Investasi, Investor Pemula

Opini dan Mitos Dalam Berinvestasi yang Tidak Benar

mitos keuangan

Ajaib.co.id – Sering kita jumpai berbagai opini dan mitos ketika berinvestasi. Beberapa opini tersebut antara lain:

 “Tidak ada orang yang berhasil di pasar saham dengan cara trading”,

 “Value investing itu investasi secara pasif”,

“Diversifikasi itu wajib”,

Ketiga kalimat di atas adalah contoh opini populer tentang berinvestasi dan pasti pernah kamu dengar sebelumnya. Kalimat-kalimat tersebut dikutip dari orang terkenal dan digaungkan di berbagai forum saham. Padahal berinvestasi itu sesuatu yang personal; apa yang pas untuk seseorang belum tentu pas untuk orang lain. Berikut pembahasan opini dan mitos populer seputar investasi yang mesti kamu ketahui.

Diversifikasi Itu Wajib Dilakukan

Selama ini kita mendapat saran untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi alias beragam. Diversifikasi investasi disebut-sebut bisa mengurangi risiko dan diwajibkan untuk para investor pemula. Itu memang benar. Portofolio yang terdiversifikasi dapat menurunkan tingkat risiko secara keseluruhan namun juga mengurangi potensi keuntungan kamu. Semakin portofoliomu terdiversifikasi, semakin besar kemiripannya dengan kinerja pasar secara keseluruhan.

Jika kamu berencana untuk mengalahkan return IHSG maka kamu bisa mengurangi jumlah saham dan berfokus pada saham-saham di beberapa sektor. Strategi yang demikian itu disebut dengan portofolio yang terkonsentrasi.

Namun bukan tanpa kekurangan, portofolio yang terkonsentrasi pada sedikit saham biasanya mendapat paparan risiko yang cukup besar. Portofio yang terkonsentrasi memberikan potensi keuntungan dan risiko yang lebih besar.

Jika kamu mencari keamanan, meski potensi keuntungannya lebih rendah, maka kamu bisa mempertimbangkan untuk memiliki portofolio saham yang terdiversifikasi.

Tapi jika kamu adalah investor aktif yang menghabiskan waktu lebih banyak untuk memantau saham-sahammu dan mengincar keuntungan yang lebih besar maka kamu bisa pertimbangkan untuk mengoleksi beberapa saham saja secara terkonsentrasi  . Semua kembali lagi pada preferensi kamu.

Value Investing adalah berinvestasi secara ‘pasif’

Tidak ada yang namanya investor “pasif”. Bahkan ketika kamu adalah seorang value investor yang memantau portofolio tiga bulan sekali. Ketika memiliki portofolio, kita semua adalah manajer portofolio yang aktif baik dalam membangun portofolio, memantau kinerja, menginvestasikan kembali, mengalokasikan kembali, dan seterusnya. Konsep investasi pasif sering kali mengabaikan fakta bahwa pengelolaan portofolio pribadi adalah sebuah proses yang aktif, bukan usaha pasif.

Biasanya seseorang yang aktif berinvestasi lebih identik dengan trader yang aktif memantau portofolio setiap hari. Sedangkan value investor disebut-sebut sebagai sleeping investor. Nyatanya Lo Kheng Hong saja masih “berkerja” setiap harinya meski hanya beberapa jam sehari untuk memantau saham mana yang menarik di matanya. Beliau mengaku hampir setiap hari baru mandi di jam satu siang karena pagi harinya sibuk membaca berita untuk update informasi tentang emiten. Itu juga usaha aktif.

Nyatanya sleeping investor yang dimaksud adalah investor yang masih bisa terlelap tenang karena merasa sudah melakukan yang terbaik dan berinvestasi di bawah harga wajar. Sleeping investor bukan dalam artian yang dikira banyak orang; “beli saham lalu ditinggal tidur, tahu-tahu cuan”.

Bahkan ketika kamu menitipkan danamu untuk diurus orang lain, kamu masih memiliki kewajiban (setidaknya kepada dirimu sendiri) untuk memantau kinerja manajer investasi.

Para Value investor adalah pakar dalam bidang keuangan dan akuntansi

Kesalahpahaman lainnya yaitu adanya kepercayaan bahwa investasi hanyalah bagi mereka yang paham keuangan dan akuntansi. Tapi sebenarnya kamu juga bisa memahami laporan keuangan asal mau. Jika kamu mau, ada banyak sumber gratis maupun berbayar di internet yang akan mengajarkan kamu. Bahkan sekuritas-sekuritas juga menyediakan seminar untuk membantu kamu membaca rasio keuangan sederhana.

Begini, akuntan memang menyiapkan dokumen untuk kemudian disusun menjadi sebuah laporan keuangan. Kalau mengenai hal itu, ya kamu harus punya pendidikan dasar sebelumnya. Namun kalau hanya sekedar membaca laporan keuangan itu lain soal. Yang kamu perlukan bukan keahlian dalam akuntansi, namun lebih kepada keterampilan analitis untuk membuat keputusan investasi yang baik.

Investor Biasa Seperti Kita Takkan Bisa Mengalahkan Kinerja Fund Manager

Banyak dari kita yang beranggapan bahwa fund manager lebih diuntungkan karena besarnya dana kelolaan yang dimiliki. Ini adalah anggapan dari banyak orang yang kerap menyalahkan ‘bandar saham’ yang diidentikkan dengan smart money. Istilah smart money adalah sebutan untuk dana kelolaan fund manager yang ketika digelotorkan akan mampu menggerakan harga saham.

Kenyataannya adalah bahwa pergerakan tersebut semu, alias hanya terjadi dalam jangka pendek saja. Secara jangka panjang jika kebanyakan investor menganggap bahwa harga yang ada saat ini terlalu mahal untuk suatu saham maka harga akan turun juga.

Namun investor ritel sebenarnya cenderung lebih unggul karena dana kelolaannya yang tidak sebesar fund manager sehingga lebih leluasa. Kamu juga tidak dituntut melakukan diversifikasi jika tidak suka karena toleransi risiko ada di tangan kamu.  Kamu bisa membeli saham mana saja dan tidak perlu menjelaskannya kepada siapapun.  

Ada banyak investor ritel yang kinerjanya jauh melebihi fund manager. Nilai portofolio kawan penulis sendiri selama tiga tahun terakhir telah berkembang beberapa ratus persen. Paling besar keuntungannya yaitu di tahun 2017 yang didapatnya dari saham IBST. Itu karena portofolionya terkonsentrasi di beberapa saham saja.

Dana kelolaan sepuluh jutaan saja tentu lebih mudah diatur dibandingkan dengan portofolio senilai ratusan miliar rupiah. Kenyataannya kamu punya kesempatan lebih besar untuk mengalahkan kinerja fund manager.

Analisis teknikal memiliki tingkat keberhasilan yang rendah

Kita mengenal para legenda saham adalah mereka yang beraliran fundamental seperti Ben Graham, W. Buffet, P. Lynch, P. Fisher dan lainnya. Dengan cepat para investor menyimpulkan bahwa tidak ada trader yang mengandalkan analisis teknikal yang sukses. Padahal kenyataannya tidak sepenuhnya benar.

 Jack D. Schwager melakukan wawancara dengan puluhan investor dan trader sukses yang memiliki pengalaman di pasar saham selama puluhan tahun. Faktanya banyak dari mereka yang melakukan analisis teknikal di samping analisis fundamental. Hasil wawancaranya dibukukan dengan judul “Market Wizard: Interview with Top Traders”.

Banyak juga rupanya yang telah menjadi jutawan bakan milyarder (dalam USD) berkat analisis teknikal saja. Misalnya Martin Schwartz yang secara fenomenal memiliki kinerja unggul. Beliau mengatakan bahwa ia telah menghabiskan sepuluh tahun mempelajari dan berhasil dalam analisis fundamental, namun ia menjadi kaya berkat analisis teknikal. Kita jarang mengetahui trader hebat karena kebanyakan dari mereka yang sukses di pasar modal tidak mau terkenal.

Hanya trader ritel saja yang menggunakan analisis teknikal.

Kenyatannya adalah lembaga-lembaga keuangan hedge fund dan bank investasi juga menggunakan analisis teknikal. Bank investasi raksasa seperti Goldman Sachs misalnya, mereka memiliki tim khusus yang menggunakan analisis teknikal .

Melakukan transaksi perdagangan dengan frekuensi tinggi, yang mencakup sejumlah besar volume perdagangan di bursa saham akan bergantung pada konsep teknikal.

Menganalisis grafik itu cepat dan mudah

“Analisis grafik itu cepat dan jauh lebih mudah dari analisis laporan keuangan.” Inilah kalimat yang sering dilontarkan di berbagai forum saham berbasis fundamental. Kenyataannya tidak selalu begitu, ada beberapa grafik yang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dianalisis.

Dan juga untuk bisa sukses konsisten dalam trading memerlukan pembelajaran mendalam, praktik tahunan dan pengelolaan uang yang baik, dan juga disiplin dalam menerakan manajemen dana. Itu membutuhkan waktu, pengetahuan, dan perhatian khusus. Analisis cepat dan mudah tidak selalu terjadi dalam trading.

Software atau robot trading adalah cara untuk menghasilkan uang dengan mudah

Sayangnya, ini tidak benar. Ada banyak iklan online software dan robot trading yang murah maupun mahal yang mengklaim bisa melakukan semua analisis dan menyediakan sinyal jual-beli untukmu. Pelanggan dari teknologi ini biasanya adalah trader pemula.

Masalahnya adalah, meskipun teknologi ini membantu memberikan wawasan tentang tren dan pola, trader pemula seringkali tidak bisa membacanya. Dan oleh sebab itu rating robot trading biasanya rendah. Karena ratingnya mayoritas rendah maka sulit untuk menemukan yang benar-benar memberikan kesuksesan.

Beberapa software juga memberikan analisis dengan sinyal-sinyal yang mengandung banyak kesalahan. Karena proses filter yang digunakan dalam melakukan analisis benar-benar dilakukan secara mekanis. Sedangkan psikologi pasar seringkali harus dimengerti secara langsung, bukan secara mekanis.

Kamu bisa berkaca pada naiknya saham TAXI secara tidak wajar di tahun 2018. Secara mekanis semua robot dan software trading memberikan sinyal beli waktu itu. Secara psikologis kita akan merasa ini tidak benar karena kita paham bahwa akuisisi Grab oleh TAXI barulah sebatas perundingan dan belum nyata dilakukan. Benar saja, dalam beberapa hari saham TAXI anjlok karena konferensi pers yang mereka lakukan yang menjelaskan bahwa akuisis Grab masih sebatas rencana.

Saat itu semua pengikut sinyal robot trading harus melakukan cut loss jika tidak mau kerugian yang dialami lebih dalam lagi. Psikologi pasar adalah sesuatu yang mesti dipahami juga, namun bukan berarti software trading tidak berguna.

Kamu sebaiknya tidak mengandalkan hanya itu saja, harus didamping pengetahuan yang jelas juga tentang kondisi pasar. Dan sebaiknya kamu sudah belajar tentang analisis teknikal sebelum membeli robot trading agar kamu bisa membaca sinyal dan pola-pola grafik yang diberikan. Jadi anggapan bahwa robot atau software trading akan memberikan cuan mudah, itu tidak sepenuhnya benar tapi tidak juga salah sama sekali.

Analisis teknikal dapat memberikan prediksi harga yang sangat akurat.

Kenyataannya adalah resistance/batas atas dan support/batas bawah adalah sebuah area dan bukan titik yang akurat. Oleh karenanya analisis teknikal juga tidak bisa memberikan prediksi harga yang akurat. Misalnya diprediksi bahwa SMRA akan overbought di Rp1500, kenyataannya mungkin mentok di Rp 1480 atau Rp1540. Jika ternyata analisis sebuah grafik meleset, itu bukan berarti analisis teknikal benar-benar gagal.

Beberapa percaya analisis teknikal itu salah arah dan tidak memiliki dasar teoritis. Sedangkan lainnya percaya bahwa analisis fundamental tidak menguntungkan karena rugi waktu.

Ini adalah perdebatan klasik di mana kedua kubu saling serang baik di berbagai kesempatan. Pemahaman ini datang dari para legenda saham dan trader top yang saling sanggah. Ini adalah warisan dari pelatihan yang diterima masing-masing orang.

Misalnya, seorang trader yang dilatih hanya menggunakan teknikal untuk analisis grafik biasanya menganggap bahwa fundamental terlalu lambat. “Semua akan tercermin dalam grafik, jadi pembacaan laporan keuangan tidak diperlukan”.

Sedangkan seseorang yang berlatar belakang manajemen keuangan yang sudah biasa melakukan analisis fundamental mungkin tidak mempercayai analisis teknikal sama sekali. Tetapi itu tidak berarti seseorang yang terlatih dalam analisis teknikal tidak dapat menggunakannya secara menguntungkan.

Mitos lain datang dari pengalaman. Penggunaan indikator teknikal yang tidak tepat seringkali menyebabkan kerugian, bukan berarti analisis teknikal itu buruk. Mungkin orang tersebut hanya perlu lebih banyak latihan. Opini populer tentang kegagalan analisis teknikal datang dari para agen marketing yang menjanjikan kekayaan dalam waktu cepat jika berlangganan grup premium atau ada sebuah indikator atau software yang dibeli dari mereka.

Akhirnya banyak investor yang mencela analisis teknikal sebagai studi dangkal atas grafik dan pola tanpa hasil yang konkret, konklusif, dan tidak menguntungkan. Di lain pihak ada juga trader yang  menghasilkan keuntungan yang cukup besar.

Sudut pandang yang berlawanan ini telah menyebabkan kesalahpahaman. Nyatanya kedua kubu telah memberikan contoh profil sukses yang bisa dijadikan inspirasi. Jesse Livermore dan Nicholas Darvas adalah dua contoh trader sukses yang punya penggemar garis keras yang kerap mencela para investor.

Sedangkan Peter Lynch dan para akademisi cenderung berkeyakinan bahwa analisis fundamental adalah yang paling tepat karena “mengemudi itu harus lihat kaca depan, bukan kaca spion” ujar Lynch.

Lalu ada Argha Karokaro dengan analisis broker summary-nya yang percaya bahwa bandarmologi adalah segalanya, yang lain nonsense. Sedangkan Linda Lee percaya bahwa dengan Fibonacci saja sudah bisa cuan. List ini panjang sekali dan menyimpulkan bahwa semua analisis pada dasarnya baik selama bisa menguntungkanmu.

Jadi anggapan bahwa salah satu dari analisis teknikal atau fundamental adalah yang paling baik, belum tentu benar. Ingatlah bahwa semua analisis itu benar selama bisa menguntungkanmu.

Artikel Terkait