Saham

Awas! Jangan Sampai Terjebak Reksa Dana Saham Gorengan

Saham Gorengan

Ajaib.co.id – Belakangan ini muncul istilah reksa dana saham gorengan yaitu reksa dana yang menginvestasikan portofolio efeknya pada saham-saham gorengan. Hal ini muncul sehubungan dengan perkembangan kasus investasi yang menimpa beberapa perusahaan manajer investasi dan asuransi.

Sudah tidak asing lagi di telinga kita adalah kasus Jiwasraya, Bumi Putera dan Asabri. Ketiga kasus tersebut terbukti bahwa dana nasabah dialokasikan pada saham-saham gorengan.

Akibatnya, tidak hanya Nilai Aktiva Bersih per unit yang turun drastis, investor bahkan tidak bisa melakukan pencairan. Bagaimana caranya agar terhindar dari jenis reksa dana ini?

Risiko Terbesar – Risiko Likuiditas

Bukan hanya penurunan harga secara signifikan yang menjadikan saham tersebut saham gocap (di harga Rp50/ lembar – batas paling bawah harga saham). Reksa dana yang berinvestasi pada saham gorengan juga memiliki risiko likuiditas yang sama.

Karena ketika suatu saham gorengan “gosong”, sering sekali tidak ada yang mau beli lagi sehingga tidak bisa diuangkan. Investor hanya punya kertas kepemilikan saham yang tidak ada harganya. Karena tidak adanya permintaan ini bisa berjalan bertahun-tahun bahkan sampai perusahaan bangkrut atau dikeluarkan (delisting) dari bursa.

Secara peraturan, ketika investor memerintahkan pencairan (redemption) reksa dana, maka dalam waktu 7 hari kerja, manajer investasi harus membayarkan sesuai dengan Nilai Aktiva Bersih per Unit (NAB per UP) waktu dicairkan. Jika terjadi pelanggaran, berpotensi mendapat sanksi pembubaran dari Otoritas Jasa Keuangan.

Dalam hal pembubaran yang menimpa salah satu manajer investasi terkait kasus reksa dana saham gorengan, porsi saham yang bisa dijual dijadikan cash, sementara porsi saham yang gorengan yang sudah tidak bisa dijual akan diberikan kepada investor secara proporsional.

Artinya investor akan mendapat cash yang tentu sudah jauh di bawah nilai investasi awal dan saham gorengan yang entah bisa dijual atau tidak. Risiko ini sangat tidak sesuai dengan semangat investasi reksa dana yang mengedepankan kemudahan dalam melakukan pencairan. Untuk itu, masyarakat harus bisa mengidentifikasi dan menghindari jenis reksa dana seperti ini.

Cara Menggoda Investor

Karena harus melakukan diversifikasi, maka manajer investasi akan tidak bisa membelikan aset dalam jumlah yang besar pada saham gorengan. Maksimal alokasi ke satu saham hanya 10%. Sehingga pergerakan harganya tidak terlalu ekstrem seperti saham gorengan ketika sedang naik.

Ada kemungkinan manajer investasi akan membeli beberapa saham gorengan sekaligus kemudian berkolaborasi dengan bandar saham untuk mengatur harga sedemikian rupa sehingga kenaikan harga di reksa dana terlihat stabil. Bahkan ketika IHSG sedang turun sekalipun, kinerja reksa dana saham bisa tetap naik.

Akibatnya ketika saham gorengan belum gosong, kinerja reksa dana akan terlihat begitu baik bahkan memenangkan beberapa penghargaan reksa dana terbaik.

Kemudian untuk menambah daya tarik ke investor, manajer investasi memberikan janji return pasti yang bisa berkisar 8%, 10%, hingga belasan persen per tahun dengan masa investasi mulai dari 3 bulan, 6 bulan, hingga 1 tahun.

Berbeda dengan saham gorengan, pergerakan harga yang stabil, janji return yang moderat, dan cara kerja yang seperti deposito, membuatnya lebih mudah untuk memikat investor dalam segmen yang lebih luas tidak seperti saham gorengan yang hanya ke pemain saham saja.

Manajer Investasi yang kerjanya sesuai aturan terus terang sangat sulit untuk bersaing karena memberikan janji return selain jenis reksa dana terproteksi merupakan tindakan yang melanggar aturan. Reksa dana terproteksi juga memiliki risiko yang harus dijelaskan secara eksplisit.

Tips Menghindar Reksa dana Saham Gorengan

Reksa dana saham gorengan sebagaimana pemaparan di atas, memiliki cara menggoda investor yang berbeda. Untuk itu, hal pertama yang harus kita pahami adalah tidak ada reksa dana yang menawarkan tingkat return pasti selain jenis reksa dana terproteksi.

Menyebutkan return historis dan merata-ratakannya memang diperbolehkan, tapi itu bukan jaminan akan terulang di masa mendatang. Masa investasi reksa dana terproteksi juga biasanya 2-3 tahun. Jika ada yang di bawah 1 tahun, bisa dipastikan itu bukan reksa dana terproteksi.

Investor harus memeriksa Fund Fact Sheet reksa dana tersebut. FFS dibuat oleh manajer investasi, untuk itu masih ada potensi melakukan kecurangan. Sebagai alternatif, investor bisa memilih hasil audit daripada reksa dana yang dibuat oleh auditor independen.

Dalam audit tersebut, terdapat bagian yang menunjukkan semua isi portofolio saham, obligasi dan deposito. Dalam prakteknya, memiliki saham gorengan tidak melanggar aturan.

Jika kebetulan dalam laporan audit tersebut ada saham gorengan, tapi beratnya tidak sampai 5%, ada kemungkinan manajer investasi melakukan spekulasi. Kalau bobotnya besar, baru kita perlu berhati-hati.

Reksa dana diaudit setiap tahun dan hasilnya dipublikasikan bersamaan dengan prospektus pembaharuan yang biasanya di bulan April atau Mei tahun berikutnya.

Cara terakhir untuk menghindar dari reksa dana saham gorengan adalah berinvestasi pada reksa dana indeks saham. Sesuai peraturan OJK, reksa dana indeks wajib menginvestasi minimal 80% pada anggota suatu indeks.

Sebagai contoh, jika indeks yang dijadikan acuan adalah IDX30 – kumpulan 30 saham yang transaksi paling likuid di bursa saham, maka reksa dana saham biasanya akan berinvestasi seluruh dananya pada 24 – 30 saham tersebut dengan bobot yang menyerupai susunan indeks.

Yang membedakan antara reksa dana indeks saham dengan reksa dana saham adalah pada kinerjanya. Jika kinerja reksa dana indeks cenderung sama dengan indeks acuan, maka reksa dana saham bisa menang, bisa juga kalah dengan indeks acuan. Memiliki keduanya bisa menjadi suatu diversifikasi yang baik.

Jangan Pukul Rata dan Jangan Panik

Memang ada beberapa pelaku yang melanggar aturan, tapi lebih banyak lagi perusahaan manajer investasi yang kerjanya sudah sesuai aturan. Jangan sampai semua industri ini dicap tidak baik. Untuk yang sudah bermasalah, biarlah ditangani oleh regulator dan pihak yang berwajib.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat bisa melihat dengan jelas seperti apa praktek yang menyalahi aturan dan menghindarinya di masa mendatang, serta mengetahui siapa saja perusahaan yang telah bekerja sesuai dengan aturan.

Masyarakat dan investor juga diharapkan jangan panik. Saham yang likuid dari perusahaan terkemuka sekalipun kalau dijual dalam jumlah besar bisa berpotensi membuat penurunan harga signifikan juga.

Artikel Terkait