriting saja.

Klaim yang terjadi meningkat 40,73% menjadi Rp3,13 triliun di tahun 2020 dari sebelumnya Rp 2,22 triliun di tahun 2019. Jika dibandingkan dengan prendapatan preminya yang hanya Rp2,38 triliun, maka nilai klaim telah melebihi pendapatan preminya.

Untungnya emiten memperoleh klaim reasuransi sebesar Rp 1,7 triliun sehingga klaim yang ditanggung sendiri oleh emiten hanya sebesar Rp 1,42 triliun. Selama pandemi jumlah klaim asuransi kerugian memang meningkat. Berikut laporan mengenai neraca dan laba emiten dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya;

2020 2019 Perubahan
Ekuitas 8,45 triliun 8,27 triliun 2,19%
Total Liabilitas 11 triliun 12,45 triliun   -11,69%
Hasil Investasi 237,26 miliar 433,7 miliar -45,29%
Hasil Underwriting 1,9 triliun 2,13 triliun -10,65%
Pendapatan Usaha 2,46 triliun 2,88 triliun -14,76%
Laba Bersih 271,91 miliar 505,75 miliar -46,24%

Di sisi lain ekuitas emiten meningkat sebesar 2,19% menjadi Rp8,45 triliun, sebelumnya di 2019 adalah sebesar Rp 8,27 triliun. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh penurunan jumlah liabilitas dari Rp12,45 triliun menjadi hanya Rp 11 triliun saja di 2020. Tindakan preventif dalam rangka pengamanan kesehatan keuangan emiten perlu diacungi jempol.

Sebagai informasi, Tugu Insurance memiliki tiga jenis pendapatan usaha yakni underwriting, investasi, dan bisnis. Adapun total pendapatan usaha turun 14,76% menjadi Rp2,46 triliun di mana sebelumnya di 2019 adalah sebesar Rp2,88 triliun.

Setelah dikurangi beban-beban laba bersih yang tersisa untuk emiten adalah sebesar Rp 271,91 miliar saja, terkoreksi 46,24% dari tahun sebelumnya Rp 505,75 miliar di tahun 2019.

Budi P. Amir menyatakan dalam keterangan resminya pada 5 April 2021 mewakili perseroan bahwa kontributor utama terjadinya penurunan laba Tugu Insurance disebabkan oleh Pandemi COVID-19, pelemahan ekonomi, bencana banjir di awal tahun, penurunan Indonesia Crude Price [ICP], penurunan harga properti, dan pelemahan pasar saham.

Untungnya pengembangan bisnis emiten dalam merambah aspek digital dapat meredam dampak sehingga emiten tidak sampai merugi. Emiten selama tahun 2020 berhasil mengembangkan platform digital untuk memudahkan masyarakat bertransaksi produk asuransi secara online.

Melalui situs web milik Tugu Insurance, publik dapat mengakses simulasi premi, mengajukan aplikasi sampai membayar premi dan menerima polis asuransi secara digital.

Rasio per Laporan Keuangan Terakhir

  • Kesehatan Keuangan
2020 2019
DER 130,06% 150,51%
RBC 357,56% 298,15%
Loss Ratio 60,02% 45,35%

Kondisi Rasio Kerugian alias Loss Ratio meningkat menjadi 60,02% di mana sebelumnya hanya 45,35%. Rasio Kerugian yang dianjurkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah maksimal 20%, sebelum di-cover oleh klaim reasuransi Rasio Kerugian TUGU mencapai 131%. Sebagai informasi Rasio Kerugian membagi klaim yang terjadi, setelah dikurangi klaim reasuransi, dengan pendapatan premi.

Kesehatan keuangan emiten berupa rasio utang per ekuitas (DER) juga masih berada di atas batas atas 100% yang dianjurkan, yakni 130%. Di tahun sebelumnya yakni 2019 juga tak lebih baik, rasio DER emiten adalah 150,51%. Untungnya meski Rasio Kerugian dan DER emiten di atas yang dianjurkan namun rasio Risiko Berbasis Modal alias RBC berada di angka yang sangat sehat yakni 357,56%.

Rasio RBC yang dianjurkan OJK adalah sedikitnya 120%. Di tahun 2019 juga sudah baik, sekitar 298,15% namun diperkuat oleh emiten agar dapat memberikan proteksi agar tak terjadi peristiwa gagal bayar klaim selama pandemi.

  • Profitabilitas
2020 2019
NPM 11,05% 17,52%
Own Retention 39,06% 42,76%
Underwriting Ratio 80,05% 80,01%
Investment Yield 2,86% 5,06%

Secara umum kinerja emiten masih cukup baik meski laba bersih terkoreksi hingga 46,24%. Diketahui marjin laba emiten masih cukup baik, yakni 11,05%. Turun beberapa persen dari sebelumnya yakni 17,52% di 2019. Sebagai informasi NPM diperoleh dengan membagi laba bersih dengan pendapatan usaha.

Pendapatan usaha emiten asuransi umumnya hanya memiliki dua kegiatan usaha yakni underwriting dan investasi. Namun TUGU punya kegiatan usaha tambahan yakni Bisnis dan Sewa dan lainnya.

Adapun rasio underwriting adalah sebesar 80,05%, sebelumnya di tahun 2019 nilai rasio underwriting juga hampir sama yakni 80,01%. Ini adalah angka yang bagus yang menandakan beban underwriting emiten rendah. Underwriting adalah kegiatan seleksi nasabah berdasarkan kelayakannya untuk mengikuti program asuransi. Kegiatan underwriting adalah kegiatan mendasar yang dilakukan sebuah perusahaan asuransi.

Sayangnya kegiatan investasi emiten tidak begitu baik, hanya menghasilkan 2,86% dan bukan hanya karena pandemi saja. Sebelumnya di 2019 juga hanya menghasilkan 5,06%.

Prospek

Dari sisi underwriting, setiap tahunnya emiten menerima pendapatan premi di kisaran Rp 2,3 triliun hingga Rp 2,7 triliun. Marjin laba dari underwriting juga sangat baik yakni berada di kisaran 80% setiap tahunnya. Di tahun 2020 laba dari kegiatan underwriting saja adalah sebesar Rp1,9 triliun, selisih 10,65% dibandingkan di tahun 2019 yakni Rp2,13 triliun.

Peningkatan pada kinerja akan terjadi jika kegiatan usaha lainnya yang menjadi kontributor total pendapatan juga meningkat. Sayangnya setiap tahun emiten hanya mampu membukukan keuntungan investasi tak sampai 10% dari jumlah yang diinvestasikan.

Bahkan di akhir tahun 2020 emiten harus puas dengan memperoleh hasil investasi sebesar Rp237,2 miliar, turun 45,29% dibandingkan sebelumnya yakni Rp 433 miliar di tahun 2019.

Sebagai perusahaan asuransi minyak dan gas bumi milik Pertamina, perbaikan harga minyak di Indonesia Crude Price (ICP) akan menopang kinerja pendapatan usaha dari sisi investasi dan reasuransi. Tahun 2020 memang tahun yang sulit karena harga minyak pernah anjlok hingga mencapai angka negatif karena turunnya mobilitas masyarakat gegara pandemi COVID-19.

Karantina wilayah yang diterapkan di berbagai negara di seluruh dunia membuat konsumsi energi minyak turun signifikan dan juga menyeret pasar saham hingga terkoreksi sampai separuhnya. Perbaikan dari sisi kondisi ekonomi secara umum, pemulihan harga minyak dan pasar saham tentu akan membuat iklim investasi membaik.

Namun jangan berharap banyak karena biasanya dalam kondisi normal pun pendapatan investasi Tugu Insurance tak begitu besar, hanya sekitar 2-6% saja per tahun. Itu adalah angka yang sangat kecil karena bisa didapat dari suku bunga bank saja, bukan hasil portofolio yang baik yang secara aktif dikelola. Oleh karenanya prospek Tugu Insurance terbilang biasa-biasa saja.

Kesimpulan

TUGU adalah emiten asuransi minyak dan gas milik Pertamina. Tahun 2020 diakui oleh emiten sebagai tahun yang sulit, namun dari sisi underwriting emiten sudah cukup baik. Pendapatan premi emiten dan marjin laba juga masih sangat baik.

Hal ini disinyalir disebabkan oleh longgarnya emiten dalam melakukan seleksi nasabah. Rasio Kerugian sebesar 60%, yang mana berada di atas batas maksimal 20% yang dianjurkan adalah bukti bahwa emiten melonggarkan underwriting-nya.

Klaim yang terjadi selama ini, sebelum di-cover oleh klaim reasuransi, selalu berada di atas 50%. Ketika pandemi berlangsung klaim yang terjadi bahkan mencapai 131% dari pendapatan preminya.

Untungnya emiten cerdas dengan memperbesar reasuransi selama pandemi sehingga klaim reasuransi dapat menopang sebagian klaim yang terjadi dan menyisakan 60-an persen untuk ditanggung oleh emiten sendiri.

Selama pandemi emiten juga melunasi sebagai liabilitasnya sehingga hanya jumlah liabilitas turun dan rasio utang per ekuitas juga turun menjadi 130%, sebelumnya adalah 150% di 2019. Rasio DER yang aman yang dianjurkan adalah maksimal 100%. Meski demikian nasabah TUGU tidak perlu cemas karena emiten memiliki kemampuan cover klaim (RBC) yang tinggi.

Selama ini setiap tahun rasio RBC emiten ada di angka 300-an persen. Per tahun 2020 bahkan lebih besar lagi yakni 357,56%. Adapun rasio RBC yang disarankan oleh OJK adalah sebesar 120% saja.

Semakin besar rasio ini maka semakin baik, dan dengan demikian maka semakin besar pula lah kemampuan emiten dalam menghindari kasus gagal bayar klaim yang marak terjadi di perusahaan-perusahaan asuransi milik pemerintah beberapa tahun belakangan ini.

Emiten adalah perusahaan asuransi yang cukup baik dengan marjin laba bersih sekitar 11-18 persen setiap tahunnya. Emiten akan sangat menarik apabila kegiatan investasi emiten meningkat dan memberikan hasil lebih dari 5% per tahun.

Kinerja emiten setiap tahun tidaklah fantastis, namun tidak dapat dikatakan buruk juga. Bolehlah diadu dengan Jiwasraya dan ASABRI yang sama-sama milik negara.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi

Artikel Terkait