Analisa Saham

Saham LINK Konsisten Catat Pertumbuhan Bisnis, Layak Koleksi?

Saham LINK

Ajaib.co.id – PT Link Net Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan layanan jaringan komunikasi broadband. Perusahaan berkode saham LINK ini memulai bisnis secara komersial pada tahun 2000 dengan kegiatan bisnis melalui layanan internet berkecepatan tinggi, komunikasi, dan program televisi.

Adapun merek yang digunakan untuk layanan LINK di antaranya FastNet, HomeCable, dan DataComm. Di mana, jaringan LINK sudah menjangkau beberapa wilayah di pulau Jawa seperti Jakarta, Tangerang Bogor, Bekasi, Bandung, Surabaya, hingga Bali. Mayoritas saham LINK saat ini dipegang oleh Asia Link Dewa Pte Ltd dengan jumlah 36,99 persen kepemilikan.

Saham LINK sendiri mulai diperdagangkan secara publik melalui bursa saham pada tahun 2014 dengan harga penawaran sebesar Rp1.600 per lembar saham. Di mana, pergerakan harga saham LINK saat ini sedang melemah di angka Rp4.270 per lembar saham pada penutupan perdagangan, Kamis 17 Juni 2021. Walaupun begitu, harga sahamnya saat ini melambung jauh dibandingkan harga penawaran.

Lalu, apakah saham LINK layak untuk dikoleksi? Bagaimana dengan kondisi fundamental perusahaan saat ini dan rencana bisnis seperti apa yang akan dilakukan ke depannya? Mari kita bedah kinerja saham LINK.

LINK Catatkan Kenaikan Pendapatan hingga Kuartal Ketiga Tahun 2020

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan hingga kuartal ketiga tahun 2020, perseroan membukukan pendapatan yang terpantau naik 6,76 persen YOY dari periode sama di tahun 2019 sebesar Rp2,76 triliun menjadi Rp2,95 triliun.

Adapun pendapatan secara rinci berasal dari layanan internet broadband dan jaringan senilai Rp1,60 triliun, layanan televisi kabel senilai Rp1,20 triliun, dan pendapatan lain-lain mencapai Rp144 miliar.

Akan tetapi, realisasi pendapatan yang naik tidak diikuti oleh raihan laba di periode tersebut yang mengalami penurunan 9,59 persen dari Rp772 miliar menjadi Rp698 miliar.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah pos beban yang mengalami peningkatan seperti beban pokok pendapatan naik menjadi Rp616,16 miliar dan beban penjualan meningkat Rp282,89 miliar.

Dalam 5 Tahun Terakhir, Kinerja Keuangan LINK Terpantau Positif

Mengacu pada kinerja keuangan LINK dalam 5 tahun terakhir tampak positif. Di mana, realisasi pendapatan dan raihan laba tercatat mengalami pertumbuhan cukup konsisten. Hal ini tentu menjadi acuan penting bagi para investor memilih saham LINK untuk dikoleksi.

Adapun data ikhtisar keuangan yang diambil berdasarkan informasi finansial perseroan dapat dilihat seperti berikut (dalam miliar rupiah):

Laporan Laba Rugi 2019 2018 2017 2016 2015
Pendapatan bersih 3.755.262 3.728.364 3.399.060 2.954.161 2.564.315
Laba tahun berjalan 894.532 788.918 1.007.278 818.564 639.672

Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa kinerja keuangan LINK tampak positif dalam 5 tahun terakhir. Secara pendapatan, perseroan membukukan pertumbuhan yang konsisten setiap tahunnya.

Begitu juga dengan raihan laba yang terus dicatatkan oleh perseoan, namun pertumbuhannya sempat tertekan atau turun di tahun 2018, lalu kembali naik di tahun berikutnya.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah pos beban yang mengalami peningkatan dan beberapa bisnis yang berhenti sehingga harus menggerus raihan laba di tahun tersebut.

Walaupun begitu, di tahun selanjutnya perseroan kembali mencatatkan kinerja keuangan yang positif. Di mana, dari sisi pendapatan dan laba bersih mengalami peningkatan.

Selain dari nominal yang tampak positif, kinerja keuangan di tahun 2019 yang baik juga dapat dilihat berdasarkan rasio keuangannya. Jika dilihat berdasarkan rasio keuangannya, memang bisnis LINK dalam kondisi yang sehat.

Adapun data yang diambil berdasarkan ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 melalui informasi finansial perseroan dapat dilihat seperti berikut:

Rasio 2019
ROA 1,1%
ROE 2,4%
NPM 23,8%
CR 63,6%
DER 43%

Melihat Prospek Bisnis LINK ke Depannya

Untuk melihat prospek bisnis LINK ke depannya, maka rencana dan strategi bisnis yang dipersiapkan menjadi acuan penting bagi para investor untuk memutuskan apakah saham LINK layak dikoleksi. Hal ini jelas memberikan pengaruh pada sentimen positif saham ke depannya.

Memasuki tahun 2021, PT Link Net Tbk berkode saham LINK ini tentu sudah menyiapkan sejumlah strategi bisnis untuk menggenjot pertumbuhan kinerja.

Di mana, perseroan menargetkan pertumbuhan revenue mencapai 7 persen sampai 9 persen dengan margin EBITDA lebih dari 50 persen. Menurut pihak LINK, target ini bakal direalisasikan dengan menambah jangkauan homepass secara agresif. Lalu, bekerja sama dengan beberapa perusahaan penyedia platform maupun perusahaan yang mengalami dampak minimal dari masa pandemi Covid-19.

Perseroan akan fokus melalui konten yang dibuat seperti menyediakan layanan unlimited dan bervariasi, melakukan kerja sama dengan Viu, HBO dan platform lain, serta fokus meningkatkan pelanggan di sektor enterprise, baik dari industri pemerintahan, financial, sampai wholesale industry.

LINK juga optimistis mampu mempertahankan pencapaian kinerja yang menargetkan pertambahan untuk total 70.000 pelanggan tahun 2021.

Di mana, pada kuartal I 2021 LINK telah berhasil menambah 20.000 pelanggan sehingga total pelanggan menjadi sekitar 875.000 pelanggan. Untuk penambahan homepass sendiri akan dilakukan pada 11 kota tahun ini dengan penambahan sebelumnya di kuartal I 2021 mencapai sekitar 49.000 homepass di kota-kota tersebut.

Untuk tahun 2020 dan 2019, perseroan juga berhasil menambah jangkauan homepass pada 11 kota meliputi Serang, Cilegon, Solo, Semarang, dan Bali di tahun 2019 serta Cikampek, Purwakarta, Cirebon, Tegal, Jogja, hingga Kediri di tahun 2020. Di mana, LINK sudah mengaktifkan platform yang disebut Java Backbone untuk menyangga Jawa serta mampu mengitari 45 kota lainnya.

Dengan begitu, platform ini bakal membantu mengoptimalisasi kota-kota yang belum terjangkau sebelumnya. Sementara itu, LINK juga sebelumnya sudah menyiapkan anggaran belanja modal atau capex untuk tahun 2021 senilai Rp3 triliun.

Sumber dananya berasal dari operating profit maupun pinjaman bank. Akan tetapi, mengacu pada angka yang dapat diefisiensikan pada kuartal I tahun 2021, maka capex turun menjadi Rp2,5 triliun.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek.

Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait