Bisnis & Kerja Sampingan

Memahami Current Ratio Untuk Mengetahui Kinerja Keuangan Perusahaan

Ajaib.co.idCurrent ratio bisa membantu kamu dalam melihat kemampuan sebuah perusahaan menggunakan aktiva lancar dan kesanggupan perusahaan untuk melakukan pembayaran utang lancarnya. Sebetulnya, current ratio ini bagian dari rasio likuiditas. Di mana lengkapnya ada rasio lancar atau current ratio, rasio cepat atau quick ratio, dan rasio kas atau cash ratio. Kali ini Ajaib akan khusus membahas mengenai current ratio

Apa definisi dari current ratio? Current ratio atau dalam Bahasa Indonesia rasio lancar ini merupakan metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur uang tunai dalam jangka pendek dari perusahaan tertentu.

Rasio lancar juga sekaligus bisa menguji kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Sederhananya, current ratio ini merepresentasikan kemampuan perusahaan untuk melunasi semua utang yang jatuh tempo dalam waktu setahun. 

Adapun perhitungan dari  rasio lancar ini bisa diartikan untuk mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya menggunakan aktiva lancar. Di mana, jenis aktiva ini dapat ditukar dengan kas dalam periode satu tahun. 

Selanjutnya dalam menghitung current ratio bisa menggunakan rumus untuk current ratio ini. rumusnya dengan aset lancar dibagi dengan kewajiban lancar. Dengan maksud istilah, kalau aset lancar merupakan semua aset yang dimiliki perusahaan berupa uang tunai atau tengah dalam proses dibuat likuid dalam waktu setahun atau kurang.

Sementara itu, ada liabilitas lancar yang berarti utang yang harus dibayar oleh perusahaan dalam jangka waktu satu tahun. Kedua nilai-nilai yang diperhitungkan di neraca perusahaan. Adapun rasio lancar yang hasilnya kurang dari 1 menunjukkan kalau perusahaan tidak dapat menutupi semua kewajiban saat ini dan hanya menggunakan aset yang ada.

Dengan begitu, untuk mengetahui jika perusahaan mempunyai kemampuan yang baik dalam melunasi kewajibannya berupa utang lancarnya. Maka, current ratio-nya dalam sebuah perusahaan harus memiliki nilai diatas 1,0 kali.

Tetapi, apabila perusahaan memiliki nilai dibawah 1,0 kali itu berarti perusahaan tersebut telah menyanggupi utangnya masih dipertanyakan kepastian pelunasannya. Berikut ini rumus dari current ratio

Current Ratio/ Rasio Lancar = Aktiva lancar (Current Assets) ÷ Utang lancar (Current Liabilities)   

Contoh perhitungan dari current ratio :

Suatu perusahaan memiliki aktiva lancar sebesar Rp40.000.000 dan kewajiban lancar sebesar Rp16.000.000, Sehingga rasio lancar perusahaan sebagai berikut :

Rasio lancar = Rp.40.000.000 ÷ Rp.16.000.000 = 2,5

Angka 2,5 tersebut di atas 1,0 kali sehingga dinilai memiliki kemampuan membayar utang yang baik. 

Syarat Menilai Keadaan Rasio Lancar

Dalam menilai keadaan rasio lancar atau perhitungan rasio lancar, ada kemungkinan nilai perhitungan hasil yang berbeda dari beberapa perusahaan. Sehingga untuk melihat syarat kondisi tersebut ada 3 hasil posisi nilai seperti 0.5, 2 dan 3 yang ketiganya masing-masing memiliki arti tersendiri. Cara mengetahui artinya berikut penjelasan tersebut :

1. Posisi Nilai Ideal

Dalam posisi ideal, bisa dilihat ketika keadaan semakin tinggi rasio lancarnya, maka akan semakin besar likuid perusahaanya.

Namun, meski demikian perusahaan menganggap hasil dari rasio lancar yang besarnya 2 kali akan dikatakan lebih ideal. Sehingga perusahaan dalam keadaan tersebut bisa diperkirakan memiliki posisi keuangan yang aman dan mampu membayar piutang atau kewajibannya dalam membayarkan utang lancarnya.

2. Posisi Nilai Rendah

Selanjutnya, posisi nilai rendah. Di mana nilai rasio lancar yang rendah dengan nilai di bawah satu kali. Kondisi seperti ini di mana nilai rasio lancar yang rendah menunjukkan bahwa kemungkinan perusahaan berada dalam kesulitan posisi keuangan untuk melunasi utang lancarnya.

Tapi, investor maupun kreditur masih tetap memperhatikan arus kas yang digunakan untuk operasional. Dengan tujuan untuk memahami tingkat likuiditas perusahaan.

3. Posisi Nilai Terlalu Tinggi

Yang ketiga ada posisi nilai terlalu tinggi. Untuk nilai rasio lancar jika terlalu tinggi ditandai dengan nilai di atas 2 kali. Dengan rasio lancar yang terlalu tinggi akan terjadi kemungkinan perusahaan kurang mempergunakan aktiva lancarnya maupun utang lancarnya dengan efisien.

Dampaknya, adanya suatu masalah dalam mengelola modal kerja perusahaan. Akan tetapi, dari sudut pandang kreditur rasio lancar dengan nilai yang terlampau tinggi membuat perusahaan akan lebih bisa memenuhi utang lancarnya yang akan jatuh tempo paling lambat dalam satu tahun (12 bulan) atau satu periode.

Adapun jenis akun yang sering digunakan dalam perhitungan nilai rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan yaitu, aktiva lancar, utang lancar, piutang atau persediaan, kas maupun surat berharga. Di lain sisi, perusahaan juga sebetulnya sangat membutuhkan laporan keuangan yang sangat baik, jelas dan tepat. 

Fungsi Current Ratio

Current ratio membantu kamu untuk mengukur kekuatan keuangan jangka pendek suatu perusahaan. Hukumnya, semakin tinggi angkanya, maka semakin stabil perusahaan itu. Sebaliknya, semakin rendah angkanya maka semakin tinggi risiko masalah likuiditas.

Rinciannya seperti ini, current ratio yang nilainya kurang dari 1 menunjukkan bahwa utang perusahaan yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan lebih besar ketimbang nilai aset jangka pendek yang ada atau uang tunai dan aset yang berpotensi dilikuidasi selama jangka waktu tersebut.

Ini artinya, perusahaan dengan rasio lancar kurang dari 1 dinilai perlu menjual atau mencairkan dalam bentuk uang sebagian aset jangka panjangnya. Atau dengan mencari cara lain untuk mendapatkan uang. Misalnya dengan, menjual ekuitas atau meminjam lebih banyak uang untuk mempertahankan dengan tagihannya.

Sementara itu, jika perusahaan memiliki rasio lancar lebih tinggi dari 1, ini menunjukkan perusahaan masih memiliki lebih dari cukup aset untuk menutupi kewajiban jangka pendek perusahaan mereka. Tetapi, jika rasionya terlalu tinggi, hal ini bisa berarti bisnis tidak mengelola asetnya dengan benar.

Pada umumnya, perusahaan dengan rasio 3 atau lebih dianggap mengawasi asetnya dengan tidak tepat. Contohnya, daripada memiliki banyak uang tunai, perusahaan menginvestasikan uang itu kembali ke perusahaan dalam bentuk aset jangka panjan. Seperti properti, pabrik, atau peralatan) atau didistribusikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.

Artikel Terkait