Saham

Mengenal Saham Gorengan dan Ciri-cirinya

Saham BRI Turun Karena Profit Taking Investor Asing?

Ajaib.co.id Beberapa saham di bursa sering beratraksi dengan kenaikan sangat tinggi tanpa didasari fundamental perusahaan yang kuat. Pelaku pasar biasanya menyebut saham yang demikian dengan nama saham gorengan karena harganya yang meletup-letup.

Saham gorengan ini terlihat renyah seolah-olah akan memberikan keuntungan atau return yang sangat tinggi, naiknya memang cepat tapi turunnya juga sama cepatnya. Kalau sampai telat menjual, bisa-bisa menderita kerugian yang cukup besar, ibarat makanan gorengan yang gosong karena terlalu lama digoreng.

Otoritas bursa beberapa kali memasukkan saham yang tidak jelas pergerakannya tersebut dalam kelompok Unusual Market Activity (UMA). Hal ini dilakukan untuk memberi warning kepada para investor bahwa pergerakan saham yang dimaksud di luar kebiasaan dan berpotensi merugikan karena fluktuasinya yang tinggi.

Dibalik pergerakan harganya tersebut, dicurigai ada pihak-pihak yang menggerakan saham tersebut alias ada bandarnya. Sehingga, sebetulnya pergerakannya tidak murni karena mekanisme pasar.

Salah satu teknik yang digunakan “Sang Bandar” tersebut ialah Wash sale, yaitu transaksi semu seolah-olah terjadi transaksi yang ramai antar investor secara bebas. Namun, sebenarnya proses tersebut dilakukan oleh beberapa investor saja.

Para bandar ini bertujuan untuk menarik investor untuk masuk, terutama yang masih awam agar membeli saham di harga premium. Ketika antrian pada saham tersebut sudah di atas modal rata-rata sang bandar, mereka akan menjual sahamnya untuk memperoleh keuntungan dan tidak mempedulikan nasib investor lainnya.

Ciri-ciri saham gorengan

Ada beberapa ciri-ciri dari saham gorengan yang patut untuk diketahui, beberapa diantaranya ialah:

Pernah terindikasi Unusual Market Activity (UMA)

Bursa akan memasukan suatu saham yang terindikasi aktifitas atau pergerakan harganya tidak biasa pada suatu kurun waktu tertentu yang berpotensi mengganggu terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien.

Memang tidak semua saham gorengan masuk ke dalam tabel UMA, akan tetapi saham-saham yang masuk kedalamnya patut dicurigai apabila pergerakan harganya tidak didukung fundamental yang jelas atau ada aksi korporasi yang melatarbelakanginya.

Volumenya Turun-Naik Secara Drastis

Saham gorengan ketika harganya mulai bangkit biasanya disertai dengan volume perdagangannya yang naik sangat tinggi seolah-olah sahamnya sedang diburu pelaku pasar. Padahal, saham tersebut dalam kesehariannya terbilang sepi perdagangannya.

Rajin-rajinlah mengecek volume jika melihat ada saham yang digoreng, terutama saat suatu saham tampak sedang di akumulasi maupun sedang didistribusi.

Berasal dari Saham-Saham Lapis Dua dan Tiga

Umumnya saham-saham non blue chip yang berasal dari lapis dua dan tiga menjadi sasaran para bandar untuk dimanfaatkan. Saham lapis tiga (peny stock) umumnya yang paling berisiko dijadikan sasaran oleh para bandar.

Tidak Didukung  Fundamental Perusahaan.

Umumnya pergerakan saham-saham gorengan tidak didasarkan faktor fundamental yang dapat membuat perusahaan semakin melambung bisnisnya.

Secara umum, suatu saham akan banyak diburu karena laba yang meningkat pesat, atau terdapat aksi korporasi yang berpengaruh positif bagi perusahaan di masa depan. Jika tidak ada hal yang demikian, maka kenaikannya dapat dikatakan semu.

Jika kamu adalah investor pemula, sebaiknya hindari saham gorengan. Lebih baik mulai investasi pertamamu dengan membeli saham-saham bluechip. Kamu juga bisa memulai investasi saham pertamamu lewat Ajaib. Di aplikasi Ajaib kamu akan lebih dimudahkan lagi untuk mengetahui baik atau tidaknya kinerja sebuah saham karena semua informasinya tersaji dengan jelas. Bahkan untuk lebih meyakinkan kamu sebelum memutuskan berinvestasi saham tertentu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan Financial Expert Ajaib secara gratis!

Artikel Terkait