Pro Kontra Alasan Presiden Jokowi Memiliki Saham Freeport Indonesia 51%

https://ajaib.co.id/wp-content/uploads/2019/10/2015_ACF_and_President_Jokowi_10-26-121-e1570640712635.jpg
https://ajaib.co.id/wp-content/uploads/2019/10/2015_ACF_and_President_Jokowi_10-26-121-e1570640712635.jpg

Anti Asingkah Jokowi, saham Freeport Dibeli Indonesia? Ada 2 kisah yang hingga kini terpampang di internet tentang sumber dana kepemilikan 51% saham Freeport oleh Indonesia. Di akhir Desember 2018, sebuah berita memberitakan bahwa dana berasal dari Global Bond (surat utang internasional), sehingga kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi membeli saham Freeport Indonesia itu sebenarnya pro asing, meski “ngecapnya” anti asing. Setelahnya, pemberitaan lain memaparkan bahwa dana berasal dari Penyertaan Modal BUMN, jadi terbukti pemerintahan Jokowi Anti Asing. Tak ada orang awam yang bisa memastikan mana fakta sesungguhnya, kecuali tentunya tim yang menanganinya dan politisi. 

Reputasi Freeport Sebagai Pro Asing

Bermula dari catatan Kapten Johan Carstensz, penjelajah dunia yang pada 16 Februari 1623 menggambarkan puncak pegunungan bersalju di Papua Barat Daya, lalu jadi obyek penasaran panjang penjelajah Koninklijke Nederlandsche Aardrijkskundig Genootschap (Lembaga Geografi Kerajaan Belanda) di 1904-1905, dan akhirnya penemuan cadangan bijih Ertsberg pada 1936 oleh pegawai perusahaan minyak Belanda NNGPM –  Colijn dan Dozy, yang selanjutnya diolah oleh Oost Maatchappij (penambang batu bara di KalTim dan SulTeng) bersama Freeport Sulphur Company (penambang belerang dasar laut).

Sejak lahirya Kontrak Karya Pertama Freeport (KK-I) Undang-undang Modal Asing (UU No. 1 Tahun 1967), Papua menjadi “tiket terusan” pemerintah Indonesia untuk mengundang modal asing, demi membiayai negri tercinta yang ekonominya (selalu tampak) tertekan karena kesibukan politik, korupsi, pergantian rejim, dan ledakan (terus-terusan) penduduk. Tahun 1970-71 pemerintah Indonesia dan Freeport membangun Timika dan Tembagapura. Faktanya, Papua memang anak asuh Freeport sejak lama, karena orang tua kandungnya belum mampu mandiri, hingga kini.

Semangat Anti Asing – Rasisme Atau Sovereignty?

49 tahun berlalu, perut Ibu Pertiwi di Papua sudah bolong terlalu dalam, juga problem kemiskinan Indonesia. Ketika sebuah bangsa mulai menemukan semangat kemandirian di dalam hatinya, ia bagaikan ABG millenial yang tidak sabar ingin memiliki startup. Berapi-api hingga kadang kurang “mikir”. Kalau anak pribumi tiba-tiba males “ngopi-ngopi” dengan orang tua asuhnya yang kebetulan “bule”, apakah itu rasisme? Atau Sovereignty (otoritas sebuah negara untuk mengatur dirinya sendiri)?Semua organisme di bumi punya naluri otorisasi atas dirinya demi bertahan hidup (survival). Begitu pun bangsa.

Indonesia bukan lagi “anak singkong”, ia sudah remaja dewasa yang baru menyadari bahwa ia memang rupawan, kaya, jenius, dan tangkas seperti pernah dituliskan buku-buku kuno, yang sedang euphoria menggali potensi dirinya dan ingin gaul dengan warga dunia. Sovereignty bukan semangat anti asing. Indonesia hanya perlu semangat anti asing ketika mitra asing melanggar etika kemitraannya. Saat Indonesia ingin mengasuh Papua dan Freeport-nya sendiri, itu hanyalah perkembangan alamiahnya sebagai bangsa, bukan anti asing. Anak asuh, akan selalu menghormati jasa orang tua asuhnya.

Niat Baik Vs Keterbatasan = Upaya Terbaik di Situasi Memburuk

Semoga pro asing atau anti asing tidak lagi jadi topik sexy pergunjingan minum kopi. Kecintaan semua bangsa terhadap pertumbuhan populasinya memang sering melupakan kemampuan alam untuk mensupport-nya. Saat akhirnya kita sama-sama tahu bahwa bumi dan angkasa Indonesia, dan dunia, ternyata sudah lelah, kehabisan isi perut serta nafasnya, yang bisa dilakukan hanyalah berupaya sebaik mungkin memeras akal, logika dan nurani, untuk membagi rata remah-remah kehidupan yang tersisa, kepada sesama. Semoga pemerintahan Presiden Joko Widodo diberi kemudahan ya, dalam melaksanakannya.

Sebagai warga Indonesia yang baik dan ingin membantu perekonomian dan perkembangan bangsa, kamu bisa menjadi salah satu pemilik saham freeport. Namun, jika dirasa harga sahamnya masih terlalu tinggi, kamu bisa menjadi salah satu pemilik saham di perusahaan milik anak bangsa Indonesia seperti Indofood, Telkom, dan masih banyak lagi. Jadi tunggu apalagi? Apapun jenis investasimu, mulailah sekarang!


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Share to :
Tags: ,
Buat Deposit Pertama Sekarang
Artikel Terkait